Se connecter私の心臓を養女に提供するために、実の両親に訴えられた。 裁判官は最新のデジタル技術を駆使して私たちの記憶を抽出し、百人の陪審員による審判が行われる。 もし審判で罪が認定されれば、私の臓器は両親に引き渡される。 両親は私が出廷しないと思っていた。 彼らの中で、私は極悪非道な人間だったからだ。 しかし、私が法廷に立ち、記憶が映し出されると、人々は涙を流した。
Voir plus“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”【こんな親がいるなんて信じられない!】【目の角膜でも寄付してくればいいのに!こんなこと言うなんてどうかしてる!】【筱奈こそ本当に悪い奴だ!彼女こそ審判を受けるべきだ!】コメント欄の風向きが一転し、筱奈に対する非難の声が溢れ始めた。母はすでに涙を流し、父はうつむいていた。筱奈はいつの間にか戻ってきていたが、両脇に保安官を従え、無理やり座らされた。「原告は先ほど、非常口から逃げようとしたようです」保安官が報告した。筱奈はうつむき、サングラスを外した顔は驚きと恐怖に満ちていた。「あんたのせいで、うちの欣子がこんな目に遭うなんて!」母は叫びながら、筱奈に飛びかかり、彼女を叩いた。筱奈は頭をよけ、突然母の髪を掴んで引き離した。彼女は母を鋭くにらみながら、尖った声で叫んだ。「何をしてるの、いい人ぶって!私があなたに何をさせたの?!」父は立ち上がり、筱奈を指さし、痛ましそうに言った。「私たちはずっとあなたを実の娘のように大切にしてきた。まさか、裏で私たちの娘をこんなふうに扱っていたなんて!」筱奈は冷笑を浮かべ、言い返した。「ここで何のいい人を演じてるんですか?まさか、うちの両親の賠償金、あなたが使ってないとは思いませんよね?」賠償金という言葉を聞いた瞬間、父と母の顔色が一変した。父はすぐに声を上げた。「こいつ、心にもないことを言う偽善者だ!こいつこそ罰を受けるべきだ!」私は立ち上がった。「裁判官、私は山田筱奈の記憶を抽出するようお願い申し上げます」会場は騒然としており、陪審員たちがささやき合い、コメント欄には大量の文字が一気に流れ、何が書かれているのかほとんど見えなくなっていた。裁判官は少し考え込み、頷いて承認した。筱奈は抵抗したが、その力では到底勝てず、強制的に記憶抽出装置を装着された。画面がスクリーンに浮かび上がり始めた。弁護士が一枚の契約書を筱奈の前に差し出した。「あなたの両親はそれぞれ生命保険に加入しています。あなたはその受取人で、賠償金は数千万円になります。しかし、あなたは未成年なので、そのお金は新たな保護者に管理してもらうことになります」「ただし、彼らには管理権はあっても使用権はありません。あなたが成人した後、自由に使えるようになります」画画面が一瞬暗くなり、ま
山田筱奈の立場が変わった。彼女は私の命の恩人の娘となった。我が家に住むことになり、私の部屋の半分を譲ってあげた。私は嫌だったが、父は私を初めて叩いた。平手打ちを受け、私はしぶしぶ従うしかなかった。最初は部屋だけだったが、次第に私の服、ベッド、机、ノートやペンまでもが奪われた。筱奈が欲しいものは何であれ、父と母は彼女の望みを叶えるために尽力した。初めの頃、母はこう言った。「欣子、いい子ね。これはね、あなたが借りを返しているだけなのよ」しかし、私は一体何の借りを返さなければならないのだろうか?夜、両親が寝静まった後、筱奈は私の布団を剥ぎ、靴を履いたまま私のベッドの上を歩き回った。昼間には、彼女は私の服をハサミで切り裂いた。私の宿題を引き裂いて、窓から投げ捨てた。私が彼女と喧嘩すると、彼女はコンパスを持ち出し、何度も私の体を突き刺した。彼女は楽しそうに笑いながらこう言った。「欣子、あなたはこの家にいる資格なんてないの」「余計な存在だってわかるでしょ?」「どうして死ななかったの?本当に、あの二人と一緒に死ぬべきだったのに」私は母に泣きながら訴えた。しかし筱奈は涙を浮かべながら言った。「私が何をしたのか、どうして欣子お姉ちゃんにこんなに嫌われるのかわかりません。もしかしたら、私は孤児だからでしょうか。孤児っていつも嫌われるものなんですよね……」母は私を嫌悪の目で見て、筱奈を抱きしめながら優しく慰めた。「筱奈、いい子ね。欣子のことなんて気にしないで。さ、伯母さんと一緒に美味しいものを食べに行きましょう」高校の入試が終わった翌日、筱奈は私のベッドに身を伏せ、無邪気な笑みを浮かべながら言った。「かわいそうに、優等生が学校に行けなくなっちゃったね」工場で働いていた数年間、筱奈は時々私に会いに来た。「見て、これは伯父さんが私に買ってくれた服。伯母さんがくれたスマホもね。全部あなたのお金からだよ」「あなたのすべては私のものになったのに、どうしてまだ生きているの?さっさと死んじゃえばいいのに」私は次第に筱奈の残酷さを理解するようになった。私は家族を離れた。それは両親だけが理由ではなく、筱奈と争いたくなかったからだ。実の両親の愛さえ奪える彼女に、奪えないものなんてない。私は自分の立場を
「ありえない!」「彼女は嘘をついている!」父は感情を爆発させ、立ち上がって私を指さしながら怒鳴った。母は顔面蒼白になり、唇を震わせながらこの事実を受け入れられない様子で私を見つめていた。山田筱奈はいつの間にか原告席を離れていたが、彼女のバッグだけが席に残されていた。「記憶は改ざんできません」裁判官は冷たい視線を父に向け、保安官に指示を出した。保安官が父を力強く押さえつけ、席に座らせた。父は悔しそうに私を睨みつけていた。記憶の再生は続いており、スクリーンには映像が流れ続けていた。
初めて山田筱奈に会ったのは、彼女が4歳、私が3歳の時だった。彼女は汚れた服を着ており、髪は一週間も洗っていないようた。人を見る目にはどこか怯えた様子があった。一方で、私は綺麗なピンク色のプリンセスドレスを着て、清潔で整っていた。髪はきちんと結ばれ、小さな赤いリボンが結び目に飾られていた。その頃の私は、父と母にとってまさに宝物のような存在だった。筱奈の両親は喧嘩をしていた。私は彼女に近づき、手を引きながら優しく声をかけた。「怖がらないで、私が……」その言葉を言い終わる前に、筱奈は突然手を上げ、私を力いっぱい押しのけた。さらに彼女は私の顔を爪で引っ掻き、そのままどこかへ駆けて行ってしまった。私は呆然とし、しばらくしてようやく涙が溢れ、父と母の元へ泣きながら駆け込んだ。筱奈は首をかしげ、無垢な表情でこう言った。「私は何もしていません」両家の親同士の関係を考え、父と母はそれ以上責めることができなかった。しかし、私の額には小さな傷跡が永久的に残った。その後、母はその傷を隠すために私の前髪を切り揃えてくれた。私を抱きしめながら母はこう言った。「欣子はこの世で一番可愛い女の子よ」この記憶の断片を今振り返ると、まるで遠い昔の出来事のように感じられる。あれが本当に私の両親だったのか、今では信じられない気持ちだ。筱奈と再び会ったのは、私が10歳の時だった。その年のお正月、筱奈一家がうちに遊びに来て、両親は一緒に有名なA市へ遊びに行くことを約束した。しかし、父と母が急用で行けなくなり、筱奈の両親が私を連れて先に出発することになった。道中、筱奈の両親は再び言い争いを始め、やがて冷戦状態に陥り、互いに無視するようになった。後部座席に座る私は、車内の重苦しい雰囲気に圧倒され、一言も発することができなかった。突然、筱奈が手を伸ばし、助手席に座る母親の手を掴んで小声で言った。「お母さん、もう怒らないで」しかし、筱奈の母親は怒りに任せて彼女の手を振り払った。その勢いで運転中の父親の顔を叩いてしまった。これに激怒した筱奈の父親は、まるでライオンのように咆哮しながら妻に掴みかかり、彼女の顔を平手打ちした。彼はハンドルから手を離したと同時に、山の斜面から大きな石が転がり落ちてきた。彼が気付いた時にはもう遅く
【うーん……この人の元の家庭環境は確かに悲惨だけど、後々もっと激しい復讐をしそうだな】【そうだな。人はずっとこんなに弱々しくて純粋なわけがない。何かやらかしているに違いないよ】次に両親が私に訴えた罪状は2つ目だった。「結婚の持参金400万円を持ち逃げし、音信不通に。結果、両親に多額の借金を背負わせた」スクリーンには再びコメントが流れ始めた。【やっぱり何かやらかしていたのか!】【400万円だって?それが家族じゃなければ詐欺で逮捕だろう!】コメント欄の風向きが変わるのを見た父は、再び胸を張って姿勢を正した。私は筱奈を見た。彼女は相変わらず落ち着いた様子だったが、わず
借りた本を返せない私は、アルバイトでお金を稼ぎ、弁償するしかなかった。アルバイトは工事現場で、雑用や軽作業をしていた。工場の仕事よりもずっと過酷だった。ある日、セメントを入れたバケツがあまりにも重く、生理中で体調が悪かった。私は、手元が緩んでバケツをひっくり返してしまった。セメントの水が足にかかり、工事監督は首を振りながら、「もうここで働かない方がいい」と言った。私はその場に跪き、涙ながらに頼んだ。「ちゃんとやりますから、もう一度だけチャンスをください」監督はため息をつき、私を起こそうとしたが、セメントがすぐに固まり、私の足は動けなくなった。仕方なくハンマーでセメン
審判が正式に始まった。被告人の第一の罪状:扶養義務を怠り、重病の父を無視して、外で遊び呆け、自己中心的に楽しんでいたこと。スクリーンには、母が涙を拭いながらその詳細を語る映像が映し出された。家庭の経済状況は厳しく、父親は苦労して働きながら私を学校に通わせ、大学まで行かせた。それなのに、父親が病床に伏していた時、学業が忙しいという言い訳をして、一度も帰省しなかった。医療費を送金しなかったせいで、父親の左足に一生残る障害を負わせた。。【なんてひどい人間だ!】【恩知らずめ!勉強して何の意味があったんだ!】コメント欄は激しい反応を見せていた。スクリーンには、母が何度も私に電
審判の台に立つと、数メートルにも及ぶスクリーンにリアルタイムでコメントが流れ始めた。【審判の台に立った最初の勇者!】【犯人は決定的な証拠を前にしたら、もう言い訳できない】【いよいよ面白くなってきた!!!!】審判が始まる前、裁判官は私に最後の言葉をかけた。「被告人、審判の手順と結果について理解しているか? それを踏まえた上で審判を受ける意思はあるのか?」もし有罪となれば、その場で安楽死が執行され、私の臓器は両親に引き渡される。その時、私の心臓は山田筱奈(やまだ さな)を救うために使われるのだ。原告席に座る私の実の両親は、嫌悪感を露わにして私を見つめていた。彼ら