分享

chapter 7

作者: Senjaku
last update publish date: 2026-02-14 20:02:34

Tokk..tokk..

"Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.

Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisnya.

Sepulang dari acara temannya, ku lihat ia membuka pintu apartemen dengan kasar. Saat itu aku sedang minum di dekat dapur. Ia bahkan berlari melewati ku, tanpa memakai baju. Hanya celana kain yang membalut bagian bawah.

Hampir satu jam, ku dengar suara gemericik air. Tapi dokter aditya tak juga keluar. Takut terjadi sesuatu padanya, ku paksa masuk ke kamar mandi untuk menolongnya. Namun nahas, yang terjadi justru aku menjadi mangsanya. Harusnya aku bisa melawan, namun entah kenapa aku begitu lemah dihadapannya. Perasaanku ingin sekali menyelamatkannya dari rasa yang menyiksa.

Kalaupun ini sebuah dosa, biarlah aku mati didalamnya. Rasa hangat itu tak pernah ku temui sebelumnya. Pernikahanku dengan mas Surya penuh kekerasan dan pemaksaan setiap kali melakukannya. Tidak ada rasa berdebar seperti tadi malam. Tapi bagaimana aku harus menemuinya. Aku seperti kehilangan muka dihadapannya.

Kriieettt..

Ku buka pintu perlahan. Dokter Aditya yang sudah beranjak, balik badan menghampiriku dan Arsya.

"Zahra maafkan aku" hendak meraih tanganku namun ku menghindar. Tak berani ku tatap balik pandangannya.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Hanya tetesan air mata, menangisi dosaku.

"Maafin aku" ditarik kuat tubuhku ke pelukannya. Sementara Arsya masih dalam dekapanku. Aku semakin tergugu. Merasa bersalah sudah menghianati pesan ayah, untuk bisa menjaga kehormatanku.

"Aku akan bertanggung jawab Zahra, jangan menangis. Aku berangkat kerja dulu. Nanti kita bahas lagi. Karena aku sudah telat" ucapnya lalu pergi setelah mencium Arsya.

Akan bertanggung jawab seperti apa? Tidak mungkin kami menikah, tidak ada perasaan diantara kami. Lagi pula, aku pasti bukan type nya. Hanya seorang gadis miskin yang sedang bekerja karena belas kasihannya.

Jadi kangen adikku Raka. Sudah beberapa hari aku tak menghubunginya. Dia belum tahu kalau sekarang aku punya ponsel. Makanya sama sekali tidak ada kabar tentang rumah dan dirinya.

[Raka, ini nomer mbak Zahra. Kalau ada apa - apa hubungi di nomer ini ya. Hari ini sekolah kan?] Send.

Kriing..kriing..

Langsung saja Raka meneleponku. Pasti pulsa ayah masih banyak. Dulu ayah selalu beli pulsa untuk menambah masa aktif kartu providernya tapi tak pernah dipakai untuk menelpon. Hanya sesekali menghubungi si tengkulak ayam.

"Halo.."

"Mbak, ini pakai nomer siapa? Mbak sehat kan disitu?" Tanya Raka khawatir.

"Nomer mbak Zahra donk. Mbak dibelikan ponsel sama bos, supaya bisa mudah dihubungi kalau ada apa - apa. Mbak sehat kok. Kamu sehat kan? Sekolah gak hari ini?"

"Wiihh keren, baik banget ya bosnya mbak Zahra. Raka sehat mbak. Sudah mbak Zahra jangan khawatirkan Raka. Ini baru mau berangkat sekolah. Sudah dulu ya mbak" pamitnya. Syukurlah adikku baik - baik saja.

"Ya sudah, assalamualaikum.." pamitku

"Waalaikumsalam mbak.." kami pun memutus sambungan telpon.

***

POV DOKTER ADITYA

"Ngelamun aja bro!" Zio suami sepupuku yang juga seorang dokter dirumah sakit ini, mengagetkanku. Di jam istirahat, aku memilih makan diruang kerjaku. Malas sekali mau keluar, atau hanya berjalan ke kantin. Kepikiran hal yang terjadi semalam membuatku merasa bersalah sekali sama Zahra.

Aku tahu, Zahra wanita yang berbeda. Seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk ayah dan adiknya. Bahkan mendengar kisah lamanya bersama sang mantan suami saja membuatku sangat iba dengannya. Karena itulah aku membayar semua biaya operasi ayahnya. Beralasan ingin mempekerjakannya. Padahal bisa saja aku mencari orang lain.

Tapi setiap rasa yang ku nikmati semalam, tak bisa ku lupakan. Walaupun sudah berstatus janda, milik Zahra masih sangat sempit dan nikmat. Mungkin karena dulu dia menikah terpaksa. Pasti ia jarang melakukan dengan mantan suaminya.

"Apaan sih zio, ngagetin aja! Tumben lo  gak makan siang sama meta" tanyaku ngasal. Ku garuk kepalaku yang tidak gatal.

"Lagi gabut gue, meta lagi jalan sama mamanya. Mungkin mereka lagi shoping. Aku sampai lupa dibawakan bekal makan. Laper banget nih, makan yuk" zio menyeruput habis minuman dingin yang ada dimeja.

"Bentar deh, gue mau cerita sesuatu nih. Tapi meta jangan sampai tahu ya. Apa lagi bocor ke orang lain, gue gebuk Lo" ku angkat sebelah tanganku padanya.

"Cerita apaan? Jangan bilang Lo hamilin anak orang. Wah kacau lo dit. Kacaaau kacaaau" pandangannya mulai menelanjangiku. Si monyet ini pasti sudah berpikir yang tidak - tidak padaku.

"Dasar monyet, pikirannya jorok Mulu. Udahlah ayo kita makan. Percuma cerita sama otak mesum kaya lo" gerutuku. Menariknya makan diwarung soto lamongan langganan.

Pikiranku mulai tak tenang. Sepanjang siang ini kepikiran Zahra. Belum lagi ide mama yang ingin menjodohkan ku dengan anak sahabatnya.

Ting..

[Serahkan anak Erlita, kalau kau ingin selamat] sebuah pesan masuk diponselku.

Ini pasti ulah seseorang yang dari dulu mengincar harta milik istriku.

"Mas, aku takut. Terkadang Tante Wina sangat menyeramkan bagiku. Padahal, kalau pun aku gak dapat harta milik papa juga aku gak masalah. Asal bisa menjadi keluarga yang sewajarnya. Lihat nih, masa Tante kirim pesan gini" tiba - tiba pikiranku melayang pada ucapan Erlita dulu.

Dia sering bercerita mendapat pesan ancaman dari sang Tante. Sehingga kami harus merahasiakan keberadaan Arsya. Tapi siapa yang tahu tentang Arsya? Aku bahkan tidak pernah membawanya keluar dari apartemen.

Pernah juga sebelum menikah denganku, Erlita dikurung berhari - hari dikamar gelap saat tidak mau menandatangani berkas yang diinginkan Tante Wina.

"Kenapa dit?" Tanya zio, melihat aku menghentikan kegiatanku menyuap makanan ke mulut. Diambilnya ponselku, zio ikut membaca pesan itu.

Khawatir terjadi apa - apa dengan Arsya, segera ku tekan nomer ponsel Zahra. Beberapa kali panggilan namun tak juga diangkat. Pikiranku semakin kacau.

Aku berdecak kesal, pikiran campur aduk. Bagaimana kalau terjadi apa - apa sama Zahra dan Arsya.

Tingg..!!

Tiba - tiba ada suara notif, ku lihat pesan dari Zahra. Segera ku buka, takut Zahra membutuhkan bantuan.

[Ada apa dok? Maaf tadi tidak bisa angkat telpon, Arsya lagi nen] ucap Zahra melalui pesan singkat.

"Halo Ra, kalian gak kenapa - kenapa kan?" Zio menelisik mukaku yang panik.

"Tidak dok, kami baik. Arsya baru saya tertidur. Ada apa?" Tanya Zahra penasaran.

"Segera kunci pintu dari dalam. Jangan bukakan untuk siapapun yang mengetuknya. Kalau mau pulang, aku akan menghubungimu" ucapku. Hatiku deg - dengan bahkan hanya mengucap janji pulang pada Zahra. Aku ini kenapa, ada rasa aneh yang ku rasakan untuk Zahra. Segera ku kuasai diriku lagi, ku dengar Zahra mengiyakan lalu menutup sambungan telpon.

"Siapa? Hemm!" Zio menaik turunkan alisnya ke arahku.

"Zahra, orang yang ku suruh jagain Arsya" jawabku singkat.

"Baby sitter?"

"Bukan, ya tukang jagain bayi aja" jawabku

"Ya tukang jagain bayi itu baby sitter adityaaa" zio memperjelas ucapannya.

"Iya, itulah pokoknya" aku mulai terlihat tak tenang membicarakan tentang Zahra dengan orang lain. Kalau sampai mereka tahu, kejamnya aku menjebak seorang gadis kurang beruntung seperti Zahra untuk menjadi ibu susu anakku bagaimana? Apalagi aku bahkan sudah melakukannya dengan Zahra. Apa yang akan ada dipikiran mereka saat itu.

***

POV AUTHOR

Direstoran berbeda ada silvia yang berusaha sekuat tenaga mengambil hati Bu Ine, ibu dari Aditya. Kebetulan Silvia adalah anak dari sahabat sekaligus teman sosialita Bu Ine.

"Tante, terimakasih sudah mau datang. Silvia punya kado buat Tante" Silvia meletakkan tas branded dari luar negeri yang paperbagnya berwarna orange diatas meja. Dia tahu betul selera calon mertua incarannya.

"Ya ampun sil, ini kan limited edition. Kamu kok bisa dapet sih? Tante aja PO hampir 3 bulan belum dapet sampai sekarang" mata Ine tampak berbinar, menerima kado dari Silvia. Walaupun dia tahu, Silvia pasti ingin sesuatu darinya. Sampai mau bela - belain beli kado semahal ini.

Silvia memang dari keluarga kaya raya, tapi mereka lahir dari orang tua pebisnis. Tidak ada tindakan yang mereka ambil, tanpa sebuah harga. Selalu ada yang harus dibayar untuk kebaikan mereka. Contohnya Silvia pernah membelikan Ine jam tangan mewah, supaya Ine mau meminta Aditya untuk datang dihari ulang tahun Silvia.

"Kali ini mau apa lagi gadis ular ini?" Gumam Ine didalam hati.

__bersambung__

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 60

    "papa boleh ketemu ibumu gak, dit?" tanya hermawan, merasa bersalah. Teringat masa lalu, kala itu pertengkaran antara dirinya dan ayu sarah terjadi. "pergi dari sini kau ayu, aku tidak sudi melihat mukamu lagi" teriak hermawan. dengan mata sembab, bahkan suaranya yang serak ayu sarah berucap "aku sudah berusaha jujur padamu mas, tapi kamu lebih memilih percaya pada orang lain. suatu saat, allah akan menunjukkan siapa yang berbuat jahat sebenarnya. dan ketika itu terjadi, kamu mungkin sudah tidak punya kesempatan untuk menyesal atau bahkan hanya untuk 2mendapat maaf dariku pun tidak!" "Boleh aja, tapi Adit harus tanya ibu dulu.lagian, katanya tadi papa mau kel Louar negeri. Gimana sih?'" jawab Aditya, membangunkan Hermawan dari lamunan. "Masih tengah malam perginya. Kalau ayu Sarah mau ketemu, masih ada waktu beberapa jam lagi. Papa tunggu kabarnya ya" ujar Hermawan, sebelum mereka menyudahi sambungan telponnya. Ceklekkk!! Seorang perempuan muda, membuka pintu kamar VVIP yang dite

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 59

    Kriiing..kriiing.. Ponsel Aditya terus - terusan menjerit, saat dirinya sedang di parkiran bersama ibunya. "Ibu masuk dulu ya! Adit mau angkat telpon sebentar" pinta Aditya pada ibunya. Ayu Sarah pun mengiyakan. "Ya, halo! Gimana sil?" Sapa Aditya , saat melihat nama Silvia yang muncul dilayar pintar miliknya. "Dit, gimana kabar papa kamu? Apa sudah baikan?" Suara Silvia serak, seperti orang sakit. "Sorry banget sil, hari ini gue juga belum ke rumah sakit. Jadi belum lihat perkembangan papa sama. Nanti ya, selesai praktek, gue jenguk papa. Gue update ke Lo ,oke?" Aditya mengerti, hubungan papanya dan Silvia pasti sedang mengalami masa sulit. Terbukti suara Silvia sampai serak, bisa jadi karena habis nangis. "Oke, dit! Makasih banyak ya" ucap gadis itu, lalu mematikan sambungan telponnya. "Siapa nak?" Tanya ayu Sarah, setelah Aditya masuk ke dalam mobil. "Oh, teman Adit Bu. Nanyain kabar papa, karena kebetulan papa lagi dirawat di rumah sakit" Aditya menjelaskan. Menatap lekat sa

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 58

    "kenapa kesini lagi? Mau marah - marah lagi?" Ketus Ine, saat mendapat kunjungan dari sang kakak. "Tentu saja tidak. Aku kesini, cuma mau minta maaf. Mungkin kemarin, aku terlalu emosi. Sudahlah kita lupakan saja masa lalu. Aku akan mencoba berubah. Akan ku awali dengan mencari pekerjaan. Dari dulu, aku selalu mengandalkan uang darimu. Maafin kakak ya.." Ine tersentuh mendengar ucapan Ndaru. Tapi, dia pun sangat tau karakter kakaknya. Kalau Ndaru memasang muka orang baik - baik, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu darinya. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ine, coba mencari kebenaran dari yang ia pikirkan. "Emmm, aku mau minta biaya hidup selama mencari pekerjaan ne. Sekalian ini, perusahaan ini kamu tau kan? Aku bisa kan diterima, pakai jalur dalam?" Ndaru menyodorkan amplop coklat ala pelamar kerja, pada Ine. "Kak, bukannya gak mau kasih. Aku mana ada uang. Semua ATM dan kredit card aku, dibekuin sama Hermawan. Aku sekarang ini sudah jadi gembel kak. Apalagi bantuin kakak ca

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 57

    "Adit, apa ibu boleh bertemu Ine?" Pertanyaan ayu Sarah, mengagetkan Aditya yang sedang manikmati pisang goreng keju buatan istrinya. "Uhukk uhukkk" Aditya menepuk - nepuk dadanya yang sakit, karena tersedak. "Ya Allah nak, hati - hati kalau makan. Nih minum dulu!" Ayu Sarah menyodorkan segelas air putih untuk anaknya. "Ibu ngapain mau ketemu dia? Adit gak mau ibu kenapa - kenapa. Lagi pula, dia sudah menerima hukuman yang setimpal" Aditya membuang nafas kasar. "Insyaallah ibu gak kenapa - kenapa. Ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan padanya. Anterin ibu ketemu Ine ya, besok" desak ayu Sarah. Aditya pun, tak bisa lagi menolak keinginan ibunya. "Kenapa mas? Kok mukanya gitu" Zahra yang sedang menggendong Arsya, menelisik wajah masam suaminya. "Kenapa, Bu?" Imbuhnya, meberganti menatap mertuanya. "Enggak kok sayang. Ini ibu, minta di antar ketemu mama ine. Aku kurang setuju sebenarnya. Tapi karena sepertinya ibu ada urusan penting dengannya, ya sudah besok mas anter aja. Kebetulan

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 56

    "Aditya!" Ayu Sarah, dengan mata berkaca - kaca memanggil putra yang begitu dirindukan. "Bu!" Aditya mencium takdzim punggung tangan, ibunya. Wanita berjilbab krem susu itu, nampak lebih sehat pagi ini. Aditya begitu bersyukur, bisa menemuinya pagi ini. Jari jemari Aditya menyeka, embun yang menetes di pipi ayu Sarah. "Ibu sudah dilarang menangis, sekarang. Bolehnya hanya bahagia. Ya, Bu?" Ucap Aditya, membuat air mata ayu Sarah semakin deras mengalir. Aditya meraih tubuh ringkih ibunya, kedalam dekapan. "Maafin Aditya Bu. Karena baru tau, keberadaan ibu. Pasti sangat sesak berada disini, selama ini" sesalnya. "Sudahlah, ibu tidak apa - apa. Jangan pernah menyalahkan dirimu, atas apa yang terjadi. Ini semua terjadi, karena Allah mengizinkan semuanya terjadi" "Yang penting, sekarang kita bisa sama - sama lagi. Ibu gak pernah membayangkan, kalau akhirnya bisa melihatmu lagi. Dulu keadaannya sangat rumit" ayu Sarah, meraih wajah Aditya dengan kedua tangannya yang gemetar hingga Adity

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 55

    Kriiing..kriiing Silvia memicingkan mata, melihat nama siapa yang keluar di layar pintarnya. Sang mantan kekasih, yang mungkin saja akan menjadi anak tirinya suatu saat. Kriing..kriiing.. Suara bunyi ponsel, sekali lagi membuatnya tersadar dari lamunan. "Halo, dit!" Menahan rasa malunya karena sudah memacari ayah dari mantannya sendiri, Silvia tetap menyapa Aditya. "Halo! Lo lagi dimana?" Tanya Aditya, setelah mendengar suara seorang wanita di ujung telpon. "Lagi di kantor. Kenapa ya?" Ujar silvia, penasaran. "Papa kecelakaan, dari tadi manggil nama Lo. Ini kita lagi di rumah sakit intani. Kira - kira, Lo bisa kesini gak?" Tanya Aditya, berharap Silvia bisa datang karena ayahnya yang terus - terusan memanggil namanya. "Astaga, serius dit? Tolong share lokasi ya. Gue kesana sekarang" ucap Silvia, lalu menutup sambungan telponnya. Aditya segera mengirim lokasi dimana mereka berada sekarang. "Gimana mas? Silvia mau datang?" Tanya Zahra yang sedang bersiap untuk pulang. Tadinya m

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 20

    Kembali Aditya memompa perlahan milik istrinya. Kali ini dengan gaya guguk style. Aditya memposisikan Zahra menungging, agar ia leluasa melakukan aksinya. Tangan satu milik Zahra ia tarik kebelakang, sementara tangan lainnya memilih ujung dada istrinya. Getaran hebat dirasakan oleh Zahra."Masss..i

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 18

    "Ra.."Racaunya begitu indah terdengar. Sesekali ku gigit kecil bibir bawahnya yang tebal, hingga pria-ku mengaduh.Puas meremas dadaku, mas Aditya menjatuhkan tubuhku ke sofa. Melahap dua gundukan didadaku, memintir bagian ujungnya. Meninggalkan banyak jejak merah di sana. Menyxsu seperti si kecil

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 17

    "Mau cari siapa?" Tanya mas Aditya pada seseorang yang sedari tadi menekan bel di depan rumah."Emmm mana Zahra?" Alih - alih menjawab, pria itu justru balik bertanya.Mas Aditya mengerutkan dahinya, sementara aku berdiri tidak jauh dari mereka berada. Ku peluk erat tubuh Arsya yang meringkuk digen

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 15

    "oeeekk..oeekkk..oeekkk.." terdengar suara tangisan Arsya dari kamar. Membuyarkan lamunanku dan juga mas Adit."Bentar mas, aku susuin Arsya dulu"Biasanya bangun tidur siang, Arsya memang haus dan menagih jatah nenennya. Ku tinggalkan mas Adit sendirian di ruang tv.Kami pun larut dalam pikiran ma

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status