MasukMalam itu setelah penjahat berhasil diringkus, dan penangkapan tersebut dipimpin langsung oleh Judika.
Judika berasa lega karena ingin secepatnya menemukan dalang yang sudah membuat Rebel terbunuh, Rebel merupakan rekan kerja Judika yang sedang menyamar untuk melakukan penyelidikan di dalam kediaman keluarga Irawan. Mereka sudah seperti saudara kandung sendiri. Rebel sangat baik dan juga memperlakukan Yunika dengan baik sama seperti Judika. Beberapa hari yang lalu Judika bersama rekan-rekannya yang lain pergi ke bendungan Jingge untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mayat Rebel ditemukan dengan luka tusuk pada perut dan dadanya. Benda tajam yang digunakan untuk melukai rekan kerjanya tersebut masih belum ditemukan. Karena alasan itulah Judika khawatir ketika Yunika memutuskan untuk terjun langsung ke kediaman keluarga Irawan. Melihat adiknya masuk ke dalam sarang harimau, tidak berbeda dengan mengorbankannya sebagai tumbal. Beberapa hari ini Judika sibuk mengusut kasus Rebel, dan dia juga mencari tahu jika kematian rekannya tersebut memiliki hubungan dengan penjahat yang sudah mencelakai Tuan dan Nyonya Irawan hingga menyebabkan keduanya mengalami kecelakaan. Yunika berharap malam itu Judika menemukan bukti dari pernyataan para penjahat yang berhasil diringkus dan dibawa ke kantor. Dengan begitu dia tidak perlu lagi tinggal di kediaman Irawan. Mengingat kejadian barusan, Yunika yakin mereka mengincar nyawa Regan. *** Di kediaman Irawan. Setelah kejadian di kediaman semalam, Regan sudah tidak begitu membenci Yunika lagi, melihat Yunika berusaha melindunginya, Regan merasa bersalah atas semua tindakan yang dia lakukan sebelumnya. Pagi itu Yunika sedang merapikan beberapa peralatan dan barang-barang Regan di dalam kamar. Tubuh Yunika masih sakit di bagian tertentu karena kejadian semalam. Dia sudah melawan penjahat dan memberikan pukulan, tapi dia juga jatuh serta menerima serangan. Terlebih lagi tindakan Regan yang tidak pantas sebelumnya masih meninggalkan rasa nyeri. Saat Yunika sedang sibuk, Wina, kepala pelayan yang menerimanya tiba-tiba masuk ke dalam untuk memanggilnya. "Nona Yunika, Tuan Muda ingin bertemu Anda di taman, beliau ingin ditemani bermain." Ujarnya dengan sopan dan senyum ramah. Wanita itu memperlakukan Yunika dengan baik karena sejauh ini tidak ada satu orang pun yang bisa bertahan untuk menjadi pengasuh Regan. Semua wanita yang dipekerjakan dan dibayar mahal selalu mengundurkan diri dalam sehari. Kali ini kepala pelayan berharap Yunika akan bertahan sampai akhir dan tidak resign. Yunika menatap kepala pelayan sebentar lalu pergi bersamanya menuju ke taman. Sampai di sana dia melihat Regan bersama seorang pengawal. Pria itu duduk di bangku taman sambil memegang mainan robot. Yunika berjalan mendekat, dan ketika tiba di depan Regan dia segera membungkuk untuk memberi hormat. Regan langsung menarik tangannya dan menariknya duduk tanpa berbicara terlebih dahulu. Yunika sangat kaget dan hanya bisa menatap kedua mata Regan dengan tatapan aneh karena dia sekarang malah duduk di atas pangkuan Regan. Yunika menelan ludahnya menatap pria berhidung mancung dan berwajah tirus tersebut tengah memangkunya. Regan menyunggingkan senyuman tipis melihat Yunika yang gugup di atas pangkuannya. Senyum apa ini? Apa dia ingin mengerjaiku lagi? Jangan-jangan dia akan melakukan hubungan memalukan itu lagi padaku untuk mengusirku keluar! "Rere, aku tidak sengaja!" Ujarnya dengan wajah putus asa. Regan memegangi pinggang rampingnya, hal itu sudah sering dan biasa terjadi. Pengawal yang menemani di samping juga hanya bisa berpura-pura tidak melihat apa pun. "Ya, duduklah di sampingku!" Perintahnya kemudian. Dari suara Regan, Yunika bisa merasakan aura seorang pemimpin begitu kuat. Meski Regan tiba-tiba menjadi pria idiot, namun pada dasarnya pria itu adalah CEO perusahaan keluarga Irawan dan pemimpin utama dalam keluarga besarnya setelah ayah dan ibunya tiada. Yunika tidak terkejut Regan menunjukkan sikap aslinya sekarang ketimbang terus berpura-pura menjadi pria idiot dan bodoh. "Baik." Yunika segera bergeser dan duduk di sampingnya. "Aku tahu kamu datang ke sini untuk menyelidiki. Apa kamu sudah menemukan apa yang kamu inginkan? Penjahat yang ingin mencelakai ku sudah tertangkap! Bukankah seharusnya kamu keluar dari kediaman ini?" Tubuh Yunika menggigil saat mendengarnya, dan kepalanya terasa hancur bagai disambar petir. Yunika tidak bisa mengendalikan diri dan hampir duduk bersimpuh di depannya untuk memohon. "Aku, sebenarnya-itu, tolong biarkan aku tinggal!" Serunya dengan cepat. Yunika sudah ketahuan oleh Regan hanya sehari saja. Jika dia bisa tinggal selama beberapa hari lagi atau bahkan sampai beberapa minggu untuk menemukan bukti-bukti yang dibutuhkan pihak kepolisian maka Judika bersedia memberikan jabatan untuknya di kantor. Yunika sangat berharap dengan pekerjaan itu. "Aku bisa memberikanmu uang, bukankah kamu datang untuk mendapatkan uang!? Aku juga akan mengganti kerugian lain," ekspresinya terlihat canggung dan serba salah. Yunika tahu apa maksudnya, dan Yunika masih merasa tidak nyaman dengan kejadian sebelumnya. Tapi setelah mengetahui Regan ternyata bukan pria idiot dalam hati Yunika sedikit lega. Ya setidaknya pria yang menidurinya adalah pria normal bukan pria sakit jiwa! Dan mengenai satu-satunya milik Yunika yang sudah direnggut paksa oleh Regan, Yunika tidak ingin membahasnya lagi. Yunika bukan mengincar posisi Nyonya CEO di kediaman Irawan. Dia juga tidak pernah memiliki niat untuk merayunya. . "Aku, tidak, maksudku aku tidak peduli dengan uang yang kamu katakan. Hanya saja, jika boleh tolong biarkanlah aku tinggal di sini selama beberapa hari, dan aku aku berjanji akan menjaga rahasiamu, aku tidak akan menentang keputusanmu dan aku akan melakukan tugasku sebagai pengasuh!" "Jika kamu menjadi aku, lalu kamu tahu bahwa orang yang berada di sisimu bukan orang baik, ditambah kamu sudah tahu kelemahanku, apakah kamu masih mengizinkan orang itu tinggal untuk terus menyiksamu?" Tanya Regan sambil menoleh pada Yunika. Kemudian menyunggingkan senyuman aneh lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada robot dalam genggaman tangannya. Yunika tahu dia bersalah karena menyelinap ke dalam wilayah Regan tapi tujuannya tentu tidak untuk mencelakai Regan melainkan membantunya untuk menemukan penjahat di dalam keluarga tersebut. Meski keinginan untuk tetap tinggal dalam hatinya begitu kuat, keputusan tetap berada di tangan Regan. Yunika tidak memiliki hak untuk memaksanya. Yunika hanya bisa menghela napas panjang karena misi ini tidak berhasil dan hatinya terasa berat, dengan enggan dia berdiri untuk membungkuk memberikan penghormatan terakhir pada Tuan mudanya. "Baiklah." Setelah berkata demikian, Yunika segera undur diri, wanita itu berbalik dan pergi. Regan tampak heran, pikirnya Yunika akan tetap ngotot untuk tinggal di kediaman Irawan. Tidak disangka wanita itu langsung patah hati dan memutuskan pergi seperti sindiran yang dia katakan pada Yunika sebelumnya. Regan merasa bersalah, jadi dia segera berbicara padanya. "Tu-tunggu!" Serunya. Regan hampir lupa kalau dia harus tetap bersandiwara di kediaman Irawan. Dan dia segera ingat tentang itu lalu kembali duduk di kursi. "No-nona Yun, aku masih belum bilang akan mengusirmu keluar dari rumah. Se-sekarang aku harus menghukum mu karena sudah melakukan kesalahan besar kemarin!" ujarnya dengan suara gagap seperti sebelumnya. Yunika mengernyitkan keningnya sambil menoleh ke belakang. Dia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menunjuk wajahnya sendiri dengan tatapan mata tidak percaya. Yunika tidak percaya dengan ucapan Regan, Regan bilang ingin menghukumnya padahal jelas-jelas kemarin Yunika hanya diperalat olehnya sampai kehilangan keperawanannya. Regan berdiri dari bangku taman sambil memeluk mainan robotnya lalu berjalan seperti anak kecil idiot dan berlalu di samping Yunika.Malam itu setelah penjahat berhasil diringkus, dan penangkapan tersebut dipimpin langsung oleh Judika. Judika berasa lega karena ingin secepatnya menemukan dalang yang sudah membuat Rebel terbunuh, Rebel merupakan rekan kerja Judika yang sedang menyamar untuk melakukan penyelidikan di dalam kediaman keluarga Irawan. Mereka sudah seperti saudara kandung sendiri. Rebel sangat baik dan juga memperlakukan Yunika dengan baik sama seperti Judika.Beberapa hari yang lalu Judika bersama rekan-rekannya yang lain pergi ke bendungan Jingge untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mayat Rebel ditemukan dengan luka tusuk pada perut dan dadanya. Benda tajam yang digunakan untuk melukai rekan kerjanya tersebut masih belum ditemukan. Karena alasan itulah Judika khawatir ketika Yunika memutuskan untuk terjun langsung ke kediaman keluarga Irawan. Melihat adiknya masuk ke dalam sarang harimau, tidak berbeda dengan mengorbankannya sebagai tumbal. Beberapa hari ini Judika sibuk mengusut kasus Rebel,
Oh, sepertinya permainan ini tidak akan mudah berakhir! Yunika, kamu memutuskan untuk terus bersandiwara hingga akhir? Oke! Aku akan menuruti keinginanmu! Regan meletakan kedua lengannya di tepi ranjang sambil menatap tubuh telanjang Yunika dengan kedua mata berkedip-kedip jenaka."Em, No-nona Yunika, ke-kenapa tidak pa-pakai baju?" Regan menunjuk ke arah tubuh telanjang Yunika. "No-nona Yunika me-mesum, nan-nanti Re-Regan bilang Re-Regan mau la-laporkan pada Bibi pengasuh, bibi Wina pasti akan me-mecatmu!" Ujarnya sambil berusaha berdiri dari lantai.Yunika baru sadar bahwa dirinya sama sekali tidak mengenakan pakaian. Dia panik melihat Regan sudah bersiap melaporkannya. Yunika dengan cekatan langsung melompat ke pintu dan menguncinya."Re, dengarkan aku, ini salah paham, aku semalam, em, kemarin aku kepanasan jadi lupa tidur di mana!" Serunya dengan cepat. Yunika memaksakan senyum demi menutupi amarah di dalam hati. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengumpat dalam hati.S
Setelah begitu lama menyentuhnya dan Yunika tidak bereaksi selain menatapnya dan menahan segalanya, Regan kembali memiliki ide untuk membuat Yunika menyerah."Mmm, Nona? Ki-kita pindah ke ranjang, Rere lelah terus membungkuk," ajak Regan sambil menarik lengan Yunika dengan genggaman erat, Yunika mengikutinya dengan enggan dan berharap neraka ini akan segera berakhir. Sampai langkah kaki mereka tiba di ranjang empuk milik Regan.Yunika sudah tidak tahan lagi, apalagi terus berpura-pura tidak merespon Regan. Dia hanya mematung dan membeku seperti mayat beku yang tidak bernapas. Karena terus dipancing tubuhnya menggelepar lemas tidak berdaya. Bukan hanya Yunika yang merasakan siksaan itu, Regan pun tidak jauh berbeda dengannya. Dibandingkan dengan pengasuh-pengasuh sebelumnya, Regan tidak begitu peduli dan tidak sampai melakukan tindakan seperti sekarang mereka langsung kabur keluar dari kamar dan resign.Sekarang, celana pendeknya yang menggembung sulit untuk disembunyikan dari Yunika.
Di kediaman Irawan. Beberapa wanita yang pernah bekerja di kediaman tersebut tidak tahan diperlakukan seenaknya sendiri oleh Regan. Terlebih para wanita yang menjadi pengasuh Regan Irawan. Pria muda normal yang berpura-pura menjadi pria idiot setelah mengalami kecelakaan. Semua anggota keluarga Irawan menganggapnya gila karena benturan di kepala akibat kecelakaan. Aksi Regan membuat para baby sitter yang merawatnya resign hanya dalam hitungan hari. Hal-hal gila yang dilakukan Regan tidak hanya minta dimandikan dan disuapi tapi dia juga minta disusui oleh wanita-wanita itu. Tidak ada yang sudi dilecehkan oleh Regan Irawan. Niat Regan bertindak seperti itu memang disengaja karena para baby sitter itu merupakan suruhan keluarganya untuk mengawasi Regan dan melaporkan semua tindakan yang dilakukan oleh Regan tentang kemajuan perkembangan kondisi otak Regan. Tentunya mereka berharap Regan tidak memiliki kemajuan apapun demi merebut semua saham sebagai pewaris utama di perusahaan Irawan
Dua hari sebelum bekerja di kediaman keluarga Irawan.Yunika sedang berada di kediaman bersama kakak angkatnya Judika.Pagi hari ini Yunika sedang menyiapkan sarapan untuk kakaknya."Kira-kira kapan aku bisa masuk ke kantor? Jangan lupa kamu sudah menjanjikan pekerjaan untukku di sana!" Tagihnya pada Judika. Judika sedang melamun langsung tersadar lalu menyuap makanan yang dihidangkan di meja. Beberapa hari sebelumnya, Judika memang sudah menjanjikan pekerjaan kepada Yunika di kantor, namun mengingat pekerjaan di dunianya sekarang banyak sekali hal-hal berbahaya yang harus dihadapi dan hampir selalu melibatkan diri dengan penjahat, Judika mulai ragu untuk membawa serta Yunika."Apa uang yang aku berikan tidak cukup?" Tanyanya untuk mengubah alur pembicaraan mereka berdua.Yunika mengukir senyum pada salah satu sudut bibirnya lalu menarik kursi dan duduk tepat di depan Judika. Yunika memainkan garpu dalam genggaman tangannya lalu menunjuk ujung batang hidung Judika."Jangan-jangan kam







