Beranda / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

Share

Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 23:03:27

Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”

Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitmu yang pucat.”

“Kau hanya ingin menghinaku,” desis Gia saat sudah berdiri di dekat meja.

“Menghinamu? Tidak,” Marco berdiri dan berjalan memutari meja hingga dia berada tepat di belakang Gia.

Lalu meletakkan tangannya di pinggang Gia yang polos, dan menyentuh kulitnya yang terbuka. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di rumah ini, kau adalah milikku. Apa pun yang ada di balik kain ini adalah propertiku.”

Gia ditarik untuk duduk di kursi tepat di sebelah Marco, bukan di ujung meja yang lain. Sebelum dia duduk, dia sempat menatap bayangannya di pintu kaca lemari pajangan di samping meja makan.

Gia menelan ludah dengan susah payah. Di balik pantulan kaca yang remang, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang turunan Valerius.

Dia melihat seorang wanita yang kehilangan martabatnya; tubuhnya yang hampir telanjang terbungkus satin merah itu tampak seperti hidangan segar yang sudah siap untuk disantap oleh sang predator di sampingnya.

“Makan malamnya sudah siap. Makanlah,” ucap Marco datar sembari memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan hidangan.

Suasana makan malam itu sangat mencekam. Hanya terdengar denting alat makan yang beradu dengan piring. Gia mencoba fokus pada potongan daging di piringnya, namun dia tahu Marco tidak sedetik pun mengalihkan pandangan darinya.

“Kenapa kau tidak makan?” tanya Marco setelah beberapa saat.

“Aku tidak nafsu makan di depan pria yang membantai keluargaku,” jawab Gia dingin.

Marco meletakkan garpunya, lalu memutar kursinya ke arah Gia, hingga membuat lutut mereka bersentuhan.

“Kau masih menyimpan dendam itu? Sangat membosankan. Ayahmu kalah karena dia percaya pada orang yang salah. Itu bisnis, Gia. Bukan masalah pribadi.”

“Bisnis?” Gia menoleh dan matanya berkilat penuh amarah. “Kau menyebut nyawa mereka sebagai bisnis?”

“Dunia ini bekerja seperti itu. Yang kuat mengambil apa yang diinginkan,” Marco mengulurkan tangannya dan mencengkeram dagu Gia dan memaksanya mendekat.

“Dan saat ini, aku menginginkanmu untuk bersikap manis. Berhenti memberontak sebelum aku kehilangan kesabaran.”

Gia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Marco terlalu kuat. “Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah mengenakan pakaian pelacur ini untukmu.”

Marco menyeringai tipis dan melepaskan dagu Gia, lalu menepuk pahanya sendiri. “Pindah ke sini. Duduk di pangkuanku.”

Gia tertegun. “Apa? Tidak. Aku sedang makan!” tolaknya kemudian.

“Ini bukan permintaan, Gia. Ini perintah,” suara Marco merosot menjadi nada yang sangat mengancam. “Pindah sekarang, atau aku akan merobek gaun itu dan membuatmu makan di lantai.”

Gia menelan ludah mendengarnya. Dia tahu Marco tidak pernah menggertak. Dengan kaki yang masih terasa lemas, dia akhirnya berdiri dan berpindah ke pangkuan Marco.

Kain satin tipis itu langsung tersingkap saat dia duduk, membuat kulit pahanya bersentuhan langsung dengan celana kain mahal milik Marco.

Marco melingkarkan satu tangannya di pinggang Gia, dan menariknya lebih rapat hingga dada mereka bersentuhan. Tangan Marco yang satunya lagi masuk ke bawah meja, mulai menjelajahi paha Gia.

“Kulitmu sangat halus,” gumam Marco. Jarinya yang kasar kini bergerak naik, melewati batas kain satin dan menyentuh area sensitif di balik g-string tipisnya.

Gia tersentak, dan tangannya secara insting mencengkeram bahu kemeja Marco. “Marco ... berhenti. Pelayan bisa masuk kapan saja.”

“Mereka tidak akan masuk tanpa izinku,” jawab Marco tenang.

Matanya kini menatap tajam ke dalam mata Gia, seolah sedang menantang gadis itu untuk terus melawan.

Tangan Marco terus bergerak di bawah sana, memberikan tekanan yang membuat Gia sulit bernapas dengan normal.

Meski hatinya membenci pria ini, tubuh Gia mulai memberikan respons yang tidak bisa ia kendalikan. Napasnya menjadi pendek-pendek.

“Kau membenciku, tapi tubuhmu berkata lain, Little Bird,” desis Marco sambil menekan jarinya lebih kuat, hingga membuat Gia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang.

“Hentikan ... kumohon,” bisik Gia dengan suara gemetar.

“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Perhatian dari pria yang memegang kendali atas hidupmu?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 18: Pengakuan Keputusasaan

    Gia mendengus kasar, lalu membuang muka dari tatapan tajam Marco. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia telan.“Kau menang, Marco. Puas?” tanya Gia dengan nada datar. “Aku sudah lelah memikirkan cara untuk kabur. Untuk apa? Kau sudah mengambil segalanya. Bahkan orang-orang yang kupercayai sekarang sudah memakai seragammu dan makan dari tanganmu.”Marco tidak segera menjawab. Ia menatap Gia selama beberapa detik, mengamati setiap inci wajah istrinya yang tampak layu. Sebuah kepuasan dingin terpancar dari sorot mata abu-abunya.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak hingga Gia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau wiski tipis dari tubuh pria itu.“Bagus. Akhirnya kau mulai menggunakan otakmu,” ucap Marco. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Gia dengan ibu jarinya. Gerakannya terlihat lembut, namun tekanan yang ia berikan terasa posesif, seolah sedang menandai kulit yang me

  • Yes! Please, Daddy   Bab 17: Akan Pergi

    Gia terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di setiap persendian. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden terasa seperti ejekan bagi kondisinya yang menyedihkan.Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan, lalu menoleh ke arah meja rias. Marco sudah berdiri di sana, mengancingkan kemeja putihnya dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin.“Kau sudah bangun,” ucap Marco tanpa menoleh melalui cermin.Gia berdeham untuk menjernihkan suaranya yang parau. “Ke mana kau pergi semalam?”“Bukan urusanmu,” jawab Marco singkat. Ia meraih jam tangan mahalnya dan melingkarkannya di pergelangan tangan.Gia bangkit dengan perlahan, mengabaikan rasa perih di pangkal pahanya. “Aku ingin tahu nasib anak buah ayahku. Rio bilang kau merekrut mereka untuk perlindungan, tapi aku tidak melihat mereka di mana pun sejak semalam. Apa yang kau lakukan pada mereka, Marco?”Marco akhirnya berbalik. Wajahnya tampak segar, kontras dengan Gia yang terlihat hancur. “Merek

  • Yes! Please, Daddy   Bab 16: Penaklukan di Balik Tirai

    Tangan Marco yang besar itu kini mengunci kedua pergelangan tangan Gia di atas kepala dengan satu genggaman kuat.Pria itu tidak memberikan jeda bagi Gia untuk sekadar mengatur napas setelah perdebatan mereka. Berat tubuh Marco yang menindihnya terasa seperti beban beton yang menghimpit paru-parunya.“Kau terlalu banyak membantah hari ini, Gia,” ucap Marco dengan suara serak yang berbahaya. “Sepertinya kau lupa siapa yang memberimu perlindungan di rumah ini.”“Perlindungan?” Gia meludah ke samping, wajahnya memerah karena amarah. “Kau menyebut ini perlindungan? Kau mengurungku dan merampas martabatku!”Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merenggut pakaian yang tersisa di tubuh Gia hingga suara kain robek memenuhi keheningan kamar.Gia tersentak, mencoba menutup tubuhnya dengan kaki, namun Marco dengan kasar memisahkan kedua pahanya dan menempati ruang di antaranya.“Buka matamu dan lihat aku,” perintah Marco.Gia memejamkan mata rapat-rapat. Ia benci bagaimana jantungnya berdegu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 15: Larangan yang Terlanggar

    Gia mencoba mengatur napasnya yang memburu saat punggungnya masih terhimpit pintu kayu yang dingin.Dia kemudian menatap Marco dengan sorot mata menantang, mengabaikan fakta bahwa pria di depannya ini baru saja menunjukkan aura yang sanggup menciutkan nyali petarung paling tangguh sekalipun.“Jangan pernah berpikir untuk menghukum Rio atau siapa pun dari mereka hanya karena mereka bicara denganku,” suara Gia terdengar tajam.“Mereka adalah pengikut ayahku selama bertahun-tahun. Jika kau merekrut mereka, artinya kau harus menjamin keselamatan mereka. Aku istrimu, Marco. Aku punya hak untuk memastikan mereka diperlakukan dengan benar.”Marco hanya menatapnya datar. Ia melepaskan kancing kemeja di bagian pergelangan tangannya dengan perlahan, seolah kata-kata Gia hanyalah suara bising yang tidak berarti.“Hak?” Marco akhirnya bersuara, nadanya sangat rendah. “Kau bicara tentang hak di saat posisimu sendiri masih sangat goyah di rumah ini?”“Aku serius, Marco! Mereka sudah kehilangan sega

  • Yes! Please, Daddy   Bab 14: Kepulangan yang Menyesakkan

    Perjalanan pulang dari pesta terasa seperti siksaan yang tak berujung. Di dalam mobil, Marco tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia hanya menatap jalanan gelap melalui jendela, sementara Gia meringkuk di sudut kursi dengan pikiran yang berkecamuk. Informasi tentang ibunya terasa seperti racun yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.Begitu mobil berhenti di depan mansion, Marco langsung turun tanpa memedulikannya. Gia melangkah keluar dengan kaki yang masih terasa berat.Saat itulah, ia melihat sebuah siluet pria di dekat barisan mobil pengawal. Cahaya lampu taman yang kekuningan menimpa wajah pria itu.Gia tersentak. “Rio?”Pria itu menoleh. Ia mengenakan seragam pengawal klan Rossi, lengkap dengan lencana di dadanya. Rio adalah salah satu letnan kepercayaan ayahnya yang paling setia. Gia segera berlari menghampirinya, tidak memedulikan gaun sutranya yang terseret di atas kerikil halaman.“Nona Gia,” sapa Rio pelan. Lalu menundukkan kepala, namun matanya tidak berani menatap Gia langsung.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 13: Kebenaran yang Pahit

    Langkah kaki Gia bergema cepat di lorong samping yang jauh dari kebisingan aula utama. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang menyumbat dadanya.Lorong itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding bergaya klasik yang cahayanya mulai meredup. Dia baru saja hendak mencapai pintu keluar menuju balkon saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan menyentaknya ke arah dinding.“Lepaskan!” teriak Gia, namun suaranya langsung teredam oleh tubuh besar Marco yang memojokkannya.“Berhenti berlari, Gia. Aku tidak suka mengejar,” ucap Marco dengan suara rendah yang sangat tenang, namun mematikan.Gia menatap wajah Marco yang terkena bayang-bayang. Bercak darah dari tawanan di lorong tadi sudah dibersihkan, tapi aura kematian tetap melekat padanya. Gia tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian.“Kenapa? Takut kehilangan mainanmu di depan teman-teman mafiamu? Atau kau takut Katty akan merasa terganggu karena istrimu pergi?” desis Gia. “Kau menjijikkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status