LOGINRasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana.
"Oeeek..oeeekk.." Arsya menangis kecil setelah ku mandikan. Apakah dia lapar, ingin makan atau susu ya. Ku coba membuatkannya bubur bayi yang ada. Padahal anak seumuran ini bukannya harus makan yang alami - alami ya setahuku. Dokter Adit kan seorang cowok jadi wajar kalau tidak begitu tahu. Setelah ku suapi, Arsya tampak lebih tenang. Matanya pun lambat Laun memejam. "Anak yang pintar" bisikku. Masih ku gendong dan enggan untuk ku kembalikan kedalam box. Semua sudah ku bersihkan. Makanan juga sudah siap jaga - jaga kalau dokter Aditya datang. Ceklek!! Benar saja seperti dugaanku, papanya Arsya datang. Ya tuhan ku bayangkan, andai ini keluarga kecilku. Merawat bayi dan menunggu suamiku pulang kerja. Geli rasanya hatiku. "Apaan sih senyum sendiri. Masih waras kan?" jutek dokter Adit kambuh lagi. Aku hanya menggelengkan kepala. Jangan sampai dokter Adit tau isi kepalaku. Ini akan sangat memalukan. "Ini ponsel buat kamu" dokter Adit menyerahkan paperbag warna putih ada gambar apel disana. Perlahan ku buka barang pemberian dokter Aditya. Ponsel mahal merk terbaru yang biasa dipakai artis - artis di tv. Menganganga aku dibuatnya. Barang ini pastilah sangat mahal. Ku kembalikan lagi ponsel itu kedalam kotaknya. "I ini terlalu mahal dok. Saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah banyak berhutang Budi sama dokter" ku sodorkan kembali barang itu. "Aku memberikan ponsel itu bukan buat kamu gaya - gayaan. Tapi buat memantau Arsya setiap saat kalau aku kerja. Paham?" "Lagian, kalau sampai terjadi apa - apa dirumah ini Atau kalian butuh sesuatu saat aku diluar, kamu bisa kirim pesan pakai ini. Kalau kamu punya ponsel tentu aku tidak akan membelikanmu lagi. Tapi ku lihat - lihat kamu memang terlalu miskin. Bahkan ponsel saja tidak punya" ucapnya lalu duduk diruang makan. Membuka tudung saji setelah menenggak satu gelas air. "Masakanmu lumayan" manggut -manggut sembari mencicipi masakanku. Tak ku jawab sepatah katapun. Kubawa Arsya ke kamarnya untuk ku tidurkan didalam box bayinya. Ucapan dokter adiit seperti mencubit perasaanku. Aku malas terlibat pembicaraan lagi dengannya. Mataku mengembun, airnya membasahi pipiku namun segera ku seka. Tak ingin terlihat menangis didepan dokter Aditya. "Maaf kalau ucapanku keterlaluan" ia menyenderkan pundaknya dipinggiran pintu kamar Arsya. Sementara aku hanya tertunduk pura - pura mengutak Atik ponsel baruku. Gimana cara memakai ponsel ini, kenapa susah mengoperasikannya. Tidak seperti ponsel yang biasa. Melihatku ribet dengan ponselku, dokter Adit duduk di sebelahku lalu dengan telaten memberitahuku cara penggunaannya. Seperti dua manusia yang berbeda, kadang jutek dan arogan. Kadang baik penuh perhatian. Apa ini, kenapa dadaku berdisko ria. Tidak, dokter Aditya adalah bosku. Aku tidak boleh berpikiran buruk padanya. Sampai tiba - tiba tangan seseorang yang baru saja ku puji dalam hati sudah berada di bagian dadaku. "Zahra, asimu keluar!!" Teriaknya dengan wajah berbinar. Tidak sadarkah dia kalau tangannya tidak seharusnya ada ditempat itu. Dengan sigap tapi sopan ku tepis tangannya dari dadaku. Mataku membulat kejam padanya, menegaskan kekeliruan yang telah ia lakukan. "Ma maaf, aku tidak sengaja. Sungguh aku hanya senang akhirnya Arsya akan mendapatkan asi. Ahsss" ucapnya gelagapan. Sementara aku hanya mematung. Mencoba sekuat tenaga menolak gelenyar aneh yang mulai merasuk ke dadaku. "Aku sudah minta maaf. Kenapa kamu terus menatapku seperti itu?!" Teriak dokter Aditya padaku, sembari memegang tangannya sendiri yang tadi sudah kurang ajar padaku. Sejenak semua terasa canggung. Tanpa menghiraukannya lagi, aku pergi ke kamar mandi. Ku periksa sendiri sesuatu didadaku yang sudah mengeluarkan cairan membasahi pakaianku yang menutupinya. Pantas saja dokter Adit tadi reflek memegangnya. Ada perasaan bangga dan bahagia. Akhirnya, setelah ini aku bisa menyusui Arsya, dan membayar hutang - hutangku pada dokter Adit. Tookkk..tookkk..tookkk!!! "Ra, kamu gak kenapa - kenapa kan?" Teriak dokter Adit. Dia pun menggedor pintu kamar mandi berkali - kali. Membuat aku terpaksa cepat keluar setelah membenarkan pakaianku. Mata kami beradu sepersekian detik. Lalu kami menarik diri masing - masing. "Kalau dirumah orang itu yang sopan. Diajak bicara tahu - tahu ngeloyor ke kamar mandi" juteknya mulai muncul lagi. Aku sampai menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Permisi dok, saya mau jagain Arsya. Takut Arsya kebangun" Jawabku seperlunya. Heran sama bosku ini. Semenit bisa baik, semenit bisa jadi orang kaku dan jutek. Lebih baik aku hanya sebatas kerja dan tidak perlu berurusan terlalu jauh dengannya. "Emm kalau kamu mau, pakai saja pakaian yang ada dikamar kecil itu. Pilihlah yang cukup denganmu. Itu pakaianmu basah" ucapnya tak berani menunjuk dimana posisi bajuku yang masih basah. Asiku meninggalkan jejaknya. Pasti dia takut aku akan tersinggung lagi. "Baiklah, terimakasih" *** POV author Tokk..tokk..!! "Masuk.." ucap Bu wina alamanda seorang CEO PT DIRGANTARA. "Bu.." Irfan, orang kepercayaannya memberikan salam. "Gimana? Apa benar sebelum meninggal, si Lita melahirkan seorang bayi? Seperti apa yang dikatakan oleh dokter sinaga" tanya Wina. Dokter Sinaga adalah teman karibnya yang kebetulan bekerja dirumah sakit yang sama dimana Erlita melahirkan bayinya. "Dari data yang kami dapat, sepertinya benar begitu Bu" jawab Irfan. "Terus, bayinya laki - laki atau perempuan?" Wina semakin penasaran. "Laki - laki" Irfan tidak berani menatap bosnya. PRAAANKKK..!! Irfan terhenyak mendengar Wina melempar gelas kaca ke dinding didepannya hingga pecah berserakan. Matanya merah menyala penuh amarah. Saat Erlita meninggal adalah saat paling bahagia dalam hidup wina. Cita - cita menguasai seluruh harta milik kakak angkatnya dirgantara akan segera menjadi kenyataan. Namun semua berubah saat dirinya mendapat informasi, Erlita meninggal setelah melahirkan seorang pewaris tunggal. Masih teringat jelas diingatannya, bagaimana dulu orang tua angkatnya membeda - bedakan kasih sayang antara dirinya dan Arya kakaknya. Wina adalah seorang anak yatim piatu yang ditinggal mati orang tuanya sejak masih kecil. Karena tidak ada seorangpun saudara yang mau merawatnya, akhirnya Wina tumbuh di sebuah panti asuhan. "Silahkan diminum tuan.." ucap Wina kecil dengan senyuman manisnya menyuguhkan minuman kepada tuan Wirya. Dia selalu berusaha bersikap sebaik mungkin setiap ada orang kaya yang datang ke panti asuhan untuk mengadopsi. Berharap ada keluarga baik yang kaya raya mau menjadikannya anak. Bak gayung bersambut, tuan Wirya memang ingin mengangkat seorang anak perempuan. "Wina, panggillah dia papa. Baik - baiklah kamu ikut dirumahnya. Ibu akan selalu mendoakan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan cintanya padamu" pesan Bu Aminah, ketua panti asuhan. Wina pun tersenyum, ikut Wirya pulang ke rumah. Walaupun dalam semua hal Wina tercukupi, namun dirinya tidak merasa dicintai sama seperti sang kakak Arya. "Ibu, lihatlah Wina juara kelas. Wina pintar kan Bu?" Ucap Wina saat kelas 3 SMP. Ia mendapat peringkat satu dikelasnya. Dengan bekal nilai itu, dia bisa masuk ke SMA favorit paling terkenal dikotanya. "Iya bagus, selamat ya..nanti ibu belikan tas sebagai hadiah" sang ibu mengelus rambutnya. Lalu kembali membaca buku yang tadi sempat terhenti. Wina pun kembali ke kamarnya. Berbeda saat sang kakak Arya memamerkan keahliannya. "Bu, team basket Arya masuk grandfinal. Besok harus tanding lagi, untuk menentukan juara satunya Bu. Doain Arya ya" Arya mengelap peluh yang turun. Ibunya mendengarkan dengan seksama cerita kegiatan anaknya hari ini. Hebat banget sayang. Ibu bangga banget sama kamu. Kelak, ibu akan memastikan perusahaan ayah jatuh ketanganmu. Anak kesayangan ibu, cintanya ibu. Ibu Widya membawa sang putra dalam pelukannya. Menepuk - nepuk punggung sang putra, tampak sangat bangga memiliki Arya sebagai putranya. Sementara Wina melihat dari balik tembok dengan perasaan iri. Seperti itulah mereka akhirnya tumbuh menjadi dewasa.Zahra menguatkan sang suami, memegang pundak Aditya. Jelas terlihat bergetar karena tangis yang ditahannya. Walaupun hatinya sendiri terasa hancur saat ini karena kehilangan Arsya. Tapi tidak sesakit Aditya saat ini tentunya. Sudahlah anaknya hilang, ternyata pelakunya orang yang paling ia sayang dan percaya dalam hidupnya.Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam keluarganya. Kenapa menjadi seperti ini. Dulu, keluarga Aditya sangat tenang. Ibunya hanya sibuk berkumpul dengan ibu - ibu sosialita saja setiap harinya. Selain shoping, dan liburan keliling dunia tentunya.Kenapa sekarang jadi seperti ini. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh wanita dalam video itu. Aditya sangat menghormati dan mencintainya,Aditya duduk lemas, dengan tangan menutupi wajahnya. Meskipun laki - laki, hatinya terkadang rapuh kalau menyangkut keluarga.Apa mungkin si pelaku, tidak menyadari kalau dirumah ini terdapat beberapa kamera pengintai. Memang sih, penempatannya sama sekali tak terlihat. Berada disela -
Kembali Aditya memompa perlahan milik istrinya. Kali ini dengan gaya guguk style. Aditya memposisikan Zahra menungging, agar ia leluasa melakukan aksinya. Tangan satu milik Zahra ia tarik kebelakang, sementara tangan lainnya memilih ujung dada istrinya. Getaran hebat dirasakan oleh Zahra."Masss..ini enak.." rintihan Zahra, lenguhan kenikmatan terus membuatnya meracau tanpa henti. Aditya semakin semangat memaju mundurkan miliknya hingga mereka mencapai puncak untuk kesekian kalinya."Aku ke lu ar yang.." Aditya menyodok semakin kuat, karena dorongan sesuatu yang hendak menyembur dari pusakanya. Ia tumpahkan seluruh cairan cinta ke liang senggama milik istrinya tercinta.Begitupun Zahra, bersamaan dengan suaminya. Ia pun menuntaskan rasa nikmatnya disana. Rasanya berkedut hebat di bagian intinya.Setelah menyelesaikan babak ke dua, penyatuan penuh gelora. Zahra dan Aditya tertidur hingga keesokan harinya.***Sinar hangat mentari yang menyelinap dari jendela kaca, tak juga membuat kedu
"saya terima nikah dan kawinnya Zahra Adelia binti bapak sobirin dengan mas kawin seperangkat perhiasan 24karat seberat 100gram. Dibayar tunai!"Dengan suara lantang, satu tarikan nafas Aditya hermawan mengucapkan ijab qobul."Bagaimana saksi? Sah..??" Tanya penghulu kepada para saksi nikah yang sudah hadir."SAAAAHHHH..!!" Jawab semuanya, serentak.Pak penghulu meminta zahra dan suami menandatangani surat nikah masing - masing. Setelahnya, Aditya memasangkan cincin kawin dijari manis istrinya. Bergantian, Zahra pun menyematkan cincin dijari manis Aditya. Lalu, sesuai arahan pemandu acara Aditya mencium kening istrinya penuh haru.Bulir bening menetes diujung mata. Akhirnya setelah melewati masa yang menyakitkan, kini kebahagiaan menyapa jua.Dengan menunjukkan cincin dijari manis dan buku nikah, semua kamera siap mengambil gambar terbaik sepasang pengantin cantik dan tampan. Ratusan pasang mata menuju pada mantan janda dan juga duda yang kini sudah sah menjadi suami istri.Mata Za
"Ra.."Racaunya begitu indah terdengar. Sesekali ku gigit kecil bibir bawahnya yang tebal, hingga pria-ku mengaduh.Puas meremas dadaku, mas Aditya menjatuhkan tubuhku ke sofa. Melahap dua gundukan didadaku, memintir bagian ujungnya. Meninggalkan banyak jejak merah di sana. Menyxsu seperti si kecil Arsya, adalah hobinya akhir -akhir ini. Rasanya begitu nikmat, tak bisa tergambarkan. sudah sangat basah dibawah sana. Aku ingin kenikmatan yang lebih dari ini. Tapi tidak, mas Aditya berjanji penyatuan itu akan kami lakukan lagi nanti di malam pertama.Ku ubah posisiku. Mas Aditya ku minta rileks disofa, aku yang jongkok dibawah. Ku buka handuk putih yang menutupi sesuatu miliknya yang sudah menegang sempurna dipenuhi urat - urat terpampang nyats. Tanpa diminta, ku selesaikan tugasku memuaskannya."Aahhh..enak baby, ehmm"Mulutku terasa begitu penuh karena miliknya yang super jumbo. Aku terus memaju mundurkan nya menambah ritmeku hingga tubuhnya mengejang suaranya mengerang, bagian intinya
"Mau cari siapa?" Tanya mas Aditya pada seseorang yang sedari tadi menekan bel di depan rumah."Emmm mana Zahra?" Alih - alih menjawab, pria itu justru balik bertanya.Mas Aditya mengerutkan dahinya, sementara aku berdiri tidak jauh dari mereka berada. Ku peluk erat tubuh Arsya yang meringkuk digendongan.Sepertinya aku kenal suara itu. Tapi untuk apa laki - laki itu mencariku? Dari mana dia tahu alamat kami disini."Siapa anda? Ada urusan apa mencari Zahra?" Mas Aditya mulai meninggikan suaranya. Tatapannya sinis tak bersahabat."Sampaikan saja ada yang menunggunya di sini" jawabnya, semakin membuat panas hati si pemilik rumah."Aku tidak akan menyuruhnya menemui sembarang orang. Silahkan saja anda pergi dari sini. Kami masih banyak urusan" jawab mas Aditya lalu menutup pintu rumahnya.BRRAAAKKKKK!!!Tangan kekar pria itu mendorong daun pintu yang baru saja akan ditutup. Membuat pintu terbanting keras ke tembok. Begitupun yang punya rumah, hampir saja terjatuh kalau tidak bisa menyei
"kenapa mama dit?" Tanya pak Hermawan, datang ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari sang anak."Tensi mama naik pa. Biasanya cuma 140/90. Tadi dicek 230/100. Untung masih ketolong. Sepertinya mama sedang ada masalah yang dipikirkan. tapi Aditya gak tahu apa. Tadi sudah coba ditanya, gak mau ngaku"Adit duduk bersama sang ayah didepan kamar rawat ibunya. Sengaja berbicara di luar ruangan, supaya Bu Ine tidak tau perbincangan mereka. Pak Hermawan manggut - manggut mendengar penjelasan anaknya."Apa mama kepikiran masalah pernikahan Aditya ya pa? Sepertinya mama kurang suka dengan zahra""Mama itu ikut apa kata papamu ini dit. Santai saja. Yang penting, kamu harus siap kalau sewaktu - waktu papa memanggilmu untuk bekerja di kantor. Oke?""Siap pa"Hermawan memang tidak punya anak lain, hanya Aditya seorang. Karena itu dirinya ingin Aditya meneruskan perusahaan property miliknya. Padahal dokter adalah profesi impian Aditya sejak masih kecil. Baginya, bertemu dan menolong pasien seti







