Mag-log inCahaya matahari yang masuk dari balik celah gorden membuat Gia mengerang. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pinggang hingga ke ujung kaki.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja dihantam oleh beban berat selama berjam-jam. Terutama di bagian pangkal pahanya; ada denyut ngilu yang konsisten, mengingatkannya pada kekejaman yang terjadi di atas ranjang ini semalam.Gia membuka mata perlahan dan mendapati Marco sudah berdiri di depan cermin besar, tengah merapikan simpul dasi hitamnya. Pria itu tampak sangat segar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah percintaan liar yang mereka lalui.“Kau sudah bangun,” ucap Marco datar tanpa menoleh.Gia berusaha bangkit, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang dingin. “Kau ... kau mau ke mana?” tanyanya ingin tahu.“Bukan urusanmu,” jawab Marco singkat sembari mengenakan jas hitamnya.Gia mendengus mendengar ucapan Marco barusan. “Aku tidak bisa terus terkurung
Sudah habis kesabarannya, Marco tidak lagi membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan kasar, dia menyambar tubuh Gia dari pangkuannya.“Akh!”Gia terpekik saat dia dibawa melintasi ruang makan, lalu dihempaskan ke atas ranjang king size yang terasa dingin. Sebelum Gia sempat berguling untuk melarikan diri, tubuh Marco sudah menindihnya dan mengurung setiap sudut geraknya.“Marco, tunggu. Jangan sekarang,” ucap Gia dengan napas yang masih tersengal.“Aku sudah bilang, aku tidak suka menunggu,” jawab Marco singkat. Tatapannya sama sekali tidak mencerminkan gairah yang penuh kasih; itu adalah tatapan seorang penakluk yang sedang menuntut upeti.Marco mencengkeram pergelangan tangan Gia, menyematkannya ke atas bantal dengan satu tangan yang kuat. Gia mencoba meronta, dengan memutar tubuhnya agar lepas, namun Marco menindih kakinya dengan lutut. “Lepaskan! Kau tidak bisa memaksaku begini!”“Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau padamu,” ujar Marco dingin. Dia tidak mau memberi ruang bagi
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitmu yang pucat.”“Kau hanya ingin menghinaku,” desis Gia saat sudah berdiri di dekat meja.“Menghinamu? Tidak,” Marco berdiri dan berjalan memutari meja hingga dia berada tepat di belakang Gia.Lalu meletakkan tangannya di pinggang Gia yang polos, dan menyentuh kulitnya yang terbuka. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di rumah ini, kau adalah milikku. Apa pun yang ada di balik kain ini adalah propertiku.”Gia ditarik untuk duduk di kursi tepat di sebelah Marco, bukan di ujung meja yang lain. Sebelum dia duduk, dia sempat menatap bayangannya di pintu kaca lemari pajangan di samping meja makan.Gia menelan ludah dengan susah payah. Di balik pantulan kaca yang remang, ia tidak lagi melihat dir
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Nona Gia,” sapa ajudan itu tanpa senyum, lalu meletakkan sebuah kotak hitam besar berpita merah di atas tempat tidur.Gia duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Di mana Marco?” tanyanya datar.“Tuan Marco ada urusan mendadak terkait wilayah klan di perbatasan. Beliau sudah pergi sejak subuh,” jawab ajudan itu datar. “Beliau menitipkan pesan agar Anda segera pulih dan bersiap untuk makan malam pribadi satu jam lagi.”“Makan malam?” Gia mengernyit. “Hanya kami berdua?”“Benar. Tuan secara khusus meminta Anda mengenakan apa yang ada di dalam kotak ini. Jangan ada penolakan, karena perintahnya mutlak.”Gia menatap kotak itu dengan perasaan tidak enak. “B
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco. Panggilkan pelayan atau dokter. Kakiku tertusuk kaca.”Marco tidak menyahut. Dia justru berjalan ke arah kamar mandi, lalu kembali dengan sebuah kotak pertolongan pertama dan sebotol cairan antiseptik.Kemudian berlutut di depan kaki Gia, namun gerakannya tidak menyiratkan kelembutan sedikit pun. Dia langsung menyambar pergelangan kaki Gia dan meletakkannya di atas pahanya yang keras.“Aku tidak butuh dokter untuk menangani luka kecil akibat kebodohanmu,” ucap Marco datar.Gia tersentak saat melihat Marco mengeluarkan sebuah pinset logam dari kotak. “Apa yang kau lakukan? Jangan ... panggilkan dokter saja. Itu perih.”“Diam,” sentak Marco tanpa menatapnya.Tanpa peringatan atau aba-aba, Mar
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lantas berjalan dengan langkah lebarnya menyusuri lorong di mana si pengkhianat sudah menanti maut.Melihat Marco sudah hilang di lorong, Gia menyelinap keluar dari kamar utama dengan langkah yang dia buat selembut mungkin.Dia tidak memakai alas kaki karena takut bunyi detak sepatunya akan mengundang kecurigaan penjaga.Gia menelusuri lorong panjang yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela-jendela besar. Suasana benar-benar sepi, terlalu sepi.Dia mencapai tikungan menuju dapur. Namun, tepat saat ia hendak melangkah lebih jauh, suara aneh dari arah ruang penyimpanan bawah tanah menghentikan langkahnya.Suara dentuman keras diikuti erangan tertahan.Gia menempelkan punggungnya ke dinding,







