Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 3: Aturan sang Penguasa

Share

Bab 3: Aturan sang Penguasa

last update publish date: 2026-04-23 13:04:52

“Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.

Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.

Gia menatap sekeliling dengan napas memburu. “Aku ingin kamar terpisah. Aku tidak sudi tidur dengan pembunuh sepertimu,” ucapnya dengan datar.

“Tidak bisa!” tolaknya sambil melepaskan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya dia gulung hingga siku, memperlihatkan tato gelap yang melilit otot lengannya.

Dia lalu duduk di pinggiran ranjang King Size dan menatap Gia dengan mata abu-abu yang dingin.

“Duduk, Gia. Aku akan membacakan aturan di rumah ini sekali saja,” perintah Marco.

“Aku bukan anak buahmu!” sergah Gia.

Marco mengabaikan bantahan itu. “Pertama, tidak ada privasi. Semua barangmu, ponselmu, bahkan apa yang kau pakai adalah urusanku. Pelayan akan memeriksa kamarmu setiap jam saat aku tidak ada.

“Kedua, tidak ada pembangkangan. Jika aku bilang duduk, kau duduk. Jika aku bilang makan, kau makan. Ketiga, kepatuhan mutlak. Kau tidak punya hak untuk berkata 'tidak'.”

Gia tertawa hambar, meski matanya berkaca-kaca karena marah. “Kepatuhan mutlak? Kau baru saja menghabisi ayah dan saudaraku, lalu membawaku ke kapel seperti binatang ternak, dan sekarang kau mengharapkan kepatuhan?”

“Aku tidak mengharapkannya, aku menuntutnya,” jawab Marco tenang.

“Kau melakukan semua ini hanya untuk takhta The Iron Council, kan?” tuduh Gia dengan suara naik satu oktav.

“Kau membantai keluarga Valerius bukan karena mereka bersalah, tapi karena kau ingin klan Rossi menjadi nomor satu. Kau ingin menjadi penguasa tunggal dunia bawah dan kau butuh darah keluargaku untuk melicinkan jalanmu!”

Marco berdiri perlahan. Postur tubuhnya yang menjulang membuat Gia refleks mundur satu langkah. Namun, Marco bergerak lebih cepat. Dia melangkah maju, yang memaksa Gia terus mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding dingin di sudut kamar.

Gia mencoba menghindar ke samping, tapi Marco menghantamkan kedua telapak tangannya ke dinding di sisi kepala Gia, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.

“Kau pikir aku peduli dengan moralitas klanmu?” tanya Marco dengan wajah yang hanya berjarak beberapa inci dari wajah Gia.

“Kau kejam, Marco. Kau tidak punya hati sedikit pun!” teriak Gia tepat di depan wajah pria itu. “Berapa banyak nyawa yang harus kau ambil sampai kau merasa cukup? Kau membiarkanku hidup hanya untuk menyiksaku, kan?”

Marco tidak membantah. Dia justru menunduk dan menatap bibir Gia yang bergetar. Tangannya bergerak turun, mencengkeram leher Gia, tidak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk memberikan peringatan akan kekuatan yang ia miliki.

“Keluargamu kalah karena mereka lemah, Gia. Dalam dunia ini, yang lemah akan dilenyapkan. Seharusnya kau berterima kasih karena aku masih memberimu kesempatan untuk bernapas,” ucap Marco dengan suara rendah yang menggetarkan dada.

“Berterima kasih padamu?” Gia tertawa hambar. “Berterima kasih pada orang yang telah membunuh seluruh keluargaku itu hanya akan membuatku menyesal!”

Rahang Marco sontak mengeras. Matanya yang tadinya dingin kini berkilat dengan amarah yang tertahan. Dia lalu menekan tubuhnya lebih rapat ke arah Gia, hingga membuat Gia bisa merasakan kerasnya otot dada pria itu dan pistol yang masih terselip di balik pinggang celananya.

“Kau ingin mati, hum? Kematian adalah kemewahan yang tidak akan aku berikan padamu,” desis Marco.

Gia mencoba meronta, dengan memukul dada Marco dengan tinju kecilnya, namun pria itu bahkan tidak bergeming. Marco justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Gia dan menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan.

“Lepaskan aku! Kau monster!”

“Teruslah berteriak,” tantang Marco. “Tidak ada yang akan datang menolongmu di rumah ini. Semua orang di sini adalah anjingku, dan kau adalah milikku yang paling baru.”

Gia memejamkan matanya lalu menelan ludahnya dengan pelan. “Lepaskan aku,” bisiknya lirih.

Marco menggunakan tangan lainnya untuk menarik dagu Gia agar menatapnya kembali. Tidak ada belas kasihan dalam tatapannya, hanya dominasi mutlak yang membuat Gia merasa sangat kecil dan tak berarti.

“Tidak akan, Sayang. Karena aku ingin melihat bagaimana gadis sombong dari klan Valerius ini hancur di bawah kakiku,” jawab Marco dingin. “Kau akan belajar bahwa setiap kata yang keluar dari mulutmu harus seizinku.”

Gia terengah-engah, dadanya naik turun dan bersentuhan langsung dengan kemeja Marco. Dia merasa terhina, terancam, namun di sisi lain, dia tidak bisa lari dari intimidasi fisik yang dilakukan oleh Marco.

“Aku benci kau, Marco. Sampai mati pun aku akan membencimu,” bisik Gia dengan penuh penekanan.

Marco mendekatkan bibirnya ke telinga Gia dan memberikan embusan napas panas yang membuat bulu kuduk Gia berdiri. Cengkeramannya di pergelangan tangan Gia semakin kuat, sampai memberikan sensasi nyeri yang nyata.

“Kebencianmu tidak ada harganya bagiku,” bisik Marco. “Tapi kepatuhanmu adalah segalanya.”

Dia lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan mundur selapis, namun tetap menahan Gia di dinding dengan tatapan predatornya yang gelap.

Matanya kini menatap Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai aset yang baru saja ia menangkan dalam sebuah taruhan berdarah.

“Jangan pernah sebut namaku lagi dengan mulut kotor itu,” ancam Marco.

Gia mengadahkan kepalanya dengan pelan menatap datar wajah pria yang kini berstatus menjadi suaminya itu. “Lalu aku harus memanggilmu apa? Pembantai? Iblis?”

Marco kembali memajukan wajahnya, untuk memberikan tekanan psikologis yang membuat Gia nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri.

“Sepertinya kau memang gadis yang cukup pembangkang. Aku sudah memberitahumu bahwa kau harus memanggilku ‘Daddy’!”

Gia menelan salivanya dengan pelan. Marco kembali mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Gia, bersiap untuk melumat bibir wanita itu. 

Namun, ketukan pintu di luar sana membuat Marco mengumpat hebat. "Siapa yang berani mengganggu malam pertamaku!" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 9: Kepatuhan yang Mutlak

    Cahaya matahari yang masuk dari balik celah gorden membuat Gia mengerang. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pinggang hingga ke ujung kaki.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja dihantam oleh beban berat selama berjam-jam. Terutama di bagian pangkal pahanya; ada denyut ngilu yang konsisten, mengingatkannya pada kekejaman yang terjadi di atas ranjang ini semalam.Gia membuka mata perlahan dan mendapati Marco sudah berdiri di depan cermin besar, tengah merapikan simpul dasi hitamnya. Pria itu tampak sangat segar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah percintaan liar yang mereka lalui.“Kau sudah bangun,” ucap Marco datar tanpa menoleh.Gia berusaha bangkit, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang dingin. “Kau ... kau mau ke mana?” tanyanya ingin tahu.“Bukan urusanmu,” jawab Marco singkat sembari mengenakan jas hitamnya.Gia mendengus mendengar ucapan Marco barusan. “Aku tidak bisa terus terkurung

  • Yes! Please, Daddy   Bab 8: Penyatuan yang Mendominasi

    Sudah habis kesabarannya, Marco tidak lagi membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan kasar, dia menyambar tubuh Gia dari pangkuannya.“Akh!”Gia terpekik saat dia dibawa melintasi ruang makan, lalu dihempaskan ke atas ranjang king size yang terasa dingin. Sebelum Gia sempat berguling untuk melarikan diri, tubuh Marco sudah menindihnya dan mengurung setiap sudut geraknya.“Marco, tunggu. Jangan sekarang,” ucap Gia dengan napas yang masih tersengal.“Aku sudah bilang, aku tidak suka menunggu,” jawab Marco singkat. Tatapannya sama sekali tidak mencerminkan gairah yang penuh kasih; itu adalah tatapan seorang penakluk yang sedang menuntut upeti.Marco mencengkeram pergelangan tangan Gia, menyematkannya ke atas bantal dengan satu tangan yang kuat. Gia mencoba meronta, dengan memutar tubuhnya agar lepas, namun Marco menindih kakinya dengan lutut. “Lepaskan! Kau tidak bisa memaksaku begini!”“Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau padamu,” ujar Marco dingin. Dia tidak mau memberi ruang bagi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

    Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitmu yang pucat.”“Kau hanya ingin menghinaku,” desis Gia saat sudah berdiri di dekat meja.“Menghinamu? Tidak,” Marco berdiri dan berjalan memutari meja hingga dia berada tepat di belakang Gia.Lalu meletakkan tangannya di pinggang Gia yang polos, dan menyentuh kulitnya yang terbuka. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di rumah ini, kau adalah milikku. Apa pun yang ada di balik kain ini adalah propertiku.”Gia ditarik untuk duduk di kursi tepat di sebelah Marco, bukan di ujung meja yang lain. Sebelum dia duduk, dia sempat menatap bayangannya di pintu kaca lemari pajangan di samping meja makan.Gia menelan ludah dengan susah payah. Di balik pantulan kaca yang remang, ia tidak lagi melihat dir

  • Yes! Please, Daddy   Bab 6: Perintah Mutlak sang Penguasa

    Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Nona Gia,” sapa ajudan itu tanpa senyum, lalu meletakkan sebuah kotak hitam besar berpita merah di atas tempat tidur.Gia duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Di mana Marco?” tanyanya datar.“Tuan Marco ada urusan mendadak terkait wilayah klan di perbatasan. Beliau sudah pergi sejak subuh,” jawab ajudan itu datar. “Beliau menitipkan pesan agar Anda segera pulih dan bersiap untuk makan malam pribadi satu jam lagi.”“Makan malam?” Gia mengernyit. “Hanya kami berdua?”“Benar. Tuan secara khusus meminta Anda mengenakan apa yang ada di dalam kotak ini. Jangan ada penolakan, karena perintahnya mutlak.”Gia menatap kotak itu dengan perasaan tidak enak. “B

  • Yes! Please, Daddy   Bab 5: Ancaman untuk si Kecil yang Pembangkang

    Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco. Panggilkan pelayan atau dokter. Kakiku tertusuk kaca.”Marco tidak menyahut. Dia justru berjalan ke arah kamar mandi, lalu kembali dengan sebuah kotak pertolongan pertama dan sebotol cairan antiseptik.Kemudian berlutut di depan kaki Gia, namun gerakannya tidak menyiratkan kelembutan sedikit pun. Dia langsung menyambar pergelangan kaki Gia dan meletakkannya di atas pahanya yang keras.“Aku tidak butuh dokter untuk menangani luka kecil akibat kebodohanmu,” ucap Marco datar.Gia tersentak saat melihat Marco mengeluarkan sebuah pinset logam dari kotak. “Apa yang kau lakukan? Jangan ... panggilkan dokter saja. Itu perih.”“Diam,” sentak Marco tanpa menatapnya.Tanpa peringatan atau aba-aba, Mar

  • Yes! Please, Daddy   Bab 4: Eksekusi di Depan Mata Gia

    “Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lantas berjalan dengan langkah lebarnya menyusuri lorong di mana si pengkhianat sudah menanti maut.Melihat Marco sudah hilang di lorong, Gia menyelinap keluar dari kamar utama dengan langkah yang dia buat selembut mungkin.Dia tidak memakai alas kaki karena takut bunyi detak sepatunya akan mengundang kecurigaan penjaga.Gia menelusuri lorong panjang yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela-jendela besar. Suasana benar-benar sepi, terlalu sepi.Dia mencapai tikungan menuju dapur. Namun, tepat saat ia hendak melangkah lebih jauh, suara aneh dari arah ruang penyimpanan bawah tanah menghentikan langkahnya.Suara dentuman keras diikuti erangan tertahan.Gia menempelkan punggungnya ke dinding,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status