LOGINTok tok!
Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.
“Selamat malam, Nona Gia,” sapa ajudan itu tanpa senyum, lalu meletakkan sebuah kotak hitam besar berpita merah di atas tempat tidur.
Gia duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Di mana Marco?” tanyanya datar.
“Tuan Marco ada urusan mendadak terkait wilayah klan di perbatasan. Beliau sudah pergi sejak subuh,” jawab ajudan itu datar. “Beliau menitipkan pesan agar Anda segera pulih dan bersiap untuk makan malam pribadi satu jam lagi.”
“Makan malam?” Gia mengernyit. “Hanya kami berdua?”
“Benar. Tuan secara khusus meminta Anda mengenakan apa yang ada di dalam kotak ini. Jangan ada penolakan, karena perintahnya mutlak.”
Gia menatap kotak itu dengan perasaan tidak enak. “Bagaimana jika aku tidak mau?”
Ajudan itu hanya menatap Gia dengan sorot mata dingin yang mengingatkannya pada Marco. “Tuan Marco tidak suka pengulangan perintah, Nona. Saya permisi.”
Setelah pintu terkunci kembali, Gia mendekati kotak itu dengan langkah tertatih. Dia lalu menarik pita merahnya dan membuka tutup kotak. Napasnya tertahan sejenak.
Di dalamnya terdapat selembar kain satin berwarna merah menyala. Saat Gia mengangkatnya, kain itu terasa sangat ringan dan licin, seolah bisa hancur hanya dengan satu tarikan.
Gia membentangkan gaun itu dan seketika wajahnya memanas karena amarah sekaligus rasa malu.
“Ini gila,” bisik Gia pada ruangan yang kosong.
Gaun itu bukan sekadar pakaian formal. Itu adalah pakaian yang dirancang untuk mempermalukan sekaligus memamerkan tubuh pemakainya.
Kain satinnya sangat tipis, nyaris transparan jika terkena cahaya. Potongannya dimulai dari leher dengan model halter neck, namun bagian depannya membelah sangat rendah hingga ke pusar, nyaris tidak menutupi bagian dadanya.
Bagian punggungnya sepenuhnya terbuka, dan yang paling parah, hanya ada selembar g-string tipis sewarna sebagai pasangannya.
“Dia ingin aku memakai ini? Di depan pelayan? Di depan dia?” Gia melempar gaun itu kembali ke kotak. “Aku bukan pelacur.”
Gia menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul tujuh malam.
Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita masuk tanpa suara, sambil membawakan peralatan kosmetik dan membantu Gia merias wajah.
Pelayan itu tidak bicara, seolah telah diperingatkan untuk tidak berinteraksi lebih dari sekadar menjalankan tugas.
“Nona, silakan kenakan gaunnya sekarang,” ucap pelayan itu setelah selesai menyanggul rambut Gia.
“Aku tidak bisa memakai ini. Berikan aku gaun lain, apa saja asal jangan gaun ini,” pinta Gia.
“Tuan Marco berpesan, jika Anda tidak mengenakan gaun ini, beliau sendiri yang akan memakaikannya pada Anda di depan seluruh penjaga di koridor,” ucap pelayan itu dengan suara pelan.
Gia langsung membeku mendengarnya. Ancaman Marco selalu nyata. Pria itu tidak memiliki rasa malu ataupun hati nurani.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, Gia membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan kain satin merah tersebut.
Setiap inci kulitnya yang terpapar udara malam terasa dingin, namun rasa malu yang membakar jauh lebih menyiksa. Gaun itu menempel di tubuhnya seperti kulit kedua.
Kainnya yang tipis tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya sama sekali. Puting dadanya tercetak jelas di balik kain satin, dan belahan punggungnya yang rendah membuat Gia merasa benar-benar telanjang.
“Sudah selesai, Nona. Tuan sudah menunggu di ruang makan bawah,” ucap pelayan itu sambil membukakan pintu.
Gia lantas melangkah keluar dengan cemas. Dia harus melewati lorong panjang yang dijaga oleh beberapa anak buah Marco.
Meski mereka dilatih untuk menatap lurus ke depan, Gia bisa merasakan tatapan mereka yang sesekali melirik ke arah tubuhnya yang terekspos. Rasanya seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Dan akhirnya Gia tiba di depan pintu ruang makan ganda. Penjaga di sana membukakan pintu untuknya. Di ujung meja makan panjang yang diterangi cahaya lilin, Marco duduk dengan santai.
Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Dia sedang menyesap wiski saat Gia masuk.
Marco lalu meletakkan gelasnya saat mata abu-abunya memindai tubuh Gia, dari kaki yang dibalut perban tipis, naik ke tungkai kakinya yang jenjang, lalu berhenti lama pada dadanya yang hanya tertutup sedikit kain satin merah.
“Mendekatlah, Gia,” perintah Marco.
"Nyonya Gia, Anda harus tetap bertahan! Pikirkan calon penerus klan Rossi di dalam kandungan Anda!" seru Rio tegas."Bagaimana aku bisa bertahan, Rio?! Suamiku ada di dasar sungai itu!" balaskan Gia dengan suara serak dan air mata yang terus mengalir."Tuan Marco bukan pria yang mudah mati oleh arus air, Nyonya! Percayalah pada suamimu!" pangkas Rio mencengkeram bahu Gia untuk memberi kekuatan.Di tengah kegelapan malam yang kian larut dan keputusasaan yang mulai menguasai Gia, Rio berdiri kokoh di samping istri tuannya untuk memberikan dukungan moral di tengah situasi yang kritis.Rintik gerimis mulai membasahi permukaan jembatan beton yang hancur, namun Rio tidak bergeming sedikit pun dari posisinya melindung Gia."Saya kenal Tuan Marco sejak dia masih kecil, Nyonya Gia. Dia sudah melewatinya berkali-kali!" bisik Rio dengan nada suara berat nan mantap."Tapi malam ini berbeda, Rio! Mobilnya tenggelam dan kabinnya kosong!" potong Gia dengan napas yang memburu sesak."Justru karena ka
"Nyonya Gia, angin malam di tepi jembatan ini semakin dingin dan buruk untuk kondisi Anda!" panggil Rio dengan nada cemas sembari mendekatkan mantel tebal ke bahu Gia."Bawa jauh-jauh mantel itu, Rio! Aku tidak butuh kain hangat!" tebas Gia tanpa menoleh sedikit pun dari tepi tebing."Tolong pikirkan kesehatan Anda dan calon anak Tuan Marco, Nyonya!" bentak Rio pelan dengan mata berkaca-kaca menatap ketegaran istrinya tuannya.Waktu terus bergulir hingga malam semakin pekat dan gelap, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Marco dari dasar sungai yang terus disisir oleh lampu sorot tim penyelamat.Cahaya putih dari helikopter SAR membelah kegelapan air, tetapi yang terlihat hanyalah pusaran arus yang mengerikan tanpa ada puing mobil yang muncul."Pusaran di sektor tengah terlalu kuat! Kami belum bisa menurunkan penyelam ke dasar sungai!" teriak komandan tim SAR melalui megaphone dari seberang tebing."Cari sampai ketemu! Gunakan semua jangkar dan jala taktis yang kalian miliki!" perin
"Nyonya Gia! Jangan terlalu dekat dengan tepi jembatan!" teriak Rio panik sembari berlari kencang mendekati posisi wanita itu."Lepaskan aku, Rio! Marco ada di bawah sana!" jerit Gia histeris membuang tangan pengawal yang mencoba menahannya."Struktur jembatan ini rapuh, Nyonya! Sangat berbahaya!" peringat Rio tegas sembari menjaga jarak aman di belakangnya.Setelah Albert roboh tak bernyawa di atas aspal, Gia tidak memedulikan kondisi fisiknya yang masih lemah dan langsung berlari menuju ujung jembatan yang pembatasnya telah hancur.Langkah kakinya yang gemetar tersandung sisa pecahan kaca dan puing beton, namun dia terus memaksa tubuhnya maju hingga ke bibir tebing."Marco! Jawab aku, Marco!" teriak Gia dengan suara serak menembus kegelapan malam yang pekat.Dari tepi tebing yang curam, Gia menatap lurus ke dasar sungai di mana mobil yang digunakan Marco sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam gulungan air yang pekat dan deras.Hanya ada pusaran air kemerahan bercampur oli dan gelembung
Pelarian Marco menggunakan mobil taktis kedua dari lokasi ledakan tidak berjalan mulus karena Albert rupanya berhasil lolos dari reruntuhan utama gedung bersama sisa pengawal intinya.Konvoi mobil musuh langsung meluncur kencang mengejar kendaraan Marco, mengikis jarak di sepanjang rute tebing yang sempit dan minim pencahayaan."Sialan! Albert masih hidup, Tuan!" teriak Rio dari balik kemudi sambil menatap cermin tengah yang memantulkan sorot lampu kendaraan musuh."Injak gasnya, Rio! Jangan biarkan mereka memotong rute depan!" balas Marco tegas sembari menekan luka di bahu kirinya yang terus mengucurkan darah.Albert yang disulut kegilaan murni berdiri dari sunroof kendaraannya, terus-menerus memaki dan mengumpat nama Marco dengan nada histeris yang membelah keheningan malam."Mati kau, Rossi! Aku akan mengirimmu ke neraka malam ini juga!" jerit Albert parau di tengah deru angin tebing yang kencang.Dari balik jendela, Albert tanpa henti mengirim tembakan gencar menggunakan senapan o
Setelah memastikan Gia bergerak menjauh ke area aman, Marco keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan presisi dari Glock miliknya, menembaki satu per satu manusia yang mencoba mengejar arah lari istrinya.Laras senjatanya memuntahkan timah panas tanpa jeda.Dua prajurit unit The Sword yang baru saja melintasi ambang lorong langsung roboh dengan tembakan tepat di dada dan dahi sebelum mereka sempat mengarahkan senapan ke arah jalur pelarian Gia.Perkelahian jarak dekat dan adu peluru berlangsung sangat sengit di tengah gaung sirine yang makin membingitkan telinga.Dentuman senjata otomatis memantul keras pada dinding-dinding beton yang bergetar.Rio berada beberapa meter di sisi kanan Marco, melepaskan tembakan beruntun menggunakan senapan mesin ringannya untuk memotong pergerakan tiga pengawal tersisa yang berusaha memutari pilar utama.Sebuah peluru musuh meluncur menyambar bahu kiri Marco; meski hanya goresan melesat, tembakan itu tetap menimbulkan luka robek yang mengu
Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.BIIIP! BIIIP! BIIIP!Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.Lampu indikator merah di sepanjang koridor berkedip-kedip liar.Di saat yang sama, modul digital pada peledak C-4 yang terpampang di dinding lorong menyala terang, menampilkan angka digital yang bergerak turun; bom tersebut dikonfirmasi akan meledak dalam waktu lima menit lagi.Atmosphere berubah menjadi kepanikan murni, namun Marco tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya demi keselamatan Gia.Otaknya menghitung setiap fraksi detik secara presisi.Cengkeraman tangannya pada tubuh Gia makin erat sewaktu dia menarik i
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan
“Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas







