MasukDi seberang telepon, Dewa Militer terdiam sejenak, lalu tertawa. "Kerahkan personel divisi operasi dua ke sana.""Hah?""Kalau kamu nggak bantu dia menyelesaikan masalah kecil, dia akan bikin masalah besar untukku! Bocah itu pasti mengira aku mengambil Pil Jiwa miliknya, jadi sekarang dia ingin aku bayar utang budi.""Hah?""Sudah, jangan terus hah, hah. Buat saja semeriah mungkin. Aku mau lihat, kalau dia tahu urusan Pil Jiwa itu sebenarnya cuma kesalahpahaman, apa dia akan nyesal karena berutang budi padaku cuma gara-gara masalah sekecil ini ...."....Di ruang makan klub ....Setelah selesai menelepon, Marlon kembali dan kebetulan mendengar Arlo mengatakan sesuatu tentang seorang ajudan yang akan datang dan membawa banyak orang. Dia langsung tertawa terbahak-bahak."Jangankan ajudan kecil, bahkan kalau kamu manggil komandan, hari ini nggak ada yang bisa menolongmu!"Marlon menoleh ke arah Sully dengan wajah penuh semangat. "Sully, tenang saja. Aku pasti akan membalaskan penghinaan t
Ketika mendengar bahwa Arlo adalah seorang semi-grandmaster, para anak orang kaya yang semula sudah ciut juga ikut gentar.Namun, setelah mendengar ucapan Marlon, mereka kembali merasa percaya diri.Di Kota Aramaya, jika sebagian kecil saja dari mereka bersatu, Azriel bahkan bisa dipaksa turun tangan."Aku belum selesai makan, jadi aku memang nggak akan pergi. Tapi sebaiknya kamu cepat sedikit. Setelah aku selesai makan, aku nggak akan nunggu."Arlo tertawa ringan. Dia sama sekali tidak menganggap orang-orang ini serius.Marlon langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon.Sully menghela napas pelan. Sheila benar-benar mendapatkan pria yang baik. Berani maju membela dan mampu memikul masalah.Kalau masalah ini tidak ditangani dengan baik, Keluarga Margono mungkin akan memicu permusuhan dengan seorang grandmaster tenaga transformasi. Meski tidak takut, bukan berarti mereka harus sengaja mencari masalah.Sully mengernyit, lalu berkata, "Marlon, ini bukan wilayahmu. Sebaiknya janga
Kilatan amarah melintas di wajah Sully. Beberapa tuan muda dan nona kaya yang datang bersama mereka pun tidak bisa menahan diri untuk ikut mencela."Siapa sih orang ini? Beraninya bicara sesombong itu!""Betul! Dia mau nakut-nakuti siapa sih?""Dia kira kami takut?""Sejak kapan ada orang segila ini di Kota Aramaya? Kok aku nggak pernah dengar?"Seorang pemuda berpakaian serba merek terkenal melangkah ke luar kerumunan. Dia maju selangkah lagi dan berdiri di samping Sully. Raut wajahnya penuh kesombongan saat menatap Arlo."Sekalipun Delfi bicara kasar, Sully sudah minta maaf buat dia. Wanitamu memang nggak tahu diri, kamu juga sebaiknya tahu batas. Sully punya pendidikan dan tata krama, tapi itu bukan berarti dia bisa ditindas!"Sheila sampai tertawa karena saking marahnya. "Jadi menurutmu, kalau seseorang minta maaf, orang lain wajib maafin? Kalau nggak maafin, berarti nggak tahu diri?""Kamu rupanya belum paham statusmu sendiri. Dengan identitas Sully, dia masih mau minta maaf ke ka
Ekspresi Sheila sama sekali tidak berubah. Bahkan posisinya pun tidak bergeser. Dia tetap bersandar di pelukan Arlo, sementara kilatan amarah melintas di matanya."Malu atau nggak, memangnya ada hubungannya sama kamu?" balas Sheila.Delfi mengepalkan tangan, lalu berkata dengan marah, "Kalau di Kota Naldern, terserah kamu mau goda siapa pun. Tapi ini Kota Aramaya. Jangan mempermalukan nama Keluarga Margono!"Sheila tertawa. Nada bicaranya dipenuhi ejekan. "Memangnya aku punya hubungan dengan Keluarga Margono?""Nggak punya? Kalau nggak punya, kenapa waktu pria murahan itu ditahan Keluarga Artika di kamp militer, kamu sampai mohon-mohon ke Nenek?" Delfi sangat marah hingga wajah putihnya memerah.Arlo tertegun mendengarnya. Dia benar-benar tidak tahu soal ini. Sheila juga tidak pernah menceritakannya.Dari sikap Sheila selama ini, hubungan antara dirinya dan Keluarga Margono tampak seperti air dan api. Tak disangka, demi dirinya, Sheila ternyata pernah pergi memohon belas kasihan."Teru
Ini benar-benar terlalu lugas. Jangan-jangan Arlo ini seorang biksu ?Sheila mendengus kesal. "Arlo, menurutku kamu perlu periksa ke dokter!"....Di Kota Aramaya, di sebuah rumah sakit swasta besar ....Valden mondar-mandir di depan ruang rawat Arfan. Tak lama kemudian, beberapa pakar neurologi keluar dari ruang rawat."Maaf, Pak Valden ...."Semua pakar itu menggeleng."Sepertinya pasien tiba-tiba mengalami rangsangan mental yang sangat kuat hingga menyebabkan gangguan jiwa. Gejala utamanya adalah hilangnya kemampuan berpikir. Kemungkinan besar kondisi ini nggak bisa dipulihkan dan nggak ada obatnya."Valden mengepalkan tangan erat-erat. Arfan bukan hanya pengawalnya, tetapi juga sahabatnya. Sekarang, hidupnya hancur begitu saja.Mendadak terdengar suara langkah kaki dari ujung koridor. Axelo datang dengan seorang pria paruh baya, berjalan cepat ke arah mereka."Sudah beres. Ambil ini." Axelo melemparkan Pil Jiwa kepada Valden.Valden langsung diliputi kegembiraan. Awalnya keluarga d
"Kamu bilang Bagas datang? Dan mengambil ginseng itu?" tanya Arlo dengan heran."Iya ...."Leonard tampak sangat bersalah."Maafkan aku, Arlo. Dia itu komandan besar. Waktu dia minta barang itu dan bilang mau bantu kamu simpan, aku ... aku nggak berani menolaknya."Wajah Leonard memerah. Dia berdiri, lalu membungkuk kepada Arlo."Kalau ... kalau dia benar-benar menelannya begitu saja, aku ... akan bekerja untukmu demi melunasi utang itu seumur hidup ....""Barang itu hilang saat berada di tanganku. Aku akan bertanggung jawab sampai akhir ...."Arlo mengangkat alisnya. Reaksi Leonard benar-benar aneh."Pak Leonard, apa-apaan ini? Hubunganku dengan Bagas cukup baik. Kalau dia ambil, ya biarkan saja. Aku cuma merasa aneh karena dia nggak kasih tahu aku dulu."Setelah berkata demikian, Arlo tersenyum. "Nggak masalah. Kalau dia nggak kembalikan, aku sendiri yang akan mencarinya. Kenapa aku harus menyalahkanmu? Utang apa? Jangan bicara sembarangan."Leonard tertegun.Itu adalah ginseng serib
"Pak Arlo, mulai sekarang Anda sudah menjadi pemilik klub malam kami! Kalau perlu, saya panggil semua karyawan sekarang juga supaya mendengarkan arahan Anda?"Manajer itu benar-benar takut ikut terseret masalah Keluarga Pangalila. Namun, mana ada gunanya penyesalan?Arlo bahkan tidak meliriknya, dia
Daniel sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari ruang privat itu. Saat tiba kembali di aula jamuan dan disambut Renata serta yang lainnya, pikirannya masih kacau dan kosong."Daniel, gimana? Kerja samanya sudah beres, 'kan?""Kamu sudah menyebut soal Keluarga Hanafi jadi pemasok ke pihak Ke
Yang membuat Isyana marah adalah karena pihak lawan terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Arlo di depan dirinya sebagai istri. Jelas-jelas itu tantangan langsung kepadanya."Bu Sheila, aku juga percaya pada kehebatan suamiku. Di masa depan dia pasti bisa menjadi dokter yang luar biasa.""Tap
Lokasi itu langsung sunyi senyap! Sekelompok anak orang kaya mendadak bengong. Seketika, mereka merasa hidup mereka seperti lelucon.Mutia juga terpana. Kakak iparnya benar-benar melakukannya! Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya?Hanya Lidya yang tangannya bergetar karena terlalu bersemangat. Saat







