Home / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 6 – Serangan Bayangan di Hutan Kesunyian

Share

Bab 6 – Serangan Bayangan di Hutan Kesunyian

Author: Chouw
last update Last Updated: 2026-01-20 06:27:50

❄️❄️❄️

Langit malam mendadak disobek oleh cahaya hijau pekat. Bukan sekadar cahaya—tapi retakan seperti luka raksasa di angkasa, dari mana kegelapan merembes, menetes ke bumi bagaikan racun.

Ayundria terhuyung, matanya tak bisa lepas dari fenomena itu. Suara bergemuruh terdengar, bukan seperti guntur, melainkan seperti ratapan panjang, seakan ribuan roh tersiksa berteriak bersamaan.

Bill menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan lepaskan. Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan aku.” Petir biru berloncatan di tubuhnya, seolah instingnya sudah bersiap sebelum bahaya benar-benar muncul.

Pepohonan raksasa Hutan Kesunyian ikut bereaksi. Daun-daunnya menggugurkan diri seperti hujan deras, dahan-dahannya berderak menjerit. Dari dalam kegelapan hutan, muncul makhluk-makhluk aneh, bayangan dengan bentuk samar, tubuhnya menyerupai serangga, tapi kepalanya berongga dan kosong. Mata mereka berkilat hijau, bergerak seperti kabut hidup.

Ayundria mundur, tubuhnya gemetar. “Apa… apa itu?”

Bill menatap tajam. “Itu sebabnya tak ada yang keluar hidup-hidup dari Hutan Kesunyian. Mereka disebut Penjaga Bayangan—pasukan yang dikirim untuk menelan cahaya apa pun yang tersesat di sini.”

Salah satu makhluk melolong, suaranya menusuk telinga. Ayundria menutup telinganya, tapi suara itu menembus langsung ke dalam pikirannya, membuat kepalanya terasa pecah.

Bill melangkah maju, petir di tubuhnya membentuk kilatan yang siap dilepaskan. “Tetap di belakangku, Ayundria. Malam ini kau akan lihat bagaimana seorang petualang yang hidup dua ratus tahun melawan kegelapan.”

Kilatan petir biru menyambar tanah, menerangi wajah Bill yang setengah bayangan, setengah cahaya. Di balik rasa takutnya, Ayundria merasakan sesuatu yang lain—kegembiraan liar yang membara di dalam sorot mata Bill.

Bayangan-bayangan itu maju, tubuh mereka bergetar seperti kabut pekat yang mengambil wujud serangga mengerikan. Sepasang mata hijau menyala menatap Ayundria, seolah ingin menelannya bulat-bulat.

Bill mendengus. “Ah, wajah-wajah seram lagi. Seumur hidup, aku selalu berharap musuhku lebih tampan dari ini. Tapi yah, apa boleh buat.”

Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Seketika, petir biru melompat dari langit, menghantam tongkat itu dengan dentuman dahsyat. Getarannya membuat tanah bergetar, pohon-pohon terbelah, udara terasa penuh listrik.

“Ayundria, lihat baik-baik!” serunya sambil melirik gadis itu dengan senyum nakal. “Beginilah caranya seorang pria yang baik hati memasak serangga.”

Seketika, ia mengayunkan tongkat. Dari ujungnya, meluncur kilatan petir berbentuk naga, menyambar tiga bayangan sekaligus. Makhluk-makhluk itu menjerit, tubuhnya berasap sebelum lenyap jadi kabut hitam.

Ayundria menatap takjub, tapi juga ngeri. “Kau… kau menyebut itu memasak?!”

Bill terkekeh, melompat ke depan dengan kecepatan kilat. Setiap langkahnya membuat tanah retak, meninggalkan jejak api biru. Ia berputar cepat, mengayunkan tongkatnya dengan gaya berlebihan seperti penari. “Hei, kalau hidupmu dipenuhi kegelapan, kau harus belajar menertawakan semuanya! Bahkan saat kau hampir dimakan serangga bayangan!”

Tiba-tiba, salah satu bayangan melesat dari samping, cakarnya terhunus ke arah leher Bill. Dengan refleks secepat cahaya, Bill membungkuk rendah, lalu muncul di belakang makhluk itu.

“Ups, hampir saja! Kau hampir membuat rambut perakku kusut dan itu adalah dosa besar.”

Bumm!

Petir meledak dari telapak tangannya, menghancurkan bayangan itu jadi abu hitam.

Ayundria menutup mulutnya, setengah ngeri setengah ingin tertawa. Sosok Bill benar-benar aneh, antara penyelamat dan orang gila.

Namun, jumlah bayangan semakin banyak. Puluhan, lalu ratusan muncul dari balik kabut hutan. Langit hijau pekat bergetar, seolah retakan di udara semakin lebar.

Bill berdiri tegak, tongkatnya berkilau penuh listrik. Senyum liarnya tak pudar sedikit pun. “Bagus,” katanya dengan nada gembira yang membuat Ayundria merinding. “Aku benci pertarungan singkat. Mari kita menari sampai fajar, kalian monster busuk!”

Bayangan-bayangan itu datang bagai banjir gelap, bergerak cepat, mengitari Bill dari segala arah. Tongkatnya terus memercikkan kilatan petir, tubuhnya melompat lincah, suaranya masih terdengar riang.

“Ayundria! Kau harus akui, ini lebih seru daripada menatap menara setiap hari, kan?” katanya sambil meledakkan tiga makhluk sekaligus.

Ayundria membuka mulut hendak menjawab, tapi sebelum kata-kata keluar—sesuatu melompat dari kabut, jauh lebih besar dari yang lain. Bayangan itu berwujud seperti seekor serigala raksasa dengan mata hijau menyala dan mulut penuh gigi asap tajam.

“Bill! Awas!”

Bill menoleh, namun terlambat. Rahang raksasa itu menghantam sisi tubuhnya, melemparkannya jauh hingga menghantam batang pohon raksasa. Suara dentuman keras menggema.

Petir di tongkatnya padam seketika.

“BILL!” Ayundria berlari tanpa sadar, napasnya tersengal. Bayangan-bayangan kecil langsung mengitari tubuhnya, mencegahnya mendekat.

Bill terbatuk, darah menetes dari sudut bibirnya. Namun ia masih sempat mengangkat tangan, memberi isyarat pada Ayundria.

“Jangan… dekati mereka… Lari—!”

Ayundria membeku. Tubuhnya gemetar hebat. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Bill?

Bayangan serigala itu melangkah ke arahnya, mata hijaunya menatap penuh nafsu. Nafas dingin dan beracun keluar dari moncongnya. Ayundria mundur, punggungnya menempel ke pohon menara.

“Aku… aku tidak bisa… aku tidak bisa melawan…” bisiknya, air mata memenuhi mata.

Lalu, bayangan itu melompat, rahangnya terbuka lebar untuk mencabiknya hidup-hidup.

Di detik itu—sesuatu dalam diri Ayundria pecah.

Tubuhnya memanas, jantungnya berdegup keras, dan dari kedua telapak tangannya memancar cahaya biru-kehijauan yang dingin, seperti pecahan es yang menyala.

Bayangan serigala itu terhantam sebelum sempat menyentuhnya, tubuhnya membeku dalam sekejap, lalu hancur menjadi ribuan pecahan kristal es yang berkilauan di udara malam.

Ayundria terhuyung, terengah-engah, menatap tangannya sendiri yang masih berkilau.

“Apa… yang baru saja kulakukan?”

Bill, meski masih bersandar lemah di pohon, menatapnya dengan senyum kecil bercampur keheranan. “Jadi… akhirnya keluar juga,”

❄️❄️❄️

Suara raungan menggema di seluruh Hutan Kesunyian. Bayangan-bayangan itu tidak lagi berbentuk kabur—mereka kini menjelma sosok besar, setengah manusia setengah serigala, dengan mata merah menyala dan taring yang meneteskan asap hitam.

Ayundria memegangi dadanya yang masih berdegup keras. Nafasnya berat, tapi ia berdiri sejajar dengan Bill, untuk pertama kalinya bukan di belakang, melainkan di sisi.

Bill melirik sekilas, senyumnya nakal tetap terpasang meski gerombolan monster itu mengelilingi mereka.

“Coba tebak, Nona Menara… berapa lama waktu yang kita punya sebelum mereka merobek kita jadi serpihan?”

Ayundria menelan ludah. “Tiga… menit?”

“Ha! Optimis sekali. Aku tebak… lima belas detik.” Bill berjongkok, ujung tongkatnya menyentuh tanah. Petir merambat, bercabang ke segala arah seperti akar bercahaya. “Tapi hei, justru di saat-saat begini biasanya pertunjukan jadi paling seru.”

Monster pertama menerjang. Bill berputar cepat, tubuhnya meledak dalam cahaya kilat. Ia menghilang, muncul kembali di belakang monster, menempelkan telapak tangannya ke punggung makhluk itu.

“Bzzzt—kau tersetrum!”

Ledakan listrik biru memecah udara, monster itu terkapar gosong dengan bau hangus menusuk.

Ayundria menatap tak percaya. “Kau… kau gila.”

“Gila itu bagus, percayalah. Dunia ini terlalu membosankan tanpa sedikit gila.”

Dua monster lagi datang. Bill memutar tongkatnya seperti penari jalanan, lalu menancapkannya ke tanah. Kilat menyambar dari langit, menghantam kedua makhluk itu sekaligus, membuat tanah bergetar.

Sementara Bill sibuk bermain dengan petirnya, satu monster berhasil lolos, menerkam langsung ke arah Ayundria. Gadis itu menjerit, mengangkat tangannya tanpa sadar.

“JANGAN!”

Saat teriakan itu keluar, udara di sekitarnya membeku. Kabut putih berembus dari telapak tangannya, membungkus monster itu dengan lapisan es tebal dalam hitungan detik. Makhluk itu terhenti di udara, membeku kaku seperti patung raksasa, lalu pecah berkeping-keping.

Ayundria terdiam, tubuhnya gemetar. Tangan yang tadi ia angkat masih berkilau biru. Ia menatap telapak tangannya, lalu ke monster yang hancur berkeping. “Aku… aku yang melakukan itu?”

Bill muncul di sampingnya, wajahnya setengah serius, setengah geli. “Ya ampun, kau bahkan lebih cepat dari yang kuduga. Aku butuh dua abad untuk membuat pertunjukan seperti itu, dan kau… tinggal teriak. JANGAN!” Bill berseru sembari mengangkat kedua tangannya kedepan, meniru gaya Ayundria barusan.

Ayundria menoleh tajam. “Ini bukan saatnya bercanda!”

“Justru saatnya. Kalau tidak, kau akan pingsan sebelum semua ini selesai.” Bill menyeringai lebar, lalu kembali melompat ke depan, disambut oleh serangan belasan monster bayangan.

Ayundria, meski tubuhnya masih gemetar, kini merasakan sesuatu berbeda di dalam dirinya. Bukan hanya ketakutan. Ada kekuatan—besar, liar, dingin, tapi terasa seperti bagian dari dirinya. Dan setiap kali ia menarik napas, kekuatan itu semakin jelas, seperti sungai yang menunggu untuk dilepaskan.

“Baiklah…” gumamnya, menatap ke depan dengan mata berkilat. “Kalau kau bisa melakukannya, Bill… aku juga bisa!”

Ia mengangkat kedua tangannya. Dari tanah yang ia pijak, akar-akar kristal es muncul, merambat cepat, menjebak kaki-kaki monster yang mendekat. Mereka meraung, berusaha melepaskan diri, tapi justru semakin terjerat.

Bill bersiul panjang. “Whoa! Kau tidak hanya es, tapi juga punya tangan alam. Jangan bilang kau juga bisa membuat bunga tumbuh di sini?”

Ayundria menatapnya heran, tapi sebelum sempat menjawab, ia mengibaskan tangannya. Kristal-kristal es itu langsung meledak, menghantam gerombolan bayangan yang terjebak.

Ledakan biru-keputihan menyilaukan langit hutan. Ketika cahaya mereda, puluhan monster hancur menjadi debu hitam.

Sunyi.

Bill berdiri, tongkatnya masih berasap. Ia menoleh pada Ayundria dengan tatapan puas bercampur nakal. “Resmi sudah. Kau bukan lagi ‘gadis menara’. Kau adalah badai yang terbungkus rambut emas.”

Ayundria terengah, wajahnya masih pucat, tapi mata birunya berkilau. “Aku… aku bahkan tidak tahu bagaimana aku melakukannya.”

“Persis!” Bill menunjuk dengan dramatis. “Itulah yang membuatmu berbahaya. Karena musuhmu tidak akan tahu juga.”

Namun sebelum Ayundria bisa merasakan kemenangan pertamanya, tanah tiba-tiba berguncang. Retakan hijau menyala merekah di tengah hutan, dan dari dalamnya keluar sosok jauh lebih besar—bayangan hitam setinggi menara, dengan mahkota api hijau di kepalanya.

Ayundria menahan napas. “Apa itu?”

Bill menegakkan tubuhnya, wajahnya yang biasanya jenaka kini serius. “Itu… pemimpin mereka. Dan kalau aku tidak salah tebak, ” ia melirik Ayundria, “dia datang khusus untukmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Whispers of the Lost Princess    BAB 13 – Tarian di Atas Awan

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 12 – Pertunjukan di Alam Liar

    ❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 11 – Dunia yang Membentang

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 10 – Gerbang Dunia Luar

    ❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 9 – Keputusan di Balik Api

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat. Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya. Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.” Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain. Lyla. Ibunya berd

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 8 – Raja Bayangan

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk. Ayundria menelan ludah. “Kita… kita bisa mengalahkan itu?” Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja. Kalau tidak bisa, kita mati keren, kan?” Ayundria melotot. “Kau gila!” “Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!” Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah. Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status