Share

Bab.93 Perasaan Rindu

Penulis: Armelia Melmel
last update Tanggal publikasi: 2026-05-03 14:13:20

Tok...

Ketukan pintu kaca mobilnya menghentikan lamunannya.

Melihat orang yang berdiri di hadapannya seketika membuat Emely tersenyum kecil.

"Sayang."

Emely turun dari mobil dan menghampiri suaminya. Seketika dia menghambur ke pelukan sang suami.

Wiliam yang melihat Sikap istrinya tampak berbeda. Melerai pelukannya.

"Ada apa sayang?"Wiliam menatap wajah istrinya.

"Tidak ada apa-apa sayang. Aku hanya merindukan ibu. Melihat bibi Ana membuat ku teringat dengan ibu."

Wiliam memeluk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adfazha
kyknya bkn hnya William yg reborn tp Emely jg duh Jon mky berani ungkapin perasaanmu ke Grace Be gentle lbh baik skt hati ditolak cinta drpd kehilangan sblm ada pernyataan cinta
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.147 Rahasia kembali terungkap(end)

    Di balik jeruji besi. Joana menangis sesenggukan. Para tahanan memandang Joana dengan aneh. Sementara itu sang ibu sudah berada di dalam mobil bersiap untuk kembali. "Hari ini begitu banyak masalah. Bisakah kamu mengantar bibi ke suatu tempat?" Ana menoleh kepada Grace. "Tentu saja bibi." Satu jam berlalu. Emely dan Grace saling memandang satu sama lain. Emely mrmundurkan langkahnya. Tubuhnya membeku. Dia menatap ibu Joana yang sedang menangis di depan sebuah makam. "Bibi mengenalnya?" Emely bertanya dengan rasa penasaran di dalam hatinya. "Dia makam wanita yang bibi hancurkan." Emely terhuyung ke belakang. Semua orang memandangnya. "Apa yang terjadi?" "Dia ibuku." Ana merasakan detak jantungnya berhenti. Netranya tidak lepas dari Emely. Sebuah kebenaran yang terungkap. "Jadi kamu adalah anak itu." Ana menangis histeris sambil memukul dadanya yang terasa begitu menyesakkan. "Maafkan bibi." Emely tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan masuk ke dalam mobi

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.146 Sidang

    Aska tiba di rumah sakit. Dokter tampan itu langsung menuju ke ruangannya. Baru saja tiba, sudah ada beberapa pasien yang sudah menunggu. Di apartemennya, Max baru saja beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi. Hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dia berjalan ke dapur. Di sisi lain. Emely baru saja membuka matanya. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah lagi ke kantor. Wiliam melarangnya untuk pergi sementara waktu. Kini dia hanya menghabiskan waktunya berada di atas tempat tidur. Tok...tok.. "Emely, ini aku Grace. Boleh aku masuk?" Begitu mendengar nama Grace. Emely langsung bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan membuka pintu. Dia langsung menyambut kedatangan sahabatnya dengan pelukan hangat. "Selamat datang Grace." Grace melerai pelukannya. "Kamu baru bangun?" Emely tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Kamu tidak ingin datang ke sidang Joana?" "Sidang Joana?" "Iya. Hari ini hakim

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.145 Berakhir menghabiskan malam bersama

    Tiga puluh menit berlalu. "Mari kita akhiri dansa ini."Ujar Emely melepaskan tangannya. "Kamu benar. Ini sangat seru tapi perutku sudah meminta jatahnya." Perayaan itu di akhiri dengan jamuan makan. Mereka terlihat begitu menikmati jamuan makan itu. Sesekali tawa terdengar di meja makan. Grace dan Emely duduk berdekatan. Kedua wanita itu sibuk mengobrol dan mengabaikan ke empat laki-laki yang bersama dengan mereka. "Kalian lanjutkan saja. Kami ada sedikit urusan." Emely menarik tangan Grace setelah mengatakan hal itu. "Sejak kapan mereka sedekat itu Jon?" Wiliam menoleh kepada Jon. Sementara pria yang di tatap hanya mengedipkan bahunya. Wiliam menoleh kepada Aska dan Sam. "Apa rencana kalian? Apa ibu mu tahu tentang kalian?" Aska hanya menggelengkan kepalanya. "Apa yang akan kalian lakukan jika ibu kalian tidak merestui kalian?"Kali ini Jon yang bertanya. Dia menatap Aska dan Sam secara bergantian. Ucapan Aska jelas punya alasan. Mereka sudah berteman

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.144 Pesta perayaan

    Satu minggu berlalu. Semua kehidupan mereka mulai damai. Luka di kaki Grace juga perlahan-lahan mulai sembuh. Pagi ini semua orang di sibukkan dengan persiapan pesta perayaan kebahagiaan mereka semua. "Pagi semua." Sapa seseorang. Emely dan bibi Elsa serta beberapa pelayan menoleh. Netra mereka langsung tertuju kepada Grace yang baru saja masuk. "Grace." Emely segera menghampiri sahabatnya. Wajahnya sumringah menyambut sang sahabat yang sedang berjalan ke arahnya. "Kamu turun sendiri melakukan pekerjaan ini?" Grace melihat sekeliling yang mulai di khiasi bunga-bunga yang indah. Sejenak wanita itu terpaku melihat sekeliling. "Aku tidak melakukan apa-apa. Sejak kejadian itu, Wiliam hanya menyuruhku beristirahat di rumah. Dia melarang ku kemana-mana. Bahkan ke kantor pun dia melarang ku." Emely sedikit cemberut. Grace tersenyum kecil. "Itu artinya dia mengkhawatirkan mu Emely. Bukankah kamu mengatakan jika di kehidupan sebelumnya dia tidak perhatian kepada ku? Dia b

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.143 Berakhir Di Penjara

    Lima belas menit kemudian. Selama lima belas menit lamanya. Suasana terasa hening. Tidak ada suara ataupun percakapan di tempat itu. Ayah Grace menghela nafas kasar. Dia beranjak dari kursinya dan menghampiri Joana. "Katakan padaku,apa kamu memilikinya atau tidak?" Pistol di tangan ayah Grace mengarah tepat di kepala Joana. Tangan Joana gemetar. Wajahnya sedikit pucat. Dia menatap ayah Grace dengan tubuh yanga gemetar. "Katakan selagi aku masih bersikap baik. Jangan membuang-buang waktuku Joana. Aku tanya sekali lagi, apa kamu punya barang itu atau tidak?" Ayah Grace kembali bertanya. Tangannya menekan ujung pistol miliknya di kepala Joana. "Aku..aku..." Joana tidak bisa melanjutkannya. Di benar-benar takut mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi jika dia terus berbohong kemungkinan kecil dia tidak akan selamat dan bisa saja kebohongannya akan dengan cepat terungkap. "Katakan sialan. Kamu membuat ku muak." Pria paruh baya itu menarik pelatuknya. Hal itu semakin me

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.142 Saling mengadu domba

    "Bagaimana sekarang?" Wiliam mengusap kasar wajahnya. "Tunggu dulu. Tampaknya aku tahu seseorang yang bisa membantu kita." "Siapa?" "Sam. Aku pernah dengar dari Aska jika Sam memiliki pekerjaan yang tidak biasa." "Lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Emely." "Aku mengerti. Aku juga sedang mengusahakannya." Satu jam berlalu. Emely dan Grace sudah terikat pada sebuah tiang. Kedua tangan mereka terikat. Mulutnya di lakban. Sementara ayah Grace dan Joana sedikit berdebat karena sesuatu. Emely dan Grace memanfaatkan momen ini. "Grace, bagaimana ini? Sepertinya kita tidak akan bisa selamat. Alat itu sudah di hancurkan oleh mereka."Bisik Emely. "Lalu bagaimana sekarang? Orang itu bukan ayah kandungku. Dia sangat kejam." Emely menghembuskan nafas kasar. Kedua lakban di mulut mereka sudah di buka. Bahkan mereka berdua tidak tahu di mana mereka berada sekarang. "Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk mu Emely. Tangan ku sudah gatal ingin menghan

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.114 Kedatangan Joana secara tiba-tiba

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tatapan Wiliam begitu tajam. "Aku datang untuk menemui mu. Aku tahu jika kamu tidak akan memaafkan ku. Tapi bisakah kamu tidak membuat ku terlihat begitu buruk di mata semua orang?" Wiliam menoleh kepada Jon. Jon yang melihat hal itu segera mengerti. Di berj

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.113 Penyesalan Isabella

    "Bagaimana dengan kejutan dari ku? Aku sama sekali tidak senang melihat bagaimana kau mengkhianatiku." Para pemegang saham seketika berkeringat dingin. Mereka terlihat ketakutan. Menjual saham hanya untuk menakuti Wiliam agar atasan mereka itu melakukan apa yang mereka inginkan. Tapi mereka tid

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.109 Kebenaran mulai terungkap

    Drt.. Bunyi ponsel Aska mengalihkan perhatiannya. "Ada apa?" "Kemarilah."Ujar seseorang di sebrang telepon. "Tunggu aku." Aska mematika teleponnya. Dia masuk ke dalam mobip miliknya dan melaju ke suatu tempat. Mobil Aska terus melaju dengan kecepatan penuh. Hembusan nafas kasar berkali-

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.107 perdebatan Emely dan Wiliam

    Beberapa jam berlalu. Wiliam sama sekali tidak pergi ke kantor. Pria itu hanya menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya. Hatinya yang di penuhi kegelisahan tidak bisa membuatnya bekerja dengan maksimal. Begitu juga dengan Emely. Kini wanita itu dalam perjalanan kembali ke mansion. Sepanj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status