رواية بين عالمين

رواية بين عالمين

last updateHuling Na-update : 2026-05-14
By:  Black_Vibes_18Ongoing
Language: Arab
goodnovel18goodnovel
10
3 Mga Ratings. 3 Rebyu
10Mga Kabanata
1.9Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

باع روحه لإنقاذ والدته، واقتحم مملكة الجن بسيفٍ يحملُ دمارها.. لكنه لم يتوقع أن الثمن سيكون (عقله). آدم، الإمبراطور الذي هز عرش الضياع، يجد نفسه الآن سجيناً داخل لعنة بصرية تجعل حبيبته ومليكته (أرينا) تبدو في عينيه كمسخٍ من الجحيم. هل يقتل حبه بيده مدفوعاً بخوفه؟ أم يكسر قيود السحر قبل أن يبتلع الرماد مملكتهما؟" ​(بين عالمين: حيث الحب هو النجاة الوحيدة.. أو السكين التي تذبح الجميع).

view more

Kabanata 1

الفصل الاول: لاجئه من عالم اخر

Dania memejamkan mata sambil mendesis menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Jaket hoodie yang dia gunakan memang mampu melindungi kulit mulusnya dari gesekan dengan aspal, tetapi benturan yang diakibatkan tetap menyisakan sakit di tulang-tulang.

“Kau sudah lebih baik?”

Dania mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Tampak seorang pria yang terlihat tampan dan matang dengan potongan rambut undercut berjalan mendekat ke brankarnya. Setelan jas yang membalut tubuh terlihat menyempurnakan penampilannya.

“Maaf, jadi merepotkan Om …?” Dania menjeda kalimatnya seraya menanyakan nama pada orang yang telah menyelamatkannya dari insiden tabrak lari.

“Sangga,” sahutnya sambil mengulurkan tangan. “Sangga Adityawarman,” ulangnya dengan menyebut nama lengkap.

“Saya terlalu senang karena saya lulus sidang skripsi, jadi kurang hati-hati di jalan.” Dania tersenyum sumir mengingat kecerobohannya. “Om!” panggil Dania sambil menelengkan kepala saat menyadari tatapan mata Sangga sedari tadi tidak berpindah fokus yang tertuju ke wajahnya. Dania berusaha melepaskan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Sangga.

Tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman di hati Dania, seolah merasa ada pamrih dari pria yang telah menolongnya. Cerita tentang sugar daddy pun kini menjejali benaknya, hingga membuat Dania memundurkan kepalanya saat Sangga akan menyentuh dahinya yang dibalut kasa.

“Selamat, ya!” Setelah mengurai jabat tangan, Sangga menyerahkan tas Dania. “Maaf aku terpaksa membuka tasmu, aku butuh tanda pengenalmu untuk urusan administrasi rumah sakit.”

Dania hanya mengangguk pelan, sebagai persetujuan. Bukanlah sebuah kesalahan apa yang telah dilakukan oleh Sangga, karena bagaimanapun pria yang saat ini berdiri di hadapannya telah menyelamatkan nyawanya.

“Dania!” panggil Sangga.

Dania tidak heran jika sekarang Sangga mengetahui namanya.

“CCTV yang merekam kecelakaan yang menimpamu sudah diamankan pihak kepolisian.” Sangga menghela napas panjang dan pandangan yang sendu yang tertuju ke mata Dania. “Diduga ada faktor kesengajaan dalam peristiwa itu.”

“Tapi saya tidak punya musuh, Om!” sahut Dania sambil menggelengkan kepalanya menyangkal pernyataan Sangga.

“Ya … tentu … gadis sebaik kamu tentu tidak mempunyai musuh.” Sangga hanya bisa tersenyum menanggapi kenaifan Dania. “Simpan kartu namaku, kapanpun kau membutuhkan, jangan sungkan untuk menghubungi!”

Dania menerima kartu nama itu lalu membaca nama yang tersemat di sana. Sangga Adityawarman, owner sebuah perusahaan konstruksi.

“Simpan saja!” ujar Sangga saat melihat ada keraguan dalam diri Dania. “Istirahatlah! Aku sudah mengurus administrasi dan menebus obat. Setelah kau merasa lebih baik, aku akan mengantarmu pulang.”

Memang tidak ada luka serius yang mengharuskan Dania menjalani rawat inap. Dania hanya butuh menenangkan diri sejenak karena dia masih syok.

“Aku yakin, putri dari Rania Fathana adalah gadis yang kuat,” ucap Sangga sambil mengusap lembut rambut Dania

“Om, kenal dengan mamaku?” Dania tertegun mendengar pria yang berada di hadapannya menyebut nama sang mama yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Tidak ada jawaban yang pasti, Sangga hanya membalas dengan senyuman dan mengusap rambut Dania.

***

Dania merasa harus berhati-hati dengan orang baru dikenal, hingga membuatnya menolak niat baik Sangga yang akan mengantarnya pulang. Sangga tidak ingin memaksa Dania, pria itu segera memesankan taksi online dengan alamat seperti yang disebut oleh Dania.

Tatapan mata Sangga seolah menyiratkan hal yang berbeda, sesuatu yang harus diwaspadai oleh Dania. Mungkin karena saat ini sudah ada Dion yang mengisi hatinya, pria yang telah menjadi kekasihnya selama lebih dari dua tahun, hingga membuat Dania bisa mengabaikan semua pesona ragawi Sangga. Ada baiknya setelah ini Dania menghubungi Dion untuk menanyakan kelanjutan hubungan mereka. Dania sangat berharap Dion akan segera melamarnya dan mereka menikah setelah dirinya diwisuda.

Setelah turun dari taksi online yang membawanya, Dania tersenyum lebar saat melihat mobil Dion telah terparkir di halaman rumah sang paman. Dania merasa semesta telah merestui niatnya, tidak ada alasan lagi untuk menunda pembicaraan tentang hubungan mereka ke depannya.

“Saya tidak bisa bersandiwara lebih lama lagi. Om!”

Suara Dion yang menyapa gendang telinganya, membuat Dania memperlambat langkahnya. Sepertinya ada sesuatu yang sangat sangat penting dan serius yang sedang mereka bicarakan.

Dania menyembulkan kepalanya sedikit mencuri pandang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di ruang keluarga. Sebuah pemandangan yang sangat mengiris hati saat Dania harus menyaksikan Dion dan Reisa duduk berdampingan dengan tangan saling bertautan.

“Sebentar lagi, Dion! Bersabarlah … sebentar lagi Dania akan lulus, lalu kalian menikah. Dan secepatnya kamu harus bisa mendapatkan tanda tangan Dania untuk mengalihkan semua aset warisan dari orang tuanya, baik properti maupun perusahaan. Setelah itu kau bisa menceraikan Dania dan menikahi Reisa.” Ari tampak kesal dan marah menghadapi Dion dan Reisa yang hampir saja mengacaukan rencananya.

“Papa harap, kalian berdua tidak melakukan tindakan ceroboh seperti tadi lagi. Karena kalau sampai Dania meninggal … penantian kita selama ini akan sia-sia. Seluruh harta warisan orang tua Dania akan diberikan ke yayasan sosial, dan kita yang telah merawat Dania sejak kecil tidak akan mendapat imbalan apa-apa.” Dengan kalimat yang panjang Ari memberi penjelasan kepada sepasang kekasih di hadapannya.

Dania masih membeku di tempatnya saat mendengar ucapan dari pamannya. Sungguh suatu kenyataan yang sangat mengejutkan bagi Dania. Orang-orang yang dia sayangi dan juga dia cintai ternyata sedang membuat sebuah pemukatan jahat terhadap dirinya. Tabrak lari yang baru saja dia alami ternyata adalah ulah kekasih dan sepupunya sendiri. Tanpa Dania sadari air mata menetes membasahi pipinya saat menyadari semua kebaikan yang selama ini dia rasakan hanya kebohongan saja.

Dania membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak lepas dan terdengar oleh keluarga pamannya dan juga Dion yang saat ini berada di ruang keluarga. Dipejamkan matanya dan dia buka telinganya lebar-lebar untuk bisa menangkap kata demi kata yang sedang diperbincangkan.

“Apa Kak Dion harus menikahi Dania? Apa tidak bisa sekarang saja kita meminta tanda tangan Dania untuk mengalihkan semua asetnya?” tanya Reisa sambil menatap ke arah Dion. Gadis muda yang sepantaran dengan Dania itu terlihat tidak ikhlas jika Dion harus menikah dengan sepupunya.

“Bukankah sejak dulu kita sudah membicarakan hal ini, sejak kita mengetahui isi surat wasiat ayah Dania. Bahkan sejak awal Dion mendekati Dania, itu juga atas persetujuanmu.” Ari mencoba untuk mengingatkan putrinya.

“Untuk pengalihan kepemilikan aset-aset Dania, kita harus mendapat persetujuan dan tanda tangan suaminya. Itu yang kita dengar dari Singgih Sugandhi. Tentu kita akan kesulitan jika sampai Dania menikah dengan pria yang tidak kita kenal. Apalagi kalau sampai pria itu mengetahui apa yang dimiliki oleh Dania dan dia juga ingin menguasai untuk dirinya sendiri,” sambung Ari berusaha meyakinkan Reisa.

“Reisa, mama harap kau bisa sedikit berkorban. Ini semua demi masa depan kalian juga.” Seperti halnya sang suami, Ina juga berusaha meyakinkan putrinya untuk tetap menjalankan rencana mereka, yang dia rasa sebentar lagi akan terwujud.

Ada banyak hal yang baru diketahui oleh Dania hari ini. Selama ini dia tidak tahu perihal wasiat dan warisan dari orang tuanya. Setelah kematian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun yang lalu, Dania dirawat oleh Ari, adik tiri sang ayah. Yang Dania tahu, Ari dan keluarganya sangat menyayanginya tanpa pamrih, itu saja. Bahkan dia tidak pernah menduga jika hubungannya dengan Dion adalah bagian dari rekayasa yang bertujuan untuk menguasai hartanya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Reisa yang menggenggam tangan Dion semakin erat.

“Jika kalian benar-benar sudah tidak sabar, kita harus mempercepat pernikahan Dion dan Dania.” Ari menatap Dion dan Reisa secara bergantian, seolah menanyakan kesiapan keduanya dengan rencana yang dia ungkap.

“Bagaimana cara meminta tanda tangan Dania?” Dion ingin memastikan jika rencana mereka sudah benar-benar matang. “Saya tidak ingin lebih lama lagi hidup dalam sandiwara. Saya yakin, semakin lama sandiwara ini, hanya akan semakin menyakiti hati Reisa,” sambungnya sambil mempererat genggaman tangan kepada Reisa. Sebesar itulah cinta Dion kepada Reisa, hingga dia rela melakukan apa saja demi kebahagiannya.

“Itu masalah gampang. Setelah kalian menikah, kau bisa pura-pura mengajukan pinjaman untuk membeli rumah, lalu kau selipkan surat itu untuk ditandatangani Dania.” Ari terlihat begitu yakin jika rencananya akan berjalan dengan lancar.

Semakin banyak mendengar, hanya akan membuat Dania semakin sakit hati. Tetapi setidaknya saat ini dia mengetahui apa yang telah direncanakan keluarga pamannya bersama Dion. Dania mengurungkan niatnya untuk menemui keluarganya. Dia ingin menepi sejenak untuk menenangkan diri, atau mungkin juga mengatur strategi untuk menghadapi mereka.

Dengan air mata yang tidak terbendung lagi, Dania berjalan tertatih meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.

Dania tidak tahu kemana dia harus pergi. Hanya nama Chiara, sahabatnya yang terlintas di benaknya saat ini. Tetapi saat dia akan menghubunginya, Dania baru sadar jika ponselnya mati dan rusak parah akibat terjatuh saat dia mengalami tabrak lari yang dilakukan oleh Dion dan Reisa.

Dania terlihat bingung di tepi jalan, tidak tahu lagi kepada siapa harus berbagi beban ini, tanpa dia sadari air mata kembali menetes. Hingga sebuah mobil mewah menghampiri dengan pintu depan langsung terbuka. Seraut wajah yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu kembali muncul di hadapannya.

“Masuklah!”

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

Rebyu

brilliant me
brilliant me
ليه حضرتك اختفيت ومش مكمل معظم رواياتك وياتري هيبقي فيه تحديث ولا خلاص ياريت ترد
2026-08-25 16:04:47
1
1
Yasmin
Yasmin
سؤال للكاتب لماذا لم تكتب بالفصحى؟!
2026-05-25 03:40:49
1
1
Black_Vibes_18
Black_Vibes_18
..............................
2026-05-13 14:38:57
1
0
10 Kabanata
الفصل الاول: لاجئه من عالم اخر
مقدمة الرواية ​"​"أنت فاكر إنك بتشوف الحقيقة يا آدم؟ فاكر إن حياتك اللي بتخلص بين زحمة المترو وهموم الورق وقلق بكرة هي دي 'الدنيا'؟ تبقى غلبان. أنا جيت لك من ورا حدود عقلك، من مكان النار فيه ليها صوت، والضلمة فيه ليها هيبة. أنا 'أرينا'.. الملكة اللي لمّت شتات ممالك الجن تحت صولجانها، اللي خلت الجبابرة يوطوا روسهم عشان يلمسوا طرف توبي.​بس الغدر يا بني آدم ملوش دين، وفي ليلة كانت ريحة الخيانة فيها أقوى من ريحة المسك، لقيت مملكتي بتتسحب من تحت رجلي والسيوف بتقطع في لحم ولائي.. مكنش قدامي غير 'مقامرة' أخيرة، شقيت بيها بوابات الزمن ورميت روحي في عالمكم 'البارد' ده.​صحيت ورا قشرة 'مراية حمامك' القديمة.. شفتك وأنت بتبص لوشك التعبان وبتحلم بحياة أحسن، من غير ما تعرف إن قدرك واقف ورا الإزاز بيراقبك. ضحكت من قلبي.. الملكة اللي وحدت عروش النار، مصيرها بقى مرهون بشاب بشري كل سلاحه في الدنيا هو 'صبره' على حاله!​أسمع يا آدم.. أنا مش ضيفة عندك، أنا 'قدرك' اللي ملوش مهرب. البوابة اللي رمتني هنا سابت وراها أثر، والكلاب اللي نهشت في ملكي هناك، بدأوا يشمشموا على ريحتي في حواري القاهرة. اللعبة كبرت
Magbasa pa
الفصل الثاني: (ظهور الحقيقة.. وميثاق العبور)
في فيلا "التجمع"، كانت الأم قاعدة لوحدها في الصالة، البيت هادي زيادة عن اللزوم وده مخوفها. كانت ماسكة سبحتها وبتحسبن على "نهى" اللي كسرت قلب ابنها، وفجأة حست بهوا "ثلج" لطش في وشها، والنور بدأ يطفي ويولع.​الأم وقفت مرعوبة وبدأت تسمي:​"بسم الله الرحمن الرحيم.. في إيه؟ يا رب استر، يا آدم.. أنت جيت يا ابني؟"​وفجأة، في وسط الصالة، الهوا بدأ يتجسد وظهرت قدامها أرينا.. لأول مرة الأم تشوفها. كانت واقفة بهيبتها الملكية، وشها شاحب وعينيها الذهببية بتنور وسط الضلمة، ومنظرها "مش بشري" أبداً.​الأم صرخت بذهول ورعب ورجعت لورا لحد ما خبطت في الحيطة:​"يا ساتر يا رب! أنتِ مين؟ وجيتي منين؟ وحصل إيه في النور؟"​أرينا قربت منها بخطوات هادية، وصوتها كان له رنين غريب بيملى المكان:​"ماتخافيش يا أمي.. أنا اللي كنت حارسة البيت ده من يوم ما سكنتوه.. وأنا اللي كنت دايمة جنبه بس أنتم ما كنتوش بتشوفوني."​الأم كانت بتنهج برعب وصوتها مهزوز:​"حارسة؟ يعني إيه؟ أنتِ جنية يا بنتي؟ وآدم فين؟ ليه مجاش معاكي؟"​أرينا وطت راسها بكسرة وقالت:​"آدم اتخطف من قلب الشركة يا أمي.. اللي خطفوه مش بني آدمين، دول 'قصاصين' من
Magbasa pa
الفصل الثالث: (هيبة الملكة)
آدم صحي على إحساس غريب بالهدوء. فتح عينه لقى أرينا واقفة قدام شباك الأوضة، ملامحها كانت رجعت لها الهيبة الملكية المرعبة، والهالة الذهبية اللي محاوطاها كانت بتشع قوة وثبات. مكنتش أرينا الضعيفة بتاعة امبارح، دي بقت "الملكة" اللي استردت عرشها ومستعدة تحرق الدنيا عشان تحمي آدم.​آدم اتعدل في سريره وهو مبهور، لسه هينطق، فجأة.. الباب الخارجي للفيلا اتنفض بخبطة هزت البيت كله!​نزل آدم بسرعة وفتح الباب، لقى قدامه "عاصم الخولي"، منافسه اللدود، واقع على ركبه ومنهار تماماً، وأول ما شاف أرينا وراه، صرخ وهو بيترعش:​"أنا جيت أسلمك كل حاجة يا آدم.. بس قول لها تشيل النار اللي بتاكل في عقلي دي!"​أرينا قالت ببرود وهي بتبص لعاصم:​"ده اللي كان بيحاول يهد كيانك يا آدم.. خليته يشوف جحيمه وهو نايم، فجيه يرمي ملكه تحت رجلك."آدم بص لأرينا بنظرة فيها مزيج من الذهول والخوف.. هو محكلهاش ولا كلمة عن "عاصم الخولي" ولا عن الحرب اللي كان عاصم بيشنها عليه في السوق عشان يكسره، لكن أرينا، برغم كل اللي مرت بيه من تعب وحرب واسترداد طاقة، كانت عينيها وقوتها قارية كل تفصيلة في حياة آدم، كأنها كانت معاه في كل لحظة ضيق.
Magbasa pa
الفصل الرابع:(خداع الشياطين)
(خلفية الخيانة - لقاء نهى وزاركال)بعد مرور أيام على طرد آدم لنهى، كانت حالتها بتسوء. قاعدة في عربيتها المركونة في طريق مقطوع، بتفتكر نظرة الاحتقار في عين آدم وهي بتطردها. في لحظة اليأس دي، ظهر زاركال.. مكنش صدفة، كان مراقب "السواد" اللي بيكبر في قلبها.​ظهر لها فجأة على الكرسي المجاور، بهيئته الأنيقة اللي تخفي وراها جحيم.​زاركال: "بقيتي رخيصة قوي يا نهى.. آدم عايش حياته مع 'الملكة' بتاعته، وأنتِ هنا بتعيطي على الأطلال."​نهى (بفزع وغضب): "أنت مين؟ وعاوز مني إيه؟"​زاركال: "أنا اللي هيرجعلك حقك.. شوفي المخزن اللي قدامك ده، ادخلي ورايا لو عايزة تشوفي آدم وهو مكسور تحت رجلك، وبدل ما أنتِ مش لاقية شغل، هخليكي هانم."​دخلت وراه المخزن المهجور، وهناك سلمهالها "كاش": 100 ألف جنيه والكيس الأسود الملعون.​زاركال: "ده سم مخصوص للعروق اللي في جسمه.. ريما (أرينا) واهمة نفسها إن دمها بيحميه، بس 'السحر' اللي في الكيس ده هتطفي الذهب اللي في دمه."(الثغرة.. استغلال الطيبة)نهى راحت الشركة، وقفت قدام مها السكرتيرة بتمثيلية محبوكة. مها كانت بتبص لها بشك لأنها عارفة التاريخ الأسود اللي بينها وبين آدم.
Magbasa pa
الفصل الخامس: (ثمن الدم.. وهروب الغادر)
ساحة القصر كانت عبارة عن طاحونة لحم؛ السيوف بتخبط في بعضها، وصيحات الجن المتمردين مالية المكان. أرينا كانت واقفة في قلب المعمعة، سيفها بيلمع زي البرق، بتدافع عن مملكتها وعن "آدم" بكل قوتها، مكنتش مجرد ملكة، كانت "إعصار" بيمسح أي حد يقرب من جوزها.​في وسط الزحمة دي، ظهر "محارب"، ابن زاركال.. كان نسخة مصغرة من أبوه في الغدر والشر. شاف أرينا مشغولة في القتال مع مجموعة من المتمردين، فاستغل الفرصة وانسل زي التعبان من وراها، ورفع خنجره المسموم وهو بيضحك ضحكة صفراء عشان يغرسها في ضهرها ويخلص الحكاية.​لكن آدم مكنش بشر عادي خلاص.. عينه الذهب كانت شايفة الساحة كلها وكأنها خريطة مكشوفة. قبل ما محارب ينزل بالخنجر بمليمتر واحد، آدم انقض عليه بـ سرعة مفيش عين بشرية ولا جنية تقدر تلمحها. وبصوت زي زئير الأسد، نزل بسيفه الاسود "هبدة" واحدة شقت الهواء وشقت جسم محارب نصين من أول راسه لحد وسطه.​جثة محارب وقعت في الأرض وهي لسه بتترعش، والدم الأسود غرق الرخام. زاركال اللي كان طاير فوق وبيرقب المشهد، اتصدم.. الصرخة اللي طلعت منه هزت الجبال المحيطة، صرخة وجع وغل على ابنه اللي اتدبح قدام عينه في ثانية.​نزل
Magbasa pa
الفصل السادس: (زئير الملكة.. وحساب الدم)
(ملاذ "باروس" الآمن)وسط الفوضى اللي ضربت الجناح الملكي وصيحات آدم اللي بتزلزل الحيطان، أرينا خدت قرارها في ثانية. هي عارفة إن آدم دلوقتي خطر على نفسه وعليها وعلى أمه، والحرب اللي بدأت بره محتاجة "الملكة" مش "الحبيبة".​رفعت إيدها، وظهر قدامها بوابة دخانية لونها رمادي غامق، خرج منها كائن ضخم بملامح حادة وجناحات بتلمع زي الفولاذ.. ده "باروس"، قائد حرس الظل وأكتر واحد بتثق فيه أرينا.​أرينا (بأمر جازم): "باروس! خد الإمبراطور والملكة الأم لـ 'قلعة المرايا'.. المكان ده محمي بطلسم يمنع أي سحر بصري. لو آدم حاول يخرج، قيده بسلاسل الروح.. ملمسوش شعرة منه، بس متسمحلوش يدمر نفسه!"​آدم كان بيقاوم وهو مش شايف غير وحوش، وباروس بحركة سريعة واحترافية شل حركته بطاقة التخدير، وشاله هو والملكة الأم اللي كانت بتبكي بصمت، واختفوا جوه البوابة.(جبروت الملكة في ساحة المعركة)​أرينا لفت وشها لساحة القصر، وعينها قلبت "أبيض صافي" بيطلع منه شرارات طاقة بتهد الحجر. فردت أجنحتها الجبارة، وطارت في نص السما وهي بتصرخ بصوت خلى كل متمرد يتسمر في مكانه:​أرينا: "يا شعب الجن الخائن! فاكرين إن غياب الإمبراطور يخليكم ت
Magbasa pa
الفصل السابع: (طوفان النسيان.. وزئير العرش)
صوت "البوق" اللي شق السما كان لسه رنينه بيهز جدران الجناح الملكي، رنين بيحسسك إن الأرض نفسها بتصرخ. آدم قام من مكانه ونفسه متهدج، لقى أرينا واقفة في نص الأوضة بشموخ مرعب، الوهج اللي خارج من بطنها بيزيد مع كل نبضة، وعينيها تحولت لكتلتين من الذهب الصافي. الباب اتفتح بهبدة عنيفة، ودخل باروس وهو بيجري كأنه طالع من حفرة نار، درعه متخبط ووشه شاحب من الصدمة. ​باروس (بصوت مخنوق): "مولاي! يا ملكة أرينا! الجبال السوداء انشقت وطلعت كل المطاريد والمتمردين اللي اتنفوا من سنين! الساحة تحت بقت بحر من الرؤوس والسيوف، والكل بيصرخ بموت العهد الجديد قبل ما يكمل!" أرينا مأدتش فرصة للرعب يسكن المكان، في ثانية كان الدخان البنفسجي لف جسمها وحولها لـ "إلهة حرب" بفستان أسود مشقق، وسيفها "البتار" طار ليدها وبدأ يطلع منه فحيح مرعب. ​أرينا (بزئير هز أركان القصر): "فاكرين إن الملكة ضعفت؟ فاكرين إن ليلتي مع آدم سحبت مني جبروتي؟ باروس.. افتح بوابات الجحيم! أي حد يقرب من السور، اقطعوا راسه وارموه في الغبار!" آدم شاف "الغل" في عينيها والخوف في عين باروس، وحس إن السيف النهاردة هيخسرهم جيش كامل ممكن يبنوا بيه
Magbasa pa
الفصل الثامن: جبروت المنسي
في عمق السجن، كان آدم قاعد في ركن ضلمة، جسمه عليه آثار "تمثيلية" العذاب اللي باروس بيعملها قدام الحراس، بس ملامحه كانت شايلة وجع حقيقي.. وجع الروح. دخل مورجاك الزنزانة بالراحة، وبص لصديقه بحزن:​مورجاك: "اطمن يا آدم.. أنا لسه جاي من عند والدتك. الملكة أرينا مخالفتش وعدها؛ أمك عايشة في أحسن حال، ومفهمينها إنك مشغول بتثبيت حكمك في الممالك الجديدة. أرينا قطعت عنك الأخبار عشان تفضل في جحيمك، بس هي لسه بتصون عرضك في غيابك."​آدم رفع راسه بالعافية، لحيته كبرت وعينيه كانت غرقانة في الحزن، ورد بصوت مبحوح:​آدم: "بلغ مولاتك يا مورجاك.. قُل لها إن آدم مات خلاص. ملوش لازمة العذاب ده، بلّغها إنها تطلع قرار إعدامي وتخلصني.. الموت أرحم من نظرة الخيانة اللي بشوفها في عينيها كل ما أتخيلها."​آدم مكنش يعرف إن باروس بيخاطر بحياته عشان يأكله ويطمنه، ومكنش يعرف إن المصيبة اللي جاية أكبر بكتير من جدران السجن ده.​[الصدمة: وريث الجليد]​بعد ساعات، دخل باروس القاعة وهو بينهج، وشه كان أصفر كأنه شاف عفريت. أرينا وقفت بلهفة: "فيه إيه يا باروس؟ انطق!"​باروس (بصوت بيترعش): "مولاتي.. الخبر نزل كأنه صاعقة على الم
Magbasa pa
الفصل التاسع: ميثاق الثلج والنار
بدأت الحشود في مملكة الثلج تتجمع في الميدان الأعظم، صمت رهيب خيم على المكان، مبيقطعوش غير صوت الرياح اللي بتصفر بين قلاع الكريستال. آدم كان واقف في المنتصف، بهيبة طاغية خلت كل الرقاب تنحني له، وعن يمينه أرينا بنارها الذهبية اللي بتشع من عينيها، وعن شماله سولار بتاجها الجليدي الماسي. ​سولار خدت نَفَس طويل، ورفعت صوتها اللي هز أركان الجبال: ​"يا شعب الجليد.. اسمعوا وعوا. من اليوم، آدم هو إمبراطور الممالك الخمس الموحدة. هو الرجل الذي اختاره قلبي، وهو أب لابني القادم، وأب لابن الملكة أرينا. نحن اليوم دم واحد، ومصير واحد، وتحت راية واحدة.. واللي عنده اعتراض أو كلمة، ينطق دلوقتي!" ​ساد صمت مرعب، مفيش عين قدرت تترفع في عين آدم. وبمجرد ما الإعلان خلص، اتحرك الثلاثة لداخل القصر، ومشيوا في الممرات الهادية لحد ما وصلوا لأوضة عرش سولار.. نفس المكان اللي "سحرت" فيه آدم، وخلته ينسى نفسه ويخون أرينا في ليلة غاب فيها عقله تحت تأثير سحرها وشريطها المسحور. ​أول ما آدم دخل الأوضة، وقف مكانه فجأة. عينيه اتثبتت على المكان اللي حصلت فيه الواقعة، وشريط الليلة دي بدأ يعدي قدام عينه بسرعة البرق؛ صورته وهو
Magbasa pa
الفصل العاشر والاخير: جنازة الماضي
مرت سنتان كاملتان والممالك السبعة تعيش في سلام مهيب، لكنه سلام مغلف بالحزن. داخل جناح الإمبراطور في مملكة السحر، كانت الأجواء مشحونة بالعاطفة. آدم لا يزال ممدداً كأنه تمثال من الرخام، لم يزدد إلا هيبة رغم شحوبه، وكأن الزمن توقف عنده هو فقط. ​بجانب السرير، كانت أرينا تجلس وهي تحمل بين يديها طفلاً صغيراً في عمر السنة والنصف، نسخة مصغرة من آدم، بعينين تشعان ذكاءً وناراً. وبجانبها سولار، تحمل طفلة جميلة جداً، بشرتها كبياض الثلج وشعرها ناعم كالحرير، تلاعب أصابع آدم الخامدة. ​انفجرت أرينا بالبكاء، دموعها تسقط على يد آدم وهي تهمس بحرقة: ​"سنتان يا آدم.. سنتان وأنا الملكة التي تحكم العالم، ولا أملك القوة لأوقظ حبي الأول. انظر إليهما.. هذا ابنك "آرثر" الذي يحمل ملامحك، وهذه ابنتك "ليلي" التي تنتظر أن تفتح عينيك لكي تراك. هل ستمضي حياتك في هذا الوهم وتتركنا نحترق شوقاً؟" ​سولار كانت تمسح دموعها بصمت وهي تسند رأسها على كتف أرينا، بينما الملكة الأم تجلس في زاوية الغرفة، ممسكة بمصحفها، تقرأ بآيات السكينة، وصوتها الرخيم يملأ الغرفة بنور الإيمان، تدعو لابنها ولأحفادها أن يجمع الله شملهم. ​في هذ
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status