LOGINDari awal sampai akhir, Arlo tetap tenang. "Selamat untukmu! Kamu berhasil menjalani hidup yang kamu inginkan."Arlo ingat betul, sejak SMA dulu Marcela memang sangat materialistis. Itu juga alasan Arlo menolaknya. Dia tidak menyukai perempuan yang terlalu realistis dan tanpa batasan.Marcela melambaikan tangan, berpura-pura rendah hati, "Ah, itu nggak seberapa! Oh ya, kelas kita mau mengadakan reuni. Rencananya akhir pekan ini. Ikut, ya?"Arlo sebenarnya ingin datang. Dulu semasa SMA dia punya beberapa sahabat dekat. Sudah lama tidak bertemu, entah bagaimana keadaan mereka sekarang.Hanya saja, belakangan urusannya cukup banyak. Perusahaan baru hasil kerja sama dengan Keluarga Soraya baru akan berjalan, dia juga sudah berjanji membantu Keluarga Simarta di duel arena, ditambah urusan Klinik Wellness. Waktunya belum tentu longgar, sehingga dia tampak ragu.Namun, Marcela mengira keraguan Arlo karena minder dan tidak berani datang. "Kita semua teman sekelas. Kalau hidupmu sekarang kurang
Arlo juga tidak menyangka akan bertemu teman SMA di tempat ini."Marcela, lama nggak bertemu!"Marcela adalah primadona sekolah sekaligus teman sekelas Arlo saat SMA. Dulu di sekolah, Marcela adalah dewi idaman semua siswa laki-laki, jumlah pengagumnya tak terhitung.Namun, Marcela malah menyukai Arlo yang maskulin dan tampan, bahkan pernah secara aktif mengejarnya. Sayangnya, Arlo menolaknya.Setelah lulus, mereka masuk universitas yang berbeda. Arlo kuliah di luar provinsi, sementara Marcela masuk universitas biasa. Sejak itu, keduanya tak pernah berhubungan lagi. Bagi Arlo, Marcela hanyalah seorang pelintas biasa dalam hidupnya.Namun bagi Marcela, Arlo malah menjadi noda dalam hidupnya. Arlo adalah satu-satunya kekalahan yang tak pernah bisa dia pahami. Dia selalu bertanya-tanya, dengan segala keunggulannya, mengapa dulu Arlo tega menolaknya?Karena itu, Marcela terus memperhatikan kabar tentang Arlo.Ketika mendengar keluarga Arlo bangkrut dan dia mengalami gangguan mental hingga
Arlo tertawa, lalu menendang bokong Chairil. "Pergi sana, sialan!"Mutia memandang Arlo. Sikapnya sama sekali tidak terlihat gugup. Jangan-jangan kakak iparnya memang benar-benar orang super kaya? Ketiganya keluar dengan tawa riang, lalu berkendara langsung menuju Edelweiss Residence.Edelweiss Residence adalah puncak dari kawasan rumah mewah di Naldern.Rumah paling murah saja harganya sudah puluhan miliar.Benar-benar setiap jengkal tanah bernilai emas! Saat mereka tiba di kantor penjualan, jumlah orang di dalam tidak banyak. Maklum, ini kawasan rumah mewah, bukan siapa saja yang mampu membelinya.Melihat ada calon pelanggan, seorang sales wanita paruh baya bertubuh agak berisi bernama Milla langsung menghampiri dengan senyum lebar.Namun begitu dia melihat jelas Arlo dan kawan-kawan, senyumnya langsung kaku. Dari tiga orang itu, selain Mutia, dua pria lainnya berpakaian sangat sederhana. Sama sekali tidak sama dengan para tamu kaya yang biasa dia layani."Halo, aku ke sini mau ...."
"Bukan begitu ...."Arlo tampak sangat kesal. "Aku sudah kasih Isyana satu kartu!""Di dalamnya ada tabungan beberapa ratus miliar. Itu lebih dari cukup untuk keadaan darurat Keluarga Hanafi. Aku juga sudah bilang ke sepupumu, 'kan? Kenapa Keluarga Hanafi masih harus jual rumah?"Mutia menatap Arlo dengan wajah terkejut, lidahnya sampai terasa kaku. "Be ... beberapa ratus miliar?""Kak Arlo, kamu yakin nggak salah ngomong? Jangan-jangan maksudmu puluhan juta tapi bilangnya miliaran?"Arlo memutar mata dengan malas, sama sekali tidak menanggapi gadis kecil itu.Mutia nyengir, lalu segera mengangkat ponselnya dan menelepon Isyana. Begitu telepon tersambung, dia langsung berceloteh tanpa henti, "Kak Isyana! Kamu tahu nggak!""Kak Arlo itu triliuner! Di kartu yang dia kasih ke kamu, isinya triliunan!""Buruan bilang ke Bibi, nggak perlu jual rumah lagi! Seumur hidup pun kalian nggak akan bisa habis pakai uang itu! Cepat ke bank buat cek!"Mata Arlo langsung membelalak. Gadis ini benar-bena
Pada saat itu, tawa melengking Baitun kembali terdengar.Saat tergeletak lunglai di tanah, ekspresinya bengis sekaligus mengejek. "Omran bajingan, kamu benar-benar nggak tahu malu! Sampai-sampai menjilat bocah ingusan itu! Kamu pikir dengan dia di sisimu, Keluarga Simarta bisa lolos dari bencana? Jangan bermimpi! Mustahil!""Kalian sama sekali nggak tahu betapa mengerikannya Master Dikara! Dibandingkan dengannya, kalian semua hanyalah cecunguk yang tak berarti!"Arlo memandang Baitun dengan penuh minat. Meski ajal sudah di depan mata, orang itu masih bertingkah seperti orang gila. Arlo sama sekali tidak marah.Hahahaha!"Satu-satunya akhir bagi kalian hanyalah kematian! Sebentar lagi kita akan bertemu di alam bawah! Nggak akan ada ... kejutan apa pun, nggak akan ...."Di tengah tawa yang menggila, cahaya di mata Baitun perlahan padam. Nyawanya pun berakhir!Arlo menatap Baitun yang pupil matanya telah melebar, lalu tersenyum tipis, "Master Dikara?""Semoga dia nggak selemah kamu, sampa
Baitun menatap Arlo dengan sorot mata dingin dan menyeramkan. "Kamulah bocah yang selama ini terus melawan bosku, bukan? Kebetulan sekali, akan sekalian kuantar kamu ke neraka!"Tubuh Baitun berkelebat, seketika dia sudah muncul di hadapan Arlo. Kelima jarinya mencengkeram tajam bak pisau, menyambar ke arah tenggorokan Arlo dengan keganasan luar biasa!Arlo hanya tersenyum tipis. Dia mengayunkan satu tendangan sederhana, tetapi serangannya malah tiba duluan.Bam!Pupil mata Baitun mendadak memicing. Dia sama sekali tidak sempat menghindar. Tendangan itu menghantamnya tepat sasaran, tubuhnya terlempar hingga menghantam dan mematahkan sebuah pohon di pinggir jalan sebelum akhirnya berhenti.Omran dan Yudha terperangah, wajah mereka dipenuhi ketidakpercayaan! Juspati dan rombongannya pun terpaku di tempat.Arlo menatap Baitun dengan tenang, lalu berkata datar, "Naldern bukan cuma milik Keluarga Simarta, tapi juga milikku! Aku nggak peduli kalau Zainal mau mencampuri wilayah lain. Tapi kal







