공유

Bab 172

last update 게시일: 2026-08-15 20:53:57

"Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan.

"Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.

Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.

Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya.

"Marco tidak selemah yang kalia
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Yes! Please, Daddy   Bab 172

    "Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan."Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya."Marco tidak selemah yang kalian bayangkan, Rio! Pikirkan siapa suamiku!" seru Gia dengan binar mata tajam.Gia masih sangat optimis kalau Marco masih hidup dan berada di suatu tempat di luar sana.Keyakinan itu membakar dadanya, menepis segala skenario terburuk yang baru saja dipaparkan oleh tim taktis."Dia pasti sedang mencari jalan pulang ke menara ini sekarang!" tegas Gia menyuarakan optimismenya.Gia menegaskan bahwa Marco bukan pria yang mudah dikalahkan oleh arus sungai atau luka-luka fisik, dan Marco pasti akan selam

  • Yes! Please, Daddy   Bab 171

    "Sialan... kakiku hampir mati rasa," desis Marco seraya menekan kedua telapak tangannya ke atas tanah basah yang dingin."Aku tidak boleh tumbang di tempat ini! Gia membutuhkanku!" bentaknya pada diri sendiri untuk memompa keberanian."Tahan rasa sakit ini, Marco! Berdiri sekarang juga!" serunya lagi memperingatkan ketahanan fisiknya.Meskipun kondisi fisiknya berada di batas kelelahan dan rasa sakit, rasa khawatir Marco terhadap keselamatan Gia menjadi pendorong utama yang memaksa tubuhnya bertahan.Bayangan raut wajah Gia yang memar akibat tamparan Albert terus berputar di dalam kepalanya, membakar sisa-sisa stamina di dalam tubuhnya."Aku datang, Mia Luna... Aku pasti kembali padamu," bisik Marco parau di tengah keheningan malam perbukitan.Marco mencoba beranjak dari posisi terbaringnya, bertumpu pada lututnya yang gemetar di atas tanah basah.Napasnya memburu kaku sewaktu kedua lututnya bergetar hebat menahan beban tubuh bidangnya yang bersimbah air dan lumpur."Argh! Dada brengs

  • Yes! Please, Daddy   Bab 170

    "Uhuk! Uhuk! Uhuk!""Brengsek... paru-paruku..." erang Marco parau seraya terbatuk-batuk hebat di atas tanah yang basah."Sialan, air sungai ini hampir menyiksaku sampai mati," desisnya seraya memuntahkan sisa air pekat yang memenuhi tenggorokannya.Jauh dari lokasi pencarian utama, di sebuah sudut perbukitan yang jauh dan curam di sepanjang aliran sungai bawah, tubuh Marco terdampar di antara bebatuan licin dan semak belukar.Marco mendadak terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air sungai yang memenuhi paru-parunya, sebelum akhirnya langsung membuka mata secara paksa di bawah remang cahaya bulan."Darah... bahuku tertembak lagi," gumam Marco memegang luka robek di dada dan lengannya.Kesadarannya kembali secara bertahap bersamaan dengan rasa nyeri yang membakar seluruh tubuhnya.Setiap helaan napasnya menimbulkan sensasi menusuk tajam pada tulang rusuknya yang terhantam setir mobil sebelum tenggelam."Di mana... di mana lokasi ini sebenarnya?" tanya Marco pada dirinya sendiri dengan pand

  • Yes! Please, Daddy   Bab 169

    "Nyonya Gia, Anda harus tetap bertahan! Pikirkan calon penerus klan Rossi di dalam kandungan Anda!" seru Rio tegas."Bagaimana aku bisa bertahan, Rio?! Suamiku ada di dasar sungai itu!" balaskan Gia dengan suara serak dan air mata yang terus mengalir."Tuan Marco bukan pria yang mudah mati oleh arus air, Nyonya! Percayalah pada suamimu!" pangkas Rio mencengkeram bahu Gia untuk memberi kekuatan.Di tengah kegelapan malam yang kian larut dan keputusasaan yang mulai menguasai Gia, Rio berdiri kokoh di samping istri tuannya untuk memberikan dukungan moral di tengah situasi yang kritis.Rintik gerimis mulai membasahi permukaan jembatan beton yang hancur, namun Rio tidak bergeming sedikit pun dari posisinya melindung Gia."Saya kenal Tuan Marco sejak dia masih kecil, Nyonya Gia. Dia sudah melewatinya berkali-kali!" bisik Rio dengan nada suara berat nan mantap."Tapi malam ini berbeda, Rio! Mobilnya tenggelam dan kabinnya kosong!" potong Gia dengan napas yang memburu sesak."Justru karena ka

  • Yes! Please, Daddy   Bab 168

    "Nyonya Gia, angin malam di tepi jembatan ini semakin dingin dan buruk untuk kondisi Anda!" panggil Rio dengan nada cemas sembari mendekatkan mantel tebal ke bahu Gia."Bawa jauh-jauh mantel itu, Rio! Aku tidak butuh kain hangat!" tebas Gia tanpa menoleh sedikit pun dari tepi tebing."Tolong pikirkan kesehatan Anda dan calon anak Tuan Marco, Nyonya!" bentak Rio pelan dengan mata berkaca-kaca menatap ketegaran istrinya tuannya.Waktu terus bergulir hingga malam semakin pekat dan gelap, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Marco dari dasar sungai yang terus disisir oleh lampu sorot tim penyelamat.Cahaya putih dari helikopter SAR membelah kegelapan air, tetapi yang terlihat hanyalah pusaran arus yang mengerikan tanpa ada puing mobil yang muncul."Pusaran di sektor tengah terlalu kuat! Kami belum bisa menurunkan penyelam ke dasar sungai!" teriak komandan tim SAR melalui megaphone dari seberang tebing."Cari sampai ketemu! Gunakan semua jangkar dan jala taktis yang kalian miliki!" perin

  • Yes! Please, Daddy   Bab 167

    "Nyonya Gia! Jangan terlalu dekat dengan tepi jembatan!" teriak Rio panik sembari berlari kencang mendekati posisi wanita itu."Lepaskan aku, Rio! Marco ada di bawah sana!" jerit Gia histeris membuang tangan pengawal yang mencoba menahannya."Struktur jembatan ini rapuh, Nyonya! Sangat berbahaya!" peringat Rio tegas sembari menjaga jarak aman di belakangnya.Setelah Albert roboh tak bernyawa di atas aspal, Gia tidak memedulikan kondisi fisiknya yang masih lemah dan langsung berlari menuju ujung jembatan yang pembatasnya telah hancur.Langkah kakinya yang gemetar tersandung sisa pecahan kaca dan puing beton, namun dia terus memaksa tubuhnya maju hingga ke bibir tebing."Marco! Jawab aku, Marco!" teriak Gia dengan suara serak menembus kegelapan malam yang pekat.Dari tepi tebing yang curam, Gia menatap lurus ke dasar sungai di mana mobil yang digunakan Marco sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam gulungan air yang pekat dan deras.Hanya ada pusaran air kemerahan bercampur oli dan gelembung

  • Yes! Please, Daddy   Bab 6: Perintah Mutlak sang Penguasa

    Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non

  • Yes! Please, Daddy   Bab 5: Ancaman untuk si Kecil yang Pembangkang

    Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 4: Eksekusi di Depan Mata Gia

    “Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 3: Aturan sang Penguasa

    “Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status