เข้าสู่ระบบ"Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak mengeluarkan bisanya.
"Jadi, kamu nyalahin Tante?" Ine nyalang menatap Silvia. Walaupun tampak kalem dan anggun, tapi Ine type perempuan yang open minded. Sikapnya lebih terbuka, tanpa basa - basi. "Eh anu bukan Tante, bukan begitu maksud Silvia. Maaf Silvia salah bicara. Jadi gimana, Tante mau kan bujuk Adit kali ini" masih berusaha, mencari simpati ine. tak mau menyerah sudah kepalang tanggung baginya untuk mundur. Tampak berpikir, Ine menyedekap tangannya didepan dada. Ingin mengungkap kalau Aditya sudah punya Arsya, tapi sudah terlanjur berjanji pada sang anak untuk merahasiakan ini dari siapapun. Kalau Silvia tahu Aditya sudah punya anak, kira - kira bagaimana reaksinya. Hanya orang tua aditya, juga meta dan suaminya yang tahu tentang adanya Arsya. Itupun karena meta dan zio suaminya, yang saat itu membantu mengantar mereka ke rumah sakit. Semua ini memang dirahasiakan, demi melindungi cucunya dari kejahatan keluarga Erlita. "Apa tidak lebih membahayakan untuk Arsya mempunyai ibu tiri seperti Silvia? Tapi bagaimanapun keluarga Silvia juga bukan orang sembarangan, susah mencari menantu yang bibit bebet bobotnya bagus sekarang ini" gumam Ine dalam hati. "Baiklah, akan Tante coba. Tapi untuk hasilnya, Tante tidak bisa janjikan. Oke?" Jawab Ine setelah berpikir. "Ah tentu saja, terimakasih Tante Ine. Silvia janji kelak akan menjadi menantu yang baik untuk Tante" ucap Silvia yang tak hentinya memegang tangan Ine. Siapa yang tidak ingin menjadi menantu Hermawan yang terpandang. Walaupun tidak pernah tersorot kamera media, tapi dikalangan orang kaya dan pebisnis nama Hermawan tidak bisa diremehkan. Cekreekk..cekreekk.. Seorang fotografer sewaan Silvia, tidak lupa mengambil gambar dirinya dan Ine. Bagi Silvia, bantuan yang mungkin bisa diberikan oleh Ine masih harus mendapat sedikit polesan darinya. "Silvia putri kedua pemilik simizu group, makan bersama calon ibu mertua. Di duga dari keluarga hermawan pemilik Hermawan konstruksi" tertulis dengan huruf tebal di akun gosip berbagai macam sosial media. "Mereka sama - sama cantik" "Beruntung sekali yang mendapatkan Silvia" "Penasaran sama calon prianya" Banyak lagi komen netizen dipostingan akun gosip itu. Silvia tertawa puas membacanya. "Kerja yang bagus. Ini imbalan untuk pekerjaanmu hari ini" memberikan segepok uang pada sang fotografer. Lalu mengibaskan tangannya, agar segera pergi. "Aditya, sudah cukup kau menolakku. Akan ku buat kau menjadi milikku. Sukarela atau dengan paksaan haaaahaaaa" Silvia memegang gelasnya erat, menenggak minumannya dengan kasar. Nafasnya memburu setiap teringat penolakan Aditya padanya. Terakhir kali bahkan Aditya bisa selamat dari jebakan serbuk ajaib yang ia masukkan pada minumannya. "Kita lihat saja, sampai kapan kamu bisa lari dari aku dit. haahaaaa" Silvia menyandarkan bobot tubuhnya disofa. Silvia Safitri, adik sambung dari Moana. Selalu dibandingkan dengan sang kakak yang lebih pintar, sedang menamatkan S2 nya di Oxford university. Sementara Silvia safitri kuliah diuniversitas swasta dijakarta, sembari menekuni hobby menjadi selebgram. Demi membuktikan dirinya tidak lebih rendah bisa lebih baik. Ambisinya sangat kuat akan uang dan kekuasaan. Karena Alasan itulah, selama ini dirinya selalu mengincar Aditya. Pernah pacaran waktu mereka sama - sama SMA namun hanya bertahan satu tahun. *** "Ini apa ma?" Tanya Aditya pada ibunya. Menyodorkan foto ibunya dan Silvia diakun gosip. Ia tahu karena mendapat info dari meta yang lebih aktif bersosial media dibandingkan dirinya. yang menggunakan ponsel canggihnya hanya untuk saling berkirim kabar menggunakan aplikasi telpon dan pesan berwarna hijau. "Apa sih dit? Baru datang bukannya Salim dulu. Kamu itu sudah dewasa. Sudah jadi bapak masih aja kaya anak kecil" pak Hermawan menyecap segelas kopi. "Iya maaf pa, lupa" ucap Adit, lalu mencium takdzim tangan ayah dan ibunya. "Ma, jelasin dong.." rengek Adit kemudian. Masih mengarahkan benda pipih miliknya kepada sang ibu. "Itu mama memang diundang sama Silvia. Cuma ngobrol biasa dit, sambil makan. Lebay banget yang bikin berita" ekor mata Ine melihat kemarahan anak tunggalnya. "Emang kenapa sih dit? Silvia itu masih single, bebet bibit bobotnya juga jelas. Dan yang pasti, dia sangat mencintai kamu sayang. Dulu kan kalian pernah saling cinta, kenapa gak dicoba sekali lagi. Kalau kita berbesan dengan keluarganya Silvia, bisnis papa dan keluarganya Silvia bisa berkolaborasi menjadi perusahaan raksasa. Ini akan sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak " Bu ine tidak mau melewatkan kesempatan. Dia sudah terlanjur janji pada silvia. Ditebarnya janji manis, sengaja supaya pak Hermawan juga mendengar. Dan membantu mengompori Adit. "Astaga mama, ngomong apa kamu itu? Masak anak satu - satunya mau dijadikan alat membesarkan perusahaan. Emang kenapa sih dengan perusahaan papa, segini juga sudah cukup bagi kita ma disyukuri aja. Adit itu sudah punya Arsya, tidak gampang mencari seorang ibu sambung. Kadang bapaknya cinta tapi perempuannya gak suka sama anaknya. Itu lebih bahaya buat Arsya kedepannya ma. Santai saja dulu lah, nanti juga ketemu kok yang cocok. Ya dit?" Pak Hermawan mengangkat kedua alisnya, adityaengangguk setuju. "Kalian ini sama saja, gak bisa ngerti kemauan mama" Ine masuk ke kamar dengan perasaan dongkol. *** Pukul delapan malam, setelah ku susui Arsya langsung tidur. Beberapa kali ku lihat jam dinding, dokter Aditya belum juga pulang. Padahal aku sudah memasak untuknya. Takut terjadi sesuatu padanya, ku beranikan untuk mengirim pesan singkat padanya. [Pak dokter pulang jam berapa. Sudah saya siapkan makanan] Tidak jadi ku kirim. Ku hapus kembali pesan itu. Aku ini cuma pembantu, mana berani bertanya seperti itu. Apalagi setelah kejadian semalam, apa yang ada dipikirannya kalau aku kirim pesan semacam itu. Ku simpan ponselku kembali ke nakas. Ceklekkk! Syukurlah dokter Adit sudah datang. Itu artinya tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Lagi pula, aku mau izin pulang. Besok kan hari Minggu. Raka pasti sudah menanti kepulangan ku. Setelah membersihkan badannya, dokter Adit makan dengan lahap masakan yang sengaja ku siapkan dimeja. Ku suguhkan air minum untuknya. Sempat bertemu mata, namun masing - masing terbelenggu dalam kecanggungan. "Zahra" panggilnya setelah makan. "Iya,," "Kemarilah, ada yang harus ku bicarakan penting" ucapnya didepan pintu kamar Arsya. Aku pun mengekor, sampai di ruang tv. "Zahra, apa kamu mau menjadi istriku?" Tanya dokter Adit serius menatapku. Aku diam mematung, tiba - tiba saja lidahku serasa kelu. "Maksud dokter?" "Emhh begini, jangan berprasangka buruk dulu. Maksudku begini, kita akan kawin kontrak sampai Arsya berumur dua tahun" ucapnya kaku. Sepertinya dokter Aditya bingung menyampaikan maksudnya. Mendung menebal dimataku.sejak dulu kenapa aku tidak bernasib baik. Bisa memiliki pernikahan yang sempurna selayaknya manusia lain. Dulu aku harus menikah karena hutang. Dan sekarang, apakah akan terjadi lagi padaku. "Kenapa kamu menangis? Kita hidup satu atap, aku takut kekhilafan semalam akan terluka lagi. Dosaku sudah banyak Zahra. Aku tidak ingin menambahnya lagi. Jangan khawatir, aku akan memenuhi nafkahku sebagai suami selama kontrak pernikahan kita masih berlangsung" dokter Aditya coba menjelaskan panjang kali lebar. Dimana wajah garangnya, nyalinya bahkan menciut hanya karena melihat Zahra menangis. "Kalau ini karena kekhilafan semalam, lupakan saja dokter. Untuk selanjutnya aku akan menjaga diriku dengan baik. Tidak kecolongan seperti semalam" jawabku mencoba tegar. "Tidak begitu Ra, aku ingin lagi Ra. Bayang kejadian semalam terus merasuki pikiranku. Aku ingin kamu halal untuk ku sentuh" ucapan dokter Adit dengan wajah memelas. Hatiku mulai bergenderang tak karuan. Perasaan apa ini, apakah aku rindu belaian dan kasih sayang. Walau begitu, aku tidak ingin terikat dalam pernikahan tanpa cinta lagi hatiku menjerit. "Dokter.." "Jangan panggil aku dokter, panggil saja namaku" suara dokter Aditya menjadi berat. Tangannya menarikku kuat, hingga kini aku ada dipangkuannya. Tidak seperti bersama mas Surya dulu, dengan dokter Aditya tubuhku seperti menagih lagi dan lagi. Rasa hangat menggeliat disekujur tubuhku. "Jangan dokter.." "Panggil saja Adit, Ra.." bibirnya mulai menciumi leherku dari belakang. "Mas Adit.." ku panggil namanya pelan, karena memang dia berumur jauh diatasku. Tangannya menjelajahi dadaku yang basah bekas menyusui Arsya. Kini gantian ayahnya yang melumatnya habis tak tersisa. "Jangan mas ehss.." ingin lepas, tapi rasanya sungguh luar biasa. Tanganku dikuncinya kebelakang, hingga tak bisa menjauhkan tubuhnya dariku. Semalam karena pengaruh obat, dia melakukannya dengan kasar hingga tubuhku terasa sakit semua. Namun kali ini berbeda, dokter Aditya melakukannya dengan sadar. Lekukan demi lekukan tubuhku diciuminya membuat desahan yang ku tahan sejak tadi akhirnya keluar juga. "Mas.." Diangkatnya tubuhku ke kamar utama. Wangi parfum vanila menusuk kedalam hidungku yang mancung ini. Perlahan diturunkan ku dipembaringan. "Ra..maaf aku gak tahan lagi" rayu dokter Aditya membuka kaos oversize nya berwarna hitam. Ku telan salivaku kasar, dadaku naik turun menahan belain demi belaiannya. __bersambung__"kita nikah aja Ra..ehmmm" racaunya, melumat bibirku.Secepat kilat tangannya melucuti pakaianku membuangnya sembarangan dilantai. Dikungkungnya aku dibawah dada bidangnya. Kali ini tak seperti semalam, mas Adit sangat tampan dibawah cahaya lampu yang terang. Keringatnya membasahi wajah, membuatnya semakin mempesona. Ya tuhan, aku pasti sudah gila. Bagaimana mengakhiri permainan ini, hawa nafsu merasuki pikiran kami.Setelah puas mencari kenikmatannya, mas Adit mempercepat permainan. Lenguhan demi lenguhan terdengar bagai nyanyian merdu dimalam penuh kesunyian. Bersamaan kami mendaki puncaknya, menyemburkan benih tepat dilubang rahimku.Aku terkulai lemas, sementara mas Adit masih menciumiku. Memainkan dua gundukan dibagian dadaku."Sudah mas, nanti Arsya bangun" ku tepis tangan nakalnya."Oeekk..oeekk..oeekk" benar saja, terdengar tangisan Arsya dari kamar sebelah. Mas Adit segera memakai pakaiannya, berlari ke kamar Arsya. Sementara aku masuk ke kamar mandi milik mas Adit.Rasa baha
"Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak mengeluarkan bisanya."Jadi, kamu nyalahin Tante?" Ine nyalang menatap Silvia. Walaupun tampak kalem dan anggun, tapi Ine type perempuan yang open minded. Sikapnya lebih terbuka, tanpa basa - basi."Eh anu bukan Tante, bukan begitu maksud Silvia. Maaf Silvia salah bicara. Jadi gimana, Tante mau kan bujuk Adit kali ini" masih berusaha, mencari simpati ine. tak mau menyerah sudah kepalang tanggung baginya untuk mundur.Tampak berpikir, Ine menyedekap tangannya didepan dada. Ingin mengungkap kalau Aditya sudah punya Arsya, tapi sudah terlanjur berjanji pada sang anak untuk merahasiakan ini dari siapapun. Kalau Silvia tahu Aditya sudah punya anak, kira - kira bagaimana reaksinya.Hanya orang tu
Tokk..tokk.."Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisnya.Sepulang dari acara temannya, ku lihat ia membuka pintu apartemen dengan kasar. Saat itu aku sedang minum di dekat dapur. Ia bahkan berlari melewati ku, tanpa memakai baju. Hanya celana kain yang membalut bagian bawah.Hampir satu jam, ku dengar suara gemericik air. Tapi dokter aditya tak juga keluar. Takut terjadi sesuatu padanya, ku paksa masuk ke kamar mandi untuk menolongnya. Namun nahas, yang terjadi justru aku menjadi mangsanya. Harusnya aku bisa melawan, namun entah kenapa aku begitu lemah dihadapannya. Perasaanku ingin sekali menyelamatkannya dari rasa yang menyiksa.Kalaupun ini sebuah dosa, biarlah aku mati didalamnya. Rasa hangat itu tak pernah ku temui sebelumnya. Pernikahank
Setelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hatinya masih saja merasa sendirian.AAAAAAAAA!!PRAAANKKK..PRAAANKKK ...Berteriak histeris Wina membuang semua barang nya ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana - mana. Padahal dia selalu berusaha keras untuk bisa dicintai dan dibanggakan. Bahkan diuniversitas, dia lulus dengan nilai terbaik. Namun kenapa dirinya selalu merasa sendirian.Tokk..tokkk..tokk"Wina.."Tokk..tokk..tokkk"Wina, ini ibu. Kamu baik - baik saja win? Tolong buka pintunya" panggil ibunya yang baru saja datang dari luar. Ada pertemuan ibu - ibu istri pengusaha yang harus ia hadiri.Ceklekkk!!"Ya allah..ada apa wina? Kenapa semuanya berantakan seperti ini. Apa ada masalah dengan wisudanya? Bukannya kamu sudah minta tol
Rasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana."Oeeek..oeeekk.." Arsya menangis kecil setelah ku mandikan. Apakah dia lapar, ingin makan atau susu ya. Ku coba membuatkannya bubur bayi yang ada. Padahal anak seumuran ini bukannya harus makan yang alami - alami ya setahuku. Dokter Adit kan seorang cowok jadi wajar kalau tidak begitu tahu. Setelah ku suapi, Arsya tampak lebih tenang. Matanya pun lambat Laun memejam."Anak yang pintar" bisikku. Masih ku gendong dan enggan untuk ku kembalikan kedalam box. Semua sudah ku bersihkan. Makanan juga sudah siap jaga - jaga kalau dokter Aditya datang.Ceklek!!Benar saja seperti dugaanku, papanya Arsya datang. Ya tuhan ku bayangkan, andai ini keluarga kecilku. Merawat bayi dan menunggu suamiku pulang kerja. Geli rasanya hatiku.
Hari berganti hari semenjak kepergian ayah. Rasanya begitu sepi. Nanti malam adalah tahlil untuk tujuh harian ayah, kami mengundang santri binaan ustadz Arifin untuk datang kerumah. Makanya hari ini aku sedikit sibuk mempersiapkan hidangan untuk mereka.Aku jadi teringat telpon dari dokter Adit kemarin. Ia mengabarkan kalau ternyata panggilan polisi terhadapku waktu malam itu. Yang katanya kasus pencurian dirumah Tante Ela. Ternyata saat pengacara dokter Aditya hendak mengurusnya ke kantor polisi, tidak ada laporan semacam itu disana. Sungguh aneh. Apakah polisi malam itu adalah polisi gadungan? Kalau iya, kenapa mereka bersikeras untuk membawaku malam itu. Merinding sekali kalau diingat. Tunggu, apakah ini ulah om darman? Kemarin waktu ayah meninggal, om darman sekeluarga juga tak nampak sama sekali. Padahal dikota ini, dialah satu - satunya keluarga ayah."Mbak, ini ada kiriman roti" Raka membawa satu dus roti dari merk ternama."Dari siapa Raka?" Tanyaku."Dari dokter Adit mbak. Ta







