Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 13: Kebenaran yang Pahit

Share

Bab 13: Kebenaran yang Pahit

last update publish date: 2026-05-02 11:25:28

Langkah kaki Gia bergema cepat di lorong samping yang jauh dari kebisingan aula utama. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang menyumbat dadanya.

Lorong itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding bergaya klasik yang cahayanya mulai meredup. Dia baru saja hendak mencapai pintu keluar menuju balkon saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan menyentaknya ke arah dinding.

“Lepaskan!” teriak Gia, namun suaranya langsung teredam oleh tubuh besar Marco yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Ya ampun Gia...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 126: Cemburunya sang Penguasa

    Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 125: Pengakuan Jujur di Balik Tirai Hujan

    Hujan deras mengguyur luar rumah sakit, menciptakan atmosfer yang melankolis. Bulir-bulir air menghantam kaca jendela besar kamar rawat VIP dengan ritme yang konstan dan berat, mengaburkan pendar lampu-lampu kota di luar sana menjadi bayangan abu-abu yang redup.Di dalam ruangan, deru pendingin udara dan bunyi detak monitor jantung berbaur dengan suara gemercik hujan, menciptakan keheningan taktis yang mendalam pasca-insiden medis kecil beberapa saat lalu.Dokter jaga telah pergi setelah memberikan suntikan pereda nyeri tambahan pada selang infus Marco. Untungnya, jahitan operasi di perut kiri pria itu tidak sampai robek sepenuhnya, meski noda darah baru sempat merembes di tepian perban kasa yang baru diganti.Setelah insiden ciuman yang panas tadi yang berujung pada erangan kesakitan, Marco menjadi lebih tenang. Efek obat penenang ringan dari dokter mulai bekerja, menurunkan lonjakan adrenalin maskulinnya, namun tidak menidurkan kesadarannya.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya p

  • Yes! Please, Daddy   Bab 124: Pengakuan sang Penguasa

    Gia menelan ludahnya seraya menatap wajah Marco yang sedang menuntut jawaban darinya. Jarak yang teramat kikis ini membuat Gia bisa merasakan embusan napas hangat Marco yang berbau maskulin alami, mengusik seluruh pertahanan taktis yang selama ini dia bangun.Tatapan abu-abu suaminya begitu tajam, menembus langsung ke ulu hatinya, menguliti setiap jengkal gengsi Valerius yang tersisa.Gia membuang muka dengan sentakan kecil pada lehernya dan bilang kalau Marco terlalu berlebihan. "Kau terlalu percaya diri, Rossi. Berada di bawah pengaruh obat bius sepertinya membuat otak taktismu bergeser menjadi penuh fantasi."Marco terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergetar di dalam dadanya, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di permukaan kulit dada Gia yang bersentuhan langsung dengannya."Kebohongan yang buruk, Mia Luna," bisik Marco, sebelum akhirnya membiarkan Gia menahan beban tubuhnya saat pria itu mencoba menegakkan punggung dengan ringisan samar.Dengan susah payah dan sisa tenag

  • Yes! Please, Daddy   Bab 123: Bisa Membaca Taktik Kebohonganmu

    Setelah ketegangan yang menguras emosi bersama Rio dan kelakuan provokatif Marco tadi pagi, Gia memutuskan turun ke kafetaria sekadar untuk mendinginkan kepalanya yang nyaris meledak.Namun, kedamaian taktis itu langsung hancur berantakan dalam hitungan detik begitu jemarinya mendorong pintu kayu tebal kamar rawat VIP.Di seberang ruangan, siluet tubuh tegap Marco sedang berdiri tanpa penyangga di samping ranjang medisnya.Pria Rossi itu rupanya mencoba turun dari ranjang tanpa bantuan apa pun, hanya untuk mengambil dokumen taktis bermeterai hitam yang tergeletak di atas meja kaca seberang ruangan demi membuktikan pada dirinya sendiri dan pada dunia bawah bahwa dia sudah kembali kuat.PRANG!Gia yang baru kembali dari kafetaria melihat hal itu dan langsung menjatuhkan cangkir kopinya ke lantai ubin. Cairan hitam pekat berhamburan, namun Gia tidak peduli.Sepasang matanya membola sempurna menyaksikan tubuh kekar suaminya yang bertelanjang dada itu bergetar hebat. Langkah pertama Marco

  • Yes! Please, Daddy   Bab 122: Kau bukan Mainanku

    Keesokan paginya, Rio datang membawa laporan taktis mengenai pengiriman di pelabuhan timur yang berhasil diamankan meskipun ada riak kecil dari sisa-sisa anak buah Albert. Di tangan kanannya, sebuah komputer tablet terenkripsi menampilkan grafik manifes kargo senjata klan Rossi yang sempat menjadi sasaran buru."Sektor perimeter dermaga tiga sempat ditembus oleh dua unit taktis The Sword, Tuan Marco," lapor Rio, suaranya yang serak dan berat mengalun dengan artikulasi militer yang kaku. "Namun, Tim Bravo berhasil melakukan eksekusi senyap. Seluruh kargo kini telah bergerak menuju perbatasan utara."Di depan Rio, Marco kembali berakting menjadi kepala klan yang otoriter dan dingin.Sisi jahil yang semalam dia tunjukkan pada Gia menguap tanpa bekas, digantikan oleh topeng absolut seorang penguasa dunia bawah yang tak tersentuh. Wajah pucatnya mengeras, dan sepasang mata abu-abunya menatap dingin ke arah layar tablet yang disodorkan Rio."Berapa kerugian personel kita, Rio?" tanya Marco.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 121: Ketegangan di Dalam Ruang VIP

    Di sore hari, berkas cahaya matahari yang mulai meredup masuk melalui jendela besar kamar rawat VIP, memantulkan warna jingga temaram di atas dinding putih.Keheningan itu pecah ketika Marco mendadak mendengus gusar, berulang kali menarik kerah kemeja rumah sakitnya dengan guratan tidak nyaman di wajah tegasnya."Aku menolak aroma disinfektan berengsek ini di tubuhku, Gia," gerutu Marco, suara baritonnya yang serak terdengar ketus. "Ini membuatku merasa seperti mayat yang siap diawetkan."Gia yang sedang merapikan beberapa dokumen taktis di sofa menoleh, melipat kedua tangan di dada. "Kau baru saja keluar dari ruang operasi beberapa jam lalu, Rossi. Nikmati saja aroma rumah sakitmu.""Bersihkan aku," tuntut Marco mutlak, sepasang mata abu-abunya menatap Gia tanpa beralih sedikit pun. "Atau aku akan turun ke kamar mandi sekarang dan membiarkan air menyiram jahitan perutku sampai robek.""Kau benar-benar pria keras kepala yang kekanak-kanakan!" bentak Gia, entakan langkah boots-nya terd

  • Yes! Please, Daddy   Bab 28: Jadilah Pajangan yang Patuh

    “Aku tidak pernah kalah dalam hal apa pun, Gia. Jangan pernah mencampuradukkan kelelahan fisikku dengan kegagalan,” ucap Marco dengan suara rendah yang seolah menggetarkan permukaan meja makan.Gia tertegun, tangannya yang tadi hendak mengambil gelas anggur tertahan di udara. Keangkuhan dalam nada

  • Yes! Please, Daddy   Bab 27: Memancing sang Iblis

    Ruang makan mansion Rossi yang biasanya terasa megah kini berubah menjadi kotak es yang menyesakkan. Gia duduk di ujung meja panjang, sementara Marco berada di sisi lain, menciptakan jarak yang terasa seperti bermil-mil jauhnya.Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar begi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 26: Sambutan di Ambang Pintu

    Gia berdiri mematung di dekat pilar besar lobi utama, merasakan dinginnya lantai marmer merambat naik melalui tumit sepatunya yang tinggi. Gaun sutra hitam yang dia pilih tadi terasa seperti kulit kedua yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya dengan provokatif, namun elegan. Meskipun batinnya member

  • Yes! Please, Daddy   Bab 25: Persiapan sebagai Istri yang Patuh

    Gia melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan langkah yang dipaksakan tegak, meskipun sendi-sendinya terasa lemas.Di belakangnya, dua pengawal membawa tumpukan kotak bermerek internasional yang nilainya sanggup membangun sebuah desa kecil. Suasana mansion yang sunyi justru membuat suara gesekan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status