แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Baddy
Aku memejamkan mata dengan lelah. Xavier yang dulu tidak pernah membiarkanku menenangkan diri sendirian. Dia selalu berkata bahwa perang dingin adalah hal yang paling merusak hubungan.

Namun kali ini, aku tidak ingin lagi menjadi orang yang lebih dulu mencarinya. Karena orang pertama yang ada di pikirannya sudah bukan lagi aku.

Jennifer mendorong pintu perlahan, lalu masuk. "Rachel, badanmu sudah mendingan?"

Aku mengangguk.

Dia menggenggam tanganku. "Kalau begitu, minta maaf saja sama Xavier. Sebagai teman kalian, aku benar-benar nggak tega lihat hubungan kalian jadi rusak begini."

"Kenapa?" Aku menatapnya dengan bingung.

Padahal, dulu dia adalah sahabatku. Namun entah sejak kapan, dia selalu berdiri di pihak Xavier dan menyalahkanku.

"Rachel, kamu terlalu keras kepala. Menghadapi laki-laki itu harus mengalah sedikit. Buat apa mempertahankan harga diri sampai jadi begini?"

Aku tidak mengerti. Jelas-jelas Xavier yang tanpa alasan menyalahkanku, bagaimana bisa malah berubah menjadi aku yang sekadar mempertahankan gengsi?

"Jennifer, menurutku aku nggak salah."

Jennifer terdiam. Setelah waktu yang lama, dia menghela napas sambil menggeleng tak berdaya. "Kalau begitu ... aku juga nggak bisa berbuat apa-apa."

Kamar kembali sunyi. Aku mengambil ponsel dan mengubah jadwal ke penerbangan pulang ke yang paling dekat, lalu mulai membereskan barang-barang.

Aku memandang kotak cincin kecil yang kusimpan di bagian paling bawah koper. Dengan senyuman pahit, aku mengembalikannya ke tempat semula.

Saat menyeret koper keluar, mereka sudah tidak ada lagi di kamar. Syal itu tergantung sendirian di gantungan dekat pintu. Jadi ... ternyata syal itu juga tidak sepenting itu.

Aku terdiam sesaat.

Di perjalanan menuju bandara, Jennifer mengirimiku sebuah pesan.

[ Rachel, aku mau temani Xavier jalan-jalan dulu supaya pikirannya lebih tenang. Kamu istirahat yang baik ya. ]

Aku tidak membalas. Sebagai gantinya, aku membuka ruang obrolan Xavier.

[ Kamu masih ingat nggak, kenapa kita datang ke Islandia? ]

Balasannya segera datang.

[ Jangan pikir yang macam-macam. Aku temani Jennifer foto di pantai dulu. ]

Aku terlalu mengenalnya. Kalimat "jangan berpikir yang macam-macam" darinya hanya berarti dia tidak ingin membahasnya lagi.

Aku mengirim pesan terakhir.

[ Kita putus saja. ]

Selama 16 jam penerbangan pulang, aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya terus menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Kenangan bersama Xavier terus bermunculan di benakku.

Akhirnya, pesawat mendarat. Setelah ragu cukup lama, aku menyalakan ponsel. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan.

Ruang obrolan Xavier kosong melompong. Dia bahkan tidak membalas pesan putusku. Sebaliknya, media sosialnya terus dipenuhi foto dan video baru.

Foto terbaru memperlihatkan Xavier mengenakan jas, berlutut dengan satu kaki sambil mengangkat cincin ke arah Jennifer yang mengenakan gaun pengantin.

Jadi ... selama 16 jam kami kehilangan kontak, selama 16 jam aku larut dalam kesedihan, tidak sedetik pun dia mengingatku. Karena dia sedang sibuk mengambil foto prewedding bersama Jennifer.

Air mataku menetes tanpa bisa dikendalikan, membasahi layar ponsel. Aku menekan tombol suka pada foto itu.

Ting! Pesan dari Xavier akhirnya masuk.

[ Jangan salah paham. Jarang-jarang datang ke sini. Jennifer cuma ingin foto untuk kenang-kenangan. ]

Aku mengusap air mata, lalu mengetik beberapa kata.

[ Kita sudah putus. Aku nggak akan salah paham lagi. ]

Detik berikutnya, aku langsung memblokir Xavier dan Jennifer. Aku juga menolak tawaran dari perusahaan besar yang sebelumnya kuterima. Kemudian, kubuka ruang obrolan ibuku.

[ Bu, aku nggak jadi menetap di kotaku. Sekarang aku mau pulang. ]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 10

    Jevan mengejarku selama hampir dua tahun. Dari Samarda sampai ke kampung halamanku, dari masa magang hingga akhirnya menjadi karyawan tetap.Ibu bilang dia jauh lebih bisa diandalkan daripada Xavier. Ayah tidak pernah berkomentar.Namun, setiap kali Jevan datang makan di rumah, Ayah selalu memasak dua hidangan tambahan.Pernah suatu hari Jevan lembur di kantor, aku pulang sendirian. Ayah melihat ada satu set peralatan makan yang kosong di meja makan. Dia terdiam beberapa detik, lalu baru membereskannya.Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi menyiapkan satu set peralatan makan tambahan. Namun, kalau Jevan datang, Ayah selalu menggoreng sepiring kacang tanah sebagai camilan.Suatu kali aku demam dan tidak masuk kerja. Jevan meneleponku berkali-kali, tetapi aku tidak mengangkatnya, jadi dia langsung datang mencariku.Ibu yang membukakan pintu. Jevan berdiri di depan pintu sambil membawa sekantong obat dan sekotak plester penurun demam. Napasnya sedikit terengah-engah.Rumahku berada di la

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 9

    Setengah tahun kemudian, selain aku, ada satu pengikut kecil yang ikut pulang bersamaku."Kak Rachel, aku tidur di mana ya?""Kak Rachel, biar aku yang bawakan kopermu."Aku berjalan di depan sambil menggeleng pasrah.Jevan adalah pria yang kukenal di Samarda. Kami sama-sama baru lulus kuliah, bahkan rumah kami berada di kota yang sama, sehingga kami cepat akrab.Dia beberapa bulan lebih muda dariku. Karena itulah, dia selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti di belakangku sambil memanggilku "Kak Rachel".Jevan terus mengoceh sambil mengikutiku masuk ke kompleks perumahan."Kak Rachel, di sini pohonnya banyak sekali.""Kak Rachel, pohon pagoda tua itu sudah berapa tahun umurnya?""Kak Rachel ...."Aku berhenti melangkah.Xavier berdiri di bawah pohon pagoda tua itu. Tubuhnya tampak lebih kurus. Di dagunya masih ada luka kecil bekas cukuran. Begitu melihatku, dia maju satu langkah, lalu berhenti lagi. Kemudian, dia melihat Jevan yang berdiri di belakangku.Jevan menarik satu koper

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 8

    Aku tidak menoleh lagi kepadanya, lalu berjalan pulang.Begitu membuka pintu, kulihat Ayah dan Ibu sedang menempel di jendela balkon, mati-matian mengintip ke bawah.Ayah terus mengomel, "Anak itu masih berani datang! Dia sudah berdiri di bawah gedung kita 20 puluh menit. Mau main drama kasihan segala!""Ayah kasih tahu ya, waktu Ayah mengejar Ibumu dulu, Ayah nggak pernah sehina itu!"Ibu langsung menyambung dengan cepat, "Waktu ayahmu mengejar Ibu, hari pertama saja sudah Ibu usir. Setelah itu dia nongkrong di depan pabrik tekstil buat nungguin Ibu, eh Ibu malah kabur lewat tembok.""Ngapain kamu cerita begitu ke anak kita?""Kamu yang mulai duluan."Aku mengganti sandal, berjalan ke tengah ruang tamu, lalu berdeham pelan. "Aku berencana magang di tempat Tante selama enam bulan.""Ke Samarda?""Ya.""Enam bulan?""Ya.""Sekalian belajar." Aku meletakkan kunci di atas rak sepatu, lalu menggeser paket yang penuh lilitan lakban ke samping. "Tante kerja di bidang desain interior. Sesuai

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 7

    Aku menghabiskan seminggu di rumah menjadi pengangguran yang hanya makan dan tidur.Akhirnya, masa menjadi anak kesayangan keluarga pun berakhir. Ayah dan Ibu mulai tidak tahan melihat tingkahku."Lihat tuh kamu. Piring nggak dicuci, selimut juga nggak dirapikan. Kerjanya cuma rebahan di sofa." Ayah mengomel sambil mengepel lantai. Pelnya hampir menyenggol kakiku, membuatku buru-buru mengangkat kaki.Ibu duduk di samping sambil makan kuaci, malah ikut memperkeruh suasana. "Sudah kubilang kemarin, anak ini jangan terlalu dimanja. Lihat, baru seminggu saja sudah kembali ke sifat aslinya."Aku memeluk bantal sofa erat-erat dan membalas tanpa merasa bersalah, "Kalian yang suruh aku pulang buat jadi pengangguran. Itu kata-kata Ibu sendiri. Katanya mau kembalikan berat badanku."Ayah terkekeh di samping. Dia mengepel beberapa kali lagi sebelum akhirnya berkata, "Gimana kalau hari ini jalan-jalan sebentar? Nggak enak juga kalau terus mengurung diri di rumah."Aku menyipitkan mata. "Ayah benar

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 6

    Aku membatalkan semua reservasi hotel untuk sisa perjalanan kami. Aku tidak sebaik itu. Untuk sisa perjalanan, biar mereka atur sendiri.Saat pertama kali masuk kuliah, Jennifer menatapku dengan malu-malu. Ibunya berdiri di sampingnya sambil menepuk tanganku dan berkata, "Sejak kecil kesehatan Jennifer memang kurang baik. Tolong jaga dia ya."Sejak saat itu, aku menganggap merawatnya adalah tanggung jawabku. Aku juga meminta Xavier untuk ikut menjaganya. Siapa sangka, dari sekadar menjaga, dia juga jatuh hati.Ponselku terus menerima beberapa notifikasi pengembalian dana dari bank. Aku memandangi uang yang dikembalikan itu.Kalau tahu begini, seharusnya dulu aku tidak memesan hotel semahal itu. Benar-benar sia-sia.Dari uang yang kembali itu, aku mentransfer 4 juta kepada Ibu, dengan keterangan "uang makan".Ibu berteriak dari ruang tamu, "Kenapa kamu kirim uang ke Ibu?"Aku membalas dari balik pintu, "Sebagai tanda baktiku!"Ibu menggumamkan sesuatu yang tidak begitu kudengar, mungkin

  • Yang Tak Mau Tinggal, Tak Perlu Kukejar   Bab 5

    Setibanya di rumah, aku langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur empuk yang sudah dirapikan ibuku untukku.Ayah dan Ibu ikut masuk ke kamar. Mereka menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran."Rachel, bukannya kamu mau pergi ke Islandia selama setengah bulan sama Xavier? Baru beberapa hari, kok sudah pulang sendiri?"Aku membenamkan wajah ke bantal. Rasa lelah kembali menyeruak, membuatku enggan berbicara.Ayah mulai gelisah. "Nak, apa anak itu menindasmu? Tunggu saja, Ayah akan menghajarnya!"Aku tertawa. Setelah beban di hatiku akhirnya terlepas, untuk pertama kalinya aku bisa tersenyum tulus."Ayah, jangan emosi." Aku membalikkan badan dan menatap langit-langit kamar.Di langit-langit masih menempel bintang-bintang fosfor yang dulu kubeli bersama Xavier saat kami kecil. Lampu itu akan menyala dalam gelap.Namun sekarang, di siang hari, semuanya hanya tampak seperti stiker kusam dengan pinggirannya yang mulai terkelupas."Aku sudah putus dengannya."Kamar itu hening selama dua detik.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status