LOGINRuang kerja Corentine terasa muram ketika mereka kembali ke lantai atas. Beberapa dokumen masih tergeletak di atas meja, belum sempat diperiksa sejak pagi. Di dekat jendela, tirai bergerak pelan tertiup angin. Corentine melepas sarung tangannya, lalu meletakkannya di samping tumpukan surat sebelum mempersilakan Alize duduk. Namun, Alize tidak segera mengambil tempat. Ia berjalan menuju jendela, kemudian berhenti di dekatnya. “Menurutmu, apa maksud Cedric ketika mengatakan seseorang menyimpan dendam sangat besar terhadap keluarga de Mably?” Corentine berdiri di belakang mejanya. “Aku tidak tahu.” Jawaban itu membuat Alize menoleh. “Kau benar-benar tidak punya dugaan?” “Dugaan ada banyak. Bukti yang mendukungnya, belum tentu.” Corentine menarik kursinya, tetapi belum duduk. “Keluarga de Mably telah berdiri selama ratusan tahun. Dalam waktu selama itu, ada banyak orang yang pernah bekerja sama dengan keluargaku, berbisnis, bersaing, berselisih, bahkan bermusuhan.” Ia mengambi
Alize memperhatikan wajah Cedric yang mendadak pucat. Pria itu masih berdiri di dekat ranjang, tetapi kedua tangannya kini mencengkeram sisi kemejanya. Matanya terpaku pada Alize, seolah-olah ia sedang berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri di balik jeruji itu tidak sedang mempermainkannya. “Kau bilang... Mirelle sudah kembali?” Alize mengangkat alis. “Bukankah tadi kau mengatakan tidak tahu di mana dia berada?” Cedric membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab. Pandangannya bergerak dari Alize kepada Corentine, lalu kembali kepada Alize. “Kapan kau menemukannya?” tanyanya akhirnya. “Di mana?” Alize tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati wajah pria itu, mencoba membedakan keterkejutan yang sungguh-sungguh dari kepanikan seseorang yang rahasianya hampir terbongkar. “Bukankah seharusnya kau sudah tahu jawabannya?” “Tidak!” Cedric menyahut terlalu cepat. “Aku bersumpah, Alize. Aku tidak tahu di mana dia berada.” “Benarkah?” “Aku memang tidak tahu!” Ia menggel
Nada bicaranya tetap datar, tetapi ia menggeser piring roti lebih dekat kepada Alize. Istrinya melirik piring itu, kemudian menatapnya dengan ekspresi yang seolah-olah ingin memprotes. Pada akhirnya, Alize mengambil sepotong roti. Corentine kembali meraih kopinya. Meski tubuhnya lelah dan kepalanya masih dipenuhi berbagai pertanyaan, ia merasa sedikit lebih tenang melihat Alize duduk di sampingnya. Setidaknya, pagi ini mereka tidak perlu menghadapi persoalan itu secara terpisah. Seusai sarapan, Corentine mengajak Alize menuju penjara bawah tanah. Greta mengikuti beberapa langkah di belakang mereka, ditemani dua pengawal yang ditugaskan menjaga keamanan. Lorong-lorong di bagian bawah kastel jauh lebih dingin daripada ruangan di lantai atas. Udara lembap meresap melalui pakaian, sementara cahaya dari obor yang terpasang di dinding membentuk bayangan panjang di lantai batu. Suara langkah mereka bergema di sepanjang lorong. Alize berjalan di sisi Corentine. Sesekali, ia melirik pin
Corentine tetap berdiri di tempatnya. Pintu kayu itu akhirnya tertutup, menyisakan keheningan dan bau obor yang terbakar. Tyron belum beranjak dari dekat pintu ketika Corentine kembali ke kursinya. Ia duduk, tetapi tidak segera mengambil dokumen yang tergeletak di atas meja. Pikirannya masih tertuju pada satu kalimat yang diucapkan Courcy. Mungkin karena masalah pribadi. Mengapa ia menyebutkan alasan itu? Alize yakin Fran adalah Mirelle. Corentine pun mulai meyakini hal yang sama. Akan tetapi, jika Courcy mengetahui sesuatu tentang kepergian Mirelle, apakah ia juga mengetahui apa yang terjadi setelah perempuan itu menghilang? Apakah ia tahu bagaimana Mirelle bisa berakhir di Biara Dunholm tanpa ingatan yang utuh? Ia mengangkat pandangan kepada Tyron. “Pastikan Courcy tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Periksa setiap orang yang mendekatinya, termasuk penjaga yang bertugas di penjara bawah tanah.” “Apakah Anda menduga dia memiliki kaki tangan di dalam kastel?
Nama itu membuat Courcy terdiam. Perubahan pada wajahnya hanya berlangsung sesaat, tetapi Corentine melihatnya. Tatapan pria itu beralih ke meja. Bahunya menegang, lalu ia mengembuskan napas seolah-olah nama tersebut hanyalah gangguan lain yang tidak ingin dibahasnya. “Mirelle?” Courcy mengulang nama itu. “Saya tidak tahu apa-apa tentang dia.” Corentine tidak melepaskan pandangannya. “Dia menghilang pada waktu yang berdekatan dengan kejadian di kastel. Anda berada di sana, kemudian pergi tanpa penjelasan. Saya ingin tahu apa yang Anda ketahui.” “Tidak ada.” Corentine mengamati wajahnya dengan saksama. Jawaban itu terdengar masuk akal jika dilihat sepintas. Mirelle memang seorang pelayan, tidak lebih. Namun, ada perbedaan antara tidak mengingat seseorang dan mengetahui sesuatu tentang alasan kepergiannya. Corentine belum mengajukan pertanyaan mengenai alasan Mirelle menghilang. Ia sengaja memulai dari kejadian di kastel, lalu membiarkan Courcy berbicara. Jika pria itu benar-be
Corentine memberi isyarat kepada pengawal agar membawa pria itu menuju kuda yang telah disiapkan. Lalu ia kembali menatap Lord Courcy. “Anda akan tetap menjawabnya. Hanya saja, mungkin dengan cara yang kurang menyenangkan.” Ia menaiki kudanya, lalu menoleh kepada Tyron. “Kita kembali ke kastel.” Tyron mengangguk dan segera mengatur posisi para pengawal. Beberapa saat kemudian, rombongan itu bergerak meninggalkan penginapan. Lord Courcy ditempatkan di antara dua pengawal, dengan kedua tangannya tetap terikat. Corentine menatap jalan gelap di hadapan mereka. Malam itu, ia akhirnya berhasil menangkap buronan yang selama ini mereka cari. Namun, ia belum tahu apakah penangkapan tersebut akan membawa mereka lebih dekat kepada kebenaran… atau justru membuka persoalan yang jauh lebih besar. Ruang interogasi di Kastel de Mably terletak di bagian bawah bangunan utama, jauh dari ruang-ruang yang biasa digunakan keluarga bangsawan. Dinding batunya lembap, udara terasa dingin, dan cahay
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi
Suara benturan keras kembali menghantam sisi kereta. Kali ini disusul suara siulan tajam di udara. “Panah!” teriak salah satu pengawal. BRAKKK! Sebuah anak panah menembus jendela samping dan menghantam dinding bagian dalam kereta hanya beberapa inci dari tempat Alize duduk tadi. Alize membe
Suasana hati Alize memburuk sore itu. Padahal ia sudah membersihkan diri dan memakai gaun makan malamnya yang paling bagus. Benaknya masih dipenuhi mantel abu-abu kebiruan yang tidak ditemukannya di lemari. Kalau saja bisa, ia ingin langsung berangkat ke Manor Deschanel dan mencari mantel itu d
Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret







