เข้าสู่ระบบSebelum Wiro bisa protes, pria tua itu sudah mengalungkan liontin itu ke lehernya.
Sensasi itu datang seketika. Seperti air hangat mengalir ke seluruh tubuh. Seperti api yang tidak membakar, tapi justru menyembuhkan. Wiro menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri—luka di tangannya menutup, bengkak di wajahnya surut, rasa sakit di tulang rusuknya menghilang. Dalam hitungan detik, dia kembali utuh. Bahkan lebih dari utuh, tubuhnya terasa lebih ringan, lebih kuat, lebih... hidup. "Ba-bagaimana bisa..." Wiro bangkit, meraba wajahnya yang sudah tidak bengkak lagi. Pria tua itu tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi yang anehnya putih bersih, tidak cocok dengan penampilannya yang kumuh. "Karena kau punya hati yang tulus," kata orang tua itu. "Di dunia yang keras ini, kau masih mau menolong orang yang sedang kesusahan. Itu langka, anak muda. Sangat langka." "Terima kasih, Kakek. Terima kasih banyak!" Orang tua itu mengangkat tangannya, menghentikan ucapan terima kasih Wiro. "Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui. Sesuatu dalam dirimu telah berubah. Kau sekarang lebih kuat dari sebelumnya, jauh lebih kuat. Dan..." matanya berkilat penuh misteri, "kau memiliki kemampuan baru. Kemampuan untuk menjadi... penakluk." "Penakluk? Maksud Kakek?" "Kau akan mengerti sendiri." Pria tua itu berbalik, berjalan menjauh ke kegelapan gang. "Gunakan kekuatanmu dengan bijak, anak muda. Dan ingat... semua pilihan ada di tanganmu." "Tunggu! Kakek! Siapa sebenarnya Kakek?" Tapi sosok itu sudah lenyap, seolah ditelan malam. Wiro berdiri sendirian di gang itu, memegang liontin di dadanya. Dia menggerakkan tangannya, mengepalkan tinjunya. Kekuatan mengalir di setiap ototnya, kekuatan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Lalu dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda di bagian bawah tubuhnya. Dengan ragu-ragu, Wiro melongok ke dalam celananya. Matanya membelalak. ‘Apa-apaan ini?!’ Kejantanannya, yang dulu berukuran biasa, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih... impresif. Jauh lebih besar. Jauh lebih mengesankan. Kata-kata orang tua itu terngiang kembali: ‘penakluk wanita... pejantan tangguh...’ Wiro menggelengkan kepalanya. Dia tidak sepenuhnya mengerti maksud semua ini, tapi satu hal yang dia tahu pasti—saat ini ada urusan yang lebih mendesak. Krisno. Amarah kembali membara di dadanya. Dia memungut kardus barang-barangnya, meletakkannya di pojok gang yang tersembunyi, lalu berlari ke arah Krisno dan komplotannya pergi. --- Wiro berlari dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Kakinya seolah tidak menyentuh tanah, ringan, cepat, tak kenal lelah. Dalam hitungan menit, dia sudah sampai di tempat parkir cafe. Mobil Krisno sudah tidak ada. Tapi seseorang masih di sana. Salah satu dari empat teman Krisno yang tadi ikut memukulinya, sedang berdiri sambil merokok di dekat motornya. Pria itu menoleh ketika mendengar langkah kaki. Matanya membelalak. "Lo?!" dia mundur selangkah, rokok jatuh dari mulutnya. "Gimana bisa? lo harusnya sekarat!" Wiro tidak menjawab dengan kata-kata. BUAGH! Tinju pertamanya mendarat di perut pria itu, membuatnya terlipat. Wiro sendiri terkejut, pukulannya terasa begitu ringan, tapi efeknya pada lawannya luar biasa dahsyat. "Ampun! Ampun!" pria itu merintih di tanah. Wiro menarik kerah bajunya. "Alamat Krisno. Sekarang." "Kompleks Permata Hijau, Blok C nomor 15!" Wiro melepaskannya dengan kasar, membiarkan pria itu meringkuk kesakitan. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi taksi online. ‘Krisno’, batinnya. ‘Kita belum selesai.’ --- Dua puluh menit kemudian, Wiro berdiri di depan sebuah rumah mewah dua lantai. Kompleks Permata Hijau jelas bukan tempat tinggal orang sembarangan. pagar tinggi, halaman luas, mobil-mobil mewah terparkir di setiap rumah. 'Jadi ini rumah keluarga Krisno. Pantas saja dia bisa memamerkan kekayaan kepada Lisa.' Dengan emosi yang masih bergejolak, Wiro menekan bel. Beberapa saat berlalu. Pintu terbuka. Wanita yang muncul membuat Wiro seketika lupa apa yang mau dikatakannya. Dia berusia sekitar empat puluhan, tapi kecantikannya sama sekali tidak pudar dimakan usia. Justru sebaliknya, ada keanggunan matang yang terpancar dari setiap lekuk wajahnya. Rambut hitam panjang tergerai di bahunya yang terbuka, karena dia hanya mengenakan gaun tidur tipis yang jelas-jelas tidak dirancang untuk menyambut tamu. "Ya?" suaranya merdu, sedikit serak, mungkin karena baru terbangun, atau mungkin memang begitu alaminya. Wiro berdeham, berusaha mengumpulkan kembali fokusnya. "Maaf mengganggu, Bu. Saya mencari Krisno." Wanita itu, yang pastilah ibu Krisno, memiringkan kepalanya. Matanya menyapu Wiro dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan sesuatu berubah di ekspresinya. Sesuatu yang membuat Wiro sedikit tidak nyaman. "Krisno belum pulang," katanya, tapi matanya tidak meninggalkan Wiro. "Kamu... siapa?" "Saya Wiro. Ada urusan dengan anak Ibu." "Urusan apa?" "Urusan pribadi." Wanita itu tersenyum. senyum yang mengandung makna lebih dari sekadar ramah tamah. "Kalau begitu, tunggu di dalam saja. Malam ini dingin, tidak baik berdiri di luar." Sebelum Wiro sempat menolak, wanita itu sudah menarik tangannya, membawanya masuk ke dalam rumah. "Saya Widya," katanya sambil berjalan, jemarinya tidak melepaskan pergelangan tangan Wiro. "Ibu Krisno. Tapi panggil saja Widya—'Ibu' terdengar terlalu tua." Wiro merasa ada yang aneh dengan situasi ini, tapi sebelum dia sempat merespons, Widya sudah membawanya melewati ruang tamu, melewati ruang keluarga, dan masuk ke... ...kamar tidur. "Bu—eh, Widya? Ini..." Widya berbalik, dan jarak mereka kini tinggal sejengkal. Wiro bisa mencium parfumnya, mawar dan sesuatu yang lebih gelap, lebih menggoda. "Wiro," suara Widya berubah lebih rendah, lebih intim. "Entah kenapa, sejak melihatmu, aku tidak bisa berpikir jernih. Ada sesuatu tentangmu yang..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tangannya sudah bergerak ke dada Wiro. ---Kita kembali ke peristiwa sebelum itu, tiga hari setelah kejadian di rumah Viana, setelah pembunuhan yang gagal, Wiro berdiri di depan sebuah gedung tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Angin malam membawa bau karat dan minyak mesin yang sudah lama mengering.Gedung itu dari luar terlihat seperti pabrik yang bangkrut. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, pagar kawatnya berkarat. Tapi Wiro bisa merasakan apa yang ada di dalamnya.Puluhan titik energi manusia. Sebagian besar terkonsentrasi di lantai bawah tanah. Beberapa di lantai atas sebagai penjaga.Ini adalah markas organisasi pembunuh bayaran yang telah mengirim enam orang untuk membunuh Viana.Wiro memandang gedung itu dengan tatapan datar. Baginya, gedung ini bukan benteng yang tidak bisa ditembus. Ini hanyalah sarang yang perlu dibersihkan.Dia melangkah masuk melalui pintu depan.Tidak mengendap. Tidak bersembunyi. Masuk langsung dari depan seperti tamu yang datang berkunjung.Dua penjaga di pin
Wiro duduk di tepi ranjang dan membelai rambut gadis itu dengan lembut.'Mereka mengincarmu. Sepupumu sendiri ingin kau mati. Tapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu.'Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui celah tirai.Viana terbangun dan mendapati Wiro duduk di sofa dekat jendela, secangkir kopi di tangannya, sinar matahari pagi menimpa wajahnya yang tenang."Pagi," sapa Wiro sambil tersenyum.Viana mengerjapkan matanya, lalu tersenyum balik. "Pagi. Kau sudah bangun dari tadi?""Tidak bisa tidur. Terlalu banyak memikirkanmu."Viana tertawa kecil sambil melempar bantal ke arahnya. "Gombal."Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Retakan di dinding dekat pintu masuk. Goresan di lantai marmer. Dan samar-samar, bau metalik yang tidak seharusnya ada di kamar hotel.Senyum Viana menghilang."Wiro." Suaranya berubah serius. "Apa yang terjadi semalam?"Wiro meletakkan cangkir kopinya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Vian
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara di kamar itu dingin oleh hembusan AC yang konstan, namun kehangatan tetap terasa dari dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang king size berlapis seprai sutra.Viana menyandarkan kepalanya di dada Wiro, jemarinya mencengkeram ujung kaus pria itu bahkan dalam tidurnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya damai tanpa beban. Seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah ada.Wiro tidak tidur.Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi kesadarannya menyala terang seperti obor di tengah kegelapan. Setiap detak jantungnya adalah radar. Setiap hembusan angin yang menyusup dari celah ventilasi tercatat oleh indra perasanya yang tajam.'Tiga orang di koridor timur. Dua orang di balkon lantai bawah. Satu lagi di atap.'Wiro sudah merasakannya sejak sejam yang lalu. Enam titik energi asing yang bergerak perlahan, menyusup seperti ular dalam kegelapan. Gerakan mereka terlatih, langkah mereka nyaris tanpa suara. Profesional.
Setelah sesi *lotus* yang membuai di ranjang, Viana dan Wiro terbaring berpelukan, napas mereka teratur, namun sisa-sisa gairah masih terasa hangat di tubuh mereka. Kontol Wiro yang besar masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan puas. Keintiman yang baru saja mereka alami telah menyatukan mereka dalam level yang lebih dalam. Namun, Viana, yang merasakan kehangatan di hatinya, ingin mengakhiri sesi ini dengan sentuhan paling personal dan penuh kasih sayang. Viana mengangkat kepalanya dari dada Wiro, menatap mata pemuda itu dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Wiro..." bisiknya lembut, jari-jarinya yang ramping mengelus pipi Wiro yang berkeringat. "Aku ingin mengakhiri ini dengan yang paling mesra. Aku ingin kamu di atasku... aku ingin kita saling menatap, saling mencium, sampai kita tertidur bersama." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah eksplorasi liar dan intim, Viana menginginkan kepulangan ke posisi
Setelah eksplorasi doggy-style yang liar dan brutal, Viana dan Wiro ambruk di ranjang, tubuh mereka basah oleh keringat, napas terengah-engah, namun puas. Kontol Wiro yang besar dan panjang masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan sedikit membengkak. Meskipun baru saja merasakan gairah yang eksplosif, Viana merasa ada kerinduan akan sentuhan yang lebih dalam, lebih terhubung secara emosional. Ia ingin merasakan setiap inci Wiro menyatu dengan dirinya, namun dengan kelembutan yang membuai. Viana menggeliat pelan, memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Wiro. Ia menatap mata pemuda itu, mengusap pipinya yang masih memerah. "Wiro... aku ingin kamu lagi," bisiknya serak, "tapi kali ini aku ingin kita saling menatap, saling merasakan setiap sentuhan. Aku ingin posisi lotus. Aku ingin kamu di dalamku, duduk berhadapan, seperti kita adalah satu." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah badai gairah yang menggila, Viana membutuhkan ketenangan, ke
Setelah keintiman mesra spooning yang membuai, Viana dan Wiro berbaring pelukan erat di ranjang sutra merah apartemen mewahnya. Napas mereka tenang, tapi hasrat Viana—gadis Tionghoa berusia 22 tahun dengan nafsu tak terbendung—kembali membara. Ia geliat pelan, putus pelukan, tatap Wiro dengan mata sipit berkilat liar. "Wiro... aku pengen yang lebih ganas sekarang," bisiknya serak, suara penuh godaan. "Aku mau kamu sodok dari belakang... mainin pantatku sampe puas. Explore doggy-style ini bareng aku." Wiro tersenyum tipis, kontolnya langsung tegang dengar kata-kata itu. Ia tahu Viana suka variasi, dan doggy-style jadi favoritnya buat eksplorasi dalam. "Siap, Viana. Aku bakal bikin kamu jerit nikmat," balasnya, suara rendah penuh janji. Viana bangkit cepat, berlutut di ranjang, posisi merangkak sempurna. Punggung rampingnya melengkung sensual, pantat bulat kenyal terangkat tinggi, belahan pantat terbuka lebar perlihatkan memek basah mengkilap rambut tipis dan lubang pantat pink mungil
Wiro membuka pintu kamar hotel suite yang mewah, cahaya lembut dari lampu dinding menyambut mereka. Clarissa mengikuti di belakangnya, tangannya masih gemetar karena kegembiraan dan rasa syukur yang meluap. Ayahnya, yang tadinya lumpuh akibat stroke parah, kini bisa berjalan lagi berkat kekuatan p
Setelah gelombang kenikmatan kedua mereda, Wiro dan Wilona tetap berbaring di kasur yang basah oleh keringat dan cairan mereka. Tubuh Wilona yang telanjang menempel erat pada dada Wiro, napasnya masih tersengal-sengal, tapi kini disertai senyum lemah yang penuh kepuasan. Hujan di luar jendela ter
"Kita lanjut dengan aku dari belakang," bisik Wiro mesra. Wilona langsung mengangguk. "Siapa takut?"Malam ini, di kamar tidur yang remang-remang diterangi lampu meja, Wiro dan Wilona masih mengikuti hasrat yang membara di dada masing-masing. Mereka berdua masih telanjang bulat, tubuh mereka sali
Setelah malam penuh gairah yang melelahkan, Wiro dan Wilona terbangun pelan saat sinar pagi menyusup melalui tirai kamar. Tubuh mereka masih lengket oleh keringat dan sisa-sisa cairan kenikmatan dari sesi doggy style yang panjang itu. Wilona tersenyum malas, tangannya merayap ke dada Wiro yang bi







