/ Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 6: Perintah Mutlak sang Penguasa

공유

Bab 6: Perintah Mutlak sang Penguasa

last update 게시일: 2026-04-23 22:58:41

Tok tok!

Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.

Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.

“Selamat malam, Nona Gia,” sapa ajudan itu tanpa senyum, lalu meletakkan sebuah kotak hitam besar berpita merah di atas tempat tidur.

Gia duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Di mana Marco?” tanyanya datar.

“Tuan Marco ada urusan mendadak terkait wilayah klan di perbatasan. Beliau sudah pergi sejak subuh,” jawab ajudan itu datar. “Beliau menitipkan pesan agar Anda segera pulih dan bersiap untuk makan malam pribadi satu jam lagi.”

“Makan malam?” Gia mengernyit. “Hanya kami berdua?”

“Benar. Tuan secara khusus meminta Anda mengenakan apa yang ada di dalam kotak ini. Jangan ada penolakan, karena perintahnya mutlak.”

Gia menatap kotak itu dengan perasaan tidak enak. “Bagaimana jika aku tidak mau?”

Ajudan itu hanya menatap Gia dengan sorot mata dingin yang mengingatkannya pada Marco. “Tuan Marco tidak suka pengulangan perintah, Nona. Saya permisi.”

Setelah pintu terkunci kembali, Gia mendekati kotak itu dengan langkah tertatih. Dia lalu menarik pita merahnya dan membuka tutup kotak. Napasnya tertahan sejenak.

Di dalamnya terdapat selembar kain satin berwarna merah menyala. Saat Gia mengangkatnya, kain itu terasa sangat ringan dan licin, seolah bisa hancur hanya dengan satu tarikan.

Gia membentangkan gaun itu dan seketika wajahnya memanas karena amarah sekaligus rasa malu.

“Ini gila,” bisik Gia pada ruangan yang kosong.

Gaun itu bukan sekadar pakaian formal. Itu adalah pakaian yang dirancang untuk mempermalukan sekaligus memamerkan tubuh pemakainya.

Kain satinnya sangat tipis, nyaris transparan jika terkena cahaya. Potongannya dimulai dari leher dengan model halter neck, namun bagian depannya membelah sangat rendah hingga ke pusar, nyaris tidak menutupi bagian dadanya.

Bagian punggungnya sepenuhnya terbuka, dan yang paling parah, hanya ada selembar g-string tipis sewarna sebagai pasangannya.

“Dia ingin aku memakai ini? Di depan pelayan? Di depan dia?” Gia melempar gaun itu kembali ke kotak. “Aku bukan pelacur.”

Gia menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul tujuh malam.

Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita masuk tanpa suara, sambil membawakan peralatan kosmetik dan membantu Gia merias wajah.

Pelayan itu tidak bicara, seolah telah diperingatkan untuk tidak berinteraksi lebih dari sekadar menjalankan tugas.

“Nona, silakan kenakan gaunnya sekarang,” ucap pelayan itu setelah selesai menyanggul rambut Gia.

“Aku tidak bisa memakai ini. Berikan aku gaun lain, apa saja asal jangan gaun ini,” pinta Gia.

“Tuan Marco berpesan, jika Anda tidak mengenakan gaun ini, beliau sendiri yang akan memakaikannya pada Anda di depan seluruh penjaga di koridor,” ucap pelayan itu dengan suara pelan.

Gia langsung membeku mendengarnya. Ancaman Marco selalu nyata. Pria itu tidak memiliki rasa malu ataupun hati nurani.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, Gia membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan kain satin merah tersebut.

Setiap inci kulitnya yang terpapar udara malam terasa dingin, namun rasa malu yang membakar jauh lebih menyiksa. Gaun itu menempel di tubuhnya seperti kulit kedua.

Kainnya yang tipis tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya sama sekali. Puting dadanya tercetak jelas di balik kain satin, dan belahan punggungnya yang rendah membuat Gia merasa benar-benar telanjang.

“Sudah selesai, Nona. Tuan sudah menunggu di ruang makan bawah,” ucap pelayan itu sambil membukakan pintu.

Gia lantas melangkah keluar dengan cemas. Dia harus melewati lorong panjang yang dijaga oleh beberapa anak buah Marco.

Meski mereka dilatih untuk menatap lurus ke depan, Gia bisa merasakan tatapan mereka yang sesekali melirik ke arah tubuhnya yang terekspos. Rasanya seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan.

Dan akhirnya Gia tiba di depan pintu ruang makan ganda. Penjaga di sana membukakan pintu untuknya. Di ujung meja makan panjang yang diterangi cahaya lilin, Marco duduk dengan santai.

Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Dia sedang menyesap wiski saat Gia masuk.

Marco lalu meletakkan gelasnya saat mata abu-abunya memindai tubuh Gia, dari kaki yang dibalut perban tipis, naik ke tungkai kakinya yang jenjang, lalu berhenti lama pada dadanya yang hanya tertutup sedikit kain satin merah.

“Mendekatlah, Gia,” perintah Marco.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Yes! Please, Daddy   Bab 129: Pertanyaan di Dalam Benak Gia

    “Ya. Aku baik-baik saja.”Marco menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil mencoba menghalau rasa pening sekaligus rasa nyeri yang mendadak menyerang perut kirinya.Seringai miring sempat mencoba kembali ke sudut bibirnya, seolah ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa luka ini bukan masalah besar bagi seorang Rossi.Namun, Gia tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bersandiwara. Gia langsung memarahinya karena tidak nurut padanya sejak awal.Dengan gerakan taktis yang cepat, Gia bangkit sedikit dan menekan bahu kokoh Marco agar kembali bersandar sepenuhnya pada tumpukan bantal hospital."Sudah kubilang diam, Marco! Kau benar-benar keras kepala!" amuk Gia dengan suara tertahan, sepasang matanya menyala penuh amarah domestik yang bercampur aduk dengan kepanikan.Dia kemudian memeriksa tepian perban kasa di perut suaminya, memastikan tidak ada rembesan darah baru yang lebih parah akibat aksi nekat mereka tadi."Sekarang, aku meminta agar kau tidur! Jangan lagi meracau apalagi s

  • Yes! Please, Daddy   Bab 128: Aku Tulus Mencintaimu

    Gia langsung menatap Marco dengan tatapan kesalnya, membalikkan tubuhnya dengan sentakan taktis hingga mereka kini berhadapan langsung di bawah kungkungan selimut yang sama.Jarak di antara wajah mereka begitu kikis, menyisakan ruang tipis yang dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Gia mengangkat satu tangannya, menahan dada bidang Marco agar pria itu tidak merangsek lebih dekat."Berhentilah mengoceh, Rossi. Aku meminta agar kau diam dan sebaiknya tidur saja! Luka perutmu itu bukan dekorasi, itu bisa merembes lagi jika kau terus menguras energimu untuk bicara omong kosong!" sergah Gia dengan nada rendah yang ketus, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang mulai goyah akibat dekapan posesif dari suaminya.Marco menggeleng perlahan di atas bantalnya. Manik mata abu-abunya mengunci wajah Gia dengan tatapan yang begitu pekat dan intim, memancarkan aura dominasi yang melunak namun tetap tak terbantahkan. "Aku tidak bisa tidur, Gia. Dan aku bilang kalau aku belum menciummu ma

  • Yes! Please, Daddy   Bab 127: Aku Bisa Menciummu sampai Bosan

    Malam hari tiba, suasana kamar rawat menjadi sangat sunyi. Kegelapan pekat di luar jendela berpadu dengan remang lampu nakas yang temaram, menciptakan atmosfer yang mampat dan sarat akan ketegangan domestik yang tertahan.Setelah seharian penuh dengan drama yang dibuat oleh Marco, energi Gia telah terkuras habis. Tubuhnya yang lelah mendambakan istirahat, namun matanya tetap waspada menjaga perimeter sekeliling mereka.Gia bersiap tidur di sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, menggelar selimut tipis dengan gerakan taktis yang efisien. Namun, pergerakannya terhenti seketika oleh suara bariton yang berat dari arah ranjang."Ke mana kau akan pergi, Gia?" tanya Marco dengan sepasang mata abu-abunya berkilat tajam di balik keremangan, memperhatikan setiap jengkal pergerakan istrinya. "Kemari. Tidur di sini."Gia lantas menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Sofa ini cukup nyaman untukku, Marco. Lagipula, kau butuh ruang untuk memulihkan tubuhmu."Namun Marco menolak dan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 126: Cemburunya sang Penguasa

    Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 125: Pengakuan Jujur di Balik Tirai Hujan

    Hujan deras mengguyur luar rumah sakit, menciptakan atmosfer yang melankolis. Bulir-bulir air menghantam kaca jendela besar kamar rawat VIP dengan ritme yang konstan dan berat, mengaburkan pendar lampu-lampu kota di luar sana menjadi bayangan abu-abu yang redup.Di dalam ruangan, deru pendingin udara dan bunyi detak monitor jantung berbaur dengan suara gemercik hujan, menciptakan keheningan taktis yang mendalam pasca-insiden medis kecil beberapa saat lalu.Dokter jaga telah pergi setelah memberikan suntikan pereda nyeri tambahan pada selang infus Marco. Untungnya, jahitan operasi di perut kiri pria itu tidak sampai robek sepenuhnya, meski noda darah baru sempat merembes di tepian perban kasa yang baru diganti.Setelah insiden ciuman yang panas tadi yang berujung pada erangan kesakitan, Marco menjadi lebih tenang. Efek obat penenang ringan dari dokter mulai bekerja, menurunkan lonjakan adrenalin maskulinnya, namun tidak menidurkan kesadarannya.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya p

  • Yes! Please, Daddy   Bab 124: Pengakuan sang Penguasa

    Gia menelan ludahnya seraya menatap wajah Marco yang sedang menuntut jawaban darinya. Jarak yang teramat kikis ini membuat Gia bisa merasakan embusan napas hangat Marco yang berbau maskulin alami, mengusik seluruh pertahanan taktis yang selama ini dia bangun.Tatapan abu-abu suaminya begitu tajam, menembus langsung ke ulu hatinya, menguliti setiap jengkal gengsi Valerius yang tersisa.Gia membuang muka dengan sentakan kecil pada lehernya dan bilang kalau Marco terlalu berlebihan. "Kau terlalu percaya diri, Rossi. Berada di bawah pengaruh obat bius sepertinya membuat otak taktismu bergeser menjadi penuh fantasi."Marco terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergetar di dalam dadanya, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di permukaan kulit dada Gia yang bersentuhan langsung dengannya."Kebohongan yang buruk, Mia Luna," bisik Marco, sebelum akhirnya membiarkan Gia menahan beban tubuhnya saat pria itu mencoba menegakkan punggung dengan ringisan samar.Dengan susah payah dan sisa tenag

  • Yes! Please, Daddy   Bab 73: Tubuh Indah itu Mengacaukan Pikiran Marco

    Gaun malam yang dipilihkan oleh Marco akhirnya melekat di tubuh ramping Gia, sebuah mini dress dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada dan punggung, jatuh menggantung beberapa senti di atas lutut, serta dilapisi glitter berwarna abu-abu yang berkilau mewah di bawah lampu kamar.Setiap kal

  • Yes! Please, Daddy   Bab 72: Bisikan dari Masa Lalu

    Tim MUA mulai membersihkan dan merias wajah Gia dengan cekatan, mengaplikasikan pelembap dan alas bedak pada kulit porselennya yang halus.Sementara jemari mereka bergerak lincah, Gia sendiri terus-menerus menggerutu dengan suara pelan, memaki keangkuhan suaminya dalam hati karena masih kesal akiba

  • Yes! Please, Daddy   Bab 71: Perintah Mutlak Marco

    Kata-kata Marco setengah jam yang lalu yang sarat akan intimidasi berbalut gairah itu terus terngiang dalam benak Gia, hingga akhirnya terputus seketika oleh bunyi ketukan tiga kali di daun pintu.Suasana tegang di kamar utama berarsitektur gotik itu mendadak pecah ketika ketukan pelan di pintu men

  • Yes! Please, Daddy   Bab 70: Perintah Malam Berdarah

    Gia mencoba menahan diri agar tidak memberontak dari rangkulan posesif Marco di depan gerbang mansion besar itu. Sentuhan tangan suaminya terasa seperti belenggu besi, namun dia tahu setiap pasang mata di tempat asing ini sedang menguliti mereka.Sambil terus berjalan beriringan memasuki aula utama

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status