แชร์

BAB 7 – Gerakan mekanis

ผู้เขียน: L'encre
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-13 16:17:54

Tentu saja dia menolak. Dengan sopan, tetapi tegas. "Kurasa aku tidak akan bisa pergi," dia berbohong. Thomas sedikit memaksa, lalu menyerah, kecewa. "Mungkin lain kali. Kami merindukanmu, Anne." Dia hampir menjawab, "Aku juga merindukan diriku sendiri." Tetapi dia tetap diam.

Ia membilas sikat giginya, meletakkannya di gelas, dan mengeringkan tangannya. Gerakannya mengalir dengan lancar, tanpa makna. Ia meninggalkan kamar mandi, menyeberangi lorong, dan memasuki kamar tidur. Ranjang masih berantakan, seprainya kusut. Ia akan mengurusnya nanti. Atau mungkin tidak. Mungkin ia akan menghabiskan sepanjang hari dalam kelesuan yang semakin menguasainya, tidak mampu memutuskan untuk bertindak, merapikan, atau menjalani hidup.

Dia membuka lemari pakaian, mengambil celana jins usang, dan sweter kebesaran. Sweter ayahnya. Warnanya abu-abu, tidak berbentuk, dengan lubang di siku. Dia telah memakainya selama bertahun-tahun, jauh setelah sweter itu kehilangan bentuk dan keanggunannya. Ayahnya membelinya di pasar loak, pada suatu hari Minggu yang hujan, ketika dia berusia lima belas tahun. "Ini, Nak, ini selembut bulu domba. Kau akan lihat, kau tidak akan pernah ingin melepasnya." Ayahnya benar. Dia memang tidak pernah melepasnya. Bahkan sekarang setelah ayahnya meninggal, dia masih memakainya, seperti jimat, seperti perisai yang menyedihkan melawan dinginnya dunia.

Ia mengenakan sweter itu tanpa melihat. Kainnya kasar karena sudah dicuci berkali-kali, tetapi masih menyimpan aroma ayahnya—atau mungkin itu hanya ilusi, ingatan penciuman yang masih melekat di benaknya. Itu tidak penting. Sweter ini adalah satu-satunya yang masih melindunginya, satu-satunya penghalang antara dirinya dan kehancuran.

Ia kembali memikirkan konferensi itu. Ia membayangkan ruangan itu, kursi-kursi berlengan merah, panggung, mikrofon. Ia membayangkan wajah-wajah yang menoleh ke arahnya, penuh perhatian, kagum. Ia membayangkan tepuk tangan. Dan kemudian ia membayangkan kepulangan ke rumah, pintu yang dibanting, tatapan dingin Alexandre. "Jadi, bagaimana konferensinya?" tanyanya dengan suara netral, terlalu netral, dan ia akan tahu, tanpa perlu ia mengatakannya, bahwa Alexandre tidak setuju, bahwa ia tidak senang, bahwa ia telah membangkang. Ia tidak akan berteriak, tidak akan mengancam. Itu bukan gayanya. Ia hanya akan menatapnya dengan penghinaan diam yang merendahkannya, memunggunginya, dan mengunci diri di kantornya. Dan keesokan harinya, ia akan berkata: "Kau harus istirahat. Kau terlalu memforsir diri. Itu tidak baik untukmu." "Dan ia akan tahu bahwa itu bukan kepedulian, tetapi pengendalian."

Jadi dia menolak. Karena takut. Karena pengecut. Karena kebiasaan.

Ia duduk di tepi tempat tidur, tangannya bertumpu pada lutut, pandangannya termenung. Ia teringat konferensi lain, beberapa tahun sebelumnya. Ia menghabiskan malam itu berlatih presentasinya, berdiri di depan cermin di kamar hotelnya, telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdebar kencang. Ia berhasil. Ia tampil cemerlang. Malam itu, ia bertatap muka dengan seorang pria di barisan depan, seorang asing dengan senyum mempesona, yang bertepuk tangan lebih keras dari yang lain. Alexandre. Malam itu, ia mengira hidupnya baru saja dimulai. Ia tidak tahu bahwa hidupnya baru saja berakhir.

Dia berdiri dan mengusir pikiran-pikiran itu. Merenungkan masa lalu tidak ada gunanya. Masa lalu telah mati, dan dia pun ikut mati. Hanya masa kini yang tersisa: rumah ini, keheningan ini, pil-pil yang akan segera ditelannya. Dia merapikan sweter di pinggulnya, menarik napas dalam-dalam, dan turun ke bawah.

Dapur menantinya, bersih dan sunyi seperti kuburan. Alexandre sudah ada di sana, duduk di meja, telepon di tangan. Dia tidak mendongak ketika wanita itu masuk. Ritual pun bisa dimulai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 21 – Angka yang Ditemukan

    itu sunyi ketika dia kembali dari supermarket. Alice sedang sekolah, Alexandre tidak akan pulang sampai malam—jika dia pulang sama sekali—dan beban kesepian menimpa pundaknya seperti jubah timah. Dia meletakkan tas belanja di atas meja, secara mekanis menyimpan barang belanjaan ke dalam lemari es dan lemari dapur, lalu berhenti di tengah dapur, tangannya kosong, pandangannya kosong.Pertemuan dengan Sophie telah mengguncangnya lebih dari yang ingin dia akui. Melihat teman lamanya, mendengar suaranya, merasakan tangannya di lengannya—semuanya telah membangkitkan kenangan yang dia kira telah terkubur selamanya. Malam-malam yang dihabiskan dengan tertawa di kafe, bisikan rahasia, janji untuk tidak pernah kehilangan kontak. Semuanya tampak milik kehidupan lain, milik wanita lain. Seorang wanita yang ada sebelum Alexandre, sebelum keheningan, sebelum pil putih itu.Ia duduk di meja dapur, mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya di depannya. Layarnya hitam, sunyi, seperti teguran yang ter

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 20 – Undangan yang Tak Terduga

    Sophie tampaknya tidak yakin. Dia meletakkan troli belanjanya, mendekat, dan menatap langsung ke mata Anne. "Ini bukan hanya kelelahan," katanya dengan suara rendah. "Kau terlihat kurus. Wajahmu pucat. Matamu... kosong. Sepertinya kau belum tidur selama berminggu-minggu."Anne memalingkan kepalanya, tak sanggup menatap tatapan tajam itu. Ia merasakan air mata menggenang, gumpalan emosi mencekik tenggorokannya, mengancam akan meledak. Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan Sophie, yang menatapnya dengan kekhawatiran yang sudah lama tak ia lihat."Ini memang masa-masa sulit," katanya, sambil memaksakan senyum. "Kau tahu kan bagaimana rasanya, rutinitas sehari-hari, anak-anak, rumah...""Dan Alexander?" tanya Sophie, dan suaranya berubah—lebih keras, lebih tajam, seolah-olah dia bersiap mendengar kabar terburuk.Anne ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan? Kebenaran? Bahwa suaminya berselingkuh, mengabaikannya, memaksanya menelan pil yang komposisinya tidak dia ketahui? Bahwa selama

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 19 – Undangan yang Tak Terduga

    Dia teringat kembali pada senyum yang pernah dikenakannya di depan teleponnya tadi. Senyum yang bukan ditujukan untuknya. Senyum untuk orang lain. Dan dia merasakan tekad baru muncul dalam dirinya, masih rapuh, masih ragu-ragu, tetapi sangat nyata.Dia tidak bisa terus seperti ini. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Dia tidak bisa tetap diam.Dia perlu tahu. Dia perlu menemukan kebenaran, seluruh kebenaran, betapapun menyakitkannya itu. Dan untuk itu, dia membutuhkan bantuan. Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakiminya, seseorang yang dapat membantunya melihat segala sesuatunya dengan jelas.Ia teringat Sophie. Sophie, sahabat lamanya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui, yang telah ia abaikan, lupakan, dan tinggalkan. Sophie, yang pernah berkata kepadanya: "Jika kau membutuhkanku, aku akan ada di sana. Selalu."Mungkin sudah saatnya menghubunginya. Mungkin sudah saatnya memecah keheningan. Mungkin sudah saatnya, akhirnya, un

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 18– Pesan dari Yang Lain

    Kepulangan yang terlambat. Itu yang paling jelas, yang paling sulit diabaikan. Alexandre selalu bekerja keras—dia seorang dokter, dan jam kerja seorang praktisi rumah sakit sama sekali tidak teratur. Tetapi selama beberapa bulan terakhir, ketidakhadirannya menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih berkepanjangan. Dia berangkat pagi-pagi sekali, kadang-kadang sebelum fajar, dan pulang larut malam, seringkali setelah tengah malam. Ketika dia bertanya di mana dia berada, dia akan menjawab "sedang bekerja" atau "sedang rapat," tanpa pernah memberikan detail apa pun, tanpa pernah menawarkan penjelasan. Dan dia, yang penurut, patuh, takut akan konflik, menerima jawaban-jawaban yang mengelak ini tanpa mempertanyakannya.Lalu ada akhir pekan. Akhir pekan yang terkenal itu ketika dia "siaga," ketika dia harus "menggantikan seorang kolega," ketika dia "menghadiri konferensi di sisi lain Prancis." Dia akan berangkat Jumat malam, kembali Minggu siang, dan dia akan menghabiskan empat puluh delap

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 17 – Pesan dari Yang Lain

    Ia berlama-lama di dapur setelah suaminya pergi. Piring-piring sudah dicuci, cangkir-cangkir sudah disimpan, meja sudah dilap. Rumah itu bersih, sunyi, rapi—seperti biasa, seperti yang diinginkan suaminya. Tetapi kesunyian pagi itu berbeda. Kesunyian itu terasa angker. Dipenuhi hantu, kecurigaan, pertanyaan yang tak terjawab. Dan yang terpenting, kesunyian itu dipenuhi dengan bayangan-bayangan. Bayangan-bayangan yang telah ia coba lupakan, tekan, kubur dalam-dalam di dalam dirinya, dan yang muncul ke permukaan seperti jiwa-jiwa yang tenggelam yang tak lagi bisa ia tahan.Dia duduk di sofa ruang tamu, menghadap jendela, dan membiarkan kenangan mengalir.Notifikasi-notifikasi itu. Di situlah semuanya bermula, berbulan-bulan yang lalu. Mungkin bahkan bertahun-tahun. Dia tidak ingat persis kapan pertama kali dia memperhatikan sesuatu yang tidak biasa—detail kecil, hampir tak terlihat yang tidak akan pernah diperhatikan oleh istri yang kurang jeli. Tapi Anne jeli. Dia selalu jeli, bahkan k

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 16 – Bau Asing

    Kemudian datanglah panggilan-panggilan itu. Dia akan mengangkat teleponnya, merendahkan suaranya, berjalan keluar ke taman, atau mengunci diri di kantornya. Ketika dia bertanya siapa yang menelepon, dia akan menjawab "pekerjaan" atau "teman," tanpa pernah menyebutkan nama, tanpa pernah menjelaskan secara spesifik. Dia tidak mendesaknya. Dia tidak pernah mendesaknya.Lalu ada parfum itu. Aroma menyengat yang melekat pada pakaiannya, rambutnya, tubuhnya. Aroma yang tidak ia kenali, yang tidak pernah ia beli, yang tidak pernah ia pakai. Suatu malam, saat menyimpan mantelnya, ia menemukan sehelai rambut cokelat panjang tersangkut di kerah. Ia menatapnya dengan terkejut, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan—atau lebih tepatnya, ia terlalu takut akan konsekuensi jika ia berani mengatakannya.Dia juga teringat foto itu. Foto yang pernah dilihatnya sekilas suatu hari, dari balik bahunya, ketika dia tanpa s

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 8 – Sweater Ayah

    Ia duduk lama di tepi tempat tidur, tangannya bertumpu pada lutut, pandangannya tertunduk di lipatan seprai. Celana jins yang dikenakannya sudah usang di bagian paha, pudar karena sering dicuci, tetapi ia tidak akan menggantinya. Ia tidak pernah menggantinya. Itu adalah salah satu pakaian yang dike

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 6 – Gerakan mekanis

    "Siapakah kau?" bisiknya. "Apa yang telah terjadi padamu?"Cermin itu tidak menjawab. Ia hanya bisa memantulkan, dan apa yang dipantulkannya adalah seorang wanita yang hampir tidak ada lagi. Sebuah bayangan. Sebuah hantu. Sebuah cangkang kosong.Ia terdiam lama, tangannya bertumpu pada cermin, pand

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 5 – Refleksi Seorang Wanita Tak Dikenal

    Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, begitu dekat sehingga napasnya membentuk kabut tipis di permukaan yang dingin. Ia menatap matanya sendiri, mata yang dulunya begitu cerah, begitu berkilau, mampu menerangi seluruh ruangan. Hari ini, mata itu tak bernyawa. Kosong. Seperti dua genangan air abu-abu d

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 4 – Refleksi Seorang Wanita Tak Dikenal

    Dia menatap ke luar jendela. Di luar, hari baru saja menjelang, kelabu dan suram, seperti hidupnya. Kebun itu tampak sedih, pepohonan gundul, rumput menguning karena musim dingin. Dia ingat betapa dia dulu sangat menyukai berkebun. Menanam bunga, mencabut gulma, merasakan tanah di bawah jari-jariny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status