LOGINWiliam menatap Emely. "Aku ingin tahu apakah kamu akan berkata jujur atau tidak sayang."Batin Wiliam. "Maaf sayang. Aku baru kembali. Tadi ada sedikit gangguan." "Bersihkan dirimu sayang." Wiliam tersenyum kecil tapi dia merasakan kecewa di dalam hatinya. Emely tidak menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Tanpa menyadari apa pun. Emely tetap melangkah pergi masuk ke dalam walk in Closet. Wiliam tersenyum miring. Perasaannya begitu kacau saat ini. Entah mengapa dia mulai takut akan sesuatu hal. Wiliam takut jika Emely mulai menyembunyikan sesuatu darinya. Tangannya sedikit mengepal menatap kepergian Emely yang melangkah masuk ke dalam walk in closet. "Kamu memilih untuk menutupinya sayang. Maka aku juga akan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Kita akan lihat apa yang terjadi sebenarnya."Batin Wiliam berjalan ke atas tempat tidur. Wiliam berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi hari ini dan siapa yang di temui oleh Emely. Beberapa menit kemudian. Emely berj
Wiliam dan Jon melangkah masuk ke dalam lift. Hal itu membuat Jon semakin bingung dengan sikap atasannya. Semenjak menikah dengan Emely. Baru kali ini dia melihat pria itu begitu kesal karena sesuatu hal. Jon mengikuti arah pandang Wiliam. "Ada apa tuan?" "Bukan apa-apa." Kini keduanya sudah tiba di parkiran. Sementara itu, Emely dan Sam sedang berada di sebuah cafe. "Sebenarnya ini tidak perlu Sam. Aku benar-benar tidak keberatan sama sekali." Sam tersenyum kecil. "Aku ingin melakukan ini sebagai permintaan maafku. Ambil gaya." Emely menatap Sam dengan kebingingan tapi dengan ekspresi itu semakin membuat Emely terlihat cantik di kamera dengan ekpresi yang natural. "Apa tidak masalah aku post?" Sam menatap Emely. Emely menganggukkan kepalanya. Dia tahu jika Sam menyukai laki-laki dan itu sedikit membuatnya nyaman. "Lakukanlah." "Terimah kasih." Sam menunjukkan sosial medianya kepada Emely. Emely tersenyum kecil. "Wanita tercantik! Caption mu sangat berl
Sam semakin mendekat. Wiliam yang melihat hal itu mengepalkan tangannya. Urat-urat tangannya terlihat menonjol. Sementara itu Emely hanya tersenyum mendengar apa yang di bisikkan oleh Sam. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu?" "Itu benar sekali. Jika aku menyukai wanita maka aku pasti tidak akan melepaskan mu tapi sayangnya tidak."Bisik kembali Sam. Pria itu jelas sengaja melakukan hal itu untuk membuat Wiliam cemburu. Dan tampaknya rencananya itu berhasil. Kini Wiliam sudah berada di dalam ruangannya. Pria itu masih merasakan kesal setelah melihat bagaimana kedekatan pria yang bersama dengan istrinya tadi. "Aku benar-benar kesal dengan pria itu."Gumam Wiliam dengan perasaan kesal. Saat ini pria itu sedang merasakan api cemburu di dalam dadanya. Dia begitu kesal melihat bagaimana kedekatan istrinya bersama dengan pria yang tidak ia kenal. "Ada apa dengan ku? Apa aku sedang cemburu?"Batin Wiliam menghela nafas. Netranya kemudian beralih kepada Emely. Wanita itu
Wiliam mendekat. Raut wajah pria itu terlihat begitu khawatir. Dia memeriksa seluruh tubuh istrinya takut ada yang lecet ataupun luka. Emely menjauh dari suaminya. "Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir." "Apa kamu benar baik-baik saja sayang?" Wiliam kembali memeriksa sang istri. "Aku baik-baik saja sayang. Jangan terlalu khawatir. Luka ku hanya di dahi saja. Mungkin tadi terbentur pada kemudi." Emely kembali menjelaskan semuanya kepada sang suami. Mendengar hal itu, Wiliam mulai merasa tenang. "Kalau begitu, ayo bersihkan dirimu." Ujar Wiliam menggandeng tangan Emely masuk ke dalam mansion. Keduanya melangkah masuk ke dalam mansion. Pada pelayan yang bertemu dengannya hanya saling menatap dan tersenyum kecil. Mereka sering melihat tuan dan nyonya mereka seperti itu. Hal itu tidak membuat mereka kaget melihat tuan mereka bersikap baik kepada istrinya. Semua pelayan jelas tahu bagaimana hubungan Wiliam dan Joana. Tapi sekarang mereka melihat bagaimana tuan
"Bibi apa yang terjadi?" "Nyonya meminta anda menelponnya begitu anda bangun tuan." Jawab bibi Elsa sedikit gugup. Netranya melirik ke arah Jon yang tampaknya tidak menyadari apa pun. "Aku mengerti. Lanjutkan bekerja bibi. Kami akan makan." "Baik tuan." "Aku makan dulu. Aku sudah sangat lapar." Ujar Jon. Tanpa menunggu lama, Jon langsung menyantap makanannya. Sementara Wiliam masih memikirkan apa yang terjadi. Pria itu tidak bisa menunggu. Dia meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi sang istri. Hanya satu kali panggilan. Sang istri sudah menjawab panggilannya. Tentu saja karena sedari tadi sang istri sudah menunggu panggilannya. "Sayang, apa yang terjadi? Bibi Elsa mengatakan jika kamu meminta ku menelpon mu saat aku bangun." Wiliam langsung bertanya tanpa menunggu istrinya membuka suara terlebih dahulu. Dia sangat penasaran apa yang telah terjadi. Di sebrang telepon Emely terdengar menghela nafas. Mendengar hal itu,
"Apa." Pekik Emely. Wanita itu meninggalkan meja makan. Dia berlari ke kamarnya. Emely segera membuka pintu begitu ia tiba di depan pintu. Raut wajahnya terlihat begitu panik. Beberapa menit kemudian. Emely kembali dengan wajah yang terlihat lesu. Dia kembali ke meja makan. Sementara itu, bibi Elsa menatap Emely dengan penuh kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang yang terjadi. "Ada apa nyonya?" "Bibi, aku sudah melakukan kesalahan." Emely terlihat tidak bersemangat. "Ada apa nyonya?"Bibi Elsa kembali bertanya. "Aku rasa aku sudah melakukan hal yang sama dengan bibi. Aku juga memberikan sup itu kepada Wiliam dan sekarang dia sedang tertidur pulas."Ujar Emely sengan sorot mata yang sendu. Wanita itu bahkan menghembuskan nafas berkali-kali. Dia menoleh kepada bibi Elsa. Kedua wanita berbeda usia itu sama sekali tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini. Kini keduanya hanya bisa saling memandang dengan pikiran yang sama. Sementara itu, Wiliam dan Jon







