LOGINSetelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hatinya masih saja merasa sendirian.
AAAAAAAAA!! PRAAANKKK..PRAAANKKK ... Berteriak histeris Wina membuang semua barang nya ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana - mana. Padahal dia selalu berusaha keras untuk bisa dicintai dan dibanggakan. Bahkan diuniversitas, dia lulus dengan nilai terbaik. Namun kenapa dirinya selalu merasa sendirian. Tokk..tokkk..tokk "Wina.." Tokk..tokk..tokkk "Wina, ini ibu. Kamu baik - baik saja win? Tolong buka pintunya" panggil ibunya yang baru saja datang dari luar. Ada pertemuan ibu - ibu istri pengusaha yang harus ia hadiri. Ceklekkk!! "Ya allah..ada apa wina? Kenapa semuanya berantakan seperti ini. Apa ada masalah dengan wisudanya? Bukannya kamu sudah minta tolong mang daus dan istrinya, buat jadi pendamping acara wisudamu" tanya Bu Widya yang kini duduk dipinggiran kasur. Wina mengangkat satu ujung bibirnya. Kedua tangannya bersedakep didepan dada. "Ibu tahu gak kalau aku lulus dengan nilai cumlaud?" Tanya wina menatap ibunya nyalang. "Belum, kan ibu baru datang. Ini juga niatnya kesini mau tanya soal itu" Bu Widya masih mencoba tenang. Namun dengan gerakan cepat, Wina yang sedang dipenuhi emosi mendekati Widya lalu mencekik lehernya. Matanya merah menyala penuh amarah. "Bisa tidak sekali saja ibu peduli padaku seperti ibu peduli sama mas Arya. Ayah yang membawaku ke sini Bu. Bukan atas kemauanku sendiri. Tapi kenapa kalian selalu saja tidak pernah menganggapku ada. Arya..Arya terus yang ibu banggakan. Aku sudah berusaha keras untuk menjadi yang terbaik tapi tidak pernah cukup Dimata ibu" "Uhukk uhukkk.." Widya berhasil melepas cekikan tangan Widya. Tidak hanya disitu, Wina masih terus saja mengincar Widya karena keegoisannya. Ia masukkan bubuk ke dalam minuman Widya hingga jatuh sakit dan meninggal. "Sepertinya ini ulah non Wina pak. Ada rekaman cctv nya" bisik ajudan pak Wirya. "Jangan sampai ada yang tahu. Hapus semua barang bukti. Arya jangan sampai curiga. Biarkan dia fokus menyelesaikan pendidikannya" perintah pak Wirya. Pria yang selalu mengutamakan nama baik keluarga demi kelangsungan perusahaannya. Dia tidak sadar, membesarkan ular selicik Wina bisa membuatnya dalam bahaya. Sampai akhirnya Arya menikahi seorang wanita bernama Anne. Dan melahirkan seorang putri bernama Erlita Putri dirgantara. Arya dipercaya menjadi direktur utama menggantikan pak wirya. Sementara Wina menjadi manager keuangan sesuai jurusan fakultas yang diambilnya dulu. Sempat menikah dengan seorang lelaki yang dianggapnya akan memberikan kebahagiaan, namun ternyata pernikahan Wina pun kandas ditengah jalan. Itulah yang membuat Wina lebih iri dengki pada kejayaan Arya sang kakak. Saat Erlita kecil berumur 5 tahun karena struk, pak Wirya pun akhirnya meninggal dunia. "Ayah..jangan pergi yah. Aku tidak punya siapa - siapa lagi selain ayah" tangis Wina mengiba pecah didepan para peziarah. Namun alangkah kecewanya Wina, saat notaris membacakan pembagian harta warisan. Sebagian besar harta ayah dan ibunya diberikan kepada Arya sebagai anak laki - laki. Sementara Wina mendapat seperempat bagian saja. Gemerutuk suara gigi beradu. Didalam kamar yang sepi, Wina merutuki nasibnya. Kebenciannya pada Arya sudah membuncah dikepala. Kakaknya itu selalu lebih beruntung dalam hal apapun. Bahkan sekarang, tanpa perlu bekerja keras Arya mendapatkan semua perusahaan milik sang ayah. Begitulah waktu terus berjalan, hingga kematian Arya dan sang istri pun tidak luput dari ulah Wina. Satu - satunya yang harus dia singkirkan untuk menguasai semua harta Arya adalah Erlita. Dan ternyata untuk itu dia tidak harus bekerja keras. Erlita pre eklamsia saat hendak melahirkan. Sehingga dokter harus segera mengoperasinya. Diluar dugaan, setelah bayinya lahir Erlita mengalami pendarahan hebat hingga tidak bisa diselamatkan lagi. "Terimakasih tuhan, keberuntungan selalu menyertai aku haaahaaha" Wina tertawa puas. "Salah siapa kak? Punya adik secantik aku, malah menikahi si Anne. Sekarang keluargamu musnah semua" gumamnya lagi, menenggah anggur merah ditangannya. Melayang pikirannya mengingat saat masih diakhir masa kuliah. Karena tidak bisa mengalahkan kakaknya Dimata kedua orang tuanya. Wina coba untuk merayu Arya. Toh mereka bukan kakak kandung. Kalau Arya mau menikahinya, pasti hidupnya akan sempurna. Semua milik Arya juga akan menjadi miliknya. "Kak, aku lagi kepingin. Mumpung ayah ibu keluar kota" rayu Wina sengaja memakai piyama dari bahan menerawang, menguji hawa nafsu kakaknya sebagai pria normal. Tangan nakalnya tanpa malu menggerayangi bagian perut kakaknya hingga ke pusaka bagian bawah. Arya menelan salivanya, namun tersadar ada kekasihnya yang akan sangat kecewa kalau sampai ia melakukan ini dengan adiknya sendiri. Perlahan Arya mencekal tangan wina,. Menghentikan pergerakannya. Keringatnya berkucul menahan hormon kelelakiannya. "Hentikan win, aku ini kakak kamu. Lagian aku akan menikahi Anne kalau aku lulus nanti" tolak Arya, membuat Anne harus menelan kekecewaan. *** "Ya tuhan.." suara dokter aditya mengagetkanku. Mungkin karena aku mengenakan baju dikamar kosong yang ditunjuknya. Atau ada yang salah denganku. "Besok lagi kalau lagi menyusui Arsya, tutup aja pintunya" ucapnya. Membuat pipiku jadi memerah karena malu. Rupanya dia kaget melihat aku sedang menyusui. Memang sebagian buah dadaku tidak tertutup waktu dihisap oleh anaknya yang tampan. Segera ku balikkan badanku. Kebetulan aku menyusui Arsya dengan posisi duduk. "Ma maaf dok..saya lupa" aku sungguh malu pada dokter Aditya. "Ta tapi kenapa dokter masih berdiri disini. Sana keluar dulu. Saya jadi malu dokter" ucapku sebelum akhirnya dokter Adit memberikan lain sebagai penutup bagian dadaku saat Arsya sedang menyusu. Disaat seperti ini kenapa hatiku rasa deg - degan. Rasa yang aneh, aku belum pernah menyusui seorang bayi. Ini kali pertama aku menyusui Arsya, dan dilihat oleh dokter Adit. Malu sekaligus berdebar. Mungkin karena belum terbiasa. "Kuat Zahra, hanya sampai Arsya berumur 2 tahun dan tugasmu selesai" gumamku dalam hati. "Aku mau keluar, kalian baik - baik dirumah" pamit dokter Aditya. "Mau kemana? Ini kan sudah malam" ku tutup mulutku dengan tangan kanan. Entah kenapa mulut ini tiba - tiba nyeletuk sok perhatian. Kalau sampai dokter Aditya marah, matilah aku. "Ada undangan ulang tahun" jawabnya singkat lalu pergi meninggalkan aku dan Arsya. *** POV Aditya [Jangan lupa hari ini ada undangan zicko ulang tahun di twenty one] Sebuah pesan dari aldi, sahabatku sejak kuliah. Sebenarnya malas keluar malam, semenjak punya Arsya. Tapi gak enak juga kalau gak datang. Sementara mereka selalu paling antusias setiap aku ulang tahun. Aku bersahabat sama mereka sudah sejak sekolah menengah atas. Sebelum pergi , kulihat ke kamar Arsya dulu memastikan anak semata wayangku itu apakah sudah tidur atau masih melek. Biasanya aku akan berpamitan dan mencium pipi embulnya dulu sebelum pergi. Alangkah kagetnya aku, melihat Zahra menyusui Arsya bagian dadanya terpampang nyata dihadapanku. "Ya tuhan.." entahlah, kenapa ucapan itu yang mencelos dari mulutku. Sekuat tenaga ku tahan keinginanku menelan Saliva dihadapan Zahra. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti itu. Sejak istriku Erlita hamil, dia selalu sakit - sakitan dan lemah. Karena itu kami tidak pernah melakukan aktivitas suami istri. Apalagi setelah melahirkan, Erlita malah pergi meninggalkan aku dan anak kami untuk selamanya. Ada rasa hangat bergelenyar diperutku. Seperti ribuan kupu - kupu menyerang. Gegas ku pamit pada Zahra, lalu pergi meninggalkan apartemen. Aku bahkan tidak sempat mencium Arsya, karena takut Zahra tidak nyaman. Sesampainya ditempat yang ditunjuk oleh mereka, aku disambut dengan banyak sekali teman masa SMA ku. Salah satunya ada silvia mantanku. Penampilannya sangat berbeda kali ini. Silvia datang dengan gaun sepaha, press body berwarna merah cabe. Hells yang dipakainya dengan gaya rambut Curly membuatnya nampak seksi. "Apa kabar?" sapa Silvia,mendekat ditelingaku. Karena suara musik yang keras, membuat suara kita kurang terdengar jelas. Atau memang dia sengaja menggodaku. Kalau untuk menggoda, aku sudah tak ada rasa dengannya. Perasaanku masih untuk Erlita. "Baik! Kamu gimana? Mana suamimu?" Tanyaku balik. "Aku belum nikah, masih nungguin kamu" mengerlingkan satu matanya padaku lalu menenggak wine yang ada ditangannya. "Ayo naik. Ngapain disini?!!" Zicko Aldi menarik tanganku ke tengah area dance. Demi menghargai mereka, aku ikut saja ajojing bareng mereka. Menikmati candaan zicko dan Aldi yang terus saja mengocok perut. Lelah mengikuti aksi zicko dan Aldi, aku mencari tempat duduk. Menyandarkan bobot tubuhku ke sofa dipojok ruangan. Menikmati musik mengalun. Sudah lama rasanya tidak menikmati hal semacam ini. "Hai dit, nih minum. Kamu pasti haus" Silvia menyodorkan segelas minuman. Langsung saja ku tenggak tak bersisa. Sial, Silvia pasti memasukkan sesuatu dalam minumanku. Kepalaku mendadak pusing. Rasa panas menyerang sekujur tubuhku, rasanya seperti ingin membuka baju. Apalagi bagian tengah intiku, seperti mengeras. Berontak ingin keluar dari sangkarnya. "Gimana dit? Ke rumahku aja atau ke hotel? Aku siap puasin kamu" bisik manja Silvia ditelingaku. Tanpa malu lidahnya sudah bergerilya dileherku. Tangannya cekatan menggerayangi dadaku. Dengan kasar dan nafas tersengal, ku hentak tangan Silvia. Aku harus pergi dari sini atau menjadi santapan Silvia yang garang. "Kemana dit?" Tanya zicko dari kejauhan. Ku lambaikan saja tanganku Tampa menoleh kebelakang. Sampai diparkiran langsung ku tancap gas mobilku. Bertelanjang dada sepanjang jalan, bahkan dinginnya AC mobil tak membuat hilang rasa panas yang merasuk dalam tubuhku. Bibirku terasa sangat kering dan kehausan. Ada rasa yang ingin dipuaskan. "Silvia bangsat!!" Teriakku memukul kemudi. BRAAAKKKKK!! Ku buka pintu apartemen. Ingin segera berlari ke kamar mandi, siapa tahu dengan mengurung diri dikamar mandi semua efek minuman tadi bisa hilang. Hampir sejam aku mengurung diri hingga menggigil. Tokkk.. tookkk.. Tokkk..tokkk.. "Dokter.." Tokkk..tokkk.. Pasti Zahra khawatir, mendengar suara gemericik air sejak tadi. "Jangan kesini" teriakku. "Dokter kenapa? Sudah satu jam didalam, nanti dokter bisa sakit" ucapnya "Pergiii!!" Teriakku. Ceklekkk!! Perempuan polos ini, kenapa justru masuk ke kamar mandi. Apa dia tidak tahu, aku bisa saja menerkamnya tanpa sadar. "Ya Allah dokter kenapa?" Zahra menarik tanganku yang menyilang didepan dada. Memeluk diriku yang sedang sekuat tenaga menahan hawa aneh. "Zahra, bantu aku" ucapku lirih. Entah setan apa yang sudah merasuki ku. "A apa? Apa yang bisa ku bantu?" Gadis itu kebingungan. Tanpa banyak kata, ku tarik tubuhnya hingga terduduk dipangkuanku. Dibawah guyuran air shower, ku lahap dengan rakus bibir mungilnya. Perasaan ini tak bisa ku hentikan. Apa karena Zahra memakai baju Erlita, sehingga aku terbawa perasaan. Atau sejak awal aku memang sudah tertarik dengan gadis polos ini. "Dokter, ehmm jangan dok" ucapnya menolak. Tangan kecilnya berusaha mendorong dadaku ingin berlari. Namun tangan kekarku mengunci pergerakannya. Tidak sampai disitu, gundukan yang tadi tak sengaja ku lihat dikamar Arsya kini menjadi santapan liarku. Ku lucuri semua pakaian yang membungkus tubuh indahnya. "Ja jangan dokter ehmm.." Secepat kilat, hal indah itu pun terjadi. Aku seperti kuda liar yang mencari puncak kenikmatannya. Zahra tak mampu berkutik, ku kungkung dibawah dada bidangku. Setiap penolakannya berubah menjadi lenguhan, dengan mata terpejam. Hingga kami terkulai lemas. Dan sakit kepalaku pun berangsur sembuh. *** Ku lirik jam diponselku, menunjukkan jam 8 pagi. Ah gilla, aku ada praktek setengah 9. Gegas ku bersiap untuk berangkat kerja. Kalau tidak macet, mungkin telat sepuluh atau dua puluh menit. ku lihat kamar Arsya masih tertutup. Tidak ada masakan dimeja makan. Hanya roti tawar dan selai juga keju yang biasa tersedia disana. Pikiranku melayang, teringat aku dan Zahra berbagi peluh. Seperti sebuah mimpi. Gadis itu pasti sangat marah padaku kali ini. Ya tuhan, ini semua karena ulah Silvia. Lagian Zahra, aku sudah memperingatkannya untuk pergi. Dia malah malah memaksa masuk. Perasaan bersalah, menyeruak kuat dihatiku. Tapi bagaimana aku bisa kerja dengan keadaan seperti ini. Bukankah aku harus membicarakannya dengan Zahra."papa boleh ketemu ibumu gak, dit?" tanya hermawan, merasa bersalah. Teringat masa lalu, kala itu pertengkaran antara dirinya dan ayu sarah terjadi. "pergi dari sini kau ayu, aku tidak sudi melihat mukamu lagi" teriak hermawan. dengan mata sembab, bahkan suaranya yang serak ayu sarah berucap "aku sudah berusaha jujur padamu mas, tapi kamu lebih memilih percaya pada orang lain. suatu saat, allah akan menunjukkan siapa yang berbuat jahat sebenarnya. dan ketika itu terjadi, kamu mungkin sudah tidak punya kesempatan untuk menyesal atau bahkan hanya untuk 2mendapat maaf dariku pun tidak!" "Boleh aja, tapi Adit harus tanya ibu dulu.lagian, katanya tadi papa mau kel Louar negeri. Gimana sih?'" jawab Aditya, membangunkan Hermawan dari lamunan. "Masih tengah malam perginya. Kalau ayu Sarah mau ketemu, masih ada waktu beberapa jam lagi. Papa tunggu kabarnya ya" ujar Hermawan, sebelum mereka menyudahi sambungan telponnya. Ceklekkk!! Seorang perempuan muda, membuka pintu kamar VVIP yang dite
Kriiing..kriiing.. Ponsel Aditya terus - terusan menjerit, saat dirinya sedang di parkiran bersama ibunya. "Ibu masuk dulu ya! Adit mau angkat telpon sebentar" pinta Aditya pada ibunya. Ayu Sarah pun mengiyakan. "Ya, halo! Gimana sil?" Sapa Aditya , saat melihat nama Silvia yang muncul dilayar pintar miliknya. "Dit, gimana kabar papa kamu? Apa sudah baikan?" Suara Silvia serak, seperti orang sakit. "Sorry banget sil, hari ini gue juga belum ke rumah sakit. Jadi belum lihat perkembangan papa sama. Nanti ya, selesai praktek, gue jenguk papa. Gue update ke Lo ,oke?" Aditya mengerti, hubungan papanya dan Silvia pasti sedang mengalami masa sulit. Terbukti suara Silvia sampai serak, bisa jadi karena habis nangis. "Oke, dit! Makasih banyak ya" ucap gadis itu, lalu mematikan sambungan telponnya. "Siapa nak?" Tanya ayu Sarah, setelah Aditya masuk ke dalam mobil. "Oh, teman Adit Bu. Nanyain kabar papa, karena kebetulan papa lagi dirawat di rumah sakit" Aditya menjelaskan. Menatap lekat sa
"kenapa kesini lagi? Mau marah - marah lagi?" Ketus Ine, saat mendapat kunjungan dari sang kakak. "Tentu saja tidak. Aku kesini, cuma mau minta maaf. Mungkin kemarin, aku terlalu emosi. Sudahlah kita lupakan saja masa lalu. Aku akan mencoba berubah. Akan ku awali dengan mencari pekerjaan. Dari dulu, aku selalu mengandalkan uang darimu. Maafin kakak ya.." Ine tersentuh mendengar ucapan Ndaru. Tapi, dia pun sangat tau karakter kakaknya. Kalau Ndaru memasang muka orang baik - baik, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu darinya. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ine, coba mencari kebenaran dari yang ia pikirkan. "Emmm, aku mau minta biaya hidup selama mencari pekerjaan ne. Sekalian ini, perusahaan ini kamu tau kan? Aku bisa kan diterima, pakai jalur dalam?" Ndaru menyodorkan amplop coklat ala pelamar kerja, pada Ine. "Kak, bukannya gak mau kasih. Aku mana ada uang. Semua ATM dan kredit card aku, dibekuin sama Hermawan. Aku sekarang ini sudah jadi gembel kak. Apalagi bantuin kakak ca
"Adit, apa ibu boleh bertemu Ine?" Pertanyaan ayu Sarah, mengagetkan Aditya yang sedang manikmati pisang goreng keju buatan istrinya. "Uhukk uhukkk" Aditya menepuk - nepuk dadanya yang sakit, karena tersedak. "Ya Allah nak, hati - hati kalau makan. Nih minum dulu!" Ayu Sarah menyodorkan segelas air putih untuk anaknya. "Ibu ngapain mau ketemu dia? Adit gak mau ibu kenapa - kenapa. Lagi pula, dia sudah menerima hukuman yang setimpal" Aditya membuang nafas kasar. "Insyaallah ibu gak kenapa - kenapa. Ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan padanya. Anterin ibu ketemu Ine ya, besok" desak ayu Sarah. Aditya pun, tak bisa lagi menolak keinginan ibunya. "Kenapa mas? Kok mukanya gitu" Zahra yang sedang menggendong Arsya, menelisik wajah masam suaminya. "Kenapa, Bu?" Imbuhnya, meberganti menatap mertuanya. "Enggak kok sayang. Ini ibu, minta di antar ketemu mama ine. Aku kurang setuju sebenarnya. Tapi karena sepertinya ibu ada urusan penting dengannya, ya sudah besok mas anter aja. Kebetulan
"Aditya!" Ayu Sarah, dengan mata berkaca - kaca memanggil putra yang begitu dirindukan. "Bu!" Aditya mencium takdzim punggung tangan, ibunya. Wanita berjilbab krem susu itu, nampak lebih sehat pagi ini. Aditya begitu bersyukur, bisa menemuinya pagi ini. Jari jemari Aditya menyeka, embun yang menetes di pipi ayu Sarah. "Ibu sudah dilarang menangis, sekarang. Bolehnya hanya bahagia. Ya, Bu?" Ucap Aditya, membuat air mata ayu Sarah semakin deras mengalir. Aditya meraih tubuh ringkih ibunya, kedalam dekapan. "Maafin Aditya Bu. Karena baru tau, keberadaan ibu. Pasti sangat sesak berada disini, selama ini" sesalnya. "Sudahlah, ibu tidak apa - apa. Jangan pernah menyalahkan dirimu, atas apa yang terjadi. Ini semua terjadi, karena Allah mengizinkan semuanya terjadi" "Yang penting, sekarang kita bisa sama - sama lagi. Ibu gak pernah membayangkan, kalau akhirnya bisa melihatmu lagi. Dulu keadaannya sangat rumit" ayu Sarah, meraih wajah Aditya dengan kedua tangannya yang gemetar hingga Adity
Kriiing..kriiing Silvia memicingkan mata, melihat nama siapa yang keluar di layar pintarnya. Sang mantan kekasih, yang mungkin saja akan menjadi anak tirinya suatu saat. Kriing..kriiing.. Suara bunyi ponsel, sekali lagi membuatnya tersadar dari lamunan. "Halo, dit!" Menahan rasa malunya karena sudah memacari ayah dari mantannya sendiri, Silvia tetap menyapa Aditya. "Halo! Lo lagi dimana?" Tanya Aditya, setelah mendengar suara seorang wanita di ujung telpon. "Lagi di kantor. Kenapa ya?" Ujar silvia, penasaran. "Papa kecelakaan, dari tadi manggil nama Lo. Ini kita lagi di rumah sakit intani. Kira - kira, Lo bisa kesini gak?" Tanya Aditya, berharap Silvia bisa datang karena ayahnya yang terus - terusan memanggil namanya. "Astaga, serius dit? Tolong share lokasi ya. Gue kesana sekarang" ucap Silvia, lalu menutup sambungan telponnya. Aditya segera mengirim lokasi dimana mereka berada sekarang. "Gimana mas? Silvia mau datang?" Tanya Zahra yang sedang bersiap untuk pulang. Tadinya m
"Bu ayu sehat, tapi .." Aryo, menggantung suaranya. "Tapi, apa?" Tanya Aditya, pada Aryo. "Saya, share lokasi aja. Silahkan datang ke sini, langsung. Mungkin kehadiran anda, bisa membuat Bu ayu mengingat sesuatu" jawab Aryo, lalu mematikan sambungan teleponnya. Aditya pun gegas membuka, beberapa
"karena, kasus pembunuhan terhadap Oma saya!!" jawab Aditya, Membuat semua orang diruangan itu hampir tak percaya. Si Dokter tampan, datang tepat waktu setelah menyelesaikan pekerjaannya di meja operasi. Ketampanan dan kharisma Aditya, membuat semua kamera tak berhenti menyorotnya. Anak dan ayah
"om darma.." panggilku pelan saat pria itu berdiri di depanku. Dia tersenyum mengulurkan tangannya padaku. Ku sambut uluran tangannya, lalu ku cium takdzim punggung tangannya yang kekar dan wangi.Entah kenapa aku merasa, tatapan mata om darma tidak lepas dari bagian dadaku sejak tadi. Naik turun p
"Dasar wanita gak tau diuntung! Beraninya kamu, mencoba pergi. Ingat baik - baik Zahra, bayi dalam kandunganmu itu anak aku!"Buughhh..buughh..!!Tendangan kakinya terus mengenai paha dan punggungku. Sementara tangannya menarik rambutku kebelakang rasanya perih ngilu. Sepertinya sudah banyak rambut







