MasukMahirap ang mawalan ng mga dahilan mo para mabuhay yung mga nagpapasaya sayo pero ngayon hindi mona alam kase hindi muna ii.sila pwedeng pang makasama Muli. Lalo na pag naalala mo ang lmga bagay na ginagawa nyo nuon ang tangi mong magagawa ay umiyak lamang ganyan ang buhay ngayon ni hilary simula nang mawala ang mga mmagulang nya ang tangi nalang meron sya ang mga kaybigan nya ni Minsan hindi sya iniwan iihanggang sa dumating si Blue sa buhay nya ... Ano kaya ang magiging papel nya sa buhay ng dalaga
Lihat lebih banyak"Ini naskah skripsi saya, Pak. Semuanya sudah direvisi," ucapku dengan suara bergetar yang sulit disembunyikan.
Aku berdiri di dekat Pak Jefri sambil menundukkan kepala. Jemariku saling meremas di belakang punggung. Keringat dingin merayap di sekujur tubuh, meski ruangan dingin dari embusan AC itu terasa menusuk. Aku merasakan suasana yang mencekam di kantor Pak Jefri siang itu. Wajar saja. Ini sudah kali ke lima aku menulis revisi yang berujung penolakan. Setiap kali skripsi itu kembali, selalu ada coretan —menandakan kegagalanku yang tak ada habisnya. Rasanya bukan lagi revisi, melainkan sebuah siksaan tanpa akhir. Tak salah jika aku memanggilnya 'dosen killer'. Aku merasa dia punya dendam pribadi padaku, seolah ia selalu mencari celah untuk mempersulit skripsiku. Benar saja, hari ini pun sama. Aku melirik Pak Jefri yang hanya membalik-balik kertas itu tanpa membacanya. Wajahku cemberut, dalam batinku bergumam, 'Sialan nih dosen! Dia bahkan nggak ngehargai kerja kerasku.' Secepat kilat, ia mencoret beberapa halaman. Aku spontan mendongak, mataku membelalak lebar diikuti dengan mulutku yang menganga . "Pak... jangan dong, Pak. Saya sudah susah payah merevisi ini. Masak dicoret lagi sih, Pak..." Aku berseru, berusaha merebut dokumen tugas akhir itu. Namun, ia menjauhkan tangannya dengan cepat—membuatku tak bisa menjangkaunya. "Skripsi apa yang kamu buat ini?!" Nadanya bukan lagi sekadar marah, melainkan sebuah ledakan. Suaranya menggelegar di ruang kantor yang sunyi, membuatku berjengit. "Semuanya salah!" Ia terus mencoret tiap halaman di udara, seolah ingin merobeknya. Aku merasa kesal dan terus melompat-lompat, berusaha menggapai skripsi itu. Namun, tanpa sengaja kakiku tertekuk, hingga tubuhku limbung dan terjatuh dalam dekapannya. Mata kami bertemu, dan mematung selama beberapa detik. Mendadak getaran aneh muncul di dadaku. Tubuhku terasa menghangat, seolah ada api yang menyala. Tak berselang... pak Jefri melumat bibirku tanpa aba-aba, dan tanpa sadar aku pun membalasnya. Tanpa sedikitpun rasa sungkan, aku menjulurkan lidahku, mengundang Pak Jefri untuk menelusuri lebih dalam. Semakin lama, ciumannya semakin ganas. Ia mulai menelusuri leherku, meninggalkan jejak kemerahan di sana. "Aahh..." desahan samar lolos dari bibirku. Selama ini, tak ada pria yang menyentuhku. Namun hari ini, seorang dosen killer yang kubenci justru memulai semuanya. Ia meruntuhkan segala pertahananku yang selama ini anti sentuhan fisik. Tangan Pak Jefri semakin berani. Ia tak puas hanya dengan bagian atas, dan mulai menjelajahi bagian dadaku. Perlahan... ia menarik tali tanktop-ku sambil terus mencumbu dengan penuh hasrat. Pucuk balon-ku yang sudah tegang mencuat ke permukaan, saat ia melorotkan tanktop beserta bra yang menempel. Dengan penuh gairah, ia mengisap ujung berwarna merah muda itu, lalu menari liar menggunakan ujung lidahnya. "Mmhhh... Pak..." Mulutku tak bisa diam, apa lagi saat jemari panjangnya mulai menjelajahi lahan bunga matahariku yang basah. Aku bisa mendengar embusan napas Pak Jefri yang memburu. Tak kusangka, dosen yang kuanggap buas dalam merevisi skripsi ternyata lebih buas dari bayanganku. Ia mengangkat tubuhku yang kecil, lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya. Rok mini yang kupakai memudahkannya menjangkau area paling sensitifku. Perlahan... pak Jefri menurunkan celana dalamku, lalu membuka lebar pintu goa yang menutupinya. Dengan cepat ia menarik tuas kursi putar yang didudukinya —hingga merendah, membuat lidahnya dengan mudah menjangkau lipatan terdalamku. "Aahhh... Pak..." Aku mendesah kenikmatan sambil meremas rambut Pak Jefri. Bokongku terus bergerak, mencari sensasi terdalam dalam permainan lidahnya. Hingga tanpa terasa, genggaman tanganku pada rambutnya tergelincir. Tubuhku tiba-tiba melayang, bukan karena kenikmatan—melainkan jatuh dari ketinggian. Bruak! Aku tersentak karena tubuhku tiba-tiba terguling dari kasur, lalu mendarat di lantai yang dingin. Napasku terengah, mataku menyapu ke segala arah sambil bergumam, "Di mana ini?" Keningku berkerut saat melihat kertas skripsi berserakan di mana-mana. Laptopku masih menyala, dan buku-buku tercecer di segala tempat. Melihat kekacauan yang terjadi aku baru sadar—ini apartemen kontrakanku, bukan kantor Pak Jefri. "Sialan! Ternyata aku hanya mimpi." Beberapa jam lalu, aku sibuk menyelesaikan revisi sambil mengumpat. Saking kesalnya dengan Pak Jefri, aku sampai ketiduran dan bermimpi aneh di siang bolong. Aku meraba selangkanganku yang terasa basah. Dan... Benar saja. Cairan bening seperti lem masih terperangkap dalam celana dalamku. "Begok! Bisa-bisanya aku mimpi basah sama dosen killer itu," rutukku pada diri sendiri. Cling! Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di kasur tedengar. Aku mengabaikannya dan masih bersandar lemas di sisi ranjang. Dadaku terasa sesak karena mimpi barusan. Selain jijik, aku merasa kesal dan tak terima. Aku yang selama ini tak pernah tersentuh pria, justru disentuh pertama kali oleh orang yang aku benci—meski itu hanya dalam mimpi. Tak pernah sedikitpun aku membayangkan disentuh olehnya, bahkan melihat wajahnya saja membuatku naik darah. Heran saja, kok bisa ia menjadi dosen idaman para mahasiswi. Padahal wajahnya sangat kaku dan minim emosi. Sikapnya dingin mengalahkan kutub Utara. Meskipun, ya... Dia memang ganteng, sih. Ddrrzzztttt! Suara dering ponselku disertai dengan getaran memecah keheningan. "Siapa sih?" Dengan gerakan lemas, tanganku meraba-raba kasur, berusaha meraih ponsel itu dari lantai. "Pak Jefri?!" Mataku seketika membelalak melihat namanya terpampang jelas di layar. Aku segera menekan tombol hijau, lalu bergegas menjawab. "Halo, Pak..." Mendadak aku berubah total. Berbicara dengan selembut mungkin, seolah tak pernah ada rasa kesal sedikitpun. "Kalau kamu tidak mau menyelesaikan skripsi bilang saja! Saya tidak mau capek-capek menunggu kamu di kampus!" Suara Pak Jefri terdengar seperti sedang menahan amarah. "A-apa? Bapak nunggu saya?!" Mataku melotot karena kaget. Tubuhku membeku, seolah paru-paruku berhenti bernapas. "Kamu tidak baca pesan? Saya sudah mengirim pesan beberapa kali, Erika!" Seketika, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Jemariku bergerak cepat, buru-buru mengecek layar ponsel. Dan... Benar saja. Pak Jefri mengirimku pesan sejak pukul dua belas siang, memintaku datang untuk bimbingan skripsi pukul tiga sore. Dan sekarang? Aku melirik jam weker di rak belajar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit, menempelkan kembali ponsel itu di telinga sambil melangkah kebingungan. "Iya, Pak. Saya akan segera datang!" jawabku dengan suara serak, lalu mematikan ponsel. Aku panik, berlari ke sana kemari mencari celana panjang dan kemeja. "Ke mana, sih? Padahal tadi kan di sini." Seolah menghilang ditelan bumi. Khas sekali, barang yang paling dibutuhkan selalu lenyap saat genting. Padahal aku yakin betul celana itu tadi pagi tergeletak di kasur. Kontrakan apartemenku ini tidak besar. Hanya ada satu kasur, rak yang jadi satu sama meja belajar, satu sofa panjang dan lemari berkabinet. Harusnya celana itu tidak lari kemana-mana. Aku berlari ke segala tempat, membuka semua kabinet lemari. Kosong. Tak ada celana yang tersisa. Aku terduduk lemas di lantai. Berteriak sambil menjambak rambutku sendiri. "Aarrrgghh.... Kenapa bajuku kotor semua?!"Chapter Sixthy Two Nagising si Blue na masakit ang kanyang ulo agad niyang kinuha ang kanyang cellphone tignan kung may tumawag nakita niya 8 am na naupo muna siya sa kanyang kama at nag unat unat ng kanyang mga braso at maya maya ay tumayo na ito at inayos Ang kanyang higaan Pag katapos ay lumabas na sa kanyang kwarto at naabutan niya ang kanyang ama na uniinom ng kapeNang makita siya ng kanyang ama ay binatiSiya neto " Mabuti at gising kana Tara at uminom ng kape " yaya neto Naupo siya at sinandal ang ulo sa sandalan ng upuan at minapasahi ang ulo Dumating naman si Manang Dada at tanung sa Kanya " iho gusto mo ba ng kape? Tanung niya"oho maaari po ba? " tanung niya "Sige teka lang at ako ay Mag titimpla " sabi neto at agad naglakad papuntang kusina Napansin ng kanyang ama na parang matamlay ang siya kung kaya agad siya nitong tinanung "iho masama ba ang Pakiramdam mo? " tanung neto "masakit ho ang ulo ko Papa "sagot niya"Kung ganun huwag ka munang Pumasok sa Opisina Ma
Chapter Sixthy one Suarez MansionHabang na sa kwarto si Blue naisipan niyang Mag palit ng kanyang damit agad siyang tumayo at nilock ang kanyang Pinto at nag lakad papunta sa kanyang lagayan ng damit at kumuha na ng pampalit at nag bihis na Pagkatapos ay naupo na muli sa kanyang kama Nakita niya ang libro na bigay sa kanya ng kanyang Mommy kinuha niya ito at naalala niya ang dalaga na kasama nang kanyang Pinsan, may naramdaman siyang Kirot sa kanyang d*b*i* na kanina pa niya Nararamdam Nang harapan niyang nalaman na nakipag date si Hilary sa kanyang Pinsan Sobra ang sakit na kanyang Nararamdam ngayon na ngayon lang niya Naramdaman hanggang sa naisipan niyang Lumabas at mag punta sa garden para mag pahangin agad siyang Lumabas ng kanyang kwarto at naisipan niyang Uminom ng Beer agad siyang nag lakad ng Papuntang kusinaPag dating niya doon ay binuksan ang Reef at tumingin ng pwede niyang mainom . Nakita niya ang beer kumuha siya ng dalawang pirasong beer at nag lakad na papuntang ga
Chapter Sixthy DATESobra ang saya ni Brando dahil napapayag niya si Hilary na mag date habang nag hihintay ng masasakyan nila nag tanung si Brando sa kanya" "saan mo gusto kumaen ngayon?"tanung neto" ah ikaw na bahala" sagot neto " Korean food? Gusto mo? " Muli niyang tanung dito"Sige ba " nakangiting sagot neto Tumingin sa tapat ng kanilang Kinatatayuan at muling nag tanung " Dun na Lang kaya? tanung neto sabay turo neto sa restaurant na nasa tapat nila Ngumiti ang dalaga sa kanya bago sumagot " Oo ba tsaka malapit at masarap diyan "nakangiting sabi niya" kung ganun halika na" sabi neto sa kanyaNgumiti siya dito at nag lakad na patawid sa Restaurant Pag dating nila sa pinto ay agad binuksan ni Brando ang Pinto at Pinaunang Pinapasok si Hilary ngumiti ang dalaga sa kanya at Pag Pasok nila agad nag Hanap ng Mauupuan si Brando nakita niya ang isang Magandang Pwesto Para sa kanya sa gilid sa may bandang kanan tinuro niya ito sa dalaga"Hillary dun tayo " sabi neto "Sige " s
Chapter Fifthy Nine SCC8:15 am nang Makarating na si Hilary at Shasha sa Scc Late sila ng 15 minutes Nakita sila ni Mr Isidro na kakarating lamang Pinuna sila neto "Hilary at Shernan baket ngayon Lang kayo? "Tanung neto" Po Ma traffic po Sir isidro " sagot ni Shasha" Next tym agahan ninyo ang Pag Pasok ng hindi kayo nalalate Pasalamat kayo at Wala pa si Sir Blue kung hindi humanda nanaman kayo" sabi neto sa kanila"Opo Sir Hindi na po Mauulet " sagot ni Hilary "Sige Mag trabaho na kayo Maya Maya narito na si Sir Blue Bawal ang Mag usap kung hindi Relate sa Trabaho Maliwanag?" ! Tanung nya"Opo Sir " Sabay na sagot nila Tumalikod na si Mr isidro sa kanila at Nag lakad na Papuntang Opisina neto habang Sina Hilary at Shasha ay Naglakad na papunta sa kanilang Pwesto Habang nag lalakad nag salita si Shasha " Gurl palagi nalang Mainit ang ulo ni Mr isidro saten" malungkot na sabi neto"totoo sagot ni Hillary sa kanya Tara nanga Mag trabaho baka makita tayo ulet nun Sermunan pa tayo
Chapter Fifty sixNang matapos sila sa panunuod naisipan ni France na mag tanung kina Shasha at Hilary " ano may pupuntahan pa ba tayo? " tanung niya Sumagot si Shasha kay France " kayo kung may gusto kayong puntahan pa " sagot neto" Uwe na muna tayo" yaya ni Hilary sa kanya " sige " sagot ni France
Chapter Fifthy Three Bonding Blue at Brando Habang nag Babasa si Blue ng kanyang paboritong Libro May kumatok sa kanyang Pinto Tok ! Tok ! Nag Salita siya ng Pasok !Pag Bukas ng kanyang Pinto nakita niya si Brando nag tanung sa kanya ito" Bro Pwede Pumasok? "" Sige " sagot neto habang tinigil ang pa
Chapter fifty twoPasyalNang Makarating na sila Hilary sementeryo agad silang nag Hanap ng mabibiling Bulaklak at kandila nakita nila ang isang Flower shop agad silang pumasok doon namili na sila ng Bulaklak na kanilang bibilhin pinili ni Hilary ay ang paboritong Bulaklak ng kanyang mama Sunflower ag
Chapter Fifty sevenNagising na si Vlad agad niyang kinuha ang kanyang cellphone at tinignan ito nakita niya na ala-otso na Nang umaga binalik na niya ito sa lagayan at tumayo na siya pumunta agad siya sa kusina at nag timpla ng kape pag matapos mag timpla ng kape pumunta siya Nang sala at naupo sa u












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.