LOGINWaktu berjalan cepat. Matahari mulai naik, sinarnya menembus sela atap pasar. Keringat mengalir di pelipis Nawang, tapi hatinya hangat. Setiap kali pembeli datang, ia mulai bisa menebak jenis ayam yang diminta. Ia juga menolak dengan sopan jika ada yang menawar terlalu rendah. Harga ayamnya sudah sesuai pasaran.
"Nawang, Bibi kebelet mau ke belakang. Kamu Bibi tinggal sebentar bisa?" tanya Laila. Saat ini Zulham tengah mengantar pesanan ayam ke beberapa kedai nasi.
"Bisa, Bi. Tapi jangan lama-lama ya," ucap Nawang sedikit khawatir. Pembeli masih cukup ramai.
"Iya. Ngapain juga Bibi toilet umum lama-lama," kilah Laila sambil meringis. Perutnya mulas dan melilit.
Pembeli terus berdatangan. Sendirian Nawang melayani para pembeli. Ia menimbang dan memotong ayam sesuai permintaan pembeli. Walau ia keteteran karena tangannya tidak selincah Bi Laila, ia berusaha melayani pembeli sebaik mungkin.
Sampai tiba-tiba—suara jeritan keras terdengar.
“Aduh! Lepasin, Bang!”
Semua kepala menoleh. Seorang pria muda bertato sedang dipiting oleh lelaki bertubuh tinggi besar. Di tangan pria muda itu berjatuhan beberapa bungkusan cukup besar. Pasar seketika ricuh.
“Jangan coba-coba mencuri dari orang yang sedang bekerja keras, Ja!” bentak lelaki tinggi besar itu. Ia mendorong si pencuri hingga terjatuh di tanah.
“Ampun, Bang Hilal! Ampun!” teriak si pemuda bertato itu ketakutan.
Pedagang sekitar bersorak.
"Yah, lo lagi... lo lagi... Ja. Kerja lo maling melulu. Hajar aja, Lal! Masih muda bukannya kerja, malah nyolong buat nyabu!" Beberapa pedagang di samping kios Nawang ikut memarahi si pemuda yang bernama Jaja.
Nawang membeku. Dadanya berdebar hebat melihat kekerasan begitu dekat. Ia belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini sebelumnya.
"Ya elah si Eneng malah bengong. Itu ayam-ayam lo yang dicolong angkatin dulu." Seorang bapak di kios sebelah menegur sambil menunjuk beberapa bungkusan ayam yang tergeletak di bawah meja.
Nawang baru sadar—bungkusan ayam yang tadi dipegang si pencuri adalah ayam-ayamnya! Ayam-ayam itu adalah pesanan Pak Dani bakso dan Bu Mira Mi Ayam. Keduanya adalah langganan Paman Jalal.
Wajahnya memerah. Ia mendekat dan berteriak, “Kamu… maling ayam-ayamku, ya?!Dengan nekat, ia menendang si pencuri yang masih terduduk di tanah. Kalau saja ayam-ayam itu hilang, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh pamannya.
“Ampun, Neng! Ampun!” rintih Jaja sambil menutupi wajahnya.Kerumunan makin ramai. Tak lama kemudian, Laila muncul kembali. Ia terbelalak melihat kericuhan di kiosnya.
“Astagfirullah! Ada apa ini?!”“Jaja mencuri ayam-ayam, Ibu,” kata Hilal singkat.
“Kurang ajar!” Laila menampar kepala Jaja. “Kamu ya, Ja. Dasar
maling! Baru Ibu tinggal sebentar udah kayak gini. Mentang-mentang si Nawang baru belajar jualan udah mau kamu kibulin!"Beberapa saat kemudian, Zulham muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia menatap Jaja dengan pandangan emosi.
“Elo ya, Ja. Udah berapa kali gue bilang, berhenti nyolong dan ngobat. Kasian emak lo. Dia pasti malu punya anak maling kayak lo!"Jaja hanya bisa menunduk, pasrah.
"Udah pergi sana! Kalo gue nggak kasian sama emak lo aja, udah gue polisiin lo!” bentak Zulham.
Jaja berlari tertatih keluar dari pasar, diiringi umpatan dan ejekan para pedagang.
Laila menghela napas panjang, lalu menatap Hilal. “Terima kasih banyak, Lal. Kalau bukan karena kamu, bisa habis ayam kami.”
Hilal mengangguk singkat. Wajahnya keras, tanpa senyum. "Sudah menjadi tugas saya, Bu. Hati-hati saja. Sekarang maling makin banyak. Nanti saya juga akan memberi pelajaran pada Jaja. Dia sudah merusuh di wilayah saya."
"Tapi jangan sampai luka parah ya, Lal. Ibu kenal ibunya. Mak Ramlah itu orang baik. Nanti Mak Ramlah juga yang repot kalau Jaja kenapa-kenapa," pinta Laila. Hilal tidak menjawab, ia hanya menggangguk singkat
“Sekali lagi terima kasih, Bang,” tambah Zulham.
Hilal menepuk bahu Zulham sebentar, lalu pergi begitu saja. Langkahnya berat tapi tenang. Orang-orang menyingkir saat ia lewat.Nawang menatap punggungnya yang menjauh. Wajahnya masih tegang. Ia belum bisa percaya bahwa tadi ia berani menendang orang.
Setelah Hilal benar-benar hilang dari pandangan, Nawang berbisik, “Bi… siapa sih sebenarnya dia?”
“Oh, itu si Hilal. Kepala keamanan pasar ini. Semua pedagang membayar uang keamanan padanya tiap minggu. Setiap malam dia dan anak-anak buahnya yang menjaga pasar ini agar aman dari pencuri.”Nawang mengangguk pelan. “Oh… berarti dia preman pasar.”
Bi Laila langsung mencubit lengannya pelan. “Sst! Jangan ngomong begitu keras-keras. Kesannya tidak enak didengar."Nawang spontan menutup mulut. Konotasi dari preman pasar memang tidak enak di dengar walau apa ia katakan tadi memang benar adanya. Selain membayar pada PD pasar, kutipan lainnya adalah pungli.
“Kamu hari ini tidak kuliah kan?" Bi Laila tiba-tiba bertanya.
"Tidak dong, Bi. Ini kan hari Sabtu." Nawang mengingatkan.
"Bagus, berarti kamu bisa menjaga kios sampai sore. Zulham sebentar lagi pulang karena sekolah. Bibi akan mengantar pesanan ayam-ayam dengan sepeda motor. Kamu haga di sini saja. Makin siang biasanya makin sepi. Bisa kan?"
Nawang mengangguk. "Harus bisa, Bi."
"Bagus. Kamu harus optimis dan terus belajar. Dunia ini keras Nawang. Dan pasar adalah tempat yang baik untukmu melatih mental. Kamu akan mengalami banyak kejadian yang menjadikanmu kuat setiap harinya."
Nawang tersenyum getir. "Bibi benar. Pasar ternyata tempat yang keras sejak saya keluar dari rumah. ”
Semilir angin senja berembus lembut di sebuah kafe berkonsep taman. Lampu-lampu kecil mulai menyala di antara pepohonan, menciptakan suasana hangat di tengah langit yang perlahan berubah jingga.Di salah satu meja dekat pagar taman, Nawang dan Kenes duduk berhadapan. Ini adalah pertemuan mereka untuk terakhir kalinya, sebelum Kenes terbang ke Inggris keesokan harinya. Ia memutuskan melanjutkan studi di luar negeri, jauh dari segala kerumitan masa lalu yang selama ini membelit hidup mereka.Beberapa saat mereka hanya diam, menikmati angin sore yang sejuk. Kenes akhirnya dan mulai berbicara."Kok kita jadi agak canggung ya setelah tahu kalau kita sepupu?" "Wajarlah, Nes. Kita masih kaget." Nawang tersenyum tipis."Iya. Dulu kita bisa bicara apa saja tanpa ada ganjalan. Karena kita mengira, hanya berteman." Kenes ikut tersenyum. "Iya. Pelan-pelan saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Kita sudah mulai bisa mengobrol seperti ini saja, sudah baik. Biarkan semuanya berjalan secara alami."
Gerimis turun perlahan sore itu. Butir-butir air yang halus jatuh di atas tanah merah yang masih baru menutup sebuah pusara.Di antara nisan-nisan yang mulai ditinggalkan para pelayat, tiga sosok berpakaian hitam masih berjongkok di sana.Orang-orang yang tadi mengiringi pemakaman sudah pulang satu per satu, meninggalkan kesunyian yang hanya ditemani suara gerimis dan desir angin.Salah satu dari tiga sosok itu dipayungi payung hitam. Hilal memegang payung itu dengan satu tangan, melindungi Nawang yang masih berjongkok di depan pusara. Di sisi mereka, Zulham dan Anisa masih terpaku menatap gundukan tanah yang baru saja menimbun tubuh ayah mereka.Hari itu mereka memakamkan Paman Jalal. Ia meninggal di penjara. Menurut keterangan petugas lapas, Paman Jalal meninggal karena sakit. Namun saat Zulham ikut memandikan jenazah ayahnya, ia melihat sesuatu yang membuatnya tidak yakin akan hal itu. Karena tubuh ayahnya penuh lebam. Seperti habis dikeroyok.Nawang menarik napas panjang.Dadanya
Banyak tamu hadir malam itu. Mayoritas adalah keluarga besar dan relasi Hadiningrat. Keluarga Nawang hanya bisa dihitung dengan jari. Selain ayahnya, Pakde Gatot dan Oma Laras, hadir juga Bu Sri dan Bu Dewi. Walau masih dalam proses perceraian, mereka tetap datang sebagai bagian dari keluarga. Begitu juga Kenes, Juna dan Sekar. Walau masih agak kaku, mereka mengucapkan selamat dan turut berbahagia untuknya. Dan di tengah keramaian itu, Nawang sempat terkejut ketika melihat dua wajah yang tidak ia duga akan menghadiri pernikahannya. Radit dan Nindy. Keduanya berdiri di dekat meja tamu. Mereka kemudian menghampiri Nawang dan Hilal dengan senyum canggung. "Selamat ya, Nawang, Pak AKBP Hilal Ramadhan," ucap Radit kaku."Kita sudah menjadi keluarga besar sekarang," tambahnya sambil menyalami Nawang dan Hilal.Nawang menggangguk kecil dan membalas dengan senyum tipis. Sedangkan Hilal membalas dengan kata-kata berupa sindiran tajam. "Hukum tidak mengenal keluarga. Yang bersalah tetap har
Hari bahagia Nawang akhirnya tiba. Pagi itu, di rumah Bi Laila yang sederhana, acara ijab kabul dilaksanakan. Pemilihan tempat itu bukan tanpa alasan. Kondisi kesehatan Bi Laila semakin menurun dan ia sudah sulit untuk berjalan. Karena itu keluarga sepakat agar akad nikah dilakukan di rumahnya agar ia tetap bisa menyaksikan peristiwa penting itu.Ruang tamu rumah kecil itu ditata sederhana namun rapi. Karpet digelar, bunga melati menghiasi sudut ruangan. Di sana Nawang duduk dengan kebaya putih gading, menunduk tenang walau jantungnya berdebar.Bi Laila duduk di kursi roda tak jauh darinya. Wajahnya pucat pasi, tetapi senyumnya tidak pernah hilang."Cantik sekali kamu, Naw," bisik Bi Laila pelan. "Untung Bibi masih sempat menyaksikan pernikahanmu. Kalau ibumu masih ada ia pasti sangat bahagia. Selamat ya, Sayang." Bi Laila tersenyum dengan mata berkabut.Nawang menggenggam tangan bibinya. "Ibu pasti menyaksikan pernikahan ini dari atas sana, Bi," katanya lirih. "Terima kasih karena B
"Di bawah pohon ketapang itu… pertama kali Bapak bertemu dengan ibumu."Pak Bambang menunjuk pohon tua di sisi rumah sakit. Daunnya bergoyang pelan tertiup angin sore. Nawang menatapnya lama. Membayangkan dua puluh satu tahun silam, dua anak muda jatuh cinta di tempat yang sama.Mereka lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ayahnya bercerita bahwa secara garis besar tidak banyak yang berubah. Lantainya saja yang kini sudah keramik, bukan tegel kusam seperti dulu. Taman terlihat lebih luas, dan kantin berpindah ke ujung dengan bangunan yang lebih besar."Dulu Bapak sering nongkrong di situ," ujar Pak Bambang sambil menunjuk kursi panjang taman. "Bersama Adi dan Binsar. Kalau ibumu selalu bersama dengan Pita dan Resni, teman sesama perawatnya."Pak Bambang merasa seperti menerobos lorong waktu. Kenangan mengalir tanpa henti. Tentang jadwal jaga malam yang berubah jadi alasan bertemu. Tentang makan siang di kantin yang jadi saat paling ditunggu karena bisa bertemu dengan Nur, dan mo
Nawang baru saja turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada ayahnya yang masih duduk di balik kemudi. Saat itulah matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.Kenes.Ia berjalan cepat melintasi halaman kampus dengan ransel di punggung."Nes!" panggil Nawang.Beberapa hari terakhir Kenes selalu menghindarinya. Hari pertama Kenes mulai kembali kuliah, ia pura-pura tak mendengar dan langsung buru-buru pulang. Besoknya ia berdalih ojek onlinenya sudah menunggu.Sekarang memang Kenes tak lagi disopiri oleh Pak Tarjo. Sejak ia memilih keluar dari rumah dan nge-kost, ia juga menolak semua fasilitas yang dulu ia terima.Ayahnya bilang, baik Pak Gatot, Tante Gendis, Bu Sri mau pun Oma Laras, mereka semua sangat terpukul. Kenes kini menjauh dari semua orang."Tunggu sebentar, Nes," seru Nawang lagi.Di luar dugaan, kali ini Kenes berhenti. Ia berbalik dan menunggu. Nawang berlari kecil. Mendekat dengan jantung berdebar."Aku minta maaf ya, Nes." Dengan besar hati, Nawang meminta maaf."Kit







