Se connecterJevan mengejarku selama hampir dua tahun. Dari Samarda sampai ke kampung halamanku, dari masa magang hingga akhirnya menjadi karyawan tetap.Ibu bilang dia jauh lebih bisa diandalkan daripada Xavier. Ayah tidak pernah berkomentar.Namun, setiap kali Jevan datang makan di rumah, Ayah selalu memasak dua hidangan tambahan.Pernah suatu hari Jevan lembur di kantor, aku pulang sendirian. Ayah melihat ada satu set peralatan makan yang kosong di meja makan. Dia terdiam beberapa detik, lalu baru membereskannya.Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi menyiapkan satu set peralatan makan tambahan. Namun, kalau Jevan datang, Ayah selalu menggoreng sepiring kacang tanah sebagai camilan.Suatu kali aku demam dan tidak masuk kerja. Jevan meneleponku berkali-kali, tetapi aku tidak mengangkatnya, jadi dia langsung datang mencariku.Ibu yang membukakan pintu. Jevan berdiri di depan pintu sambil membawa sekantong obat dan sekotak plester penurun demam. Napasnya sedikit terengah-engah.Rumahku berada di la
Setengah tahun kemudian, selain aku, ada satu pengikut kecil yang ikut pulang bersamaku."Kak Rachel, aku tidur di mana ya?""Kak Rachel, biar aku yang bawakan kopermu."Aku berjalan di depan sambil menggeleng pasrah.Jevan adalah pria yang kukenal di Samarda. Kami sama-sama baru lulus kuliah, bahkan rumah kami berada di kota yang sama, sehingga kami cepat akrab.Dia beberapa bulan lebih muda dariku. Karena itulah, dia selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti di belakangku sambil memanggilku "Kak Rachel".Jevan terus mengoceh sambil mengikutiku masuk ke kompleks perumahan."Kak Rachel, di sini pohonnya banyak sekali.""Kak Rachel, pohon pagoda tua itu sudah berapa tahun umurnya?""Kak Rachel ...."Aku berhenti melangkah.Xavier berdiri di bawah pohon pagoda tua itu. Tubuhnya tampak lebih kurus. Di dagunya masih ada luka kecil bekas cukuran. Begitu melihatku, dia maju satu langkah, lalu berhenti lagi. Kemudian, dia melihat Jevan yang berdiri di belakangku.Jevan menarik satu koper
Aku tidak menoleh lagi kepadanya, lalu berjalan pulang.Begitu membuka pintu, kulihat Ayah dan Ibu sedang menempel di jendela balkon, mati-matian mengintip ke bawah.Ayah terus mengomel, "Anak itu masih berani datang! Dia sudah berdiri di bawah gedung kita 20 puluh menit. Mau main drama kasihan segala!""Ayah kasih tahu ya, waktu Ayah mengejar Ibumu dulu, Ayah nggak pernah sehina itu!"Ibu langsung menyambung dengan cepat, "Waktu ayahmu mengejar Ibu, hari pertama saja sudah Ibu usir. Setelah itu dia nongkrong di depan pabrik tekstil buat nungguin Ibu, eh Ibu malah kabur lewat tembok.""Ngapain kamu cerita begitu ke anak kita?""Kamu yang mulai duluan."Aku mengganti sandal, berjalan ke tengah ruang tamu, lalu berdeham pelan. "Aku berencana magang di tempat Tante selama enam bulan.""Ke Samarda?""Ya.""Enam bulan?""Ya.""Sekalian belajar." Aku meletakkan kunci di atas rak sepatu, lalu menggeser paket yang penuh lilitan lakban ke samping. "Tante kerja di bidang desain interior. Sesuai
Aku menghabiskan seminggu di rumah menjadi pengangguran yang hanya makan dan tidur.Akhirnya, masa menjadi anak kesayangan keluarga pun berakhir. Ayah dan Ibu mulai tidak tahan melihat tingkahku."Lihat tuh kamu. Piring nggak dicuci, selimut juga nggak dirapikan. Kerjanya cuma rebahan di sofa." Ayah mengomel sambil mengepel lantai. Pelnya hampir menyenggol kakiku, membuatku buru-buru mengangkat kaki.Ibu duduk di samping sambil makan kuaci, malah ikut memperkeruh suasana. "Sudah kubilang kemarin, anak ini jangan terlalu dimanja. Lihat, baru seminggu saja sudah kembali ke sifat aslinya."Aku memeluk bantal sofa erat-erat dan membalas tanpa merasa bersalah, "Kalian yang suruh aku pulang buat jadi pengangguran. Itu kata-kata Ibu sendiri. Katanya mau kembalikan berat badanku."Ayah terkekeh di samping. Dia mengepel beberapa kali lagi sebelum akhirnya berkata, "Gimana kalau hari ini jalan-jalan sebentar? Nggak enak juga kalau terus mengurung diri di rumah."Aku menyipitkan mata. "Ayah benar
Aku membatalkan semua reservasi hotel untuk sisa perjalanan kami. Aku tidak sebaik itu. Untuk sisa perjalanan, biar mereka atur sendiri.Saat pertama kali masuk kuliah, Jennifer menatapku dengan malu-malu. Ibunya berdiri di sampingnya sambil menepuk tanganku dan berkata, "Sejak kecil kesehatan Jennifer memang kurang baik. Tolong jaga dia ya."Sejak saat itu, aku menganggap merawatnya adalah tanggung jawabku. Aku juga meminta Xavier untuk ikut menjaganya. Siapa sangka, dari sekadar menjaga, dia juga jatuh hati.Ponselku terus menerima beberapa notifikasi pengembalian dana dari bank. Aku memandangi uang yang dikembalikan itu.Kalau tahu begini, seharusnya dulu aku tidak memesan hotel semahal itu. Benar-benar sia-sia.Dari uang yang kembali itu, aku mentransfer 4 juta kepada Ibu, dengan keterangan "uang makan".Ibu berteriak dari ruang tamu, "Kenapa kamu kirim uang ke Ibu?"Aku membalas dari balik pintu, "Sebagai tanda baktiku!"Ibu menggumamkan sesuatu yang tidak begitu kudengar, mungkin
Setibanya di rumah, aku langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur empuk yang sudah dirapikan ibuku untukku.Ayah dan Ibu ikut masuk ke kamar. Mereka menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran."Rachel, bukannya kamu mau pergi ke Islandia selama setengah bulan sama Xavier? Baru beberapa hari, kok sudah pulang sendiri?"Aku membenamkan wajah ke bantal. Rasa lelah kembali menyeruak, membuatku enggan berbicara.Ayah mulai gelisah. "Nak, apa anak itu menindasmu? Tunggu saja, Ayah akan menghajarnya!"Aku tertawa. Setelah beban di hatiku akhirnya terlepas, untuk pertama kalinya aku bisa tersenyum tulus."Ayah, jangan emosi." Aku membalikkan badan dan menatap langit-langit kamar.Di langit-langit masih menempel bintang-bintang fosfor yang dulu kubeli bersama Xavier saat kami kecil. Lampu itu akan menyala dalam gelap.Namun sekarang, di siang hari, semuanya hanya tampak seperti stiker kusam dengan pinggirannya yang mulai terkelupas."Aku sudah putus dengannya."Kamar itu hening selama dua detik.







