Masuk“Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.
Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.
Gia menatap sekeliling dengan napas memburu. “Aku ingin kamar terpisah. Aku tidak sudi tidur dengan pembunuh sepertimu,” ucapnya dengan datar.
“Tidak bisa!” tolaknya sambil melepaskan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya dia gulung hingga siku, memperlihatkan tato gelap yang melilit otot lengannya.
Dia lalu duduk di pinggiran ranjang King Size dan menatap Gia dengan mata abu-abu yang dingin.
“Duduk, Gia. Aku akan membacakan aturan di rumah ini sekali saja,” perintah Marco.
“Aku bukan anak buahmu!” sergah Gia.
Marco mengabaikan bantahan itu. “Pertama, tidak ada privasi. Semua barangmu, ponselmu, bahkan apa yang kau pakai adalah urusanku. Pelayan akan memeriksa kamarmu setiap jam saat aku tidak ada.
“Kedua, tidak ada pembangkangan. Jika aku bilang duduk, kau duduk. Jika aku bilang makan, kau makan. Ketiga, kepatuhan mutlak. Kau tidak punya hak untuk berkata 'tidak'.”
Gia tertawa hambar, meski matanya berkaca-kaca karena marah. “Kepatuhan mutlak? Kau baru saja menghabisi ayah dan saudaraku, lalu membawaku ke kapel seperti binatang ternak, dan sekarang kau mengharapkan kepatuhan?”
“Aku tidak mengharapkannya, aku menuntutnya,” jawab Marco tenang.
“Kau melakukan semua ini hanya untuk takhta The Iron Council, kan?” tuduh Gia dengan suara naik satu oktav.
“Kau membantai keluarga Valerius bukan karena mereka bersalah, tapi karena kau ingin klan Rossi menjadi nomor satu. Kau ingin menjadi penguasa tunggal dunia bawah dan kau butuh darah keluargaku untuk melicinkan jalanmu!”
Marco berdiri perlahan. Postur tubuhnya yang menjulang membuat Gia refleks mundur satu langkah. Namun, Marco bergerak lebih cepat. Dia melangkah maju, yang memaksa Gia terus mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding dingin di sudut kamar.
Gia mencoba menghindar ke samping, tapi Marco menghantamkan kedua telapak tangannya ke dinding di sisi kepala Gia, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.
“Kau pikir aku peduli dengan moralitas klanmu?” tanya Marco dengan wajah yang hanya berjarak beberapa inci dari wajah Gia.
“Kau kejam, Marco. Kau tidak punya hati sedikit pun!” teriak Gia tepat di depan wajah pria itu. “Berapa banyak nyawa yang harus kau ambil sampai kau merasa cukup? Kau membiarkanku hidup hanya untuk menyiksaku, kan?”
Marco tidak membantah. Dia justru menunduk dan menatap bibir Gia yang bergetar. Tangannya bergerak turun, mencengkeram leher Gia, tidak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk memberikan peringatan akan kekuatan yang ia miliki.
“Keluargamu kalah karena mereka lemah, Gia. Dalam dunia ini, yang lemah akan dilenyapkan. Seharusnya kau berterima kasih karena aku masih memberimu kesempatan untuk bernapas,” ucap Marco dengan suara rendah yang menggetarkan dada.
“Berterima kasih padamu?” Gia tertawa hambar. “Berterima kasih pada orang yang telah membunuh seluruh keluargaku itu hanya akan membuatku menyesal!”
Rahang Marco sontak mengeras. Matanya yang tadinya dingin kini berkilat dengan amarah yang tertahan. Dia lalu menekan tubuhnya lebih rapat ke arah Gia, hingga membuat Gia bisa merasakan kerasnya otot dada pria itu dan pistol yang masih terselip di balik pinggang celananya.
“Kau ingin mati, hum? Kematian adalah kemewahan yang tidak akan aku berikan padamu,” desis Marco.
Gia mencoba meronta, dengan memukul dada Marco dengan tinju kecilnya, namun pria itu bahkan tidak bergeming. Marco justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Gia dan menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan.
“Lepaskan aku! Kau monster!”
“Teruslah berteriak,” tantang Marco. “Tidak ada yang akan datang menolongmu di rumah ini. Semua orang di sini adalah anjingku, dan kau adalah milikku yang paling baru.”
Gia memejamkan matanya lalu menelan ludahnya dengan pelan. “Lepaskan aku,” bisiknya lirih.
Marco menggunakan tangan lainnya untuk menarik dagu Gia agar menatapnya kembali. Tidak ada belas kasihan dalam tatapannya, hanya dominasi mutlak yang membuat Gia merasa sangat kecil dan tak berarti.
“Tidak akan, Sayang. Karena aku ingin melihat bagaimana gadis sombong dari klan Valerius ini hancur di bawah kakiku,” jawab Marco dingin. “Kau akan belajar bahwa setiap kata yang keluar dari mulutmu harus seizinku.”
Gia terengah-engah, dadanya naik turun dan bersentuhan langsung dengan kemeja Marco. Dia merasa terhina, terancam, namun di sisi lain, dia tidak bisa lari dari intimidasi fisik yang dilakukan oleh Marco.
“Aku benci kau, Marco. Sampai mati pun aku akan membencimu,” bisik Gia dengan penuh penekanan.
Marco mendekatkan bibirnya ke telinga Gia dan memberikan embusan napas panas yang membuat bulu kuduk Gia berdiri. Cengkeramannya di pergelangan tangan Gia semakin kuat, sampai memberikan sensasi nyeri yang nyata.
“Kebencianmu tidak ada harganya bagiku,” bisik Marco. “Tapi kepatuhanmu adalah segalanya.”
Dia lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan mundur selapis, namun tetap menahan Gia di dinding dengan tatapan predatornya yang gelap.
Matanya kini menatap Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai aset yang baru saja ia menangkan dalam sebuah taruhan berdarah.
“Jangan pernah sebut namaku lagi dengan mulut kotor itu,” ancam Marco.
Gia mengadahkan kepalanya dengan pelan menatap datar wajah pria yang kini berstatus menjadi suaminya itu. “Lalu aku harus memanggilmu apa? Pembantai? Iblis?”
Marco kembali memajukan wajahnya, untuk memberikan tekanan psikologis yang membuat Gia nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri.
“Sepertinya kau memang gadis yang cukup pembangkang. Aku sudah memberitahumu bahwa kau harus memanggilku ‘Daddy’!”
Gia menelan salivanya dengan pelan. Marco kembali mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Gia, bersiap untuk melumat bibir wanita itu.
Namun, ketukan pintu di luar sana membuat Marco mengumpat hebat. "Siapa yang berani mengganggu malam pertamaku!"
Di dalam kamar utama menara Rossi yang hangat, aroma obat-obatan dan antiseptik menyeruak tipis mengalahkan bau amis darah dan air sungai yang sempat melekat pada tubuh Marco.Tim medis pribadi klan Rossi baru saja selesai menjahit luka robek di bahu kiri Marco serta membebat tulang rusuknya yang memar parah akibat benturan keras.Marco berbaring bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang king size, tubuh bidangnya yang polos tanpa atasan memperlihatkan balutan perban putih bersih yang membungkus rapi bahu serta dadanya.Gia duduk di sisi tempat tidur, jemari mungilnya menggenggam erat tangan kanan Marco yang dipenuhi bekas goresan luka.Tatapan mata abu-abu sang Alfa tidak pernah lepas dari wajah istrinya, seolah setiap detik yang terlewat tanpa memandang Gia adalah sebuah kerugian besar."Aku benar-benar berpikir kalau aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi selamanya, Gia," bisik Marco dengan suara baritonnya yang masih terdengar parau dan berat.Marco memiringkan kepalanya se
"Nyonya Gia! Anda mau ke mana?! Jangan berjalan sendiri ke arah bukit!" teriak Rio panik dari balik barikade jembatan."Jangan ikuti aku, Rio! Biarkan aku sendiri!" balas Gia melangkah terus tanpa menoleh sedikit pun."Area bukit itu terlalu terjal dan berbahaya untuk kondisi Anda, Nyonya!" tegas Rio berlari kecil berusaha menyusul dari belakang.Waktu terus bergulir hingga senja di hari keempat sejak Marco menghilang ditelan arus sungai.Langit membentang jingga kelabu, memancarkan kepedihan kaku di atas sisa-sisa reruntuhan jembatan yang masih dijaga ketat oleh konvoi Rossi."Tolong tinggalkan aku sendiri sebentar saja, Rio. Aku mohon padamu," desis Gia dengan suara parau yang amat rapuh dan bergetar.Ketika warna jingga keemasan perlahan meredup berganti kegelapan malam, Gia berjalan dengan tatapan kosong seorang diri meninggalkan area jembatan menuju puncak bukit curam di tepi perbatasan.Langkah kaki tertatihnya menapak rumput liar yang basah oleh embun sore, membiarkan gaun lama
"Deru mesin. Jalan raya sudah dekat!" desis Marco dengan napas memburu dan bibir kebiruan."Jangan pingsan sekarang, Rossi! Sedikit lagi!" gerungnya menyemangati kakinya yang kian tak bertenaga."Bertahanlah, Gia. Aku sudah semakin dekat," bisiknya menembus deru angin malam yang menusuk tulang.Menjelang tengah malam, langkah kaki Marco yang tertatih akhirnya membawanya mendekati puncak bukit, di mana samar-samar terdengar deru mesin kendaraan dari arah jalan raya perbatasan.Sorot lampu mobil sesekali menyapu rimbun pepohonan di atas tebing, menjadi penanda bahwa peradaban hanya berjarak beberapa meter lagi."Satu baris jalan raya di depan... Aku harus mengatur napas," ucap Marco dengan pandangan yang mulai memburam.Tubuhnya yang berada di titik nadir kelelahan menuntut istirahat singkat sebelum dia pingsan karena kehilangan banyak darah.Pendarahan dari bahunya yang belum tertangani secara medis membuat tingkat kesadarannya merosot tajam."Sialan... kepalaku mendadak berputar hebat
"Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan."Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya."Marco tidak selemah yang kalian bayangkan, Rio! Pikirkan siapa suamiku!" seru Gia dengan binar mata tajam.Gia masih sangat optimis kalau Marco masih hidup dan berada di suatu tempat di luar sana.Keyakinan itu membakar dadanya, menepis segala skenario terburuk yang baru saja dipaparkan oleh tim taktis."Dia pasti sedang mencari jalan pulang ke menara ini sekarang!" tegas Gia menyuarakan optimismenya.Gia menegaskan bahwa Marco bukan pria yang mudah dikalahkan oleh arus sungai atau luka-luka fisik, dan Marco pasti akan selam
"Sialan... kakiku hampir mati rasa," desis Marco seraya menekan kedua telapak tangannya ke atas tanah basah yang dingin."Aku tidak boleh tumbang di tempat ini! Gia membutuhkanku!" bentaknya pada diri sendiri untuk memompa keberanian."Tahan rasa sakit ini, Marco! Berdiri sekarang juga!" serunya lagi memperingatkan ketahanan fisiknya.Meskipun kondisi fisiknya berada di batas kelelahan dan rasa sakit, rasa khawatir Marco terhadap keselamatan Gia menjadi pendorong utama yang memaksa tubuhnya bertahan.Bayangan raut wajah Gia yang memar akibat tamparan Albert terus berputar di dalam kepalanya, membakar sisa-sisa stamina di dalam tubuhnya."Aku datang, Mia Luna... Aku pasti kembali padamu," bisik Marco parau di tengah keheningan malam perbukitan.Marco mencoba beranjak dari posisi terbaringnya, bertumpu pada lututnya yang gemetar di atas tanah basah.Napasnya memburu kaku sewaktu kedua lututnya bergetar hebat menahan beban tubuh bidangnya yang bersimbah air dan lumpur."Argh! Dada brengs
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!""Brengsek... paru-paruku..." erang Marco parau seraya terbatuk-batuk hebat di atas tanah yang basah."Sialan, air sungai ini hampir menyiksaku sampai mati," desisnya seraya memuntahkan sisa air pekat yang memenuhi tenggorokannya.Jauh dari lokasi pencarian utama, di sebuah sudut perbukitan yang jauh dan curam di sepanjang aliran sungai bawah, tubuh Marco terdampar di antara bebatuan licin dan semak belukar.Marco mendadak terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air sungai yang memenuhi paru-parunya, sebelum akhirnya langsung membuka mata secara paksa di bawah remang cahaya bulan."Darah... bahuku tertembak lagi," gumam Marco memegang luka robek di dada dan lengannya.Kesadarannya kembali secara bertahap bersamaan dengan rasa nyeri yang membakar seluruh tubuhnya.Setiap helaan napasnya menimbulkan sensasi menusuk tajam pada tulang rusuknya yang terhantam setir mobil sebelum tenggelam."Di mana... di mana lokasi ini sebenarnya?" tanya Marco pada dirinya sendiri dengan pand
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan







