Share

Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas
Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas
Author: Auphi

Nyonya Kediaman

Author: Auphi
last update Last Updated: 2025-07-05 17:21:43

"Berlutut! Apa lagi yang kau tunggu?"

Suara seorang wanita tua menggelegar memenuhi ruangan mewah dengan ornamen klasik. Gadis muda berwajah seperti rubah, berdiri di sisinya sambil sibuk menenangkan dan mengipasi dengan hati-hati.

Hua Ming Lan, perempuan yang jadi sasaran kemarahan, berdiri tak acuh. Pertunjukan sekarang bukanlah hal menakutkan baginya. Hal ini sudah kerap terjadi selama dia berstatus furen (nyonya muda) di kediaman perdana menteri.

"Masih belum sadar apa salahmu? Lancang sekali!"

Wanita tua makin murka, lalu memberi isyarat pada salah satu pelayannya. Tak menunggu lama, seseorang maju hendak menampar Ming Lan.

Belum sempat tangannya mendarat, Ming Lan langsung mencekal sekuat tenaga, lalu mendorong pelayan tersebut sampai terjungkal. Seisi ruangan terkesiap.

"Kau! Masih berani melawan?" Muka wanita tua makin jelek, tangannya menunjuk ke arah Ming Lan, dipenuhi amarah. "Kurang ajar!"

"Jie jie (kakak), aku tahu kau marah padaku. Tapi jangan melampiaskannya pada bibi."

Perempuan muda yang sejak tadi menampilkan raut khawatir, kini ikut bicara. Mukanya yang terlihat polos, akan membuat siapapun merasa iba.

Sementara itu, Ming Lan yang sejak masuk sudah mendapat peran antagonis, menatap segalanya tanpa riak di wajah. Dia ingin melihat sejauh mana kedua manusia ini bersandiwara.

"Pelayan, panggilkan dua penjaga. Seret menantu durhaka ini ke aula leluhur!"

Segurat senyum sinis terbit di bibir Ming Lan. Sejak dulu, perempuan tua yang tak lain adalah mertuanya, senang sekali menguncinya di sana. Sedikit aduan dari si rubah, maka berbagai hukuman langsung diterimanya.

Segera dua penjaga berbadan tegap memasuki ruangan. Mereka bersiap menyeretnya keluar.

"Berhenti!" Suara dingin penuh kekuatan langsung menghentikan keduanya. "Sejak kapan pelayan rendahan sepertimu bisa menyentuh furen?"

Keduanya membatu di tempat. Apa yang dikatakan Ming Lan memang tak salah. Dinasti ini sangat memperhatikan etika antara pria dan wanita, maka dari itu amat tabu bersentuhan kalau bukan dengan pasangan sendiri.

Penjaga hanya bisa menatap lao furen (nyonya tua), salah tingkah.

Sebelum lao furen mengatakan sesuatu, Ming Lan sudah bicara. "Sekarang izinkan saya bertanya. Mengapa ibu berani meminta penjaga rendahan menyentuhku? Apakah Anda ingin menghancurkan harga diri putra Anda?"

"Lancang!"

"Kalau tidak, mengapa Anda melakukannya? Tidakkah Anda tahu bahwa di Dinasti Ning ada batasan ketat antara pria dan wanita? Bagaimana kalau hal ini sampai didengar kaisar? Apa Anda siap menanggung resiko?"

"Jie, kenapa bicara begitu? Ibu hanya ingin menasihatimu agar lebih baik."

Sembari berkata demikian, air mata si rubah mengalir, teramat sedih dengan perilaku Ming Lan. Tangannya yang halus sibuk mengusap air mata, yang entah sejak kapan sudah berhamburan.

"Siapa yang mengizinkanmu memanggilku Jiejie?" sahut Ming Lan dingin. "Karena kau cuma yiniang (selir) di sini, harus memanggilku furen. Kau lupa atau bodoh? Seorang yiniang tetaplah pelayan."

"Kau! Beraninya berkata begitu pada Yan Yan. Dia sudah menjagaku sebelum kau datang kemari."

Aish, betapa tolol dia dulu terlalu menghormati lao furen. Mertuanya tak bisa memisahkan urusan pribadi dan rumah tangga. Kalau begini, bukan lagi salahnya jika berbicara terus terang.

"Maaf, Ibu mungkin kurang tahu peraturan rumah tangga bangsawan di ibu kota. Semua hierarki harus jelas, antara nyonya rumah dan pelayan, termasuk yiniang."

Diucapkan dengan lembut, tak membuat kata-kata ini lebih baik. Betapapun terhormat lao furen di kediaman perdana menteri, beliau hanya putri seorang sarjana gagal, yang tinggal di kota kecil, jauh dari pusat kekuasaan.

Keberuntungan membawanya kembali ke ibu kota saat menikah dengan sepupu jauh yang bekerja sebagai pejabat tingkat lima di ibu kota.

Berkat langit kembali menghampiri saat dirinya dianugerahi dua putra berbakat. Seorang berhasil menjadi jenderal sedang yang lain meraih peringkat satu pada ujian kekaisaran . Sekarang, putra yang cerdas ini sudah menjadi perdana menteri pada umur tiga puluh lima tahun.

"Kau menyombong lagi? Apa yang dibanggakan dari rumah kosong tanpa hiasan?"

Jelas ini sindiran. Ming Lan memang putri seorang Duke (Gong). Tetapi tahun-tahun belakangan, tak ada bakat yang bersinar di sana. Ayahnya lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan berjudi atau membeli selir baru, setali tiga uang dengan saudara laki-lakinya.

Sialnya, gelar ini akan berakhir pada saudara laki-lakinya. Apabila tak ada lagi prestasi yang bisa dibanggakan, maka kediaman keluarga Hua akan kehilangan status bangsawan.

"Ibu jangan terlalu kesal. Menantu ini hanya mengingatkan. Anda tentu tahu, bahwa kaisar paling tak suka bila bawahannya tak ikut aturan," pungkas Ming Lan.

Rupanya lao furen tak juga menyerah. Dia menghentakkan tongkatnya. "Dari segi mana aku tak tahu aturan? Mentang-mentang lahir di rumah bangsawan, kau sengaja merendahkanku?"

"Pertama, ibu mengizinkan pelayan laki-laki menyeretku. Kedua, Anda juga setuju Yan Yan memanggilku Jiejie. Ketiga, Yan Yan selalu berpakaian cerah, seolah dirinya adalah nyonya kediaman. Lihat, bajunya bahkan lebih cerah dariku."

Si rubah berwajah cantik langsung berlutut sambil berlinang air mata.

"Jie, jangan bilang begitu. Aku memakai baju warna merah jambu, karena perdana menteri sangat menyukainya. Sebagai istri, sudah sepantasnya kita menyenangkan hati suami. Anda juga setuju dengan ini, kan?"

"Lihat! Yan Yan yang tidak berpendidikan saja tahu hal ini. Memangnya laki-laki mana yang selera menyentuh perempuan murung sepertimu?"

Bagus sekali! Kedua wanita ini menyanyikan lagu senada untuk mempermalukannya.

"Berhubung ibu lebih bijaksana, izinkan menantu ini bertanya. Mana yang lebih penting, peraturan kaisar atau keinginan perdana menteri?"

Seisi ruangan hening. Jika menyangkut pihak istana, siapa yang berani membantah.

Kaisar yang berkuasa sekarang mementingkan hierarki. Sebab itu, di rumah tangga setiap bangsawan, ada batasan jelas antara nyonya dan selir, termasuk dalam hal berpakaian. Busana yang dipakai selir tidak boleh lebih cerah dari yang dipakai nyonya.

Setiap kediaman bangsawan yang mengabaikan hal ini akan mendapat teguran. Alasannya, seseorang tak mungkin bisa mengatur negara jika mengurus rumah tangga saja tidak becus. Itu sebabnya, para pejabat tak berani terang-terangan memanjakan para selir dan anaknya.

"Jie, Anda benar. Aku memang salah dan tak tahu aturan." Melihat lao furen sudah kehabisan langkah, si rubah langsung menampari pipinya sendiri. "Gara-gara kebodohanku, kediaman perdana menteri nyaris dalam bahaya."

Tentu saja Ming Lan tak akan menghalangi orang yang mau bertobat. Sebaliknya, dia menatap tamparan Yan Yan yang tidak sepenuh hati dengan dingin.

"Kau maju kemari." Dia berkata pada salah satu penjaga pintu kediaman lao furen. "Bantu yiniang menyadari kesalahannya."

Pelayan itu kebingungan, tak tahu harus berbuat apa dengan situasi saat ini.

"Apa lagi yang kau tunggu? Kau tak mendengarku bicara?"

Suara Ming Lan yang penuh intimidasi, menghilangkan rasa sungkan. Pelayan tersebut segera maju melaksanakan perintah.

"Berhenti!" teriak lao furen. "Kau berani mengatur pelayanku?"

"Selama gajinya dibayar oleh kediaman, maka pelayan tersebut milik kediaman. Sebagai nyonya, sudah sepantasnya aku mengatur."

Usai menyahut mertuanya, Ming Lan menegur sang pelayan.

"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat laksanakan atau aku harus menjualmu ke rumah bordil."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Evelyn's Luvay
mau nanya mc nya cwek what cwo? klo cwo malas baca
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
nah gitu dong lawan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Akhir Bagi Semua Orang

    TIGA TAHUN KEMUDIAN... Ming Lan tengah menyulam sebuah baju hangat sambil memperhatikan si kembar dari kejauhan. Tak terasa kedua anaknya sudah besar, bahkan mulai belajar menulis kanji sederhana. "Xiangye, bukankah terlalu cepat Wen'er dan Heng'er belajar menulis? Lihat, tangan mereka masih kesulitan memegang kuas." "Selagi mereka suka, kenapa harus dihalangi." Fei Yang menyahut enteng. Di hadapannya tumpukan dokumen kerja seakan tak habis diperiksa. Ming Lan kembali mengalihkan tatapan pada kedua putranya. Mereka sedang bermain-main dengan tinta, menciptakan tulisan yang lebih mirip cakar ayam ketimbang kanji. Kalau hanya di kertas, masih tak mengapa. Si bungsu Jing Heng malah mencoret muka kakaknya sambil tertawa-tawa. Wajah serius Jing Wen jadi terlihat aneh. "Sebaiknya kau jangan cari masalah. Nanti kalau d

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Kematian Selir Agung Shu

    Hanya dalam waktu tiga hari, Nan Feng menyeret biarawati yang menyebut dirinya Hong Jie. Meski rambutnya sudah digunduli dan memakai jubah kuning kedodoran, mana mungkin keluarga Chu tak mengenal sosok ini. "Yan yiniang." Suara Fei Yang begitu dingin. "Kukira setelah sekian lama, kau akhirnya bertobat. Ternyata malah semakin menjadi."Menyadari tak ada lagi tempat bersembunyi, wajah penuh welas asih sang biarawati retak berganti dengki. Telunjuknya mengarah pada Ming Lan. "Kalau bukan karena wanita itu, aku juga tak akan jadi begini. Kalian yang membuatku jadi manusia penuh dendam.""Omong kosong!" seru Fei Yang tidak terima. "Sikap serakah yang membuatmu hancur. Jangan suka menyalahkan orang lain."Nyonya tua yang ikut hadir dalam persidangan keluarga, cuma menangis sesenggukan menyaksikan keponakannya yang sudah mirip orang gila. "Yan Yan, kenapa jadi begini? Dulu kau wanita penurut dan baik budi"Penurut dan baik b

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Pembawa Bencana

    Sebulan kemudian... Peringatan satu bulan si kembar diadakan. Ketika acara berlangsung, orang-orang memadati xiangfu. Senyum lebar tak lepas dari wajah nyonya tua. "Sayang sekali, ini akan jadi acara terakhir yang kalian adakan di xiangfu," ujarnya sedih. Setelah perayaan ini, Fei Yang sekeluarga akan pindah ke kediaman besar yang di anugerahkan kaisar. Hanya karena tubuh Ming Lan terlalu lemah selama nifas, mereka belum pindah. "Ibu, kita pergi juga tidak jauh. Masih bisa sering-sering berkunjung."Walau menantunya berkata demikian, hati nyonya tua masih sedih. Apa lagi setelah menyadari hubungan mereka tidak begitu baik selama ini. "Maafkan ibu kalau selama ini ada yang salah. Semua yang terjadi juga karena kelalaianku sebagai orang tua."Ming Lan memegang tangan nyonya tua. Dia hanya mau hidup tenang, melupakan hal buruk di belakang. "Ibu, saya sudah melupakan semua. Mari hidup dengan baik. Yakinlah, kami akan se

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Mengakui Satu Sama Lain

    Musim semi di tahun berikutnya, adalah waktu bagi Ming Lan untuk bersalin. Subuh- subuh perutnya sudah melilit, tetapi sampai siang pembukaan rahim belum sempurna untuk mengejan. Dua persalinan sebelumnya, tidak sesulit ini. "Furen, anda harus bertahan." Xiaoting yang menjadi tabib utama memberi semangat. Dia meletakkan sepotong ginseng di mulut Ming Lan. "Persalinan saya kemarin juga sulit. Kita semua pasti bertahan."Ming Lan menyahut tak jelas sementara peluh sudah membanjiri punggung dan wajahnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya mulai pesimis. Di luar ruang bersalin, Fei Yang tak kalah panik. Dia berjalan lalu lalang seperti orang linglung. Ming Lan bersalin di usia tidak muda. Sungguh takut terjadi apa-apa. Nyonya tua geleng-geleng kepala sambil menguap. "Kenapa kau begitu panik? Waktu Ming Lan melahirkan Jieyu dan Jiayi, kau masih sempat ikut rapat.""Itu berbeda, Bu.""Apanya yang beda? Masih rasa sakit

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Rongle Masuk Perangkap

    "Kau sepertinya lapar." Tuoba Rui berkata sambil menoleh ke arah putri Rongle yang tanpa sadar sudah melahap dua kue beras. "Benar-benar tidak seperti seorang putri."Kesan baik yang dimiliki Rongle tentang Tuoba Rui lenyap berganti murka. Pangeran sinting ini sungguh tak tertolong. "Kau juga tidak seperti pangeran. Lebih mirip bocah kecil. Bisanya cuma marah-marah dan mengejek orang.""Aku anak kecil?" Tuoba Rui mengarahkan telunjuknya pada Rongle. "Justru kau yang seperti bocah. Apa tak sadar juga kenapa kaisar sampai memarahimu?"Rongle sangat tersinggung. Tadi ayahnya, sekarang pangeran Tuoba. Putra mahkota abai terhadapnya, sementara pria yang dia sukai, mati mengenaskan karena berkhianat. Kesedihan kembali mencekik perasaan Rongle. Putri yang angkuh itu menunjukkan sisi rapuhnya untuk pertama kali di hadapan orang asing. "Kenapa anda suka sekali mengatakan hal buruk tentang orang lain," ujarnya berlinang air mata. "Memangnya kenap

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Plesiran Kaisar

    Besoknya, Fei Yang harus kembali menemani tamu kerajaan untuk plesiran ke pemandian air panas kerajaan atas saran kaisar. Alasannya sudah bisa ditebak. Untuk mendekatkan diri dengan putri Moyu Xin. Penampilan Kaisar terlihat enerjik, berbanding terbalik dengan dirinya yang sakit-sakitan belakangan. Didampingi permaisuri yang berwajah acuh tak acuh, beliau bicara lemah lembut pada calon selir baru. "Putri Xin, beginilah pemandangan di negara Ning. Kita punya pegunungan, persawahan, bahkan sumber air panas.""Ya, indah sekali yang mulia."Jawaban putri Xin singkat dan tanpa minat.Iring-iringan kereta begitu panjang. Paling depan ada Fei Yang, Nanping Shizi, dan beberapa pejabat yang menunggang kuda. Setelah itu kereta yang membawa Kaisar, permaisuri, putri Moyu Xin dan dayang-dayang. Di belakang mereka adalah putra mahkota, putri Rongle, pangeran Tuoba, dan beberapa putri pejabat. Selanjutnya para prajurit yang dipimp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status