แชร์

BAB 8 – Sweater Ayah

ผู้เขียน: L'encre
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-13 16:20:13

Ia duduk lama di tepi tempat tidur, tangannya bertumpu pada lutut, pandangannya tertunduk di lipatan seprai. Celana jins yang dikenakannya sudah usang di bagian paha, pudar karena sering dicuci, tetapi ia tidak akan menggantinya. Ia tidak pernah menggantinya. Itu adalah salah satu pakaian yang dikenakan tanpa berpikir, yang menyesuaikan dengan bentuk tubuh setelah sering dipakai, yang menjadi kulit kedua.

Namun, yang terpenting sebenarnya adalah sweternya.

Dia menatap wol abu-abu yang menutupi lengan, pergelangan tangan, dan tangannya. Sweter ayahnya. Dia menemukannya di dalam kotak kardus beberapa minggu setelah pemakaman, ketika dia harus mengosongkan rumah masa kecilnya. Ibunya telah lama meninggal, ayahnya baru saja menyusulnya, dan dia mendapati dirinya sendirian, dikelilingi oleh perabot dan kenangan, memilah apa yang harus disimpan, apa yang harus diberikan, dan apa yang harus dibuang. Sweter itu terlipat di bagian belakang lemari, dibungkus kertas tisu, seperti sebuah relik. Dia langsung mengenalinya.

Itu adalah sweter wol tua yang tak berbentuk, berwarna abu-abu yang dulunya pasti lebih cerah, pudar dimakan waktu. Sweter itu berlubang di bagian siku, mansetnya berjumbai, dan masih berbau tembakau pipa dan kapur barus. Ayahnya memakainya pada hari Minggu, ketika ia membaca koran di dekat jendela ruang tamu, kakinya disandarkan di atas bangku, segelas anggur berada dalam jangkauannya. Ia ingat sore-sore yang tenang itu, diselingi oleh gemerisik halaman dan detak jam, ketika ia duduk di sampingnya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, merasa tenang oleh kehadirannya yang damai.

Ayahnya bukanlah tipe orang yang suka berpidato panjang lebar. Ia termasuk generasi yang jarang berbicara, yang lebih banyak mengungkapkan kasih sayang melalui isyarat daripada kata-kata. Semangkuk cokelat panas yang disiapkan di pagi hari sebelum sekolah. Tangan yang diletakkan di bahunya ketika ia pulang dengan sedih. Tatapan bangga di hari kelulusannya yang berbicara banyak. Ia tidak pernah mengatakan "Aku mencintaimu"—itu bukan sifatnya—tetapi ia selalu tahu. Cinta ayahnya adalah sesuatu yang pasti, sebuah fondasi, sebuah kepastian yang tidak pernah goyah.

Ketika dia meninggal, karena kanker mendadak yang telah menghancurkannya dalam hitungan bulan, dia merasa tanah di bawah kakinya ambruk. Alexandre tidak mengerti. "Dia sudah tua," katanya, hampir kesal dengan air matanya. "Itu pasti akan terjadi suatu hari nanti." Dia tidak menjawab. Dia mengertakkan giginya, menelan kesedihannya, dan melanjutkan hidup seperti yang telah diajarkan kepadanya: dalam diam.

Sweter itu adalah satu-satunya yang tersisa darinya. Ia mengambilnya, hampir dengan malu-malu, seperti seorang pencuri, dan menyembunyikannya di laci kamarnya. Alexandre tidak menyukainya. "Ini kain lusuh," katanya dengan sinis. "Kau tidak akan memakainya." Tetapi pada hari-hari ketika ia tidak ada di sana, ia akan mengeluarkannya, memakainya, dan merasa terlindungi. Terlindungi oleh wol usang yang pernah menyelimuti ayahnya, oleh aroma yang masih melekat, oleh kehadiran yang menenangkan dan seperti hantu.

Hari ini adalah salah satu hari seperti itu. Hari di mana dia perlu merasakan kehangatan cinta tanpa syarat di sekitarnya, cinta yang tidak berbohong, yang tidak mengkhianati, yang tidak meminta imbalan apa pun. Sweter ayahnya tidak akan menghakiminya. Sweter itu tidak akan mencelanya karena lemah, karena tunduk, karena telah menjadi bayangan yang tidak lagi dia kenali. Sweter itu hanya akan menyelimutinya, seperti yang akan dilakukan ayahnya, dengan isyarat yang sunyi dan lembut.

Ia membenamkan wajahnya di kerah kasar itu, menutup mata, dan menarik napas dalam-dalam. Bau tembakau telah memudar seiring berjalannya waktu, tetapi masih ada, samar, hampir tak teraba. Ia teringat ayahnya, tangannya yang keriput, senyumnya yang jarang, suaranya yang berat saat membacakan artikel koran dengan lantang. Ia ingat hari ketika ayahnya memberinya sweter ini, hari Minggu yang hujan, di pasar loak tempat mereka berlindung secara kebetulan. "Ini, Nak," katanya, "ini selembut bulu domba. Kau akan lihat, kau tak akan pernah ingin melepasnya." Ia benar. Ia memang tidak pernah melepasnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 21 – Angka yang Ditemukan

    itu sunyi ketika dia kembali dari supermarket. Alice sedang sekolah, Alexandre tidak akan pulang sampai malam—jika dia pulang sama sekali—dan beban kesepian menimpa pundaknya seperti jubah timah. Dia meletakkan tas belanja di atas meja, secara mekanis menyimpan barang belanjaan ke dalam lemari es dan lemari dapur, lalu berhenti di tengah dapur, tangannya kosong, pandangannya kosong.Pertemuan dengan Sophie telah mengguncangnya lebih dari yang ingin dia akui. Melihat teman lamanya, mendengar suaranya, merasakan tangannya di lengannya—semuanya telah membangkitkan kenangan yang dia kira telah terkubur selamanya. Malam-malam yang dihabiskan dengan tertawa di kafe, bisikan rahasia, janji untuk tidak pernah kehilangan kontak. Semuanya tampak milik kehidupan lain, milik wanita lain. Seorang wanita yang ada sebelum Alexandre, sebelum keheningan, sebelum pil putih itu.Ia duduk di meja dapur, mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya di depannya. Layarnya hitam, sunyi, seperti teguran yang ter

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 20 – Undangan yang Tak Terduga

    Sophie tampaknya tidak yakin. Dia meletakkan troli belanjanya, mendekat, dan menatap langsung ke mata Anne. "Ini bukan hanya kelelahan," katanya dengan suara rendah. "Kau terlihat kurus. Wajahmu pucat. Matamu... kosong. Sepertinya kau belum tidur selama berminggu-minggu."Anne memalingkan kepalanya, tak sanggup menatap tatapan tajam itu. Ia merasakan air mata menggenang, gumpalan emosi mencekik tenggorokannya, mengancam akan meledak. Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan Sophie, yang menatapnya dengan kekhawatiran yang sudah lama tak ia lihat."Ini memang masa-masa sulit," katanya, sambil memaksakan senyum. "Kau tahu kan bagaimana rasanya, rutinitas sehari-hari, anak-anak, rumah...""Dan Alexander?" tanya Sophie, dan suaranya berubah—lebih keras, lebih tajam, seolah-olah dia bersiap mendengar kabar terburuk.Anne ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan? Kebenaran? Bahwa suaminya berselingkuh, mengabaikannya, memaksanya menelan pil yang komposisinya tidak dia ketahui? Bahwa selama

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 19 – Undangan yang Tak Terduga

    Dia teringat kembali pada senyum yang pernah dikenakannya di depan teleponnya tadi. Senyum yang bukan ditujukan untuknya. Senyum untuk orang lain. Dan dia merasakan tekad baru muncul dalam dirinya, masih rapuh, masih ragu-ragu, tetapi sangat nyata.Dia tidak bisa terus seperti ini. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Dia tidak bisa tetap diam.Dia perlu tahu. Dia perlu menemukan kebenaran, seluruh kebenaran, betapapun menyakitkannya itu. Dan untuk itu, dia membutuhkan bantuan. Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakiminya, seseorang yang dapat membantunya melihat segala sesuatunya dengan jelas.Ia teringat Sophie. Sophie, sahabat lamanya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui, yang telah ia abaikan, lupakan, dan tinggalkan. Sophie, yang pernah berkata kepadanya: "Jika kau membutuhkanku, aku akan ada di sana. Selalu."Mungkin sudah saatnya menghubunginya. Mungkin sudah saatnya memecah keheningan. Mungkin sudah saatnya, akhirnya, un

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 18– Pesan dari Yang Lain

    Kepulangan yang terlambat. Itu yang paling jelas, yang paling sulit diabaikan. Alexandre selalu bekerja keras—dia seorang dokter, dan jam kerja seorang praktisi rumah sakit sama sekali tidak teratur. Tetapi selama beberapa bulan terakhir, ketidakhadirannya menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih berkepanjangan. Dia berangkat pagi-pagi sekali, kadang-kadang sebelum fajar, dan pulang larut malam, seringkali setelah tengah malam. Ketika dia bertanya di mana dia berada, dia akan menjawab "sedang bekerja" atau "sedang rapat," tanpa pernah memberikan detail apa pun, tanpa pernah menawarkan penjelasan. Dan dia, yang penurut, patuh, takut akan konflik, menerima jawaban-jawaban yang mengelak ini tanpa mempertanyakannya.Lalu ada akhir pekan. Akhir pekan yang terkenal itu ketika dia "siaga," ketika dia harus "menggantikan seorang kolega," ketika dia "menghadiri konferensi di sisi lain Prancis." Dia akan berangkat Jumat malam, kembali Minggu siang, dan dia akan menghabiskan empat puluh delap

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 17 – Pesan dari Yang Lain

    Ia berlama-lama di dapur setelah suaminya pergi. Piring-piring sudah dicuci, cangkir-cangkir sudah disimpan, meja sudah dilap. Rumah itu bersih, sunyi, rapi—seperti biasa, seperti yang diinginkan suaminya. Tetapi kesunyian pagi itu berbeda. Kesunyian itu terasa angker. Dipenuhi hantu, kecurigaan, pertanyaan yang tak terjawab. Dan yang terpenting, kesunyian itu dipenuhi dengan bayangan-bayangan. Bayangan-bayangan yang telah ia coba lupakan, tekan, kubur dalam-dalam di dalam dirinya, dan yang muncul ke permukaan seperti jiwa-jiwa yang tenggelam yang tak lagi bisa ia tahan.Dia duduk di sofa ruang tamu, menghadap jendela, dan membiarkan kenangan mengalir.Notifikasi-notifikasi itu. Di situlah semuanya bermula, berbulan-bulan yang lalu. Mungkin bahkan bertahun-tahun. Dia tidak ingat persis kapan pertama kali dia memperhatikan sesuatu yang tidak biasa—detail kecil, hampir tak terlihat yang tidak akan pernah diperhatikan oleh istri yang kurang jeli. Tapi Anne jeli. Dia selalu jeli, bahkan k

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 16 – Bau Asing

    Kemudian datanglah panggilan-panggilan itu. Dia akan mengangkat teleponnya, merendahkan suaranya, berjalan keluar ke taman, atau mengunci diri di kantornya. Ketika dia bertanya siapa yang menelepon, dia akan menjawab "pekerjaan" atau "teman," tanpa pernah menyebutkan nama, tanpa pernah menjelaskan secara spesifik. Dia tidak mendesaknya. Dia tidak pernah mendesaknya.Lalu ada parfum itu. Aroma menyengat yang melekat pada pakaiannya, rambutnya, tubuhnya. Aroma yang tidak ia kenali, yang tidak pernah ia beli, yang tidak pernah ia pakai. Suatu malam, saat menyimpan mantelnya, ia menemukan sehelai rambut cokelat panjang tersangkut di kerah. Ia menatapnya dengan terkejut, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan—atau lebih tepatnya, ia terlalu takut akan konsekuensi jika ia berani mengatakannya.Dia juga teringat foto itu. Foto yang pernah dilihatnya sekilas suatu hari, dari balik bahunya, ketika dia tanpa s

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 7 – Gerakan mekanis

    Tentu saja dia menolak. Dengan sopan, tetapi tegas. "Kurasa aku tidak akan bisa pergi," dia berbohong. Thomas sedikit memaksa, lalu menyerah, kecewa. "Mungkin lain kali. Kami merindukanmu, Anne." Dia hampir menjawab, "Aku juga merindukan diriku sendiri." Tetapi dia tetap diam.Ia membilas sikat gig

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 6 – Gerakan mekanis

    "Siapakah kau?" bisiknya. "Apa yang telah terjadi padamu?"Cermin itu tidak menjawab. Ia hanya bisa memantulkan, dan apa yang dipantulkannya adalah seorang wanita yang hampir tidak ada lagi. Sebuah bayangan. Sebuah hantu. Sebuah cangkang kosong.Ia terdiam lama, tangannya bertumpu pada cermin, pand

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 5 – Refleksi Seorang Wanita Tak Dikenal

    Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, begitu dekat sehingga napasnya membentuk kabut tipis di permukaan yang dingin. Ia menatap matanya sendiri, mata yang dulunya begitu cerah, begitu berkilau, mampu menerangi seluruh ruangan. Hari ini, mata itu tak bernyawa. Kosong. Seperti dua genangan air abu-abu d

  • Wanita yang dia lepaskan   BAB 4 – Refleksi Seorang Wanita Tak Dikenal

    Dia menatap ke luar jendela. Di luar, hari baru saja menjelang, kelabu dan suram, seperti hidupnya. Kebun itu tampak sedih, pepohonan gundul, rumput menguning karena musim dingin. Dia ingat betapa dia dulu sangat menyukai berkebun. Menanam bunga, mencabut gulma, merasakan tanah di bawah jari-jariny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status