Home / Romansa / Wanita yang Mendambakan Suamiku / Bab 1. Akad yang Terguncang

Share

Wanita yang Mendambakan Suamiku
Wanita yang Mendambakan Suamiku
Author: Bintu Hasan

Bab 1. Akad yang Terguncang

Author: Bintu Hasan
last update Petsa ng paglalathala: 2024-01-09 18:00:22

"Saya terima nikah dan kawinnya Rosaline binti Rafaelan Dirgantara dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."

Suara Liam terdengar mantap, bergema di aula pernikahan yang dipenuhi tamu. Cahaya lampu kristal memantul di kelopak bunga putih yang menghiasi ruangan, menciptakan suasana sakral yang nyaris sempurna.

Rosa menatap suaminya dengan senyum lega dengan sepasang mata yang berbinar penuh kebahagiaan. Tangan gemetar itu digenggam erat oleh Liam, seolah ingin menegaskan bahwa sekarang adalah awal baru bagi mereka. Semua orang menahan napas menunggu keputusan penghulu.

"Sah!" Suara para saksi menggema serempak, disusul tepuk tangan riuh dari para tamu.

Rosa menundukkan kepala, meresapi momen sakral yang baru saja terjadi. Hatinya bergetar, penuh syukur, penuh cinta. Hari ini, dia resmi menjadi istri Liam, pria yang selama ini dia cintai.

Senyumnya belum sempat memudar ketika tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang menggema di lantai marmer.

"Jadi dia yang kamu pilih untuk menggantikanku?"

Suara itu dingin, menusuk, penuh dengan kesombongan yang disengaja. Para tamu yang tadinya bersorak mulai berbisik, mencari sumber suara yang tiba-tiba mengacaukan kebahagiaan itu.

Dari arah pintu masuk, seorang wanita melangkah dengan penuh percaya diri. Gaun merah ketat membalut tubuhnya dengan sempurna, kontras dengan rambut panjang lurus yang menjuntai indah. Senyumnya tipis, tapi matanya menyala dengan tatapan penuh kemenangan.

Liam menegang, tangannya di sisi tubuh mengepal tanpa sadar. Rosa mengikuti arah pandangan semua orang dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Wanita itu terlalu cantik, terlalu mencolok, dan kehadirannya membawa hawa yang tidak menyenangkan.

"Mas, dia siapa? Apa maksudnya bilang kayak gitu tadi?" tanya Rosa dengan suara yang sangat pelan.

"Evelyn." Jawaban yang cukup membuat wanita dalam balutan gaun pengantin merah muda itu terkejut.

Evelyn. Nama itu tiba-tiba memenuhi benak Rosa meskipun dia belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Wanita yang seharusnya sudah menghilang dari kehidupan Liam lima tahun lalu kini berdiri di hadapan mereka.

"Lama nggak ketemu, Liam. Aku kangen," ucap Evelyn dengan nada manja yang dibuat-buat.

Suasana yang tadi penuh kebahagiaan berubah tegang dalam sekejap. Bisikan semakin keras, beberapa tamu mulai saling bertukar pandangan tidak percaya. Rosa mengerjap, mencoba memahami apa yang sedang terjadi di hadapannya.

"Keluar!" usir Liam dingin, rahangnya mengeras, pertanda bahwa dia sedang berusaha menahan emosi. Evelyn justru semakin mendekat dengan langkah santai seolah pernikahan ini hanyalah lelucon baginya.

"Memangnya kamu mau menikahi wanita yang udah nggak suci lagi, Liam?" lanjutnya dengan suara yang cukup lantang untuk didengar semua orang.

Tawa kecil keluar dari bibirnya, terdengar meremehkan dan menusuk. Rosa merasakan tubuhnya menegang, wajahnya langsung memanas. Liam langsung menoleh tajam dan air muka jelas menunjukkan amarah.

Para tamu semakin gaduh, beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian itu. Evelyn jelas sengaja membuat kekacauan dan dia melakukannya dengan penuh percaya diri.

"Maksud kamu apa?" Suara Liam terdengar lebih dingin dari sebelumnya.

Wanita yang memakai gaun merah menyala itu memiringkan kepala karena menikmati situasi. Tatapannya lalu beralih ke Rosa, menatap dari atas ke bawah dengan ekspresi seolah dia sedang menilai barang murah. Senyum sinisnya semakin melebar dan dia melanjutkan dengan nada suara yang dibuat dramatis.

"Aku cuma kasihan sama kamu, Liam. Kamu pikir dia itu perempuan baik-baik? Jangan bodoh. Selama ini dia cuma membohongi kamu."

Rosa merasa perutnya seperti ditinju mendengar kata-kata itu. Detik berikutnya, seorang pria melangkah masuk dari pintu belakang, wajahnya tidak asing bagi sebagian tamu. Evelyn menoleh ke arahnya lalu tersenyum puas membuat Rosa langsung merasa ada yang tidak beres, apalagi ketika pria itu berhenti di samping Evelyn dan menatapnya dengan ekspresi penuh arti.

"Kenalin ...." Evelyn berkata dengan nada penuh kepuasan. "Ini Raka. Pria yang dulu pernah tidur sama istrimu."

Ruangan langsung bergemuruh. Beberapa tamu langsung menutup mulut mereka karena terkejut. Rosa merasakan tubuhnya membeku, wajahnya seketika memucat.

Liam menegang di tempat dengan mata melebar, menatap Evelyn dan pria itu dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Detik itu juga, kebahagiaan yang baru saja dia rasakan seakan runtuh dalam sekejap.

"Apa maksudnya ini?" Suara Liam bergetar, tapi nadanya mengandung kemarahan yang berusaha ditahan.

"Mas, aku nggak—"

"Maksudku?" potong Evelyn dengan suara lantang ketika Rosa mencoba melakukan pembelaan. Setelah itu, dia melirik Rosa dengan senyum mengejek sebelum menatap Liam lagi, "Ah, sayang sekali kamu sangat mudah dibodohi, Liam. Kamu pikir dia setia ke kamu? Kamu pikir dia perempuan baik-baik? Kamu salah besar."

Liam menoleh ke arah Rosa, matanya dipenuhi keraguan. Sementara itu, Rosa kembali membuka mulut karena ingin membela diri, tapi suaranya tercekat. Semua mata kini tertuju wanita dalam balutan gaun pengantin itu seakan menunggu penjelasan. Namun, bagaimana dia bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tahu?

"Aku nggak kenal dia, Mas." Rosa akhirnya berhasil bersuara meskipun terdengar lirih. "Aku nggak pernah punya hubungan apa pun sama dia."

Evelyn terkekeh kecil, dia menganggap pernyataan Rosa adalah lelucon. Dia pun menatap Raka dengan ekspresi puas, kemudian kembali ke Liam. "Oh, ayolah, Liam. Jangan bilang kamu masih percaya omongannya. Coba tanya Raka sendiri."

Pria yang sejak tadi diam itu kini membuka suara. "Aku nggak tahu apa dia ingat atau pura-pura lupa, tapi kami pernah dekat beberapa tahun lalu. Aku masih ingat wajahnya. Dia Rosaline."

Pernyataan itu membuat Rosa semakin gemetar. Dia ingin berteriak, ingin menyangkal, tapi kata-kata seakan menguap dari pikirannya. Liam menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada kemarahan, ada kekecewaan, dan yang paling menyakitkan, ada keraguan di sana.

"Mas, percaya sama aku. Aku nggak pernah kenal sama dia, apalagi sampai tidur." Rosa mencoba meraih tangan Liam, tapi pria itu justru menarik diri.

Evelyn tersenyum puas melihat itu. "Kamu mau tetap menikah dengan perempuan kayak gini, Liam? Aku heran, padahal dulu kamu hanya mau wanita yang benar-benar jadi milikmu. Aku kira kamu masih laki-laki yang sama."

"Ini sulit dipercaya." Liam mengembuskan napas keras lalu menatap istrinya dengan ekspresi sulit ditebak. Evelyn tidak berhenti di sana, dia kembali berbicara dengan suara lebih tajam.

"Lagian, kamu masih milikku, Liam. Aku nggak peduli dengan pernikahan ini. Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."

Pernyataan itu menggema di seluruh ruangan, membuat Rosa semakin merasa terimpit. Tamu-tamu mulai bergumam, bisikan mereka semakin keras, bahkan beberapa dari mereka terlihat menatap Rosa dengan pandangan mencurigakan. Liam masih diam, seperti berada dalam kebingungan besar.

Rosa menatap suaminya, berharap Liam akan membela. Namun, yang dia dapatkan hanyalah keheningan. Hatinya mencelos, ada perasaan sakit yang mulai merayap. Apakah Liam benar-benar akan meragukannya hanya karena omongan Evelyn?

Dan untuk pertama kalinya sejak akad tadi, Rosa merasa pernikahannya sudah berada di ambang kehancuran, bahkan sebelum sempat dimulai.

"Dia mantan pacar Liam? Gimana kalau dia bohong supaya mereka bisa balikan?" celetuk salah seorang yang hadir di sana.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 41

    Sembilan bulan berlalu sejak tangis penyesalan dan pengampunan bergema di lereng Gunung Lawu. Waktu berjalan seperti air yang mengalir perlahan, mengikis satu per satu batuan tajam trauma yang selama ini menyumbat aliran kebahagiaan di antara Liam dan Rosa.Segala bentuk kemewahan palsu yang dulu menjadi pemicu petaka telah mereka tanggalkan tanpa sisa. Rumah utama yang penuh kenangan pahit, saham-saham warisan yang tercemar sengketa, hingga posisi mentereng Liam di ibu kota, semuanya telah dilepaskan dan dialihkan untuk mendanai panti asuhan serta yayasan sosial korban kecelakaan kerja.Kini, mereka berada di sebuah kota yang jauh lebih tenang, di pinggiran Jogjakarta, tempat di mana langit sore selalu berwarna jingga hangat tanpa sekat kepulan polusi.Liam membangun kembali hidupnya dari titik paling dasar. Tidak ada lagi setelan jas mewah seharga puluhan juta atau ratusan karyawan yang membungkuk hormat. Pria tegap itu kini hanya memimpin sebuah perusahaan kontraktor lokal kecil-ke

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 40

    Dia mencoba mengangkat tangan kirinya yang tertancap jarum infus, memberikan isyarat dengan gerakan lemah agar Rosa mendekat ke arahnya. Liam menoleh ke belakang, menatap Rosa dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Ada permohonan yang tak terucap dari mata Liam, sebuah permohonan dari seorang anak yang sedang menyaksikan ibunya sekarat, meminta agar sang istri sudi memberikan secercah kebaikan di ujung jalan kematian ini. Rosa menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kamar yang dingin, lalu mengembuskannya dengan sangat perlahan untuk menguasai gejolak emosi di dalam dadanya. Dia melangkah maju dengan langkah kaki yang teratur dan tegar, memutari ranjang, hingga kini dia berdiri tepat di sisi lain tempat tidur, berhadapan langsung dengan ibu mertuanya. Begitu Rosa berada cukup dekat, Bu Diana dengan gerakan yang tergesa-gesa langsung meraih jemari tangan kanan Rosa. Cengkeraman tangan wanita tua itu terasa dingin namun dipenuhi oleh keputusasaan yang luar

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 39

    Perjalanan darat menembus pekatnya malam menuju lereng Gunung Lawu terasa bagai sebuah migrasi panjang tanpa akhir. Di dalam kabin mobil yang kedap, kesunyian bergulir di antara deru mesin yang konstan dan sapuan lampu sorot yang membelah jalanan aspal berkelok-kelok. Di kanan dan kiri jalan, siluet pohon-pohon jati dan pinus yang rapat tampak seperti barisan raksasa hitam yang membisu, menyaksikan pelarian sebuah keluarga yang sedang dikejar oleh waktu. Liam memfokuskan pandangannya pada marka jalan di depan. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah akibat kantuk dan sisa tangis terasa sangat perih, namun dia menolak untuk menepi walau hanya untuk sekadar memejamkan mata selama lima menit. Di dalam dadanya, ada ketakutan yang teramat sangat ketakutan bahwa dia akan terlambat, ketakutan bahwa ibunya akan pergi sebelum dia sempat mendengar satu patah kata pun penjelasan, atau sebelum dia sempat memberikan satu pen

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 38

    Ruang tengah itu mendadak kehilangan seluruh suplainya akan udara.Kesunyian yang tercipta pasca-pengakuan Rosa terasa begitu pekat, menindih dada siapa pun yang ada di sana hingga terasa sesak.Naina yang duduk di sudut sofa langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya ikut meleleh melihat bagaimana takdir sedang menguliti sahabatnya dengan cara yang begitu kejam.Liam menatap layar laptop, lalu beralih menatap Rosa yang duduk mematung dengan pandangan kosong.Tubuh pria itu bergetar hebat.Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ini membakar dirinya, kini berubah menjadi sebuah kehancuran mental yang mutlak."Ros..." suara Liam tercekat, nyaris tak terdengar.Dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke lantai, berlutut dan mencoba meraih kaki Rosa dengan tangan yang gemetar."Rosa, aku... demi Allah, aku nggak tahu... Aku nggak pernah tahu kalau perusahaan Ayah dulu...""Jangan sentuh aku dulu, Mas. Tolong," potong Rosa, suaranya sangat pelan, sangat tenang, namun getaran luka di dalamn

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 37

    Angin siang yang berembus kencang di pekarangan teras membuat dedaunan pohon mangga saling bergesekan, menciptakan suara gemeresik yang seolah memperingatkan Rosa akan bahaya baru.Rosa masih berdiri mematung di dekat pagar besi, menatap benda pipih berwarna perak di atas pilar beton dengan pandangan nanar.Genggamannya pada selang air melonggar hingga air mengalir membasahi rumput di bawah kakinya tanpa dia sadari.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rosa akhirnya mematikan keran air, lalu meraih flashdisk pemberian Rainer itu.Logam dinginnya terasa seperti es yang menyengat kulit telapak tangannya.Kalimat terakhir Rainer terus bergaung di dalam kepalanya seperti mantera yang menakutkan:Dosa besar di masa lalu yang membuat ibunya bersedia menghancurkan pernikahanmu.Baru saja Rosa hendak melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah mobil taksi online berhenti di depan pagar.Pintu belakang terbuka, dan Naina keluar dengan membawa sekotak martabak manis kesukaan Rosa.Senyum ceria sahaba

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 36

    Malam-malam di rumah baru mereka kini berjalan dengan pola yang berbeda, namun esensi jarak itu masih ada.Tiga minggu telah berlalu sejak dua garis merah itu mengubah status Rosa menjadi seorang calon ibu.Perubahan fisik mulai terlihat; wajah Rosa terkadang tampak lebih bersinar, namun gurat lelah di matanya akibat morning sickness yang parah tidak bisa disembunyikan.Liam benar-benar membuktikan ucapannya.Pria itu berubah total menjadi sosok yang sangat domestik.Setiap pagi sebelum matahari terbit, Liam sudah terbangun untuk menyiapkan air hangat dan wedang jahe di nakas tempat tidur Rosa.Dia mengambil alih cucian, memesan makanan bernutrisi, bahkan mengurangi jam kerjanya di kantor secara drastis demi bisa berada di rumah lebih lama.Namun, bagi Rosa, semua perhatian fisik itu belum cukup untuk meruntuhkan benteng pertahanan di dalam dadanya.Rosa masih sulit percaya pada Liam.Jauh di dalam lubuk hatinya, trauma enam bulan disidang dan dituduh secara kejam oleh suaminya sendir

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 3. Retaknya Kepercayaan

    Liam dan Rosa melangkah ke dalam aula pernikahan, tetapi suasana yang menyambut mereka sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Bisikan-bisikan tajam terdengar di antara para tamu, menciptakan suasana penuh ketegangan yang menusuk hingga ke tulang. Mata-mata yang menatap mereka bukanlah ma

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 2. Keraguan

    "Benar, Mas. Evelyn itu mantan kamu. Gak menutup kemungkinan dia sengaja merencanakan semua ini supaya kita pisah."Rosa menggigit bibirnya, menahan gemuruh emosi yang bercampur aduk. Matanya penuh harap, menunggu Liam mengatakan sesuatu—membelanya, menyangkal tuduhan keji ini, atau setidaknya menu

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 5. Permainan Dimulai

    Pria itu menatapnya lekat-lekat. "Aku akan tetap bersamamu. Aku juga minta maaf soal tadi." Kata-kata itu terasa manis, tetapi juga menakutkan. Bisakah mereka benar-benar bertahan melawan dunia? Wanita itu menarik napas panjang. Dia ingin percaya, tetapi hatinya masih penuh ketakutan. Karena ken

  • Wanita yang Mendambakan Suamiku   Bab 4. Pergulatan Hati

    “Kamu mau ke mana, Liam? Keluarga kita sedang dipermalukan dan kamu masih mau membela perempuan ini?” Suara ibunya tajam, hampir seperti ancaman. Namun, Liam tidak goyah. Dia melangkah mendekati Rosa dan menggenggam tangannya dengan kuat, memberi isyarat bahwa dia tidak akan melepaskannya begitu saj

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status