Beranda / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 13: Kebenaran yang Pahit

Share

Bab 13: Kebenaran yang Pahit

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 11:25:28

Langkah kaki Gia bergema cepat di lorong samping yang jauh dari kebisingan aula utama. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang menyumbat dadanya.

Lorong itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding bergaya klasik yang cahayanya mulai meredup. Dia baru saja hendak mencapai pintu keluar menuju balkon saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan menyentaknya ke arah dinding.

“Lepaskan!” teriak Gia, namun suaranya langsung teredam oleh tubuh besar Marco yan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 14: Kepulangan yang Menyesakkan

    Perjalanan pulang dari pesta terasa seperti siksaan yang tak berujung. Di dalam mobil, Marco tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia hanya menatap jalanan gelap melalui jendela, sementara Gia meringkuk di sudut kursi dengan pikiran yang berkecamuk. Informasi tentang ibunya terasa seperti racun yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.Begitu mobil berhenti di depan mansion, Marco langsung turun tanpa memedulikannya. Gia melangkah keluar dengan kaki yang masih terasa berat.Saat itulah, ia melihat sebuah siluet pria di dekat barisan mobil pengawal. Cahaya lampu taman yang kekuningan menimpa wajah pria itu.Gia tersentak. “Rio?”Pria itu menoleh. Ia mengenakan seragam pengawal klan Rossi, lengkap dengan lencana di dadanya. Rio adalah salah satu letnan kepercayaan ayahnya yang paling setia. Gia segera berlari menghampirinya, tidak memedulikan gaun sutranya yang terseret di atas kerikil halaman.“Nona Gia,” sapa Rio pelan. Lalu menundukkan kepala, namun matanya tidak berani menatap Gia langsung.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 13: Kebenaran yang Pahit

    Langkah kaki Gia bergema cepat di lorong samping yang jauh dari kebisingan aula utama. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang menyumbat dadanya.Lorong itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding bergaya klasik yang cahayanya mulai meredup. Dia baru saja hendak mencapai pintu keluar menuju balkon saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan menyentaknya ke arah dinding.“Lepaskan!” teriak Gia, namun suaranya langsung teredam oleh tubuh besar Marco yang memojokkannya.“Berhenti berlari, Gia. Aku tidak suka mengejar,” ucap Marco dengan suara rendah yang sangat tenang, namun mematikan.Gia menatap wajah Marco yang terkena bayang-bayang. Bercak darah dari tawanan di lorong tadi sudah dibersihkan, tapi aura kematian tetap melekat padanya. Gia tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian.“Kenapa? Takut kehilangan mainanmu di depan teman-teman mafiamu? Atau kau takut Katty akan merasa terganggu karena istrimu pergi?” desis Gia. “Kau menjijikkan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 12: Pertemuan dengan Sang Masa Lalu

    Mata Gia bergerak liar ke seluruh penjuru aula, mencoba melacak siluet Hendrick di antara ratusan tamu. Sebab dia butuh jawaban. Peringatan pria tua itu justru membuat rasa ingin tahunya berubah menjadi ketakutan yang nyata.Namun, langkahnya terhenti secara mendadak saat ia melihat Marco sudah tidak lagi sendirian di dekat pilar besar di sisi kanan aula.Seorang wanita dengan gaun merah menyala yang sangat berani berdiri sangat dekat dengan suaminya. Gaun itu memiliki belahan dada yang sangat rendah dan potongan punggung terbuka hingga ke pinggang.Wanita itu menyentuh lengan Marco dengan jari-jarinya yang berkuku panjang warna merah tua, tampak sangat akrab.Gia mendatangi mereka, bukan karena cemburu, tapi karena ia tidak ingin terlihat seperti istri yang terabaikan di pesta ini.“Siapa ini, Marco?” tanya Gia dengan nada datar saat ia tiba di hadapan mereka.Wanita itu, Katty, tidak langsung menjawab. Dia justru memindai tubuh Gia dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. Senyu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 11: Panggung Sandiwara di Aula Council

    Lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula The Iron Council membiaskan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Gia, atmosfer di ruangan itu tetap terasa kelam.Gaun hitam berbahan sutra premium yang ia kenakan memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan sekaligus misterius.Sebagai putri dari seorang pria yang pernah memimpin klan besar, Gia tahu betul cara berjalan di antara para predator ini. Dia tampak menegakkan punggung, dagunya terangkat, dan wajahnya tetap tenang layaknya porselen mahal, meski di balik itu hatinya sedang tercabik.Marco Rossi berdiri di sampingnya, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Tangan pria itu melingkar di pinggang Gia, mencengkeramnya dengan tekanan yang lebih dari sekadar pelukan hangat, itu adalah klaim kepemilikan.“Tersenyumlah, Gia. Semua mata tertuju padamu,” bisik Marco tanpa menoleh, suaranya sedingin es.“Aku sudah tersenyum sejak tadi, Marco. Kau ingin aku melakukan apa lagi? Menari?” jawab Gia pelan, nyari

  • Yes! Please, Daddy   Bab 10: Persiapan Pesta Klan

    Sore hari datang terlalu cepat bagi Gia. Suara kunci pintu yang terbuka membuat jantungnya mencelos. Marco masuk tanpa mengetuk, masih mengenakan setelan jas hitamnya, namun kali ini ia melepaskan dasi dan membuka kancing kerah kemejanya.Dia bahkan tidak menyapanya, hanya menatap Gia yang masih meringkuk di atas ranjang dengan tatapan menilai.“Bangun,” perintah Marco singkat.Gia menatapnya dengan sisa keberanian yang ada. “Aku bisa mandi sendiri, Marco. Kau tidak perlu melakukan ini.”“Aku sudah bilang tadi pagi, jangan biarkan pelayan menyentuhmu, dan itu termasuk dirimu sendiri,” Marco melangkah mendekat, lalu dengan satu gerakan mudah, ia menyambar tubuh Gia dan menggendongnya menuju kamar mandi luas yang sudah dipenuhi uap air hangat.Di tengah ruangan terdapat bathtub porselen besar yang sudah terisi penuh. Marco menurunkan Gia dengan kasar di lantai marmer, lalu mulai menanggalkan pakaiannya sendiri tanpa rasa canggung sedikit pun. Gia memalingkan wajah, merasa terhina dengan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 9: Kepatuhan yang Mutlak

    Cahaya matahari yang masuk dari balik celah gorden membuat Gia mengerang. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pinggang hingga ke ujung kaki.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja dihantam oleh beban berat selama berjam-jam. Terutama di bagian pangkal pahanya; ada denyut ngilu yang konsisten, mengingatkannya pada kekejaman yang terjadi di atas ranjang ini semalam.Gia membuka mata perlahan dan mendapati Marco sudah berdiri di depan cermin besar, tengah merapikan simpul dasi hitamnya. Pria itu tampak sangat segar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah percintaan liar yang mereka lalui.“Kau sudah bangun,” ucap Marco datar tanpa menoleh.Gia berusaha bangkit, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang dingin. “Kau ... kau mau ke mana?” tanyanya ingin tahu.“Bukan urusanmu,” jawab Marco singkat sembari mengenakan jas hitamnya.Gia mendengus mendengar ucapan Marco barusan. “Aku tidak bisa terus terkurung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status