Home / Urban / Wiro sang Penakluk / 1 Pengkhianatan

Share

Wiro sang Penakluk
Wiro sang Penakluk
Author: Heartwriter

1 Pengkhianatan

Author: Heartwriter
last update Last Updated: 2026-01-28 15:33:48

Malam ini, Cafe Bintang Timur ramai seperti biasa. Wiro bergerak lincah di antara meja-meja, membawa nampan berisi pesanan dengan gerakan yang sudah terlatih selama setahun terakhir.

Tubuhnya lelah. Bagaimana tidak, ini adalah pekerjaan ketiganya hari ini. Pagi tadi dia sudah menjadi kuli angkut di pasar induk, siang menjadi kurir paket, dan sekarang melayani tamu di cafe ini hingga tengah malam.

Dua tahun sudah Wiro merantau ke Jakarta. Dua tahun penuh perjuangan, tidur di kontrakan sempit yang pengap, makan seadanya, semua demi satu tujuan, yaitu membiayai Lisa, kekasihnya yang setahun lalu menyusul ke Jakarta untuk kuliah.

"Sayang, aku butuh uang untuk beli buku," begitu pesan Lisa minggu lalu.

"Wiro, uang kuliahku kurang," begitu pesan sebelumnya.

Dan Wiro selalu mengirim. Selalu. Meski tubuhnya harus remuk, meski perutnya harus kelaparan. Karena itulah cinta, pikirnya. Berkorban tanpa pamrih.

Pintu cafe terbuka. Wiro menoleh secara refleks, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

Lisa masuk. Tapi tidak sendirian.

Tangannya melingkar mesra di lengan seorang pria berpenampilan necis, kemeja branded, jam tangan yang kelihatan mahal, rambut ditata rapi dengan gel. Di belakang mereka, empat orang pria lain mengikuti, tertawa-tawa dengan suara keras.

"Lisa...?" suara Wiro nyaris tak terdengar.

Lisa melihatnya. Mata mereka bertemu. Tapi tidak ada keterkejutan di wajah gadis itu. Yang ada hanya senyum mengejek yang membuat perut Wiro serasa diremas.

"Oh, itu yang namanya Wiro?" seru pria di samping Lisa. "Jadi ini pacar kampungmu yang selama ini membiayai hidupmu, sayang?"

Mereka duduk di meja yang kebetulan masuk dalam area pelayanan Wiro. Dengan langkah gemetar, Wiro menghampiri.

"Lisa, siapa dia?" tanya Wiro, suaranya bergetar menahan emosi.

"Kenalkan, ini Krisno," jawab Lisa tanpa rasa bersalah. "Pacarku yang sebenarnya."

Krisno tertawa. Suaranya nyaring dan menyakitkan. "Bro, kasihan banget sih lo. Setahun membiayai cewek orang!" Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. "Nih, liat. Selama lo kerja banting tulang, gue yang nikmatin tubuhnya."

Wiro memegang handphone milik Krisno itu dengan tangan gemetar.

Foto-foto itu. Foto-foto yang membuat dunia Wiro runtuh seketika. Lisa dan Krisno dalam posisi-posisi intim, di hotel, di apartemen. Dan jelas mereka biasa melakukannya.

"Lo tahu yang paling lucu?" Krisno melanjutkan dengan nada mengejek. "Lo bahkan nggak pernah nyentuh dia. Bego banget sih lo!"

Teman-teman Krisno tertawa terbahak-bahak. Lisa ikut tertawa, seolah pengkhianatannya adalah lelucon terbesar tahun ini.

Sesuatu dalam diri Wiro pecah.

PRAK!

Ponsel Krisno terbanting ke lantai, layarnya retak. Detik berikutnya, tinju Wiro mendarat telak di wajah Krisno, membuat pria itu terjungkal dari kursinya.

"WIRO!" teriak Lisa.

Kafe menjadi kacau. Tamu-tamu berteriak. Manager berlari menghampiri.

"Apa-apaan ini?!" bentak sang manager.

Krisno bangkit sambil memegangi hidungnya yang berdarah. "Pak, pelayan Bapak menyerang saya! Saya mau lapor polisi!"

"Wiro! Ke ruangan saya, sekarang!"

***

Lima belas menit kemudian, Wiro keluar dari pintu belakang cafe dengan kardus berisi barang-barang pribadinya. Dipecat. Tanpa pesangon. Tanpa referensi kerja.

Tapi itu bukan akhir dari malamnya yang buruk.

"Oi, kampungan!"

Wiro menoleh. Krisno berdiri di ujung gang, diapit empat temannya. Wajahnya bengkak di bagian yang tadi kena pukul.

"Lo pikir lo bisa mukul gue terus kabur gitu aja, heh?"

Setelah itu, mereka menyerang bersamaan. Wiro berusaha melawan, tapi satu lawan lima jelas bukan pertarungan yang adil. Pukulan dan tendangan menghujani tubuhnya dari segala arah.

Dari sudut matanya yang mulai membengkak, Wiro melihat Lisa. Gadis itu berdiri di kejauhan, menonton. Tidak berteriak minta tolong. Tidak berusaha menghentikan. Hanya menonton dengan wajah datar, sesekali memeriksa ponselnya.

Tendangan terakhir menghantam perutnya, dan Wiro ambruk. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tulang rusuknya terasa retak. Darah mengalir dari bibirnya yang sobek.

"Udah, udah," kata Krisno, mengatur napasnya. "Biar dia mampus di sini."

Krisno berjalan menghampiri Lisa, merangkulnya mesra, lalu menciumnya dengan sengaja tepat di depan Wiro yang terkapar.

"Ayo, sayang. Kita lanjutkan permainan kita."

Mereka pergi. Meninggalkan Wiro dalam kegelapan gang, dengan tubuh yang hancur dan hati yang lebih hancur lagi.

Anehnya, air mata tidak keluar. Yang tersisa dalam diri Wiro hanyalah kebencian. Kebencian yang begitu pekat kepada Lisa, kepada pengkhianatan itu, kepada kebodohannya sendiri.

'Mati', pikir Wiro. 'Mungkin memang lebih baik aku mati di sini.*

---

"Anak muda."

Suara itu parau, seperti kertas pasir menggesek kayu. Wiro berusaha membuka matanya yang bengkak.

Seorang pria tua berdiri di atasnya. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal, kulitnya gelap karena kotoran.

Wiro mengenalinya, tunawisma yang selama tiga hari terakhir selalu duduk di samping cafe. Pria yang beberapa kali diberi makanan oleh Wiro ketika tidak ada yang melihat.

"Ka-kek..." Wiro terbatuk, darah muncrat dari mulutnya.

Pria tua itu berlutut di sampingnya. Tangannya yang kurus dan berkeriput memegang sesuatu, sebuah kalung dengan liontin berbentuk aneh, seperti simbol kuno yang tidak dikenali Wiro.

"Kau anak yang baik," kata orang tua itu. "Kau memberiku makan ketika orang lain bahkan tidak mau menatapku. Sekarang, biar aku yang membantumu."

"A-apa..."

"Kalung ini akan menyembuhkan lukamu," lanjut pria tua itu, matanya berkilat dengan cara yang aneh, seolah ada cahaya di balik kegelapan. "Dan lebih dari itu. Kalung ini akan membantumu jadi kuat... Dan membalas dendammu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wiro sang Penakluk   9 Hujan Ciuman

    Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat wajahmu saat kita lakukan lagi,” bisiknya, tangannya menyentuh pipi pria itu lembut. Wiro mengangguk, matanya menatap mata Hartini yang berbinar, lalu ia bergeser ke atas, memposisikan tubuh macho-nya di antara paha wanita itu yang terbuka lebar.Hartini berbaring telentang di atas seprai yang kusut, rambutnya tersebar seperti mahkota hitam di bantal. Tubuhnya yang montok naik-turun pelan dengan napasnya, payudaranya yang besar bergoyang ringan. Wiro mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya menopang berat badannya di samping kepala Hartini, sementara tangan kirinya menyusuri perutnya yang lembut, turun ke pinggul. “Kau cantik sekali, Tante,” gumamnya, suaranya dalam dan penuh kelembutan, s

  • Wiro sang Penakluk   8 Kau Luar Biasa

    Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi hasrat masih membara di antara keduanya. Hartini bergeser pelan, memutar tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dada Wiro yang lebar dan hangat. “Peluk aku dari belakang, sayang,” bisiknya lembut, tangannya meraih tangan Wiro dan menariknya melingkar di pinggangnya. Wiro tersenyum, tubuh macho-nya menyesuaikan posisi, kakinya menyatu dengan kaki Hartini dalam pelukan intim itu. Kontolnya yang mulai mengeras lagi menekan pantat bulat Hartini, merasakan kelembutan daging di sana.Hartini menggeliat pelan, pinggulnya bergoyang mundur untuk menggesekkan memeknya yang masih basah dan licin oleh campuran cairan mereka sebelumnya. “Masuk lagi, Wiro... pelan-pelan,” desahnya, suaranya penuh kelembutan mesra. Wiro mengangguk, tangan kirinya naik meraih payudara Hartini yang montok, jarinya memijat putingnya dengan lembut sementara tangan kanannya turun ke bawah, meraih batang kontolnya yang tebal. Ia mengarahka

  • Wiro sang Penakluk   7 Hartini Ingin di Atas

    Wiro berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal setelah sesi panas tadi. Tubuhnya yang kekar, berotot dari latihan gym, basah oleh keringat dan air sisa mandi. Kontolnya yang masih setengah tegang bergoyang pelan saat ia melangkah keluar, siap menuju kamar tidur untuk berpakaian dan meninggalkan rumah ini. Tapi tiba-tiba, tangan lembut Hartini meraih lengannya dari belakang, menahannya dengan kuat.“Tunggu dulu, sayang,” bisik Hartini dengan suara serak penuh nafsu. Wanita berusia 29 tahun itu, dengan lekuk tubuhnya yang montok dan payudara besar yang masih basah, menatap Wiro dengan mata penuh hasrat. Rambutnya yang panjang menempel di kulitnya yang mulus, dan bibirnya melengkung dalam senyum menggoda. “Kita belum selesai. Aku ingin lanjut lagi di ranjang. Kali ini, aku yang di atas.”Wiro berbalik, alisnya terangkat terkejut tapi senyum nakalnya langsung muncul. “Oh ya? Kau nggak puas dengan yang tadi di kamar mandi?” tanyanya sambil memandang tubuh Hartini dar

  • Wiro sang Penakluk   6 Mandi Bareng

    Setelah sesi panas yang melelahkan di ruang tamu, Wiro dan Hartini terbaring di sofa, tubuh mereka basah keringat dan cairan cinta yang bercampur. Napas Hartini masih tersengal, dadanya naik-turun cepat, sementara Wiro memeluknya lembut dari samping, tangannya menyusuri punggungnya yang kini bebas dari rasa sakit. Liontin di leher Wiro masih hangat, seolah memberi energi tak habis-habis. "Bu, kita mandi yuk? Tubuh kita lengket semua," usul Wiro dengan suara rendah, bibirnya menyentuh telinga Hartini. Hartini tersenyum malu-malu, pipinya merona meski usianya sudah matang. "Iya, Mas. Ayo... bareng." Matanya berbinar penuh hasrat sisa, tangannya meraba-raba dada berotot Wiro. Ia bangkit pelan, kakinya agak gemetar karena orgasme berulang tadi, tapi langkahnya lebih ringan, punggungnya benar-benar sembuh. Wiro ikut berdiri, memeluk pinggang Hartini dari belakang saat mereka berjalan ke kamar mandi utama di ujung koridor. Tubuh Hartini yang montok terasa hangat menempel ke dadanya,

  • Wiro sang Penakluk   5 Gairah Tak Terbendung

    Hartini merasakan tubuhnya. Tulangnya seperti sejajar kembali, rasa nyeri hilang seolah disedot ke udara. "Bu, coba gerakkan pinggangnya," kata Wiro. Hartini bangkit pelan, memutar tubuhnya. "Astaga... hilang! Sakitnya benar-benar hilang, Mas! Kamu tukang sulap apa?" Ia tertawa gembira, memeluk Wiro impulsif. Tubuhnya menempel ke dada Wiro, dan saat itu, aroma parfum ringan Hartini bercampur keringat tipis membuat Wiro merasakan tarikan liontin lagi. Hartini tak langsung melepaskan pelukan; matanya bertemu mata Wiro, dan ada percikan di sana. "Terima kasih banyak, Mas. Kamu selamatkan hidup saya," bisik Hartini, suaranya bergetar. Wiro tersenyum, "Senang bisa bantu, Bu." Tapi Hartini tak mundur. Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Wiro pelan. sebuah ciuman terima kasih yang berubah menjadi sesuatu yang lebih. "Saya... saya nggak tahan, Mas. Sentuhanmu tadi... bikin saya panas," akunya malu-malu, pipinya merona. Wiro terkejut, tapi kekuatan liontin membuatnya tak me

  • Wiro sang Penakluk   4 Teknik Memijat

    Di ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung. Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual. "MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!" Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens. Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..." "BUKA PINTUNYA!" Krisno terus menggedor hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka. Akhirnya, suara-suara itu mereda. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka dengan santai. Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa seluruh dunianya runtuh. "Wiro?!" Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan. "Hai, Krisno,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status