Beranda / Romansa / Wanita yang dia lepaskan / BAB 3 – Ketiadaan Sebelum Kebangkitan

Share

BAB 3 – Ketiadaan Sebelum Kebangkitan

Penulis: L'encre
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 16:11:19

Ia telah belajar mengenali ketidakhadiran bahkan sebelum membuka matanya. Bukan hanya dinginnya seprai, hawa dingin yang menyelimuti sisi kiri tempat tidur dan tidak ada hubungannya dengan suhu ruangan. Itu adalah keheningan. Keheningan yang khas, bukan keheningan malam—berat, menyelimuti, hampir melindungi—tetapi keheningan pagi hari, lebih tipis, lebih rapuh, seperti selembar kaca yang siap pecah hanya karena suara kecil. Keheningan yang memberitahunya, bahkan sebelum kesadarannya sepenuhnya terbangun: dia sudah tidak ada di sini lagi. Kau sendirian.

Ia tetap tak bergerak, matanya terpejam, menikmati, meskipun tanpa disadari, jeda singkat antara tidur dan bangun ini, momen yang terhenti di mana ia masih bisa berpura-pura. Berpura-pura bahagia. Berpura-pura pernikahannya bukanlah sebuah kehancuran yang lambat dan tak terhindarkan. Berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Lalu dia membuka matanya, dan kenyataan pun menyadarkannya.

Ruangan itu diselimuti senja kelabu, hanya diterangi oleh cahaya redup yang menembus tirai. Tirai tebal berwarna krem, tirai yang dipilihnya dengan penuh harapan tiga tahun sebelumnya. Ia teringat toko itu, cahaya keemasan yang masuk melalui jendela, dan penjual yang tersenyum padanya. "Ini akan menghangatkan ruangan Anda, Nyonya." Ia mengangguk, matanya berbinar, membayangkan pagi yang nyaman, sarapan di tempat tidur, pelukan Alexandre. Alexandre mengangkat bahu. "Seperti yang Anda inginkan." Sudah. Sejak awal, ia tidak tertarik pada apa yang dilakukannya, apa yang dipilihnya, atau siapa dirinya.

Dia menyingkirkan selimut dan melangkah ke lantai parket yang dingin. Tidak ada karpet. Alexandre tidak suka karpet. "Karpet memerangkap debu," katanya. Dia sudah lama menyerah mencoba menjelaskan kepadanya bahwa karpet itu lembut, hangat, dan nyaman. Dia tidak suka apa pun yang lembut. Dia tidak suka apa pun yang hangat. Dia hanya menyukai hal-hal yang bersih, steril, dan terkendali.

Ia mengenakan jubah tidurnya—jubah katun tua itu, yang sudah usang hingga siku, yang ia simpan lebih karena kebiasaan daripada selera—lalu menuju kamar mandi. Gerakannya lambat, mekanis, seolah tubuhnya bertindak tanpa kehendaknya, didorong oleh kekuatan samar yang tidak memerlukan pemikiran lebih lanjut. Menyalakan lampu. Menyalakan keran. Melihat dirinya di cermin.

Wajah di hadapannya bukanlah wajahnya. Atau lebih tepatnya, itu milik seorang wanita yang tidak lagi ia kenali. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat dalam, kerutan-kerutan seperti bekas badai. Kulitnya kusam, hampir abu-abu. Rambutnya, yang diikat terburu-buru, tergerai tak anggun di bahunya. Ia teringat masa-masa ketika ia merawat dirinya sendiri, ketika ia menghabiskan berjam-jam menata rambutnya, memakai riasan, memilih pakaiannya. Masa-masa ketika ia mempesona, ketika ia tertawa, ketika ia benar-benar hidup.

Masa itu telah berlalu. Terkubur di bawah lima tahun keheningan dan pil-pil putih.

Ia menyikat giginya secara mekanis, tatapannya terpaku, pikirannya melayang ke tempat lain. Ia memikirkan hari yang akan datang, kosong dan panjang seperti hari-hari lainnya. Ia akan membuat sarapan, merapikan dapur, berbelanja, menyiapkan makan malam, dan menunggu. Menunggu dia pulang. Menunggu pandangan sekilas, sepatah kata, isyarat. Menunggu sesuatu berubah. Tetapi tidak ada yang pernah berubah. Setiap hari sama seperti hari sebelumnya, dan setiap hari menandai hari berikutnya, dalam pengulangan yang suram dan tak berujung.

Ia menuruni tangga, anak tangga berderit di bawah telapak kakinya yang telanjang. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi. Ia telah belajar mengenali kesunyian semacam ini, kesunyian yang mengikuti kepergian Alexandre dan mendahului kepulangannya. Kesunyian yang berat dan mencekam yang membebani pundaknya seperti jubah timah. Awalnya ia mencoba mengisinya dengan menyalakan radio, memutar musik, menelepon teman-teman. Tetapi teman-temannya secara bertahap bosan dengan panggilan teleponnya yang terlalu sering dan keluhannya yang terlalu pelan. Radio tidak lagi cukup untuk menutupi kekosongan itu. Musik tidak lagi menggerakkannya. Jadi ia menyerah. Ia telah belajar untuk hidup dalam kesunyian, untuk menghuninya, untuk menjadi satu dengannya.

Dapur itu kosong, tentu saja, dan sangat rapi. Teko kopi masih hangat, cangkir Alexandre ada di wastafel, dan ada remah-remah roti di atas meja. Dia makan siang sendirian, seperti biasa, tanpa menunggunya. Tanpa mengajak mereka berbagi momen ini. Mungkin dia lebih suka sendirian. Mungkin dia tidak tahan lagi dengan kehadirannya, suaranya, wajahnya. Mungkin memang dia tidak pernah tahan.

Dia membuat kopi untuk dirinya sendiri, duduk di meja, dan menyesapnya. Cairannya pahit, hampir mendidih. Dia tidak menambahkan gula. Dia sudah lama berhenti menambahkan pemanis ke kopinya, sama seperti dia berhenti melakukan banyak hal lainnya. Makan apa pun yang dia suka. Pergi keluar kapan pun dia mau. Bertemu teman-temannya. Sekadar menjalani hidup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 21 – Angka yang Ditemukan

    itu sunyi ketika dia kembali dari supermarket. Alice sedang sekolah, Alexandre tidak akan pulang sampai malam—jika dia pulang sama sekali—dan beban kesepian menimpa pundaknya seperti jubah timah. Dia meletakkan tas belanja di atas meja, secara mekanis menyimpan barang belanjaan ke dalam lemari es dan lemari dapur, lalu berhenti di tengah dapur, tangannya kosong, pandangannya kosong.Pertemuan dengan Sophie telah mengguncangnya lebih dari yang ingin dia akui. Melihat teman lamanya, mendengar suaranya, merasakan tangannya di lengannya—semuanya telah membangkitkan kenangan yang dia kira telah terkubur selamanya. Malam-malam yang dihabiskan dengan tertawa di kafe, bisikan rahasia, janji untuk tidak pernah kehilangan kontak. Semuanya tampak milik kehidupan lain, milik wanita lain. Seorang wanita yang ada sebelum Alexandre, sebelum keheningan, sebelum pil putih itu.Ia duduk di meja dapur, mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya di depannya. Layarnya hitam, sunyi, seperti teguran yang ter

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 20 – Undangan yang Tak Terduga

    Sophie tampaknya tidak yakin. Dia meletakkan troli belanjanya, mendekat, dan menatap langsung ke mata Anne. "Ini bukan hanya kelelahan," katanya dengan suara rendah. "Kau terlihat kurus. Wajahmu pucat. Matamu... kosong. Sepertinya kau belum tidur selama berminggu-minggu."Anne memalingkan kepalanya, tak sanggup menatap tatapan tajam itu. Ia merasakan air mata menggenang, gumpalan emosi mencekik tenggorokannya, mengancam akan meledak. Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan Sophie, yang menatapnya dengan kekhawatiran yang sudah lama tak ia lihat."Ini memang masa-masa sulit," katanya, sambil memaksakan senyum. "Kau tahu kan bagaimana rasanya, rutinitas sehari-hari, anak-anak, rumah...""Dan Alexander?" tanya Sophie, dan suaranya berubah—lebih keras, lebih tajam, seolah-olah dia bersiap mendengar kabar terburuk.Anne ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan? Kebenaran? Bahwa suaminya berselingkuh, mengabaikannya, memaksanya menelan pil yang komposisinya tidak dia ketahui? Bahwa selama

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 19 – Undangan yang Tak Terduga

    Dia teringat kembali pada senyum yang pernah dikenakannya di depan teleponnya tadi. Senyum yang bukan ditujukan untuknya. Senyum untuk orang lain. Dan dia merasakan tekad baru muncul dalam dirinya, masih rapuh, masih ragu-ragu, tetapi sangat nyata.Dia tidak bisa terus seperti ini. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Dia tidak bisa tetap diam.Dia perlu tahu. Dia perlu menemukan kebenaran, seluruh kebenaran, betapapun menyakitkannya itu. Dan untuk itu, dia membutuhkan bantuan. Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakiminya, seseorang yang dapat membantunya melihat segala sesuatunya dengan jelas.Ia teringat Sophie. Sophie, sahabat lamanya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui, yang telah ia abaikan, lupakan, dan tinggalkan. Sophie, yang pernah berkata kepadanya: "Jika kau membutuhkanku, aku akan ada di sana. Selalu."Mungkin sudah saatnya menghubunginya. Mungkin sudah saatnya memecah keheningan. Mungkin sudah saatnya, akhirnya, un

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 18– Pesan dari Yang Lain

    Kepulangan yang terlambat. Itu yang paling jelas, yang paling sulit diabaikan. Alexandre selalu bekerja keras—dia seorang dokter, dan jam kerja seorang praktisi rumah sakit sama sekali tidak teratur. Tetapi selama beberapa bulan terakhir, ketidakhadirannya menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih berkepanjangan. Dia berangkat pagi-pagi sekali, kadang-kadang sebelum fajar, dan pulang larut malam, seringkali setelah tengah malam. Ketika dia bertanya di mana dia berada, dia akan menjawab "sedang bekerja" atau "sedang rapat," tanpa pernah memberikan detail apa pun, tanpa pernah menawarkan penjelasan. Dan dia, yang penurut, patuh, takut akan konflik, menerima jawaban-jawaban yang mengelak ini tanpa mempertanyakannya.Lalu ada akhir pekan. Akhir pekan yang terkenal itu ketika dia "siaga," ketika dia harus "menggantikan seorang kolega," ketika dia "menghadiri konferensi di sisi lain Prancis." Dia akan berangkat Jumat malam, kembali Minggu siang, dan dia akan menghabiskan empat puluh delap

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 17 – Pesan dari Yang Lain

    Ia berlama-lama di dapur setelah suaminya pergi. Piring-piring sudah dicuci, cangkir-cangkir sudah disimpan, meja sudah dilap. Rumah itu bersih, sunyi, rapi—seperti biasa, seperti yang diinginkan suaminya. Tetapi kesunyian pagi itu berbeda. Kesunyian itu terasa angker. Dipenuhi hantu, kecurigaan, pertanyaan yang tak terjawab. Dan yang terpenting, kesunyian itu dipenuhi dengan bayangan-bayangan. Bayangan-bayangan yang telah ia coba lupakan, tekan, kubur dalam-dalam di dalam dirinya, dan yang muncul ke permukaan seperti jiwa-jiwa yang tenggelam yang tak lagi bisa ia tahan.Dia duduk di sofa ruang tamu, menghadap jendela, dan membiarkan kenangan mengalir.Notifikasi-notifikasi itu. Di situlah semuanya bermula, berbulan-bulan yang lalu. Mungkin bahkan bertahun-tahun. Dia tidak ingat persis kapan pertama kali dia memperhatikan sesuatu yang tidak biasa—detail kecil, hampir tak terlihat yang tidak akan pernah diperhatikan oleh istri yang kurang jeli. Tapi Anne jeli. Dia selalu jeli, bahkan k

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 16 – Bau Asing

    Kemudian datanglah panggilan-panggilan itu. Dia akan mengangkat teleponnya, merendahkan suaranya, berjalan keluar ke taman, atau mengunci diri di kantornya. Ketika dia bertanya siapa yang menelepon, dia akan menjawab "pekerjaan" atau "teman," tanpa pernah menyebutkan nama, tanpa pernah menjelaskan secara spesifik. Dia tidak mendesaknya. Dia tidak pernah mendesaknya.Lalu ada parfum itu. Aroma menyengat yang melekat pada pakaiannya, rambutnya, tubuhnya. Aroma yang tidak ia kenali, yang tidak pernah ia beli, yang tidak pernah ia pakai. Suatu malam, saat menyimpan mantelnya, ia menemukan sehelai rambut cokelat panjang tersangkut di kerah. Ia menatapnya dengan terkejut, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan—atau lebih tepatnya, ia terlalu takut akan konsekuensi jika ia berani mengatakannya.Dia juga teringat foto itu. Foto yang pernah dilihatnya sekilas suatu hari, dari balik bahunya, ketika dia tanpa s

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 8 – Sweater Ayah

    Ia duduk lama di tepi tempat tidur, tangannya bertumpu pada lutut, pandangannya tertunduk di lipatan seprai. Celana jins yang dikenakannya sudah usang di bagian paha, pudar karena sering dicuci, tetapi ia tidak akan menggantinya. Ia tidak pernah menggantinya. Itu adalah salah satu pakaian yang dike

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 7 – Gerakan mekanis

    Tentu saja dia menolak. Dengan sopan, tetapi tegas. "Kurasa aku tidak akan bisa pergi," dia berbohong. Thomas sedikit memaksa, lalu menyerah, kecewa. "Mungkin lain kali. Kami merindukanmu, Anne." Dia hampir menjawab, "Aku juga merindukan diriku sendiri." Tetapi dia tetap diam.Ia membilas sikat gig

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 6 – Gerakan mekanis

    "Siapakah kau?" bisiknya. "Apa yang telah terjadi padamu?"Cermin itu tidak menjawab. Ia hanya bisa memantulkan, dan apa yang dipantulkannya adalah seorang wanita yang hampir tidak ada lagi. Sebuah bayangan. Sebuah hantu. Sebuah cangkang kosong.Ia terdiam lama, tangannya bertumpu pada cermin, pand

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 5 – Refleksi Seorang Wanita Tak Dikenal

    Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, begitu dekat sehingga napasnya membentuk kabut tipis di permukaan yang dingin. Ia menatap matanya sendiri, mata yang dulunya begitu cerah, begitu berkilau, mampu menerangi seluruh ruangan. Hari ini, mata itu tak bernyawa. Kosong. Seperti dua genangan air abu-abu d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status