Short
ライブ配信で裁かれる私の両親

ライブ配信で裁かれる私の両親

Par:  逆行者Complété
Langue: Japanese
goodnovel4goodnovel
11Chapitres
7.0KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

私の心臓を養女に提供するために、実の両親に訴えられた。 裁判官は最新のデジタル技術を駆使して私たちの記憶を抽出し、百人の陪審員による審判が行われる。 もし審判で罪が認定されれば、私の臓器は両親に引き渡される。 両親は私が出廷しないと思っていた。 彼らの中で、私は極悪非道な人間だったからだ。 しかし、私が法廷に立ち、記憶が映し出されると、人々は涙を流した。

Voir plus

Chapitre 1

第1話

“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”

Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya.

Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain?

“Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?”

Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.”

Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung.

“Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!”

Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana.

“Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.”

Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih.

Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu.

“Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?”

Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!”

Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.”

Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.”

Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek.

Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya.

Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka.

Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami.

Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya.

“Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.”

Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka.

Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini.

Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal.

Djiwa menghembuskan napas pelan.

“Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa.

Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan.

“Ya Tuhan!”

Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur.

Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya.

Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan.

Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna.

Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan.

Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan.

Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar.

“Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh.

Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya.

“Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin.

Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami.

Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan.

“Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.”

Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan.

Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya.

Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak.

Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni.

Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda.

Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit.

Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu.

“Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa.

Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun.

Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.”

“Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas.

“Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan.

Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi.

Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar.

Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar.

Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar.

Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah.

Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya.

Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya.

Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya.

Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar.

BRAK!

Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk.

“Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!”

“Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya.

“Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.”

Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat.

Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga?

“Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.”

Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus.

“Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres
Pas de commentaire
11
第1話
審判の台に立つと、数メートルにも及ぶスクリーンにリアルタイムでコメントが流れ始めた。【審判の台に立った最初の勇者!】【犯人は決定的な証拠を前にしたら、もう言い訳できない】【いよいよ面白くなってきた!!!!】審判が始まる前、裁判官は私に最後の言葉をかけた。「被告人、審判の手順と結果について理解しているか? それを踏まえた上で審判を受ける意思はあるのか?」もし有罪となれば、その場で安楽死が執行され、私の臓器は両親に引き渡される。その時、私の心臓は山田筱奈(やまだ さな)を救うために使われるのだ。原告席に座る私の実の両親は、嫌悪感を露わにして私を見つめていた。彼らはこの審判に勝つことを確信しているようだった。私は理解できなかった。私は彼らの実の娘であるはずなのに、なぜ十年も彼らに虐待され、憎まれ、傷つけられなければならなかったのか。最後には、私の心臓さえも奪おうとしている。隣に座る筱奈こそ、彼らの実の娘ではないかと疑ったことも一度や二度ではない。残念ながら、筱奈はサングラスとマスクを着けており、その表情を窺うことはできなかった。深呼吸をし、目を閉じた後、裁判官を真っ直ぐに見据えた。「どうぞ、始めてください」裁判官は原告席に向き直り、質問を始めた。「原告、審判についての理解は……」裁判官の言葉が終わる前に、母は甲高い声で遮った。「私たちは彼女の親なのよ!負けるはずがないわ!早く審判を始めて!うちの筱奈はもう長く待てないのよ!」
Read More
第2話
審判が正式に始まった。被告人の第一の罪状:扶養義務を怠り、重病の父を無視して、外で遊び呆け、自己中心的に楽しんでいたこと。スクリーンには、母が涙を拭いながらその詳細を語る映像が映し出された。家庭の経済状況は厳しく、父親は苦労して働きながら私を学校に通わせ、大学まで行かせた。それなのに、父親が病床に伏していた時、学業が忙しいという言い訳をして、一度も帰省しなかった。医療費を送金しなかったせいで、父親の左足に一生残る障害を負わせた。。【なんてひどい人間だ!】【恩知らずめ!勉強して何の意味があったんだ!】コメント欄は激しい反応を見せていた。スクリーンには、母が何度も私に電話をかけたり、足の不自由な父を連れて学校まで訪ねてきた様子が映し出されたが、結局何も得られなかった。裁判官でさえ眉をひそめた。原告席の両親は得意げな表情を浮かべており、私は筱奈が少し顎を上げたのを目にした。審判用の椅子に座ると、スタッフが迅速に記憶抽出の装置をセットし、機械音が「ジジジ」と鳴り響いた。頭が針で刺されるような激しい痛みを感じた。私は唇を結び、声を漏らさなかった。数秒後、審判スクリーンには大きな文字が浮かび上がった。「無罪」スクリーンには数百の【???】が一斉に流れ始めた。【無罪???ありえない!!!】私の母は、一瞬戸惑い、目を伏せた。
Read More
第3話
今回再生されたのは私の記憶だった。私が8歳の時、山田筱奈が我が家に居候することになった。私と彼女の家族3人で乗った車が事故に遭い、彼女の両親はその場で命を落とした。彼女の父と私の父は兄弟であり、父は迷うことなく筱奈を家に引き取って育てる決意をした。母も快く同意した。もともと筱奈のことを気に入っていたからだ。その日を境に、私の生活は地獄のようになった。筱奈が欲しいもの、たとえそれが私の教科書やノートであっても、必ず彼女に譲らなければならなかった。「先生に怒られちゃうよ」私が嫌がると、父は躊躇なく私を平手打ちした。「彼女の両親はもういないんだぞ。ノート1冊くらい譲れないのか!」高校入試の直前、筱奈は私の筆箱の中のペンすべてに目をつけた。私は断固として渡さなかった。すると父はほうきを掴んで、私を激しく叩いた。「恩知らずめ!自己中な奴だな!ペン1本くらい譲れよ、筱奈に!」叩かれる痛みに私は叫び声をあげたが、母は筱奈を抱きしめ、涙を流す彼女を優しく慰めた。「大丈夫よ、大丈夫。私が新しいのを買ってあげるから」筱奈は涙目でこう言った。「でも……そのペン、ママが私にくれた誕生日プレゼントと似ているの……」私は他のことは気にせず、震える手で筆箱を差し出し、泣きながら叫んだ「もう殴らないで!全部あげる!全部あげるから、私には何もいらない!」その日の高校入試、私は結局受験できなかった。
Read More
第4話
高校入試の成績はゼロだった。私は高校に進学する機会を失った。「お前みたいに馬鹿なやつが勉強しても意味がない」父は軽蔑の目で私を見ながらそう言い放ち、筱奈を見ると優しい表情に変わった。「筱奈は違う。毎回クラスでトップ10に入っているんだ」しかし、本当は私こそが成績優秀な生徒だった。学年でトップ10を外れたことは一度もなかった。だが、父も母もそれを無視し続けた。まもなくして、母は知り合いを通じて工場での仕事を見つけ、私に働くよう命じた。「しっかり働きなさい。給料は必ず家に送るのよ。筱奈はもう高校に進学したの。お金がかかるんだから」母は話の全てを筱奈に結びつけた。真っ青な顔をした私や、初潮が来たばかりでズボンが赤く染まっていることなど全く気にしていなかった。工場の仕事はとても大変だったが、そこには小さな図書室があった。壊れた教材や捨てられた本が並んでいた。休憩時間になると、私はその図書室に足を運び、本を読みながら独学を続けた。工場の中には高校を卒業した社員もおり、彼らは若くて勉強熱心な私を見て喜んで教えてくれた。中には私のために高校進学の手助けをしてくれる人もいた。私は給料の大半を家に送り、わずかな金額を自分のために残して貯金しながら、再び学校に通う夢を抱いていた。しかし、その日、高熱が引かず送金が遅れてしまった私のもとに、父と母が工場に押しかけてきた。二人は私を容赦なく怒鳴りつけ、叩き始めた。同僚が止めに入ったが、その混乱の中で私の本や本の間に隠していたお金が床に散らばった。父は私の腹を思い切り蹴り上げた。「隠し金だと?この恩知らずめ!殴り殺してやる!」母は私の教科書を引き裂きながら叫んだ。「勉強だと?なんてゴミみたいな奴がまだ学校に行きたいなんて!」私は地面にひざまずき、母に泣きながら懇願した。「お母さん、お願いだからやめて。これらの本は私のものじゃないんだ……借りるためにすごく苦労したんだ……」父の平手打ちが私の顔に飛んできた。「文句を言うのか?お前の母親が何をしようが勝手だろう!お前が金を無駄遣いしているから悪いんだ!」二人は私の本を引き裂き、水に投げ込み、足で踏みつけた。その後、彼らは寮を徹底的に探し回り、私の隠していたお金を全て持ち去った。一円も残らなかった。帰る前
Read More
第5話
借りた本を返せない私は、アルバイトでお金を稼ぎ、弁償するしかなかった。アルバイトは工事現場で、雑用や軽作業をしていた。工場の仕事よりもずっと過酷だった。ある日、セメントを入れたバケツがあまりにも重く、生理中で体調が悪かった。私は、手元が緩んでバケツをひっくり返してしまった。セメントの水が足にかかり、工事監督は首を振りながら、「もうここで働かない方がいい」と言った。私はその場に跪き、涙ながらに頼んだ。「ちゃんとやりますから、もう一度だけチャンスをください」監督はため息をつき、私を起こそうとしたが、セメントがすぐに固まり、私の足は動けなくなった。仕方なくハンマーでセメントを砕くことになり、その際に私の足は怪我をした。監督は結局私を辞めさせたが、哀れに思ったのか6000円を余分に渡してくれた。「これで足を治療し、体の栄養を補いなさい」と言ってくれた。足元がふらつきながら歩き、やっと手に入れたお金を握りしめていた。今日は私の誕生日だから、少しだけ自分にご褒美をあげたかった。私はラーメン屋に入り、一杯のラーメンを注文した。すると、父と母が筱奈を連れて店に入ってきた。彼らは普通に筱奈を連れて食事に来ただけだったが、偶然私と鉢合わせになった。父は怒り狂ったように叫んだ。「また金を隠していたのか、この恩知らずめ!」母は私の髪を掴み、泣き叫んだ。「あんたも大人になって、金ができたら自分で外食するようになったのか。もう親のことなんて考えていないのね!」彼らは清潔で整った服装をしており、筱奈はふんわりしたドレスにリボンをつけ、お姫様のようだった。一方で、私は蹴り倒され、髪はぼさぼさで、明らかにサイズが合わない古びた服を着ていた。靴は壊れかけ、足の傷は開き、血が靴全体に広がっていた。それでも私はラーメンの器をしっかり抱え、必死で食べ続けた。とても美味しかった。人生でこんなに美味しいものを食べたのは初めてだった。その味は一瞬でも私の痛みを忘れさせてくれた。筱奈は鼻をつまみ、嫌そうに顔を背けた。そんな私の姿を見て、父と母はさらに怒り、母が私の手を掴んで器を取り上げ、父はその器を私の頭に叩きつけた。「食べろ!好きなだけ食べればいい!」彼らは筱奈を連れて店を出て行った。その前に母は私のポケットを探し、6000円
Read More
第6話
【うーん……この人の元の家庭環境は確かに悲惨だけど、後々もっと激しい復讐をしそうだな】【そうだな。人はずっとこんなに弱々しくて純粋なわけがない。何かやらかしているに違いないよ】次に両親が私に訴えた罪状は2つ目だった。「結婚の持参金400万円を持ち逃げし、音信不通に。結果、両親に多額の借金を背負わせた」スクリーンには再びコメントが流れ始めた。【やっぱり何かやらかしていたのか!】【400万円だって?それが家族じゃなければ詐欺で逮捕だろう!】コメント欄の風向きが変わるのを見た父は、再び胸を張って姿勢を正した。私は筱奈を見た。彼女は相変わらず落ち着いた様子だったが、わずかに震える指先が、彼女の内心が平穏ではないことを物語っていた。当然、恐れるべきだ。スクリーンには再び映像が浮かび上がった。「伯父さんが事故に遭った!早く帰ってきて!」筱奈から電話を受けた私は、すぐに仕事先の上司に休みを願い出て、最短の列車に乗り込んで家に戻った。しかし家に着くと、父はソファでテレビを見ており、母は隣でお菓子を食べながらくつろぎ、筱奈は綺麗な服を着て笑顔で母に寄り添っていた。私が帰ってくるなり、父は罵声を浴びせた。「俺が死なない限り、この家には帰ってこないつもりだったのか!」騙されたと気づいた私は腹を立てて言い返した。「じゃあ、今すぐ出て行くよ」父は激怒し、手元にあった灰皿を掴むと私に投げつけた。避けきれずに灰皿が額に当たり、血が顔全体に流れた。「何をしてるんだ!顔に傷が残ったらどうする!」母が父を責めたのは珍しいことだった。驚いた私は、思わず胸がいっぱいになり、涙が一瞬にして目に浮かんだ。どれくらいの間、母からこんな気遣いを受けていなかっただろうか。だが、感動している私を遮るように、玄関のドアがノックされた。入ってきたのはよく知っている人物だった。子供の頃「中村(なかむら)おじさん」と呼んでいた男だ。家暴と不倫で妻が耐えかねて逃げたという話を覚えている。彼は椅子に座ると、私を値踏みするような目でじろじろと見た。その視線が気持ち悪かった。「いい、いいね」そう言いながら、彼は口を開けて笑った。その歯は黄ばんで黒ずみ、悪臭を漂わせていた。母はその男を歓迎し、私を彼の前でくるりと一回転させた。「うち
Read More
第7話
【ふざけんな、恥を知れ。娘を売る親は死ぬべきだ!】【それな!こんなにいいなら自分で嫁に行けよ】コメント欄には父と母への怒りの声が溢れていた。父は弁解を試みた。「結婚というものはもともと親が決めるものだ……」「ふざけるな、お前は金のためだろう」「お前なんか父親失格だ!」陪審員の中からも怒声が上がった。父はそれ以上何も言えなくなり、落ち着きなく手をこすり合わせ、母の方を見た。「第二回投票を行います」裁判官が宣言した。結果は78票。私は無罪とされた。しかし、それだけでは完全に無罪となることはできない。95票以上が必要なのだ。父は明らかに焦り始め、母と小声で何か話し合っていた。筱奈はサングラスを軽く押し上げ、少し顔を傾けて父に何かささやいた。その瞬間、父の険しい表情は和らぎ、母も安心したように笑顔を浮かべ、勝訴を確信した目で私を見つめた。「第三の罪状、被告、藤村欣子(ふじむら よしこ)さんは、命の恩人の娘に対して故意に傷害を加え、顔に重傷を負わせ、失明させ、心身に重大な損害を与えられました」その言葉が発表されると、流れ続けていたコメント欄が一瞬静止した。【かわいそうだけど、恩を仇で返しちゃダメだろ】【ああ、これ、これでもう反転しないよね?】その後、再びコメントが次々と表示され始めた。再び金属音が頭の中に響き渡り、針で刺されるような鋭い痛みが脳に突き刺さった。今回抽出された記憶は、非常に古いものだった。
Read More
第8話
初めて山田筱奈に会ったのは、彼女が4歳、私が3歳の時だった。彼女は汚れた服を着ており、髪は一週間も洗っていないようた。人を見る目にはどこか怯えた様子があった。一方で、私は綺麗なピンク色のプリンセスドレスを着て、清潔で整っていた。髪はきちんと結ばれ、小さな赤いリボンが結び目に飾られていた。その頃の私は、父と母にとってまさに宝物のような存在だった。筱奈の両親は喧嘩をしていた。私は彼女に近づき、手を引きながら優しく声をかけた。「怖がらないで、私が……」その言葉を言い終わる前に、筱奈は突然手を上げ、私を力いっぱい押しのけた。さらに彼女は私の顔を爪で引っ掻き、そのままどこかへ駆けて行ってしまった。私は呆然とし、しばらくしてようやく涙が溢れ、父と母の元へ泣きながら駆け込んだ。筱奈は首をかしげ、無垢な表情でこう言った。「私は何もしていません」両家の親同士の関係を考え、父と母はそれ以上責めることができなかった。しかし、私の額には小さな傷跡が永久的に残った。その後、母はその傷を隠すために私の前髪を切り揃えてくれた。私を抱きしめながら母はこう言った。「欣子はこの世で一番可愛い女の子よ」この記憶の断片を今振り返ると、まるで遠い昔の出来事のように感じられる。あれが本当に私の両親だったのか、今では信じられない気持ちだ。筱奈と再び会ったのは、私が10歳の時だった。その年のお正月、筱奈一家がうちに遊びに来て、両親は一緒に有名なA市へ遊びに行くことを約束した。しかし、父と母が急用で行けなくなり、筱奈の両親が私を連れて先に出発することになった。道中、筱奈の両親は再び言い争いを始め、やがて冷戦状態に陥り、互いに無視するようになった。後部座席に座る私は、車内の重苦しい雰囲気に圧倒され、一言も発することができなかった。突然、筱奈が手を伸ばし、助手席に座る母親の手を掴んで小声で言った。「お母さん、もう怒らないで」しかし、筱奈の母親は怒りに任せて彼女の手を振り払った。その勢いで運転中の父親の顔を叩いてしまった。これに激怒した筱奈の父親は、まるでライオンのように咆哮しながら妻に掴みかかり、彼女の顔を平手打ちした。彼はハンドルから手を離したと同時に、山の斜面から大きな石が転がり落ちてきた。彼が気付いた時にはもう遅く
Read More
第10話
山田筱奈の立場が変わった。彼女は私の命の恩人の娘となった。我が家に住むことになり、私の部屋の半分を譲ってあげた。私は嫌だったが、父は私を初めて叩いた。平手打ちを受け、私はしぶしぶ従うしかなかった。最初は部屋だけだったが、次第に私の服、ベッド、机、ノートやペンまでもが奪われた。筱奈が欲しいものは何であれ、父と母は彼女の望みを叶えるために尽力した。初めの頃、母はこう言った。「欣子、いい子ね。これはね、あなたが借りを返しているだけなのよ」しかし、私は一体何の借りを返さなければならないのだろうか?夜、両親が寝静まった後、筱奈は私の布団を剥ぎ、靴を履いたまま私のベッドの上を歩き回った。昼間には、彼女は私の服をハサミで切り裂いた。私の宿題を引き裂いて、窓から投げ捨てた。私が彼女と喧嘩すると、彼女はコンパスを持ち出し、何度も私の体を突き刺した。彼女は楽しそうに笑いながらこう言った。「欣子、あなたはこの家にいる資格なんてないの」「余計な存在だってわかるでしょ?」「どうして死ななかったの?本当に、あの二人と一緒に死ぬべきだったのに」私は母に泣きながら訴えた。しかし筱奈は涙を浮かべながら言った。「私が何をしたのか、どうして欣子お姉ちゃんにこんなに嫌われるのかわかりません。もしかしたら、私は孤児だからでしょうか。孤児っていつも嫌われるものなんですよね……」母は私を嫌悪の目で見て、筱奈を抱きしめながら優しく慰めた。「筱奈、いい子ね。欣子のことなんて気にしないで。さ、伯母さんと一緒に美味しいものを食べに行きましょう」高校の入試が終わった翌日、筱奈は私のベッドに身を伏せ、無邪気な笑みを浮かべながら言った。「かわいそうに、優等生が学校に行けなくなっちゃったね」工場で働いていた数年間、筱奈は時々私に会いに来た。「見て、これは伯父さんが私に買ってくれた服。伯母さんがくれたスマホもね。全部あなたのお金からだよ」「あなたのすべては私のものになったのに、どうしてまだ生きているの?さっさと死んじゃえばいいのに」私は次第に筱奈の残酷さを理解するようになった。私は家族を離れた。それは両親だけが理由ではなく、筱奈と争いたくなかったからだ。実の両親の愛さえ奪える彼女に、奪えないものなんてない。私は自分の立場を
Read More
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status