Share

chapter 21

Author: Senjaku
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-18 12:01:44

Zahra menguatkan sang suami, memegang pundak Aditya. Jelas terlihat bergetar karena tangis yang ditahannya. Walaupun hatinya sendiri terasa hancur saat ini karena kehilangan Arsya. Tapi tidak sesakit Aditya saat ini tentunya. Sudahlah anaknya hilang, ternyata pelakunya orang yang paling ia sayang dan percaya dalam hidupnya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam keluarganya. Kenapa menjadi seperti ini. Dulu, keluarga Aditya sangat tenang. Ibunya hanya sibuk berkumpul dengan ibu - ibu sosialit
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 28

    "Kerja kalian apa??!! Disuruh menjaga bayi saja tidak becus!!" Wina berteriak memarahi anak buahnya. Matanya merah menyala."Maaf Bu" mereka menunduk ketakutan. Bagaimana tidak, dalam perjanjian disebutkan kalau uang yang mereka terima harus di kembalikan kalau sampai pekerjaan mereka gagal."Ternyata mereka tidak bisa dianggap remeh. Aditya, berani kamu menantang saya!" Gerutu Wina."Agung..!" Wina memanggil sang asisten yang berdiri 1meter dibelakangnya."Iya Bu?""Siapkan mobil, kita akan pergi ke suatu tempat" Wina memicingkan matanya."Siap Bu" jawab sang asisten.Ditempat lain, ada Ine yang hari ini menghabiskan waktunya seharian dirumah saja. Setelah menghilangnya Arsya, Ine tidak ingin membuat curiga Aditya dengan bersenang - senang di luar rumah. Sementara waktu, dirinya harus menahan hobby nya berbelanja dan traveling. Beberapa karyawan salon langganannya, khusus dipanggil untuk melayaninya perawatan dirumah. Selain spa massage, Ine juga minta eyelash dan menicure pedicure.

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 27

    "Hati - hati ya, salah gerak sedikit saja bisa - bisa anak itu curiga kalau kamu bukanlah ibu kandungnya" ucap seseorang di ujung telpon berbincang dengan Ine. Terdengar jelas saat Zahra memakai benda kecil di telinganya. Berharap hanya dirinya yang bisa mendengar percakapan itu untuk saat ini.Mata Zahra membulat mendengar itu. Dirinya lantas menekan tombol recorder agar bisa di simpan ke galery. Siapa tahu, suatu saat dibutuhkan.*Suara Ine tertawa terbahak, membuat Zahra merinding mendengarnya."Mana mungkin anak itu curiga, dia itu bodoh sama seperti ibunya dulu! Kalau ada yang berkata buruk tentangku, aku tinggal pasang muka sedih. Dia pasti luluh. Aditya seperti anjxng peliharaanku bang haaa haaa" laki - laki itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Ine."Ya tuhan, penemuan apa lagi ini. Gila, mana bisa ku kasih tahu ini pada mas Aditya. Dia pasti syok berat. Tapi siapa yang di panggil bang oleh mama Ine?""Kenapa sayang?" Tiba - tiba saja Aditya merangkul pundak Zahra membuatnya g

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 26

    BUUGGHHSuara tubuh Zahra terjerembab ke lantai sebuah gedung. Ia terpaksa loncat dari jendela, demi menghindari suara berisik beberapa orang yang mencari dirinya."Siapa kira - kira yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku? Sepertinya Surya tidak bohong masalah itu. Terus yang tadi siapa, orang - orang yang mencariku? Mereka suruhan orang jahat atau justru suruhan mas aditya?" Banyak sekali pertanyaan bersarang di kepala Zahra.Baru saja hendak melangkahkan kakinya, seseorang memiliki tangan yang kekar menutup mulutnya dengan kuat. "Anjiir, siapa lagi ini? Jangan - jangan dia penjahatnya"Sekuat tenaga Zahra menggigit jari pria itu. Kakinya yang memakai heels di hentakkan pada kaki orang di belakangnya."Aaauw..auwww sakit. Sayang astaga, ini aku!!" Aditya melepaskan tangannya dari gigitan Zahra. Pria tampan itu, meringis kesakitan karena ulah istrinya sendiri."Ma maaf mas, maaf..aku nggak tahu. Ku kira orang jahat" ucap zahra menyesal. Tangannya coba meraih tangan Aditya yang te

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 25

    POV Author"Sombong amat mentang - mentang sudah punya istri, cuek banget sama aku" ucap Silvia di dekat telinga Aditya. Ucapannya memang tidak terdengar karena suara musik yang menggema di seluruh ruangan. Karena itu Silvia sedikit meninggikan suaranya, dan mendekat pada telinga mantannya. Dokter tampan yang sejak dulu menjadi incarannya."Jangan gila kamu silvia. Sejak dulu sikapku memang begini. Tidak ada yang berubah. Bedanya sekarang aku harus lebih menjaga perasaan istri ku" jawab Aditya masih coba tersenyum. Meskipun sebenarnya sangat tidak nyaman berdekatan dengan Silvia. Karena gadis itu ada saja ulahnya mendekati Aditya. Sesekali berbisik ditelinganya. Bahkan menempelkan dagunya di atas bahu Raditya. Tapi dokter muda itu masih menahan diri, karena ayahnya meminta Raditya menemani para tamu nya salah satu disitu adalah Silvia.Silvia memainkan minuman di gelas berkaki yang dibawanya. Tangannya tidak lelah meraba lengan Aditya atau sesekali bergelayut di sana."Apa kamu benar

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 24

    "ini dia, couple of the year kita tahun ini!! Tuan muda Aditya hermawan and his gorgeous wife nona cantik Zahra Adelia. beri tepuk tangan yang meriah semuanya..!!" Ucap seorang pria tampan dengan setelan rapi, pemandu acara ini. Semua yang datang, memberikan tepuk tangan riuh bersorak memenuhi ruangan."Thank you semuanyaaa..thank you.." jawab mas Aditya, sementara aku hanya senyum - senyum saja. Kita memasuki deretan orang - orang yang sama sekali tak ku kenal. Tapi aku tetap harus terlihat ramah dan hormat pada mereka. Karena pasti yang hadir, orang - orang penting di perusahaan papa Hermawan otomatis akan menjadi kolega suamiku juga nantinya.Mas Aditya tampak elegan berbalut setelan jas dengan kemeja berwarna biru langit, sangat serasi dengan gaunku di atas lutut dengan warna senada. Sengaja di pesankan mas Aditya dari perancang ternama yang karyavnya sudah terkenal sampai ke luar negeri . Aku bahkan sering melihatnya mondar mandir di acara televisi yang dulu sering ku tonton.T

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 23

    Kriing..kriing..Netra ku dan mas Aditya beradu. Kala suara ponselnya tiba - tiba berbunyi. Entahlah, saat - saat seperti ini terasa begitu menegangkan."Papa.." mas Aditya menunjukkan nama kontak yang tertera di layar benda pipih miliknya. Ku gerakkan jari kelingking Adan jempolku ke telinga, agar mas Aditya segera mengangkatnya."Ya pa..?" Jawab mas Aditya menekan tombol loudspeaker agar aku bisa ikut mendengar percakapan mereka.Sementara tangan satunya mengangkat telpon,tangan satunya iseng meremas - remas gundukan didadaku pergantian. Milikku yang sedari tadi terasa berkedut nyeri karena sehari semalam tidak menyusui Arsya. Kini terasa lebih rileks, menyalurkan aliran hangat bak sengatan listrik ke seluruh tubuhku. Kalau saja tidak takut kedengaran papa Hermawan diseberang telpon, ingin rasanya aku melenguh sekencangnya."Adit, kamu lagi dimana? Papa lagi ada acara makan bersama di kantor sebagai ucapan selamat atas pernikahanmu dari para karyawan. Kalau ada waktu, ajak istrimu m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status