FAZER LOGINNaren mengeratkan kepalan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggelengkan kepala dengan gusar. Ternyata Andra sebrengsek dan selicik itu, pikirnya murka. Detik itu juga, urung sudah niat Naren untuk melabrak Andra secara langsung di area parkir. Pria itu memilih mundur perlahan, memutuskan untuk membalas perbuatan Andra dengan cara lain yang jauh lebih mematikan. Sementara itu, di dalam ruangan rawat yang berbeda, Oma baru saja siuman dari pingsannya. "Bagaimana dengan janinnya? Apa benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi?" tanya Oma tiba-tiba dengan suara serak, seketika membuat semua anggota keluarga yang berada di dalam ruangan langsung bangkit dan bergegas menghampiri ranjangnya. "Sudah meninggal, Oma," balas Bianca cepat tanpa beban, yang sedetik kemudian langsung mendapat tepisan sikut tajam dari Nonik. Mendengar konfirmasi itu, Oma kembali menangis histeris. "Pewarisku... Kenapa dia tidak becus sekali menjaga kehamilannya sih?!"
Naren benar-benar tidak pernah menduga jika Renjana ternyata memang sedang mengandung benih darinya. Di balik tatapan matanya yang dipenuhi rasa iba—apalagi saat melihat Renjana yang terus-menerus terisak menangis—Naren akhirnya tidak bisa lagi menahan diri. Ia langsung merengkuh tubuh rapuh wanita itu ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan dan kekuatan yang perlahan mampu menenangkan badai di hati Renjana, hingga wanita itu akhirnya tertidur lelap dalam dekapan eratnya. Setelah dirasa Renjana sudah cukup tenang dan terlelap sepenuhnya, Naren perlahan merebahkan kembali kepala Renjana dengan benar di atas bantal ranjang rumah sakit. Ia menatap wajah sayu itu sekilas, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang rawat. Tujuannya sekarang hanya satu: menemui dokter spesialis yang baru saja memeriksa kandungan sang nyonya. Naren melangkah masuk ke dalam ruangan dokter setelah mendapatkan persetujuan untuk bertamu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?
"Ngomong apa kamu, Renjana?! Kamu mau jadi gembel setelah ini, atau bagaimana? Cerai? Jangan pernah berharap! Warisan dari Oma saja belum berhasil aku dapatkan. Kalau nanti kamu bisa melahirkan lagi dan memberikan anak sebagai penerus resmi untuk keluarga Pratama, baru boleh kamu pergi dari hidupku!" jawab Andra enteng tanpa beban. Untaian kalimat kejam itu membuat dada Renjana terasa teramat sesak hingga sulit bernapas. Apalagi rasa sakit di perut bagian bawahnya yang baru saja melalui proses kuretase benar-benar masih terasa begitu perih dan menyiksa tubuhnya. Namun, di tengah rasa sakit fisik dan batin itu, Renjana malah terkekeh pelan penuh kepahitan, berusaha keras menyembunyikan kerapuhannya di hadapan Andra. "Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, Andra. Jangan membuat suatu hal yang jelas-jelas mustahil terjadi. Kamu itu mandul! Mana mungkin aku bisa hamil anakmu!" Perkataan frontal dari Renjana itu seketika memancing amarah Andra yang membakar dada. Pria itu mence
Setelah dilarikan ke rumah sakit oleh Naren, semua anggota keluarga kini berkumpul dan menunggu di luar koridor dengan perasaan cemas yang menyelimuti. Kondisi kesehatan Renjana benar-benar drop total, bahkan pintu ruang penanganan darurat belum juga terbuka, dan dokter yang menangani pun belum kunjung keluar untuk memberikan kabar. "Tadi saya sempat mendengar Nyonya Renjana berteriak histeris dari arah kamar. Apakah Nyonya sempat terpeleset sebelumnya hingga bisa jatuh pingsan seperti ini?" tanya Naren memecah keheningan di antara ketegangan semua orang yang ada di sana. Bianca seketika menolehkan kepalanya ke arah sang adik. Bukan hanya Bianca, Mami dan Oma pun kompak menoleh serentak ke arah Andra, seolah-olah secara menuntut penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tadi. "Kenapa kalian semua malah menatapku seperti itu? Kalian semua kan tahu sendiri sesayang apa aku ini kepada istriku," jawab Andra membela diri, sembari buru-buru memasang raut wajah
Renjana spontan membenarkan posisi duduknya. Ia menyipitkan mata, menajamkan pandangan ke arah mobil di sebelah mereka. "Naren!" pekik Renjana histeris sambil menunjuk ke arah mobil tersebut. Dengan gerakan cekatan dan panik, Renjana langsung membuka sabuk pengamannya. Namun, tepat saat ia hendak membuka pintu dan turun ke jalan, tangan Naren bergerak cepat menahan pergelangan tangannya. Langkah Renjana langsung terhenti . Tak lama setelah itu, lampu lalu lintas berubah hijau dan kendaraan di belakang mereka langsung bersahut-sahutan membunyikan klakson dengan bising. "Naren, apa-apaan sih?! Lihat, mereka pergi! Malam-malam begini mereka mau kemana?!" Renjana mati-matian menahan air matanya. Suaranya sudah bergetar hebat saat menatap lurus ke arah mobil suaminya yang perlahan mulai melaju menjauh. "Ikuti, Naren! Ikuti mobil itu!" perintah Renjana dengan suara yang dipenuhi kepanikan luar biasa. Namun, Naren justru tetap tenang dan santai mengendalikan setir mobilnya, membia
Renjana tergugu di tempatnya setelah mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut koki pribadinya itu. "Nyonya harus bisa melawan, bangkit!" ucap Naren tegas. Nada suaranya mendesak, seolah sengaja mendorong Renjana agar tidak terus-menerus disetir dan ditindas oleh suaminya sendiri. "Kamu..." Renjana menatap Naren tak percaya, namun pria itu hanya mengangguk pelan membenarkan posisinya. Renjana kembali menyela dengan cepat, "Aku... aku bersedia menolong kamu." Perkataan spontan itu sukses membuat Naren terdiam seketika. "Menolong saya?" Naren tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Ah, tidak, Nyonya. Kami sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Rencana itu terpaksa tertunda setahun ini hanya karena suamimu menyuruhku untuk menghamilimu sesuai dengan waktu yang ditentukan." "Lalu... kenapa selama ini aku gak hamil-hamil? Apa jangan-jangan... kamu juga mandul?!" desis Renjana, mulai terbawa emosi yang meluap-luap karena merasa tawarannya ditolak mentah-ment
Mendengar perintah gila suaminya kepada pria di hadapan mereka membuat jantung Renjana seolah berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mendadak sedingin es. Bukan hanya Renjana yang terguncang, Naren pun tak kalah terkejut. Pria itu menegang, berusaha mencerna kalimat yang baru saja lolos dari mulut at
"Mas, apa maksudmu? Pekerjaan baru apa yang mau kamu berikan pada dia?" Renjana langsung menyela. Bibirnya bergetar hebat, firasat buruknya kian menjadi-jadi. Andra menoleh, menatap tajam ke arah sang istri. "Sopan begitu, menyela suami yang sedang bicara dengan orang lain?!" desisnya, membuat R
Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand. Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan
Renjana mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang megah itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan menjebak. Pria itu hanya mengenakan kaus







