MasukMarco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.
“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.
Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco. Panggilkan pelayan atau dokter. Kakiku tertusuk kaca.”
Marco tidak menyahut. Dia justru berjalan ke arah kamar mandi, lalu kembali dengan sebuah kotak pertolongan pertama dan sebotol cairan antiseptik.
Kemudian berlutut di depan kaki Gia, namun gerakannya tidak menyiratkan kelembutan sedikit pun. Dia langsung menyambar pergelangan kaki Gia dan meletakkannya di atas pahanya yang keras.
“Aku tidak butuh dokter untuk menangani luka kecil akibat kebodohanmu,” ucap Marco datar.
Gia tersentak saat melihat Marco mengeluarkan sebuah pinset logam dari kotak. “Apa yang kau lakukan? Jangan ... panggilkan dokter saja. Itu perih.”
“Diam,” sentak Marco tanpa menatapnya.
Tanpa peringatan atau aba-aba, Marco menusukkan ujung pinset itu ke dalam luka di tumit Gia untuk mencari serpihan vas kristal yang tertanam di sana.
“Akh! Sakit! Berhenti, Marco! Sakit sekali!” jerit Gia hingga tubuhnya mengejang dan tangannya mencengkeram lengan sofa hingga kukunya memutih.
Marco justru menekan kakinya lebih kuat agar Gia tidak menendang. Dengan raut wajah yang tetap datar, tak ada sedikit pun kerutan simpati atau rasa bersalah.
Dia lalu menarik sebuah pecahan kaca besar yang berlumuran darah, dan menjatuhkannya ke lantai begitu saja. Ting. Suara kaca itu beradu dengan marmer terdengar sangat jelas di tengah isak tangis Gia.
“Satu lagi,” gumam Marco dingin.
“Tolong ... setidaknya beri aku obat bius. Atau alkohol untuk membasuhnya dulu,” pinta Gia dengan suara serak.
“Kau ingin kabur dari rumah ini, kan? Kau ingin menjadi pemberani rupanya,” Marco mendongak dan menatap Gia dengan mata abu-abunya yang tajam dan tak punya hati.
“Nikmati rasa sakitnya. Ini adalah harga dari setiap langkah yang kau ambil menuju pintu keluar.”
Marco kembali merogoh luka itu dengan pinset. Gia sontak berteriak histeris, hingga air matanya tumpah membasahi pipi. Ia merasa seperti sedang disiksa dalam kesadaran penuh.
Setelah serpihan terakhir keluar, Marco mengambil botol antiseptik. Tanpa kapas, dia langsung menuangkan cairan bening itu ke atas luka terbuka Gia.
“ARGH! MATI AKU! PANAS!” Gia meronta sambil mencoba menarik kakinya, namun tenaga Marco terlalu besar untuk membuat kaki Gia bergerak.
Cairan itu berbuih di atas luka, membakar jaringan kulit Gia yang robek. Napas Gia tersengal-sengal, wajahnya memerah karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa dunianya gelap sesaat.
“Sakit?” tanya Marco sambil mulai melilitkan perban dengan kasar.
“Kau monster ... kau benar-benar tidak punya perasaan,” bisik Gia di sela isakannya.
Marco menyelesaikan lilitan perban itu, lalu berdiri. Kemudian meletakkan botol antiseptik itu di meja dengan bunyi keras.
Matanya kini menatap Gia yang masih terisak lemas di sofa, tampak sangat rapuh dan hancur. Marco lalu membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, dan mengurung Gia di bawah bayangannya yang besar.
“Tawanan yang aku hajar di lorong tadi?” Marco memulai pembicaraan dengan nada rendah.
“Dia mengkhianati jalur pengiriman klan Rossi. Sekarang, dia sedang menunggu ajalnya di ruang bawah tanah dengan sepuluh jari tangan yang sudah patah.”
Gia membelalakkan mata, bahkan rasa takutnya kini mengalahkan rasa sakit di kakinya.
“Nasib pengkhianat dan pembangkang di dunia bawah jauh lebih buruk daripada sekadar luka kaki, Gia,” lanjut Marco. “Kau pikir kau cukup kuat untuk bertahan di luar sana? Kau bahkan tidak bisa menahan rasa sakit dari sebotol antiseptik.”
Gia memalingkan wajah, karena tidak sanggup menatap sorot mata Marco yang penuh kegelapan. Namun, Marco menjepit dagu Gia dengan jari-jarinya, dan memaksanya untuk kembali menatap.
Ibu jari Marco yang kasar mengusap air mata di pipi Gia. Gerakannya begitu lambat, hampir terlihat seperti perhatian, namun tatapannya tetap mengancam dan mematikan.
“Jangan menangis. Air matamu tidak akan mengubah apa pun di sini,” bisik Marco.
“Kenapa kau tidak bunuh saja aku? Kenapa harus menyiksaku seperti ini?” tanya Gia lirih.
Marco mendekatkan bibirnya ke telinga Gia, untuk memberikan embusan napas yang dingin.
“Karena aku ingin kau hidup dalam ketakutan yang nyata. Aku ingin kau sadar bahwa setiap kali kau mencoba lari, aku akan selalu ada untuk menarikmu kembali ke neraka ini.”
Marco melepaskan dagu Gia, lalu melangkah menuju pintu kamar. Setelahnya, dia berhenti sejenak, sambil memegang gagang pintu, lalu menoleh sedikit dengan profil wajah yang keras dan kaku.
“Obatnya akan bereaksi sebentar lagi. Tidurlah,” ucapnya datar. “Dan ingat satu hal ini. Kabur lagi, dan aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan selamanya.”
Matanya yang tajam menatap lekat wajah Gia. “Aku akan mematahkan kedua kakimu dengan tanganku sendiri agar kau tetap berada di tempat yang seharusnya. Di bawah kuasaku!”
Di dalam kamar utama menara Rossi yang hangat, aroma obat-obatan dan antiseptik menyeruak tipis mengalahkan bau amis darah dan air sungai yang sempat melekat pada tubuh Marco.Tim medis pribadi klan Rossi baru saja selesai menjahit luka robek di bahu kiri Marco serta membebat tulang rusuknya yang memar parah akibat benturan keras.Marco berbaring bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang king size, tubuh bidangnya yang polos tanpa atasan memperlihatkan balutan perban putih bersih yang membungkus rapi bahu serta dadanya.Gia duduk di sisi tempat tidur, jemari mungilnya menggenggam erat tangan kanan Marco yang dipenuhi bekas goresan luka.Tatapan mata abu-abu sang Alfa tidak pernah lepas dari wajah istrinya, seolah setiap detik yang terlewat tanpa memandang Gia adalah sebuah kerugian besar."Aku benar-benar berpikir kalau aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi selamanya, Gia," bisik Marco dengan suara baritonnya yang masih terdengar parau dan berat.Marco memiringkan kepalanya se
"Nyonya Gia! Anda mau ke mana?! Jangan berjalan sendiri ke arah bukit!" teriak Rio panik dari balik barikade jembatan."Jangan ikuti aku, Rio! Biarkan aku sendiri!" balas Gia melangkah terus tanpa menoleh sedikit pun."Area bukit itu terlalu terjal dan berbahaya untuk kondisi Anda, Nyonya!" tegas Rio berlari kecil berusaha menyusul dari belakang.Waktu terus bergulir hingga senja di hari keempat sejak Marco menghilang ditelan arus sungai.Langit membentang jingga kelabu, memancarkan kepedihan kaku di atas sisa-sisa reruntuhan jembatan yang masih dijaga ketat oleh konvoi Rossi."Tolong tinggalkan aku sendiri sebentar saja, Rio. Aku mohon padamu," desis Gia dengan suara parau yang amat rapuh dan bergetar.Ketika warna jingga keemasan perlahan meredup berganti kegelapan malam, Gia berjalan dengan tatapan kosong seorang diri meninggalkan area jembatan menuju puncak bukit curam di tepi perbatasan.Langkah kaki tertatihnya menapak rumput liar yang basah oleh embun sore, membiarkan gaun lama
"Deru mesin. Jalan raya sudah dekat!" desis Marco dengan napas memburu dan bibir kebiruan."Jangan pingsan sekarang, Rossi! Sedikit lagi!" gerungnya menyemangati kakinya yang kian tak bertenaga."Bertahanlah, Gia. Aku sudah semakin dekat," bisiknya menembus deru angin malam yang menusuk tulang.Menjelang tengah malam, langkah kaki Marco yang tertatih akhirnya membawanya mendekati puncak bukit, di mana samar-samar terdengar deru mesin kendaraan dari arah jalan raya perbatasan.Sorot lampu mobil sesekali menyapu rimbun pepohonan di atas tebing, menjadi penanda bahwa peradaban hanya berjarak beberapa meter lagi."Satu baris jalan raya di depan... Aku harus mengatur napas," ucap Marco dengan pandangan yang mulai memburam.Tubuhnya yang berada di titik nadir kelelahan menuntut istirahat singkat sebelum dia pingsan karena kehilangan banyak darah.Pendarahan dari bahunya yang belum tertangani secara medis membuat tingkat kesadarannya merosot tajam."Sialan... kepalaku mendadak berputar hebat
"Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan."Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya."Marco tidak selemah yang kalian bayangkan, Rio! Pikirkan siapa suamiku!" seru Gia dengan binar mata tajam.Gia masih sangat optimis kalau Marco masih hidup dan berada di suatu tempat di luar sana.Keyakinan itu membakar dadanya, menepis segala skenario terburuk yang baru saja dipaparkan oleh tim taktis."Dia pasti sedang mencari jalan pulang ke menara ini sekarang!" tegas Gia menyuarakan optimismenya.Gia menegaskan bahwa Marco bukan pria yang mudah dikalahkan oleh arus sungai atau luka-luka fisik, dan Marco pasti akan selam
"Sialan... kakiku hampir mati rasa," desis Marco seraya menekan kedua telapak tangannya ke atas tanah basah yang dingin."Aku tidak boleh tumbang di tempat ini! Gia membutuhkanku!" bentaknya pada diri sendiri untuk memompa keberanian."Tahan rasa sakit ini, Marco! Berdiri sekarang juga!" serunya lagi memperingatkan ketahanan fisiknya.Meskipun kondisi fisiknya berada di batas kelelahan dan rasa sakit, rasa khawatir Marco terhadap keselamatan Gia menjadi pendorong utama yang memaksa tubuhnya bertahan.Bayangan raut wajah Gia yang memar akibat tamparan Albert terus berputar di dalam kepalanya, membakar sisa-sisa stamina di dalam tubuhnya."Aku datang, Mia Luna... Aku pasti kembali padamu," bisik Marco parau di tengah keheningan malam perbukitan.Marco mencoba beranjak dari posisi terbaringnya, bertumpu pada lututnya yang gemetar di atas tanah basah.Napasnya memburu kaku sewaktu kedua lututnya bergetar hebat menahan beban tubuh bidangnya yang bersimbah air dan lumpur."Argh! Dada brengs
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!""Brengsek... paru-paruku..." erang Marco parau seraya terbatuk-batuk hebat di atas tanah yang basah."Sialan, air sungai ini hampir menyiksaku sampai mati," desisnya seraya memuntahkan sisa air pekat yang memenuhi tenggorokannya.Jauh dari lokasi pencarian utama, di sebuah sudut perbukitan yang jauh dan curam di sepanjang aliran sungai bawah, tubuh Marco terdampar di antara bebatuan licin dan semak belukar.Marco mendadak terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air sungai yang memenuhi paru-parunya, sebelum akhirnya langsung membuka mata secara paksa di bawah remang cahaya bulan."Darah... bahuku tertembak lagi," gumam Marco memegang luka robek di dada dan lengannya.Kesadarannya kembali secara bertahap bersamaan dengan rasa nyeri yang membakar seluruh tubuhnya.Setiap helaan napasnya menimbulkan sensasi menusuk tajam pada tulang rusuknya yang terhantam setir mobil sebelum tenggelam."Di mana... di mana lokasi ini sebenarnya?" tanya Marco pada dirinya sendiri dengan pand
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan
“Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas







