Mag-log in"bangun, mbak bangun mbak! duh, lha kok malah dia pingsan" suara medok Jawa seorang pemuda, asli Jogja.Melihat kaki Zahra bersimbah darah, meskipun gemetar, Wisnu berusaha mengangkat tubuh perempuan yang hampir saja di tabraknya dengan cepat."Tolong dokter, tolong..!" Wisnu berteriak, menggendong tubuh Zahra masuk ke rumah sakit."A aku dimana?" Zahra memegangi kepalanya. Dirinya Baru sadar, setelah mendapat ruang perawatan."Sampean ada di rumah sakit mbak. Tadi mbak hampir saja tertabrak sama saya. Besok lagi, tengok kanan kiri kalau mau nyebrang Yo mbak. Kaya gini kan jadi merepotkan orang lain" cicit wisnu. Beberapa kerjaan hari ini, memang harus dicancel gara - gara nganterin Zahra ke rumah sakit."Maaf mas, saya memang ceroboh," jawab Zahra, masih lemas.Wisnu sesekali mencuri pandang, takjub pada Zahra. Selama tinggal di kampung ini, belum pernah ia temukan gadis secantik dan sebening ini."Gak apa - apa mbak, yang penting mbak selamat. Oh iya dengan mbak siapa ya? Kalau say
"Ada apa Ben? Kenapa berisik banget?!" Suara Silvia, membuat beberapa pria yang sedang adu mulut di depan ruang kerjanya berhenti. Semuanya mengalihkan pandangannya, ke arah Silvia."Ini bos, bapak polisi ini bilang, ada pemanggilan untuk Bu bos. Lagi saya minta surat perintahnya. ini, silahkan!" beni menyerahkan selembar kertas pada Silvia.Tertulis jelas, nama pelapornya adalah Aditya hermawan. Pria yang selama ini, selalu di gadang - gadang untuk menjadi pasangannya. Entah mengapa, tangan Silvia gemetar. Dia tidak menyangka, Aditya tega melakukan ini padanya."Tidak, ini pasti ada kesalahan. Aditya tidak mungkin melaporkan saya pak. Memangnya salah saya apa?" Ucap Silvia panik."Bapak Aditya hermawan, telah melaporkan bahwa anda sudah memasukkan sesuatu ke dalam minuman miliknya dan juga Bu Zahra. Oleh karena itu, anda diminta datang untuk memberikan keterangan. Mari, ikut kami!" ucap polisi yang bernama dada jokowidodo itu. Mereka lalu permisi, untuk membawa Silvia pergi dengan
"kalian kemana?" Aditya duduk lemas. Coba menghubungi nomer Zahra tapi mati. "Malam - malam begini, harus cari kemana?" Gumam Aditya.Kring..kriiing..Ponsel Aditya menjerit - jerit, ternyata zio yang menghubunginya."Halo dit? Lo dimana?" Suara zio di seberang."Di rumah sakit" jawab Aditya sekenanya."Oke, Lo pesan apa? kita lagi pada mau otw kesana soalnya" tanya zio. Terdengar celotehan meta juga disana.Adit menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Nggak usah ke sini bro, Zahra sama Arsya hilang. Gue lagi usaha buat cari mereka" suara Aditya terdengar parau."Apa? Kok bisa?" Kata zio tercengang."Ceritanya panjang. Gue bingung harus mulai dari mana" Aditya memijit pelipisnya yang terasa semakin berat.Karena khawatir dan penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi, zio pun memutuskan sambungan telponnya dan tetap pergi menuju ke rumah sakit.Sesampainya di sana, langsung mencari keberadaan Aditya. Di ujung koridor yang sepi, Aditya nampak bertelpon dengan seseorang.
"Anak siapa yang kamu kandung itu Ra?" Tanya Aditya.Pelan tapi bagai ribuan belati ia hujamkan ke dada istrinya. Pertanyaan macam apa itu. Harusnya saat ini ia hujani istrinya dengan kasih sayang.Setetes air mata Zahra meluncur tanpa penghalang. Menelan kepahitan hatinya saat ini. "Apa? Anak siapa? Maksud kamu apa mas?!" Bibirnya bergetar."Lihat saja video ini! Kamu masuk ke kamar hotel dengan mantan suamimu. Bisa saja dibelakangku kalian sering melakukannya" Aditya meradang. Walaupun bahasanya tidak kasar, tidak juga memukul, tapi setiap ucapannya jelas mengandung amarah.Zahra terdiam, setelah melihat video dirinya dibawa masuk ke kamar hotel oleh Surya. Pantas saja kalau Aditya sampai tidak percaya anak yang dikandungnya itu anak dia. Tapi bagaimana Zahra harus menjelaskannya. Sementara saat itu saja dirinya tidak sadarkan diri."Jelasin Ra. Kenapa diam?" Suara baraton Aditya menyadarkan Zahra dari lamunannya."Harus jelasin apa? Mau dijelasin sampai berbusa pun, kalau pikiranm
"Kerja kalian apa??!! Disuruh menjaga bayi saja tidak becus!!" Wina berteriak memarahi anak buahnya. Matanya merah menyala."Maaf Bu" mereka menunduk ketakutan. Bagaimana tidak, dalam perjanjian disebutkan kalau uang yang mereka terima harus di kembalikan kalau sampai pekerjaan mereka gagal."Ternyata mereka tidak bisa dianggap remeh. Aditya, berani kamu menantang saya!" Gerutu Wina."Agung..!" Wina memanggil sang asisten yang berdiri 1meter dibelakangnya."Iya Bu?""Siapkan mobil, kita akan pergi ke suatu tempat" Wina memicingkan matanya."Siap Bu" jawab sang asisten.Ditempat lain, ada Ine yang hari ini menghabiskan waktunya seharian dirumah saja. Setelah menghilangnya Arsya, Ine tidak ingin membuat curiga Aditya dengan bersenang - senang di luar rumah. Sementara waktu, dirinya harus menahan hobby nya berbelanja dan traveling. Beberapa karyawan salon langganannya, khusus dipanggil untuk melayaninya perawatan dirumah. Selain spa massage, Ine juga minta eyelash dan menicure pedicure.
"Hati - hati ya, salah gerak sedikit saja bisa - bisa anak itu curiga kalau kamu bukanlah ibu kandungnya" ucap seseorang di ujung telpon berbincang dengan Ine. Terdengar jelas saat Zahra memakai benda kecil di telinganya. Berharap hanya dirinya yang bisa mendengar percakapan itu untuk saat ini.Mata Zahra membulat mendengar itu. Dirinya lantas menekan tombol recorder agar bisa di simpan ke galery. Siapa tahu, suatu saat dibutuhkan.*Suara Ine tertawa terbahak, membuat Zahra merinding mendengarnya."Mana mungkin anak itu curiga, dia itu bodoh sama seperti ibunya dulu! Kalau ada yang berkata buruk tentangku, aku tinggal pasang muka sedih. Dia pasti luluh. Aditya seperti anjxng peliharaanku bang haaa haaa" laki - laki itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Ine."Ya tuhan, penemuan apa lagi ini. Gila, mana bisa ku kasih tahu ini pada mas Aditya. Dia pasti syok berat. Tapi siapa yang di panggil bang oleh mama Ine?""Kenapa sayang?" Tiba - tiba saja Aditya merangkul pundak Zahra membuatnya g







