|nlove with My Enemy

|nlove with My Enemy

last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-27
Oleh:  GeLienaMoOngoing
Bahasa: Filipino
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
63Bab
3.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sinopsis

Mahirap ang mawalan ng mga dahilan mo para mabuhay yung mga nagpapasaya sayo pero ngayon hindi mona alam kase hindi muna ii.sila pwedeng pang makasama Muli. Lalo na pag naalala mo ang lmga bagay na ginagawa nyo nuon ang tangi mong magagawa ay umiyak lamang ganyan ang buhay ngayon ni hilary simula nang mawala ang mga mmagulang nya ang tangi nalang meron sya ang mga kaybigan nya ni Minsan hindi sya iniwan iihanggang sa dumating si Blue sa buhay nya ... Ano kaya ang magiging papel nya sa buhay ng dalaga

Lihat lebih banyak

Bab 1

|nLove with My Enemy

"Ini naskah skripsi saya, Pak. Semuanya sudah direvisi," ucapku dengan suara bergetar yang sulit disembunyikan.

Aku berdiri di dekat Pak Jefri sambil menundukkan kepala. Jemariku saling meremas di belakang punggung. Keringat dingin merayap di sekujur tubuh, meski ruangan dingin dari embusan AC itu terasa menusuk.

Aku merasakan suasana yang mencekam di kantor Pak Jefri siang itu. Wajar saja. Ini sudah kali ke lima aku menulis revisi yang berujung penolakan. Setiap kali skripsi itu kembali, selalu ada coretan —menandakan kegagalanku yang tak ada habisnya.

Rasanya bukan lagi revisi, melainkan sebuah siksaan tanpa akhir. Tak salah jika aku memanggilnya 'dosen killer'. Aku merasa dia punya dendam pribadi padaku, seolah ia selalu mencari celah untuk mempersulit skripsiku.

Benar saja, hari ini pun sama. Aku melirik Pak Jefri yang hanya membalik-balik kertas itu tanpa membacanya. Wajahku cemberut, dalam batinku bergumam, 'Sialan nih dosen! Dia bahkan nggak ngehargai kerja kerasku.'

Secepat kilat, ia mencoret beberapa halaman. Aku spontan mendongak, mataku membelalak lebar diikuti dengan mulutku yang menganga .

"Pak... jangan dong, Pak. Saya sudah susah payah merevisi ini. Masak dicoret lagi sih, Pak..." Aku berseru, berusaha merebut dokumen tugas akhir itu.

Namun, ia menjauhkan tangannya dengan cepat—membuatku tak bisa menjangkaunya.

"Skripsi apa yang kamu buat ini?!" Nadanya bukan lagi sekadar marah, melainkan sebuah ledakan. Suaranya menggelegar di ruang kantor yang sunyi, membuatku berjengit.

"Semuanya salah!" Ia terus mencoret tiap halaman di udara, seolah ingin merobeknya.

Aku merasa kesal dan terus melompat-lompat, berusaha menggapai skripsi itu. Namun, tanpa sengaja kakiku tertekuk, hingga tubuhku limbung dan terjatuh dalam dekapannya.

Mata kami bertemu, dan mematung selama beberapa detik. Mendadak getaran aneh muncul di dadaku. Tubuhku terasa menghangat, seolah ada api yang menyala.

Tak berselang... pak Jefri melumat bibirku tanpa aba-aba, dan tanpa sadar aku pun membalasnya.

Tanpa sedikitpun rasa sungkan, aku menjulurkan lidahku, mengundang Pak Jefri untuk menelusuri lebih dalam.

Semakin lama, ciumannya semakin ganas. Ia mulai menelusuri leherku, meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Aahh..." desahan samar lolos dari bibirku.

Selama ini, tak ada pria yang menyentuhku. Namun hari ini, seorang dosen killer yang kubenci justru memulai semuanya. Ia meruntuhkan segala pertahananku yang selama ini anti sentuhan fisik.

Tangan Pak Jefri semakin berani. Ia tak puas hanya dengan bagian atas, dan mulai menjelajahi bagian dadaku. Perlahan... ia menarik tali tanktop-ku sambil terus mencumbu dengan penuh hasrat.

Pucuk balon-ku yang sudah tegang mencuat ke permukaan, saat ia melorotkan tanktop beserta bra yang menempel.

Dengan penuh gairah, ia mengisap ujung berwarna merah muda itu, lalu menari liar menggunakan ujung lidahnya.

"Mmhhh... Pak..."

Mulutku tak bisa diam, apa lagi saat jemari panjangnya mulai menjelajahi lahan bunga matahariku yang basah.

Aku bisa mendengar embusan napas Pak Jefri yang memburu. Tak kusangka, dosen yang kuanggap buas dalam merevisi skripsi ternyata lebih buas dari bayanganku.

Ia mengangkat tubuhku yang kecil, lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya. Rok mini yang kupakai memudahkannya menjangkau area paling sensitifku.

Perlahan... pak Jefri menurunkan celana dalamku, lalu membuka lebar pintu goa yang menutupinya. Dengan cepat ia menarik tuas kursi putar yang didudukinya —hingga merendah, membuat lidahnya dengan mudah menjangkau lipatan terdalamku.

"Aahhh... Pak..."

Aku mendesah kenikmatan sambil meremas rambut Pak Jefri. Bokongku terus bergerak, mencari sensasi terdalam dalam permainan lidahnya.

Hingga tanpa terasa, genggaman tanganku pada rambutnya tergelincir. Tubuhku tiba-tiba melayang, bukan karena kenikmatan—melainkan jatuh dari ketinggian.

Bruak!

Aku tersentak karena tubuhku tiba-tiba terguling dari kasur, lalu mendarat di lantai yang dingin. Napasku terengah, mataku menyapu ke segala arah sambil bergumam, "Di mana ini?"

Keningku berkerut saat melihat kertas skripsi berserakan di mana-mana. Laptopku masih menyala, dan buku-buku tercecer di segala tempat. Melihat kekacauan yang terjadi aku baru sadar—ini apartemen kontrakanku, bukan kantor Pak Jefri.

"Sialan! Ternyata aku hanya mimpi."

Beberapa jam lalu, aku sibuk menyelesaikan revisi sambil mengumpat. Saking kesalnya dengan Pak Jefri, aku sampai ketiduran dan bermimpi aneh di siang bolong.

Aku meraba selangkanganku yang terasa basah. Dan... Benar saja. Cairan bening seperti lem masih terperangkap dalam celana dalamku.

"Begok! Bisa-bisanya aku mimpi basah sama dosen killer itu," rutukku pada diri sendiri.

Cling!

Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di kasur tedengar. Aku mengabaikannya dan masih bersandar lemas di sisi ranjang.

Dadaku terasa sesak karena mimpi barusan. Selain jijik, aku merasa kesal dan tak terima. Aku yang selama ini tak pernah tersentuh pria, justru disentuh pertama kali oleh orang yang aku benci—meski itu hanya dalam mimpi.

Tak pernah sedikitpun aku membayangkan disentuh olehnya, bahkan melihat wajahnya saja membuatku naik darah. Heran saja, kok bisa ia menjadi dosen idaman para mahasiswi. Padahal wajahnya sangat kaku dan minim emosi. Sikapnya dingin mengalahkan kutub Utara.

Meskipun, ya... Dia memang ganteng, sih.

Ddrrzzztttt!

Suara dering ponselku disertai dengan getaran memecah keheningan.

"Siapa sih?"

Dengan gerakan lemas, tanganku meraba-raba kasur, berusaha meraih ponsel itu dari lantai.

"Pak Jefri?!"

Mataku seketika membelalak melihat namanya terpampang jelas di layar. Aku segera menekan tombol hijau, lalu bergegas menjawab.

"Halo, Pak..."

Mendadak aku berubah total. Berbicara dengan selembut mungkin, seolah tak pernah ada rasa kesal sedikitpun.

"Kalau kamu tidak mau menyelesaikan skripsi bilang saja! Saya tidak mau capek-capek menunggu kamu di kampus!" Suara Pak Jefri terdengar seperti sedang menahan amarah.

"A-apa? Bapak nunggu saya?!" Mataku melotot karena kaget. Tubuhku membeku, seolah paru-paruku berhenti bernapas.

"Kamu tidak baca pesan? Saya sudah mengirim pesan beberapa kali, Erika!"

Seketika, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Jemariku bergerak cepat, buru-buru mengecek layar ponsel.

Dan... Benar saja. Pak Jefri mengirimku pesan sejak pukul dua belas siang, memintaku datang untuk bimbingan skripsi pukul tiga sore.

Dan sekarang?

Aku melirik jam weker di rak belajar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit, menempelkan kembali ponsel itu di telinga sambil melangkah kebingungan.

"Iya, Pak. Saya akan segera datang!" jawabku dengan suara serak, lalu mematikan ponsel.

Aku panik, berlari ke sana kemari mencari celana panjang dan kemeja.

"Ke mana, sih? Padahal tadi kan di sini."

Seolah menghilang ditelan bumi. Khas sekali, barang yang paling dibutuhkan selalu lenyap saat genting. Padahal aku yakin betul celana itu tadi pagi tergeletak di kasur.

Kontrakan apartemenku ini tidak besar. Hanya ada satu kasur, rak yang jadi satu sama meja belajar, satu sofa panjang dan lemari berkabinet. Harusnya celana itu tidak lari kemana-mana.

Aku berlari ke segala tempat, membuka semua kabinet lemari. Kosong. Tak ada celana yang tersisa. Aku terduduk lemas di lantai. Berteriak sambil menjambak rambutku sendiri.

"Aarrrgghh.... Kenapa bajuku kotor semua?!"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.

Tidak ada komentar
63 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status