MasukDetik berikut, suara tamparan berulang terdengar. Air mata buaya Yan Yan berubah jadi tangis betulan. Kedua tangannya mengepal, menahan geram dan rasa sakit.
Sebetulnya, Ming Lan datang kemari bersama salah satu pelayan bernama Anggrek. Dia bisa saja meminta Anggrek menampar Yan Yan, tetapi keinginan membuat mertua murka, memaksanya bertindak demikian. Harapan ini tak sia-sia, sebab lao furen memang sangat marah. Tangannya menunjuk gemetaran, tapi tak ada kalimat yang bisa dia ucapkan. Di tengah situasi yang memanas, pengumuman dari penjaga gerbang terdengar lantang. "Xiangye (tuan perdana menteri) sudah pulang." Lao Furen yang sekarat lantaran menahan geram, seperti mendapat pasokan oksigen. Tertatih-tatih dia bangkit, menyambut putranya sembari berlinang air mata. "Terima kasih, kau sudah pulang." Tanpa basa-basi dia menyeret putra bungsunya ke dalam. "Lihat, perbuatan istrimu. Dia menyiksaku dan sepupumu." Perdana menteri yang punya nama asli Chu Fei Yang, lebih heran ketimbang marah. Setahunya, Ming Lan adalah perempuan lemah dan pengecut, sesuatu yang tak sesuai dengan jabatannya sebagai nyonya di kediaman bangsawan. Saat ini, sepupu yang merangkap sebagai selirnya masih dalam posisi bersimpuh. Meski mulutnya tak bilang apa-apa, namun gurat kesedihan di matanya, begitu kentara. "Mujin (ibu) ceritakan apa yang terjadi," ujar Fei Yang begitu duduk di kursi. "Aku hanya bicara sedikit, dia langsung mengancam dengan membawa-bawa nama kaisar." Lao Furen menoleh ke arah keponakan yang sudah lebam wajahnya. "Lihatlah, dia bahkan berani menghajar sepupumu sampai babak belur." Riak wajah perdana menteri tak berubah. Matanya justru memicing, seolah menimbang sesuatu. "Kau mau bilang sesuatu?" ujarnya pada Ming Lan yang berdiri terasing di tengah ruangan. "Menilik dari keributan yang kau buat, pasti banyak yang mau kau bicarakan." Dengan ketenangan mengagumkan, Ming Lan membungkuk sedikit, lalu menuturkan narasinya dengan lancar. Awalnya, Yan Yan mendatangi kediamannya lalu memaksa agar segera menghadap lao furen padahal dia baru saja sadar setelah koma selama lima hari. Tak cuma itu, selir tersebut juga berani mengatainya sebagai pemalas hanya karena bangun lebih lama. Habis kesabaran, Ming Lan menamparnya dan Yan Yan langsung mengadu kemari. "Menurut xiangye, apakah tindakanku salah?" cetusnya dengan wajah setenang telaga. "Bagaimana bisa, seorang yiniang menginjak kepala furen. Kalau pun malas, bukankah seharusnya tugas anda mendidikku?" Tanpa menunggu anaknya, lao furen memotong. "Yan'er bukan selir biasa. Lagi pula, aku juga berhak mendidik menantuku sendiri." "Berhubung Yan Yan sudah memilih hidup sebagai selir, maka status sebagai sepupu sudah hilang. Hanya boleh memilih salah satu." Lao furen masih mau menyanggah, saat Fei Yang tiba-tiba mengangkat tangan. Wajahnya terlihat lelah dan bosan. "Kita ikut aturan furen." Pasangan bibi dan keponakan saling tatap, sebelum lao furen tersadar. "Fei Yang, kau tak boleh begini. Istrimu akan melunjak kalau tak kau disiplinkan." Setengah gusar, Fei Yang menenangkan ibunya. "Apa yang dikatakan Ming Lan tak salah. Mujin, jangan terlalu memikirkan segalanya." Usai berkata begini, dia langsung bangkit. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada urusan." Saat yang tinggal di ruangan hanya mereka, Ming Lan kembali berujar, "karena suami sudah pergi, maka menantu ini pun pamit." Mengabaikan seruan lao furen, dia segera menuju kediaman, yang letaknya di bagian paling belakang. Sementara itu, Anggrek mengikuti dengan tergesa. "Furen, sepertinya xiangye masih mencintai Anda. Hari ini, dia tak membela Yan yiniang seperti biasa." Cinta? Segurat senyum sinis menghiasi bibir Ming Lan. Tiga puluh tahun hidup di dunia, dia tak berani lagi mengimpikan hal ini. Cinta terlalu mewah bagi orang-orang seperti mereka. Dia jatuh ke dalam kolam di musim dingin, pingsan lalu koma sampai lima hari, tetapi pria yang pernah berbagi selimut dengannya, tak tahu-menahu akan hal ini. Jadi, rasa apa yang masih tersisa? "Jangan mengkhayal yang bukan-bukan," tegur Ming Lan dingin. "Dia cuma tak punya alasan yang tepat untuk menghukum." Saat memasuki kediamannya yang sederhana, aroma pengap langsung menyerbu. Nampak betul dia terlalu lama diperlakukan seperti sampah. Debu menutupi perabot, teh dingin dalam cangkir porselen murahan, serta meja rias yang sebelah kakinya sudah patah. Betapa hebat keluarga Chu memperlakukan nyonya rumah. "Mawar, kemarilah!" Dia memanggil seorang lagi pelayan yang bertugas di kediamannya. Setelah sekian menit belum juga ada yang muncul, dia memanggil lebih lantang. Seorang gadis remaja, yang umurnya masih lima belas, muncul tergopoh-gopoh. Mukanya terlihat polos dan bodoh, sangat tidak serasi untuk tinggal di kediaman yang penuh ular dan kalajengking. "Bersihkan tempat ini, dan siapkan makan siang. Aku benar-benar lapar." "Ma--maaf, Nyonya. Tapi makan siang anda belum diantar," ujar Anggrek yang sejak tadi berdiri patuh di sisinya. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Pergi ke dapur dan ambilkan untukku." Anggrek membungkuk sebelum beranjak. Kakinya belum sampai di ambang pintu, ketika pelayan dapur tergesa mengantarkan rantang kayu berisi makanan. "Maaf, Furen. Hari ini dapur sangat sibuk, jadi melupakan makan siang Anda." Betapa sembrono orang-orang ini! Mereka bahkan melupakan makan siangnya. Pelayan dapur juga berani menatap wajahnya terang-terangan. Raut datar Ming Lan membuat nyali pelayan tersebut bertambah. "Lao furen sedang tak enak badan, jadi kami sibuk menyiapkan sup dan tonik untuk beliau." Seperti yang diharapkan dari lao furen. Perempuan tua itu sengaja mengirim pelayan rendahan untuk membuatnya kesal. Dengan isyarat mata, Ming Lan melirik Mawar. Awalnya gadis lugu itu agak ragu, namun kilau di mata furen memberinya kepercayaan diri. "Plak! Plak! Plak!" Tangannya yang kasar menampar pipi pelayan dapur bolak-balik. Sudut bibir pelayan tersebut mulai berdarah. "Kau! Beraninya memukulku." Tangannya terangkat hendak menghajar Mawar, tetapi Ming Lan bertindak lebih dulu. "Maju satu langkah, kau akan kujual ke pasar budak." Gerakan pelayan itu berhenti, tetapi matanya menatap penuh kebencian. "Lao furen tak akan senang dengan ini," ujarnya sebelum melangkah pergi. Ketika cuma mereka bertiga yang tinggal di sana. Ming Lan menatap kedua pelayannya bergantian, memindai rasa takut yang memenuhi mata mereka. Anggrek adalah satu-satunya yang tersisa dari empat pelayan yang dia bawa dari kediaman Hua, sementara Mawar merupakan pelayan yang dipilih lao furen untuknya. Tentu saja bukan untuk melayani, melainkan jadi mata-mata. Namun karena terlalu bodoh, beliau berhenti menghubunginya. "Mawar, Anggrek, katakan padaku. Kalian mau tetap jadi pelayanku atau melayani majikan lain?" Keduanya berpandangan bingung. Sejujurnya, bekerja dengan Ming Lan, jelas tak punya masa depan. Majikan mereka tak pernah dianggap orang penting di kediaman. Tetapi untuk orang rendahan seperti mereka, yang penting adalah makanan dan tempat berteduh, bukan kedudukan. Setelah mencapai kata sepakat, keduanya berlutut dengan khidmat. "Anggrek menyapa Furen. Semoga Anda sehat dan panjang umur." "Mawar menyapa Furen. Semoga kebahagiaan memenuhi hidup Anda." Ming Lan memandangi keduanya dengan puas. Menghadapi pengkhianat jauh lebih sulit dari pada orang bodoh. Untuk saat ini, dia akan melatih Anggrek dan Mawar sebisanya sebelum mencari sumber daya yang lebih mumpuni. "Baik, kalian boleh berdiri. Sekarang, siapkan makanannya. Aku sudah lapar." Keduanya membuka rantang dan menyusunnya di atas meja. Lagi-lagi Ming Lan mengelus dada saat melihat makanan yang tersaji. Semangkuk bubur, sepiring kecil tumisan rebung, serta semangkok sop tahu. Bahkan pelayan kediaman mendapat makanan yang lebih baik. "Furen, biar aku mengajukan keluhan ke dapur," ujar Anggrek tak terima. Matanya berair melihat makanan sang nyonya. "Mereka sudah keterlaluan." "Lantas kau mau bilang apa?" sahut Ming Lan datar. "Paling-paling mereka akan bilang bahwa semua ini demi kesehatanku." Di kediaman lao furen, dia sudah bilang bahwa dirinya baru pulih dari koma. Sebab itu, pasti laoakan beralasan lambungnya masih lemah sehingga tak boleh mencerna makanan berat dan berlemak. "Sudahlah, biarkan aku makan. Sementara itu, kalian bersihkan halaman. Jangan biarkan siapapun mengusikku."TIGA TAHUN KEMUDIAN... Ming Lan tengah menyulam sebuah baju hangat sambil memperhatikan si kembar dari kejauhan. Tak terasa kedua anaknya sudah besar, bahkan mulai belajar menulis kanji sederhana. "Xiangye, bukankah terlalu cepat Wen'er dan Heng'er belajar menulis? Lihat, tangan mereka masih kesulitan memegang kuas." "Selagi mereka suka, kenapa harus dihalangi." Fei Yang menyahut enteng. Di hadapannya tumpukan dokumen kerja seakan tak habis diperiksa. Ming Lan kembali mengalihkan tatapan pada kedua putranya. Mereka sedang bermain-main dengan tinta, menciptakan tulisan yang lebih mirip cakar ayam ketimbang kanji. Kalau hanya di kertas, masih tak mengapa. Si bungsu Jing Heng malah mencoret muka kakaknya sambil tertawa-tawa. Wajah serius Jing Wen jadi terlihat aneh. "Sebaiknya kau jangan cari masalah. Nanti kalau d
Hanya dalam waktu tiga hari, Nan Feng menyeret biarawati yang menyebut dirinya Hong Jie. Meski rambutnya sudah digunduli dan memakai jubah kuning kedodoran, mana mungkin keluarga Chu tak mengenal sosok ini. "Yan yiniang." Suara Fei Yang begitu dingin. "Kukira setelah sekian lama, kau akhirnya bertobat. Ternyata malah semakin menjadi."Menyadari tak ada lagi tempat bersembunyi, wajah penuh welas asih sang biarawati retak berganti dengki. Telunjuknya mengarah pada Ming Lan. "Kalau bukan karena wanita itu, aku juga tak akan jadi begini. Kalian yang membuatku jadi manusia penuh dendam.""Omong kosong!" seru Fei Yang tidak terima. "Sikap serakah yang membuatmu hancur. Jangan suka menyalahkan orang lain."Nyonya tua yang ikut hadir dalam persidangan keluarga, cuma menangis sesenggukan menyaksikan keponakannya yang sudah mirip orang gila. "Yan Yan, kenapa jadi begini? Dulu kau wanita penurut dan baik budi"Penurut dan baik b
Sebulan kemudian... Peringatan satu bulan si kembar diadakan. Ketika acara berlangsung, orang-orang memadati xiangfu. Senyum lebar tak lepas dari wajah nyonya tua. "Sayang sekali, ini akan jadi acara terakhir yang kalian adakan di xiangfu," ujarnya sedih. Setelah perayaan ini, Fei Yang sekeluarga akan pindah ke kediaman besar yang di anugerahkan kaisar. Hanya karena tubuh Ming Lan terlalu lemah selama nifas, mereka belum pindah. "Ibu, kita pergi juga tidak jauh. Masih bisa sering-sering berkunjung."Walau menantunya berkata demikian, hati nyonya tua masih sedih. Apa lagi setelah menyadari hubungan mereka tidak begitu baik selama ini. "Maafkan ibu kalau selama ini ada yang salah. Semua yang terjadi juga karena kelalaianku sebagai orang tua."Ming Lan memegang tangan nyonya tua. Dia hanya mau hidup tenang, melupakan hal buruk di belakang. "Ibu, saya sudah melupakan semua. Mari hidup dengan baik. Yakinlah, kami akan se
Musim semi di tahun berikutnya, adalah waktu bagi Ming Lan untuk bersalin. Subuh- subuh perutnya sudah melilit, tetapi sampai siang pembukaan rahim belum sempurna untuk mengejan. Dua persalinan sebelumnya, tidak sesulit ini. "Furen, anda harus bertahan." Xiaoting yang menjadi tabib utama memberi semangat. Dia meletakkan sepotong ginseng di mulut Ming Lan. "Persalinan saya kemarin juga sulit. Kita semua pasti bertahan."Ming Lan menyahut tak jelas sementara peluh sudah membanjiri punggung dan wajahnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya mulai pesimis. Di luar ruang bersalin, Fei Yang tak kalah panik. Dia berjalan lalu lalang seperti orang linglung. Ming Lan bersalin di usia tidak muda. Sungguh takut terjadi apa-apa. Nyonya tua geleng-geleng kepala sambil menguap. "Kenapa kau begitu panik? Waktu Ming Lan melahirkan Jieyu dan Jiayi, kau masih sempat ikut rapat.""Itu berbeda, Bu.""Apanya yang beda? Masih rasa sakit
"Kau sepertinya lapar." Tuoba Rui berkata sambil menoleh ke arah putri Rongle yang tanpa sadar sudah melahap dua kue beras. "Benar-benar tidak seperti seorang putri."Kesan baik yang dimiliki Rongle tentang Tuoba Rui lenyap berganti murka. Pangeran sinting ini sungguh tak tertolong. "Kau juga tidak seperti pangeran. Lebih mirip bocah kecil. Bisanya cuma marah-marah dan mengejek orang.""Aku anak kecil?" Tuoba Rui mengarahkan telunjuknya pada Rongle. "Justru kau yang seperti bocah. Apa tak sadar juga kenapa kaisar sampai memarahimu?"Rongle sangat tersinggung. Tadi ayahnya, sekarang pangeran Tuoba. Putra mahkota abai terhadapnya, sementara pria yang dia sukai, mati mengenaskan karena berkhianat. Kesedihan kembali mencekik perasaan Rongle. Putri yang angkuh itu menunjukkan sisi rapuhnya untuk pertama kali di hadapan orang asing. "Kenapa anda suka sekali mengatakan hal buruk tentang orang lain," ujarnya berlinang air mata. "Memangnya kenap
Besoknya, Fei Yang harus kembali menemani tamu kerajaan untuk plesiran ke pemandian air panas kerajaan atas saran kaisar. Alasannya sudah bisa ditebak. Untuk mendekatkan diri dengan putri Moyu Xin. Penampilan Kaisar terlihat enerjik, berbanding terbalik dengan dirinya yang sakit-sakitan belakangan. Didampingi permaisuri yang berwajah acuh tak acuh, beliau bicara lemah lembut pada calon selir baru. "Putri Xin, beginilah pemandangan di negara Ning. Kita punya pegunungan, persawahan, bahkan sumber air panas.""Ya, indah sekali yang mulia."Jawaban putri Xin singkat dan tanpa minat.Iring-iringan kereta begitu panjang. Paling depan ada Fei Yang, Nanping Shizi, dan beberapa pejabat yang menunggang kuda. Setelah itu kereta yang membawa Kaisar, permaisuri, putri Moyu Xin dan dayang-dayang. Di belakang mereka adalah putra mahkota, putri Rongle, pangeran Tuoba, dan beberapa putri pejabat. Selanjutnya para prajurit yang dipimp






