FAZER LOGINGia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”
Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitmu yang pucat.”
“Kau hanya ingin menghinaku,” desis Gia saat sudah berdiri di dekat meja.
“Menghinamu? Tidak,” Marco berdiri dan berjalan memutari meja hingga dia berada tepat di belakang Gia.
Lalu meletakkan tangannya di pinggang Gia yang polos, dan menyentuh kulitnya yang terbuka. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di rumah ini, kau adalah milikku. Apa pun yang ada di balik kain ini adalah propertiku.”
Gia ditarik untuk duduk di kursi tepat di sebelah Marco, bukan di ujung meja yang lain. Sebelum dia duduk, dia sempat menatap bayangannya di pintu kaca lemari pajangan di samping meja makan.
Gia menelan ludah dengan susah payah. Di balik pantulan kaca yang remang, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang turunan Valerius.
Dia melihat seorang wanita yang kehilangan martabatnya; tubuhnya yang hampir telanjang terbungkus satin merah itu tampak seperti hidangan segar yang sudah siap untuk disantap oleh sang predator di sampingnya.
“Makan malamnya sudah siap. Makanlah,” ucap Marco datar sembari memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan hidangan.
Suasana makan malam itu sangat mencekam. Hanya terdengar denting alat makan yang beradu dengan piring. Gia mencoba fokus pada potongan daging di piringnya, namun dia tahu Marco tidak sedetik pun mengalihkan pandangan darinya.
“Kenapa kau tidak makan?” tanya Marco setelah beberapa saat.
“Aku tidak nafsu makan di depan pria yang membantai keluargaku,” jawab Gia dingin.
Marco meletakkan garpunya, lalu memutar kursinya ke arah Gia, hingga membuat lutut mereka bersentuhan.
“Kau masih menyimpan dendam itu? Sangat membosankan. Ayahmu kalah karena dia percaya pada orang yang salah. Itu bisnis, Gia. Bukan masalah pribadi.”
“Bisnis?” Gia menoleh dan matanya berkilat penuh amarah. “Kau menyebut nyawa mereka sebagai bisnis?”
“Dunia ini bekerja seperti itu. Yang kuat mengambil apa yang diinginkan,” Marco mengulurkan tangannya dan mencengkeram dagu Gia dan memaksanya mendekat.
“Dan saat ini, aku menginginkanmu untuk bersikap manis. Berhenti memberontak sebelum aku kehilangan kesabaran.”
Gia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Marco terlalu kuat. “Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah mengenakan pakaian pelacur ini untukmu.”
Marco menyeringai tipis dan melepaskan dagu Gia, lalu menepuk pahanya sendiri. “Pindah ke sini. Duduk di pangkuanku.”
Gia tertegun. “Apa? Tidak. Aku sedang makan!” tolaknya kemudian.
“Ini bukan permintaan, Gia. Ini perintah,” suara Marco merosot menjadi nada yang sangat mengancam. “Pindah sekarang, atau aku akan merobek gaun itu dan membuatmu makan di lantai.”
Gia menelan ludah mendengarnya. Dia tahu Marco tidak pernah menggertak. Dengan kaki yang masih terasa lemas, dia akhirnya berdiri dan berpindah ke pangkuan Marco.
Kain satin tipis itu langsung tersingkap saat dia duduk, membuat kulit pahanya bersentuhan langsung dengan celana kain mahal milik Marco.
Marco melingkarkan satu tangannya di pinggang Gia, dan menariknya lebih rapat hingga dada mereka bersentuhan. Tangan Marco yang satunya lagi masuk ke bawah meja, mulai menjelajahi paha Gia.
“Kulitmu sangat halus,” gumam Marco. Jarinya yang kasar kini bergerak naik, melewati batas kain satin dan menyentuh area sensitif di balik g-string tipisnya.
Gia tersentak, dan tangannya secara insting mencengkeram bahu kemeja Marco. “Marco ... berhenti. Pelayan bisa masuk kapan saja.”
“Mereka tidak akan masuk tanpa izinku,” jawab Marco tenang.
Matanya kini menatap tajam ke dalam mata Gia, seolah sedang menantang gadis itu untuk terus melawan.
Tangan Marco terus bergerak di bawah sana, memberikan tekanan yang membuat Gia sulit bernapas dengan normal.
Meski hatinya membenci pria ini, tubuh Gia mulai memberikan respons yang tidak bisa ia kendalikan. Napasnya menjadi pendek-pendek.
“Kau membenciku, tapi tubuhmu berkata lain, Little Bird,” desis Marco sambil menekan jarinya lebih kuat, hingga membuat Gia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang.
“Hentikan ... kumohon,” bisik Gia dengan suara gemetar.
“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Perhatian dari pria yang memegang kendali atas hidupmu?”
“Ya. Aku baik-baik saja.”Marco menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil mencoba menghalau rasa pening sekaligus rasa nyeri yang mendadak menyerang perut kirinya.Seringai miring sempat mencoba kembali ke sudut bibirnya, seolah ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa luka ini bukan masalah besar bagi seorang Rossi.Namun, Gia tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bersandiwara. Gia langsung memarahinya karena tidak nurut padanya sejak awal.Dengan gerakan taktis yang cepat, Gia bangkit sedikit dan menekan bahu kokoh Marco agar kembali bersandar sepenuhnya pada tumpukan bantal hospital."Sudah kubilang diam, Marco! Kau benar-benar keras kepala!" amuk Gia dengan suara tertahan, sepasang matanya menyala penuh amarah domestik yang bercampur aduk dengan kepanikan.Dia kemudian memeriksa tepian perban kasa di perut suaminya, memastikan tidak ada rembesan darah baru yang lebih parah akibat aksi nekat mereka tadi."Sekarang, aku meminta agar kau tidur! Jangan lagi meracau apalagi s
Gia langsung menatap Marco dengan tatapan kesalnya, membalikkan tubuhnya dengan sentakan taktis hingga mereka kini berhadapan langsung di bawah kungkungan selimut yang sama.Jarak di antara wajah mereka begitu kikis, menyisakan ruang tipis yang dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Gia mengangkat satu tangannya, menahan dada bidang Marco agar pria itu tidak merangsek lebih dekat."Berhentilah mengoceh, Rossi. Aku meminta agar kau diam dan sebaiknya tidur saja! Luka perutmu itu bukan dekorasi, itu bisa merembes lagi jika kau terus menguras energimu untuk bicara omong kosong!" sergah Gia dengan nada rendah yang ketus, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang mulai goyah akibat dekapan posesif dari suaminya.Marco menggeleng perlahan di atas bantalnya. Manik mata abu-abunya mengunci wajah Gia dengan tatapan yang begitu pekat dan intim, memancarkan aura dominasi yang melunak namun tetap tak terbantahkan. "Aku tidak bisa tidur, Gia. Dan aku bilang kalau aku belum menciummu ma
Malam hari tiba, suasana kamar rawat menjadi sangat sunyi. Kegelapan pekat di luar jendela berpadu dengan remang lampu nakas yang temaram, menciptakan atmosfer yang mampat dan sarat akan ketegangan domestik yang tertahan.Setelah seharian penuh dengan drama yang dibuat oleh Marco, energi Gia telah terkuras habis. Tubuhnya yang lelah mendambakan istirahat, namun matanya tetap waspada menjaga perimeter sekeliling mereka.Gia bersiap tidur di sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, menggelar selimut tipis dengan gerakan taktis yang efisien. Namun, pergerakannya terhenti seketika oleh suara bariton yang berat dari arah ranjang."Ke mana kau akan pergi, Gia?" tanya Marco dengan sepasang mata abu-abunya berkilat tajam di balik keremangan, memperhatikan setiap jengkal pergerakan istrinya. "Kemari. Tidur di sini."Gia lantas menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Sofa ini cukup nyaman untukku, Marco. Lagipula, kau butuh ruang untuk memulihkan tubuhmu."Namun Marco menolak dan
Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.
Hujan deras mengguyur luar rumah sakit, menciptakan atmosfer yang melankolis. Bulir-bulir air menghantam kaca jendela besar kamar rawat VIP dengan ritme yang konstan dan berat, mengaburkan pendar lampu-lampu kota di luar sana menjadi bayangan abu-abu yang redup.Di dalam ruangan, deru pendingin udara dan bunyi detak monitor jantung berbaur dengan suara gemercik hujan, menciptakan keheningan taktis yang mendalam pasca-insiden medis kecil beberapa saat lalu.Dokter jaga telah pergi setelah memberikan suntikan pereda nyeri tambahan pada selang infus Marco. Untungnya, jahitan operasi di perut kiri pria itu tidak sampai robek sepenuhnya, meski noda darah baru sempat merembes di tepian perban kasa yang baru diganti.Setelah insiden ciuman yang panas tadi yang berujung pada erangan kesakitan, Marco menjadi lebih tenang. Efek obat penenang ringan dari dokter mulai bekerja, menurunkan lonjakan adrenalin maskulinnya, namun tidak menidurkan kesadarannya.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya p
Gia menelan ludahnya seraya menatap wajah Marco yang sedang menuntut jawaban darinya. Jarak yang teramat kikis ini membuat Gia bisa merasakan embusan napas hangat Marco yang berbau maskulin alami, mengusik seluruh pertahanan taktis yang selama ini dia bangun.Tatapan abu-abu suaminya begitu tajam, menembus langsung ke ulu hatinya, menguliti setiap jengkal gengsi Valerius yang tersisa.Gia membuang muka dengan sentakan kecil pada lehernya dan bilang kalau Marco terlalu berlebihan. "Kau terlalu percaya diri, Rossi. Berada di bawah pengaruh obat bius sepertinya membuat otak taktismu bergeser menjadi penuh fantasi."Marco terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergetar di dalam dadanya, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di permukaan kulit dada Gia yang bersentuhan langsung dengannya."Kebohongan yang buruk, Mia Luna," bisik Marco, sebelum akhirnya membiarkan Gia menahan beban tubuhnya saat pria itu mencoba menegakkan punggung dengan ringisan samar.Dengan susah payah dan sisa tenag
“Ah, tidak. Tidak ada.”Gia dengan cepat memalingkan wajah, menghindari sorot mata Marco yang menguliti setiap gerak-geriknya. Dia tidak ingin memberikan kesempatan bagi pria itu untuk melancarkan interogasi atas tindakannya yang memalukan tadi.Tanpa menunggu Marco mengeluarkan kata-kata tajam, Gi
Marco tidak membiarkan Gia protes; ciumannya semakin membara, menekan bibir Gia hingga wanita itu terdesak ke arah pasir yang masih menyimpan sisa kehangatan siang.Jemari Marco yang kasar bergerak dengan ketangkasan seorang predator, membuka satu per satu kancing kemeja putih yang kebesar
Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi. Gia terjaga dengan napas yang masih sedikit berat, mendapati sisi tempat tidurnya sudah dingin dan kosong. Dengan hanya mengenakan bra hitam renda dan celana dalam senada, Gia bangkit sambil menyugar rambutnya yang berantakan.Dia menoleh ke kanan dan kiri,
Marco hanya memberikan senyum sinis yang terlihat seperti sayatan pisau di wajahnya yang tegas.Dia tidak berbalik, namun matanya tetap terpaku pada garis cakrawala yang mulai menggelap karena awan badai di kejauhan. Lalu, tawa rendah yang menyeramkan keluar dari tenggorokannya, sebuah suara yang m







