LOGINMit zwanzig legte mir der steinreiche Kriegskamerad meines Großvaters die Fotos aller seiner Enkel vor. „Such dir einen aus“, sagte er. „Einen Mann für dich.“ Ohne eine Sekunde zu zögern zeigte ich auf den sechsten: Dieter Weber. Die Anwesenden waren schockiert. Schließlich wusste jeder, dass ich immer nur den dritten Weber-Enkel, Egon, wollte. In meinem vorherigen Leben hatte ich meinen Willen bekommen: Ich heiratete Egon Weber. Und dank dieser Heirat erbte er den Großteil des Familienvermögens. Doch nach der Hochzeit ging er eine Affäre mit meiner jüngeren Schwester ein. Meine Eltern waren außer sich vor Wut und schickten meine Schwester zum Studium ins Ausland. Doch Egon war überzeugt, ich hätte sie auseinandergebracht. Von da an hasste er mich aus tiefster Seele. Von da an war er ständig von Frauen umgeben, die meiner Schwester ähnlich sahen. Jede Einzelne. Ich verfiel in eine schwere Depression. Anstatt mir zu helfen, wurden meine Medikamente gegen ein langsames Gift ausgetauscht – von ihm. Am Ende starb ich, mit seinem ungeborenen Kind im Leib. Nun, da ich noch einmal leben durfte, würde ich ihnen den Weg freimachen. Doch was ich nicht ahnte: Auch Egon Weber war zurückgekehrt!
View More***
Bening duduk dengan segelas minuman di hadapannya, mata gadis itu mentap piring berisi kentang goreng yang sama sekali tidak menggugah selera. Meski begitu dia harus mengisi perut karena sejak pagi mungkin hanya air yang masuk ke dalam organ pencernaannya. Ia terlihat mendesau, lantas memasukkan kentang ke dalam mulut sambil memikirkan apa yang mungkin terjadi di acara yang baru saja dia tinggalkan.
Ya, sekitar satu jam lalu Bening nekat kabur dari acara pertunangannya dengan seorang pria. Ia mengesampingkan perasaan orangtuanya dan harga diri keluarga pria itu hanya untuk mengembalikan kepercayaan seseorang padanya, orang yang terlambat dia sadari begitu berharga.
Bening lagi-lagi mengembuskan napas panjang. Suara dentuman musik di klub yang dia datangi sama sekali tidak bisa membuat hatinya sedikit gembira. Ia menyandarkan punggung saat ponselnya bergetar, semua orang terdekatnya berusaha menghubunginya satu persatu. Hingga beberapa menit kemudian Bening berniat mematikan saja benda pipih miliknya itu.
“Apa mereka sudah menemukan solusi?” gumam Bening mendapati tak ada lagi yang menghubungi, sampai dia kaget mendapat sebuah pesan dari temannya yang juga teman Rain-calon tunangan yang dia tinggalkan.
[ Hei, semua orang tahu kamu kabur dari pertunangan dan mereka bilang pertunangan batal karena cincin hilang, lelucon macam apa ini Be?]
Bening mengernyit, padahal dia berharap sang saudara kembar lah yang akan ditarik untuk menggantikannya. Namun, dia tetap saja merasa bahagia. Kini setidaknya keluarga Rain pasti sangat membencinya, terutama wanita bernama Bianca yang tak lain adalah ibunda Rain. Masih sibuk dengan ponselnya, tanpa Bening duga seorang cowok tiba-tiba mendekat ke arah mejanya. Cowok itu dan teman-temannya ternyata sudah memperhatikan Bening sejak tadi.
“Permisi! Bisakah aku meminta nomor teleponmu?”
Bening mendongak kemudian melihat ke arah meja asal cowok itu duduk, nampak beberapa cowok lain berbisik sambil tertawa, raut muka pensaran mereka terlihat jelas. “Apa kamu sedang bermain truth or dare dengan teman-temanmu itu?”
Ketahuan, cowok yang jika dilihat masih sangat muda itu menoleh ke arah teman-temannya. Ia takut jika sampai dimarahi oleh sosok wanita yang dia sadari pasti jauh lebih tua darinya.
“Maaf, jika tidak sopan. Apa kakak bisa memberikan nomor ponsel kakak?” tanya cowok itu lagi.
“Siapa namamu?” tanya Bening dengan gaya arogan, dia lipat tangannya ke depan dada dan menyilangkan kaki.
“Glass.”
Menegakkan badan, Bening menatap pria bernama Glass itu dengan sorot mencibir. “Apa kamu mau tidur denganku?”
“Apa?” Gelagapan, Glass bingung dan lagi-lagi menoleh ke arah teman-temannya. Cowok itu terlihat gemetaran.
“Apa ini kali pertamanya kamu pergi ke klub malam?” cibir Bening. “Hati-hati, anak kecil tidak boleh masuk ke tempat seperti ini.”
Glass menelan saliva dan menggaruk kepala, akhirnya dia kembali ke meja bersama teman-temannya dengan tangan hampa. Tak berselang lama Bening melihat cowok itu menenggak minuman berwarna cokelat dari gelas yang disodorkan oleh temannya. Karena tidak bisa mendapat nomor ponsel Bening Glass diberi hukuman.
🥛🥛🥛
“Bawa dia ke kamar, aku akan membayarmu nanti!”
Bening yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat dan mendengar seorang wanita berbicara dengan cowok yang tidak asing di matanya. Sudah berjalan agak jauh dari kedua orang itu, Bening menoleh untuk memastikan. Ia yakin bahwa cowok itu adalah teman dari laki-laki yang berniat meminta nomor ponselnya, cowok yang dia panggil anak kecil tadi.
Mencoba mengabaikan, Bening seketika heran melihat cowok bernama Glass tadi dipapah temannya dalam kondisi sempoyongan. Namun, bukannya mengarah ke pintu keluar, mereka menuju belakang klub yang Bening tahu memang ada kamar yang bisa disewakan untuk berbuat hal-hal tak senonoh.
Tak ingin mencampuri urusan orang lain, Bening memilih untuk tak peduli, hingga entah kenapa melihat wajah lugu cowok bernama Glass itu, dia menjadi tak tega.
Bening menoleh, mengejar kemana Glass dibawa. Ia mencegah saat wanita yang tadi berkata akan membayar Glass hendak masuk ke dalam kamar, bersama cowok itu yang masih berada di pelukan temannya.
“Apa kalian gila? kalian membuat dia mabuk dan ingin menjadikannya gigolo?” Bening melotot ke arah cowok yang memapah Glass. “Teman macam apa kamu?”
“Hei … tidak usah mengurusi urusan orang lain.” Dada Bening di dorong oleh si wanita yang terlihat berpenampilan norak. Ketakutan, teman Glass malah melepaskan cowok itu lalu kabur. Glass hampir saja ambruk jika Bening tidak bergegas meraih pinggangnya.“Tinggalkan dia! Aku akan memberimu lebih,” ucap Bening. Ia mengulurkan pergelangan tangannya. “Kamu bisa mencari pria lain, ambil gelangku! Harganya lebih dari dua ratus juta.”
Wanita itu menolehkan muka dan tertawa tak percaya, dia tatap Bening dengan raut muka kesal tapi sedektik kemudian, meloloskan gelang Bening dari tangan.
“Ambil lah! pakai juga kamarnya!” Wanita itu tersenyum bahagia, dia bahkan berjalan pergi sambil menimbang-nimbang gelang milik Bening.
“Apa aku sudah gila?” gerutu Bening yang kini hanya tinggal berdua dengan cowok bernama Glass tadi. Susah payah dia membuka pintu dan merebahkan cowok itu di atas ranjang. “Kamu berhutang padaku! aku sudah menyelamatkan hidupmu,” imbuhnya.
Namun, bukannya meninggalkan cowok itu. Bening malah mematung dan memandangi wajah Glass. Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di dalam otaknya. “Jika aku kembali, aku harus bisa memberikan alasan yang masuk akal agar mereka tidak memaksaku bertunangan lagi dengan Rain, haruskah aku melakukan ini?”
Bening semakin mendekat, dia meyakinkan diri sebelum berucap. “Maaf!”
**
Glass mengerjab karena cahaya matahari yang mengenai matanya, dia memijat pelipis karena kepalanya terasa pusing. Samar, dia melihat sesosok wanita duduk di tepian ranjang. Kaget, Glass langsung bangun hingga punggungnya terbentur kepala ranjang. Ia semakin kaget mendapati tubuhnya yang hanya berbalut selimut dan menariknya.Glass gemetaran, dengan terbata dia bertanya,”Si-si-siapa kamu?”
Netra cowok itu membola saat sosok wanita itu menoleh. Bening menatapnya dengan sorot aneh.
“Ka-ka-kakak!”
“Apa kamu mengingat apa yang kamu lakukan semalam?” tanya Bening.
„Was meinst du mit ‚nett‘?“ Seine Stimme war leicht heiser.„Hast du keine Angst, dass jemand sagen könnte, du heiratest die Frau, die dein Bruder abgelehnt hat?“Er hielt kurz inne, dann sagte er sanft:„Was redest du da? Dich heiraten zu dürfen ist mein Glück. Wenn er dich nicht zu schätzen wusste, ist das allein sein Fehler.“Mein Herz wurde ganz weich und warm.„Ich verrate dir ein Geheimnis“, sagte er plötzlich mit einem Lächeln. „Eigentlich war ich schon lange in dich verliebt.“Überrascht sah ich ihn an.„Damals, als meine Eltern noch lebten, haben sie mich einmal mit zu euch genommen. Du warst gerade etwas über ein Jahr alt, mit Schmollmund und großen Augen, hast mich nach einem Bonbon gefragt. Da dachte ich: Wie kann es auf der Welt nur so ein süßes kleines Mädchen geben?“„Nach dem Tod meiner Eltern bin ich kaum noch aus dem Haus gegangen. Aber jedes Mal, wenn du die Webers besucht hast, habe ich dich heimlich beobachtet. Ich wollte dich nicht stören – und doch tat es mir jed
Iris war ihm gefolgt.Doch am Anwesen der Webers ließ Egon sie nicht einmal hinein.Alles hatte nichts mehr mit mir zu tun.9An meinem Hochzeitstag.Noch vor Sonnenaufgang saß ich schon beim Schminken.Dieter führte mich sanft an der Hand zum Auto.Ich warf einen verstohlenen Blick auf sein Profil.Er war so anders als Egon.Egon war der typische verwöhnte Neureiche, rücksichtslos und von sich eingenommen.Dieter dagegen war anständig. Er war gutaussehend, mit einer geraden Nase und schmalen Lippen.Zuerst hielt ich ihn für distanziert – doch später ich habe seine Faszination und tiefe Zuneigung zu mir selbst erlebt..Bei diesem Gedanken durchströmte mich eine süße Wärme.Noch einmal heiraten – derselbe Weg wie damals – und doch fühlte sich heute alles ganz anders an.In meinem früheren Leben, als ich Egon heiratete, war ich immer besorgt, dass er es bereuen würde, mich geheiratet zu haben.Aber in diesem Leben, als ich Dieter heiratete, fühlte ich mich nur ruhig und sicher.Plötzlic
„Ach du meine Güte – ist das nicht Herr Egon?“„Fräulein Vera, kommen Sie schnell ans Fenster!“Ich eilte ans Bett, sah hinaus – und tatsächlich stand Egon im Innenhof unseres Hauses.Ringsherum hatten sich neugierige Nachbarn versammelt.Diejenigen, die Bescheid wussten, tuschelten schon über die komplizierte Liebesgeschichte zwischen mir und Egon.Bevor ich reagieren konnte, riss Iris die Tür auf und stürmte hinaus.„Egon, bist du meinetwegen hier?“ rief sie freudig.Doch Egon stieß sie grob beiseite.Iris stolperte und fiel hart zu Boden.„Vera, heirate mich“, sagte er, ging auf ein Knie und zog unter den Blicken der Menge einen Ring hervor.8Mir wurde übel.„Hast du den Verstand verloren? Du liebst doch meine Schwester Iris, nicht wahr?“Als ich mich abwenden wollte, stellte er sich mir in den Weg.Iris versuchte, ihn zurückzuhalten.„Vera, bitte, hör mir zu. Es war alles ein Missverständnis. Ich liebe dich. Keine andere bedeutet mir etwas.“„Du hast das anders gesagt. Du meintes
Egon starrte mich mit weit aufgerissenen Augen an.„Vera, ich liebe dich doch! Nur dich!“Dann begann er plötzlich unheimlich zu grinsen.„Ich verstehe schon. Du bist eifersüchtig, oder? Du benutzt Dieter nur, um mich zu ärgern. Es geht dir nur darum, dass ich dir an deinem Geburtstag das Geschenk nicht gegeben habe, sondern Iris – stimmt's?“Ich blickte ihn ausdruckslos an.„Egon, so etwas darfst du nicht einfach behaupten. Ich bin mit Dieter verlobt.“Als ich das sagte, verzog sich Egons Gesicht zu einer wütenden Fratze.Er machte einen Schritt auf mich zu, als wolle er mich umarmen.„Vera, du darfst dich nicht mit jemand anderem verloben! Du darfst nur mich lieben!“Aber ehe er mich berühren konnte, zog mich Dieter schon hinter sich.„Egon, heute ist das Silvester. So viele Verwandte sind hier – mach keine Szene.“„Vera hat sich für mich entschieden.“Egon spuckte ihm fast ins Gesicht.„Und wer bist du, dass du hier das Wort erhebst?“„Und ich?“Herr Webers Gehstock krachte auf den





