ログイン兄の嫁である神原モモが買った宝くじで2000万当たり、家族全員で一緒に楽しい未来を夢見ている。 しかし翌日、神原モモは、私が嫉妬して宝くじを洗濯機に粉々にしてしまったと言い始めた。 「穂香、モモは君にパソコンを買ってあげるって約束したじゃないか?どうしてそんなことをしたんだ!」 兄は怒り狂って私を殴り、母は怒って私を家から追い出そうとした。 私は必死に説明したが、誰も私を信じてくれなかった。 償いのために、私は自分の貯金をすべて出し、家ではまるで奴隷のように働かされ続けた。 恨みを抱いて死んだことへの悔しさから、私の魂は空中をさまよっていた。 しかし、宝くじは神原モモが私を搾取するための道具に過ぎなかったことを知った。 目を開けると、なんと私は再び神原モモが自分が宝くじに当選したと言っていたあの日に戻っていた。
もっと見るLintang mengetuk-ngetuk kan jarinya dengan tidak sabar di meja kafe. Matanya terus melirik jam tangan mahal pemberian orangtuanya untuk ulang tahunnya yang ke -25 tahun lalu. Sudah hampir 20 menit ia menunggu pesanannya: satu gelas latte dingin dan sepotong cheesecake blueberry, menu favoritnya setiap kali ia butuh menenangkan diri setelah rapat yang melelahkan.
"Maaf, Nona, pesanan Anda," seorang barista meletakkan nampan di mejanya. Lintang mengernyitkan dahi. Di atas nampan ada secangkir kopi hitam dan sepotong roti bakar salmon. Bukan pesanannya. "Maaf, tapi ini bukan pesanan saya," ujar Lintang, berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan meski kekesalan mulai terasa. "Saya pesan latte dingin dan cheesecake blueberry." Barista itu terlihat bingung, lalu memeriksa struk pesanan. "Oh, astaga! Maafkan saya, sepertinya pesanan Anda tertukar. Saya akan segera mengambilkan yang benar." Tepat saat barista itu berbalik, seorang pria berusia sekitar awal 40 an menghampiri meja Lintang. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dasi biru tua, dan celana hitam yang tampak mahal. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis, memberikan kesan matang dan berwibawa. "Permisi, sepertinya ini pesanan saya," ujar pria itu dengan suara bariton yang dalam. Matanya yang cokelat gelap menatap Lintang dengan senyum minta maaf. Lintang mendongak, sedikit terkejut oleh penampilan pria itu. "Oh, ya. Maaf, tadi pesanan kita tertukar." "Tidak apa-apa, kesalahan bisa terjadi," pria itu mengambil nampan dari meja Lintang. "Saya Arya, ngomong-ngomong." "Lintang," balas Lintang singkat, masih sedikit kesal dengan situasi ini. Arya tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi barista tadi kembali dengan pesanan Lintang yang benar. "Ini pesanan Anda, Nona. Sekali lagi maaf atas ketidaknyamanannya. Kami akan memberikan diskon 20% untuk pesanan Anda hari ini." Mood Lintang sedikit membaik. "Terima kasih, saya menghargai itu." Arya, yang masih berdiri di samping meja, tersenyum. "Nah, setidaknya ada hikmahnya, kan? Diskon 20% tidak buruk." Lintang, mau tidak mau, tersenyum kecil. "Ya, kurasa begitu." "Baiklah, saya tidak mau mengganggu waktu Anda lebih lama. Selamat menikmati latte dan cheesecake Anda, Lintang," Arya mengangguk sopan sebelum berbalik menuju mejanya sendiri di sudut lain kafe. Lintang menatap kepergiannya sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Caranya berbicara, sikapnya yang tenang meski terjadi kesalahan... Lintang menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. Ia punya banyak hal lain untuk dipikirkan, seperti presentasi besok pagi yang akan menentukan apakah ia akan dipromosikan menjadi manajer marketing termuda di perusahaannya. Sambil menyesap latte dinginnya, Lintang kembali fokus pada laptop dan dokumen-dokumennya. Namun, sesekali, ia mendapati dirinya melirik ke arah Arya yang sedang serius membaca sesuatu di tabletnya. Lintang tidak tahu, pertemuan singkat ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya. (◕‿◕) Satu jam berlalu dengan cepat. Lintang begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga tidak sadar bahwa kafe mulai ramai dengan orang-orang yang masuk untuk makan siang. Ia baru mendongak ketika menyadari seseorang berdiri di samping mejanya lagi. "Maaf mengganggu," suara Arya membuat Lintang sedikit ter lonjak. "Boleh saya duduk di sini? Tempat lain sudah penuh." Lintang mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe. Memang benar, semua meja sudah terisi. Ia menghela nafas pelan, "Ya, silakan." Arya duduk dengan senyum berterima kasih. "Terima kasih. Saya janji tidak akan mengganggu pekerjaan Anda." Lintang hanya mengangguk, kembali fokus pada laptopnya. Namun, konsentrasinya mulai terganggu. Ia bisa mencium aroma maskulin dari cologne Arya, campuran kayu cedar dan sedikit citrus. Tanpa sadar, matanya melirik ke tangan kiri Arya. Tidak ada cincin pernikahan. "Jadi," Arya tiba-tiba bersuara, membuat Lintang sedikit tersentak, "apa yang membuat seorang wanita muda seperti Anda bekerja begitu keras di kafe seperti ini? Biasanya orang ke sini untuk bersantai." Lintang menutup laptopnya perlahan. Jelas, pria ini tidak akan membiarkannya bekerja dengan tenang. "Saya punya presentasi penting besok. Kalau berhasil, saya bisa jadi manajer marketing termuda di perusahaan." Mata Arya berbinar dengan ketertarikan tulus. "Wow, itu pencapaian yang luar biasa. Di usia berapa, kalau boleh tahu?" "Dua puluh delapan," jawab Lintang, sedikit bangga. "Anda sendiri? Sepertinya punya pekerjaan yang cukup... serius." Ia melirik ke arah tablet Arya yang menampilkan grafik dan angka-angka rumit. Arya tertawa kecil. "Ah, ini. Saya konsultan finansial. Hari ini ada pertemuan dengan klien tentang strategi investasi jangka panjang mereka." "Kedengarannya menarik," komentar Lintang, tiba-tiba merasa tertarik. "Tapi pasti stres juga, kan? Mengatur uang orang lain?" "Kadang-kadang," Arya mengangguk. "Tapi saya suka tantangannya. Setiap klien punya cerita unik, tujuan berbeda. Membantu mereka mencapai tujuan itu... rasanya memuaskan." Lintang tertegun. Ada kilatan di mata Arya saat ia berbicara tentang pekerjaannya. Kilatan yang sama yang Lintang lihat setiap kali ia memandang cermin dan memikirkan karirnya. Tiba-tiba, ponsel Arya berdering. Ia melirik layarnya dan tersenyum minta maaf. "Maaf, ini dari putri saya. Saya harus mengangkatnya." Putri? Jadi Arya adalah seorang ayah. Dan dari ketiadaan cincin di jarinya... seorang duda? Lintang tidak tahu mengapa informasi itu membuatnya merasa... entahlah, tidak nyaman? Atau mungkin lebih tertarik? "Halo, sayang," suara Arya melembut saat berbicara di telepon. "Ya, Papa masih di kafe. Sebentar lagi pulang kok. Kamu sudah makan? ... Bagus. Jangan lupa kerjakan PR-nya ya. Papa sayang kamu." Arya menutup telepon dengan senyum lembut yang membuat wajahnya yang tampan semakin bercahaya. "Maaf soal itu. Kayla, putri saya. Dia baru tujuh tahun." "Tidak apa-apa," Lintang tersenyum, terkejut oleh kehangatan dalam suaranya sendiri. "Anda... sepertinya ayah yang baik." Untuk sesaat, wajah Arya menjadi sendu. "Saya berusaha. Sejak perceraian dua tahun lalu, tidak mudah. Tapi Kayla segalanya bagi saya." Atmosfer di antara mereka berubah. Bukan lagi obrolan santai antara dua orang asing, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih pribadi. Lintang merasa seolah ia baru saja diberi akses ke bagian Arya yang mungkin tidak banyak orang tahu. "Saya rasa," Lintang berkata pelan, "itu yang terpenting. Bahwa Anda berusaha." Arya menatapnya, mata cokelatnya penuh rasa terima kasih. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang, sebuah koneksi tak terlihat terbentuk di antara denting cangkir dan dengungan obrolan di sekeliling mereka. Akhirnya, Arya berdiam dan berdiri. "Saya harus pergi. Kayla menunggu, dan saya masih harus menyiapkan beberapa hal untuk pertemuan nanti." "Ya, tentu," Lintang juga berdiri. "Saya juga harus kembali ke kantor." "Semoga sukses dengan presentasi Anda besok," Arya mengulurkan tangan. Lintang menyambutnya, terkejut oleh kehangatan dan kekuatan genggaman Arya. "Terima kasih. Semoga pertemuan Anda juga lancar." Arya mengangguk, lalu seolah ragu-ragu sejenak sebelum berkata, "Mungkin... kita bisa bertemu lagi di sini? Saya biasanya ke kafe ini setiap Selasa dan Kamis." Lintang terdiam sejenak. Haruskah ia? Arya jelas lebih tua, seorang duda dengan anak. Tapi ada sesuatu padanya... sesuatu yang membuat Lintang ingin tahu lebih banyak. "Mungkin," akhirnya Lintang menjawab dengan senyum kecil. "Saya juga sering ke sini." Dengan anggukan terakhir dan senyum yang membuat mata Arya berkerut di sudutnya, pria itu berbalik dan meninggalkan kafe. Lintang menatap kepergiannya, perasaan aneh berkecamuk di dadanya. Ia menggelengkan kepala. Itu hanya obrolan kafe biasa, bukan? Tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Sekarang, ia harus fokus pada presentasinya. Tapi saat Lintang melangkah keluar kafe, ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya, akankah ia benar-benar kembali ke sini hari Selasa atau Kamis? (◕‿◕)彼女は、母をただ面倒を見るどころか、精神的にも虐待していた。母は何度か私に助けを求めてきたが、今ではそれらは私の問題ではなくなった。自分の道は自分で選んだものだ。彼女の生死は、彼女自身に任せる!神原達也と神原モモは、すぐに母が長年ためた貯金を使い果たした。ホームレスになった後、最終的には大橋の下で寝ることになった。最初のうちは、神原達也がデリバリーの仕事をして、神原モモもウェイトレスをしていた。しかし、長年親の脛を齧ってきたため、もはや働く力を失っていた。数ヶ月も持たずに、彼らは諦めてしまった。神原モモは一度、自分の家に帰ろうと思ったが、家に入る前に母に追い出された。確かに家は神原モモのお金で買ったが、嫁に出した娘はもう他人のものだということだ。「どうして戻ってきた?また私に頼ろうって?夢でも見てろ!」彼らは私を頼ろうとしたが、私はすでに自分の家を買って引っ越していた。住む場所もなく、彼らは大橋の下で寝ることになった。廃品を拾い集めては売り、パンを買って食べる日々が続いた。神原達也は神原モモに、風俗で働くように言ったが、神原モモは包丁を持ち出して彼に脅したため、結局それも諦めた。喧嘩ばかりしていたが、別れようとは考えなかった。なんだかんだで、彼らは愛し合っている夫婦だったのかもしれない。この街には多くのホームレスがいるが、その中には精神的に不安定な人々も多い。彼らは暗い場所に隠れ、チャンスを伺っていた。ある夏の夜、夫婦が喧嘩を終えて外に出たところ、暴力的な男に出会った。その男は一発で神原達也を気絶させ、ナイフで彼の体に切り傷をつけていった。神原モモは怖くて声も出せなかった。その男はナイフで彼女の顔を引き裂き、彼女は痛みをこらえて叫びもせずに耐えていた。太陽が昇る頃、彼ら夫婦は朝練をしていた人々に発見され、病院に運ばれた。神原達也は大量の出血で命を落としたが、神原モモは命を取り留めた。しかし、彼女の顔が無惨に変わり、手足の腱も切られて動けなくなった。私が病院に着いたとき、彼女はげっそりとした体でベッドに横たわっていた。「嘲笑いに来たのか?」「うん、そうだよ」「神原モモ、実は前世であんたが勝ったんだ。私、地獄の底に落ちて、もう抜け出せなかった」彼女の目には恐怖が浮かん
口ではどれだけ強がっても、結局無駄だった。3ヶ月も経たないうちに、神原達也と神原モモが私のところにやってきた。彼らは母の養育費を私に負担させろと言ってきた。「お前は仕事もしているし、顔も立っている。俺たちはもう何もないんだ。恐れるものもない。だから、とことん騒いでやる。仕事の邪魔をしてやる」仕事を使って脅してきたが、私が怖いでも思っているか!彼らが言わなくても、ルームメイトはもう会社で私の家族がどれだけひどいかを広めていた。同僚たちは私をただ同情し、気遣ってくれるだけで、どうして私が働けなくなるなんてことがあるだろう。「ふーん、ほんとに怖いなぁ。神原達也、私を訴えたらどうだ?裁判でいくら取られるか知らないけど、その分払うよ」毎月8000円くらいなら、払える。だが、母が働けなくなった後、神原達也と神原モモはますます母に無関心になった。彼らは母を放置し、食事も与えず、寝たきりのままにしておいた。部屋を開けると、いつも尿の臭いが立ち込めていた。栄養も取れず、母は痩せ細り、骨と皮だけになっていた。時間が経つにつれて、神原モモも耐えられなくなった。彼女は母の哀願も顧みず、母を部屋に閉じ込め、ほったらかしにした。母の叫び声が隣人の注意を引き、警察が通報を受けてやって来た。警察は神原達也夫妻を教育し、彼らが老親を虐待していることを指摘した。もしこのまま続けば、あなたたちを連行すると警告した。神原達也夫妻はお互いに責任を押し付け合い、結局また大喧嘩になった。半生をかけて育てた息子が、こんな風に自分を扱うなんて、母は黙々と涙を流した。その涙の中には、どれだけの後悔が込められていたのだろうか。私は旅行に出る前に、母が神原達也夫妻に、私の家の前に捨てられているのを見つけた。「穂香、穂香、一緒に住んでもいい?」母は布団に包まれていている。顔はやつれ、目は濁って生気がなく、全身からは嫌な臭いが漂っていた。私はその痩せ細った老人を見つめ、胸が痛んだ。これが私を産んで育ててくれた母親だ。しかし、前世のことを思い出すと、彼女は私が地獄に落ちるのを見て、私が死んだ後、冥婚をさせようとしていた。その得意げな顔つきは、私の一生忘れることはできない。最後のわずかな惻隠の心も、憎しみと共にすっかり消え去っ
「なんだって......家を譲るって?達也、どこに住むのよ!」私は冷笑を浮かべて言った。「母さん、家は普通に住んでいていいから、無理に家を取り上げるつもりはないよ」「ダメ、ダメ、絶対にダメ!」「じゃあ、反対なら仕方ないね」ほら、それが私を騙す言い訳だ。私からお金を引き出すための口実に過ぎない。母は鋭い声で叫び始めた。「穂香、あんたは恩知らずだ!あんたの実の兄だよ!うちのただ一人の後継者よ!あんたにお金を出させるのは、あんたに一目置いているからだ!私がどれだけお金をかけて、大学に行かせたと思ってるんだ!家に困った時、まだ自分のことばかり考えてる。あんたって、本当に自己中で、疫病神だ!あんたが生まれてこなければよかったんだ!」聞いてください。本音というのは耳障りだ。大学に行かせてくれたのも、実は神原達也が、女大学生は結婚したときに結納金が倍になって帰ってくると言ったからなんだ。さもないと、私はとっくに結婚して、結納金を手に入れていたはずだ。彼らの私に対する優しさも、すべて高額なリターンを前提にしているだけだった。娘はまるで銀行みたいに、息子のためにお金を出させるための手段に過ぎない。私は深呼吸をし、冷たく言った。「母さん、もし反対するなら、私にはどうしようもないよ」私は部屋のドアを閉め、母が廊下で罵っているのを放っておいた。その後、警備員に追い出された。でも、彼らは神原達也を助けるために、簡単に諦めることはない。夜、私は誰かが暗証番号ロックを押す音を聞いた。最初は、夜勤に帰ってきたルームメイトかと思って、気にしなかった。私は電気を消して寝ようとしたその時、何人かの影が私の前に立っていた。慌てふためく中、私は何とかライトのスイッチを探り当てた。なんと、神原モモが数人の大男たちを連れて我が家に押し入ってきた。「これが私の義妹よ、どう?きれいでしょ。大学生だし、1000万の結納金で遺伝子が変わるよ」彼らは私の腕を掴み、引きずっていこうとした。私は必死で抵抗して叫んだが、あっという間に一発の平手打ちを食らい、目の前が真っ白になった。また同じ失敗を繰り返すのかと思ったその時、ルームメイトが包丁を持って突入してきて、私の前に立ちはだかった。「穂香、心配しないで。もう警察に通報したから
私の内心は苦しんで、全然幸せじゃなかった。私の犠牲と引き換えに得たのは、家族からの無遠慮な踏みにじりだった。そのせいで、私は長い間、感情的な問題に悩まされていた。どうしてこんなに頑張っても、愛されないのか、ずっと考え続けていた。実は、私はとっくに認めるべきだった。家族が私を愛していないということを。だから、今世で、私の最優先事項は自分自身だと決めた。もう、あの人たちとは関わらない。そして、再び神原家からの知らせがあった。それは、神原達也が違法な資金獲得活動で逮捕されたという知らせだった。彼が動画を見ていて、ある儲かるプロジェクトを見つけた。投資すれば40%のリターンが得られると言われいる。神原達也はそれで少し儲けたから、家族のお金をすべて投資した。でも、それだけでは足りなかった。もし人を紹介すれば、彼はさらに多くのリターンが得られるという。賢い人であればわかるように、それは典型的な「ポンジ・スキーム」だった。神原達也は、必死に親戚や友人を巻き込み、成功裏に中間管理職になった。母は誰にでも自慢げに言っていた。「うちの達也は本当にすごいのよ!いざやったらできる人よ!」確かに、彼は一瞬だけ華々しく注目を浴びた。だが、リーダーの席に座る暇もなく、会社は一夜にして消えていった。親戚たちは当然、説明を求めて家にやって来た。「絶対に儲かるって言ってたじゃない!もし損が出たら、お前が補償してくれるんだろうって言ってたじゃない!」神原達也は恥ずかしさと怒りで我を忘れ、先立つ親戚にパンチを見舞った。神原モモも妊娠しているのに、その騒動に加わろうとして自分で転んでしまった。その結果、親戚たちは激怒し、神原達也を地面に押さえつけて暴行した。母は駆け寄ってきて、逆に責任転嫁して言った。「投資にはリスクがあるんだから、そんなに信じたあなたたちが悪いんでしょ。損したのは仕方ない」母はすぐにスマホを取り出して警察に通報したが、警察はちょうど神原達也の行方がつかめずに困っていた。だが、暴行を受けた親戚は鼻を折られ、神原達也にお金を返せと強硬に要求し続けた。神原モモはその混乱の中で流産してしまった。その知らせを受けたのは、ちょうど私がヨガのレッスンを終えたばかりの時だった。電話の向こうで神原モモは相変わらず横柄
誰も私がこの家にどれだけ尽くしてきたかなんて気にしていない。ただ、彼らが考えているのは、私を完全に搾り取って、できるだけ多くの価値を引き出すことだけだ。そう思って、私は笑顔を作って言った。「今、仕事環境が悪いから、残業してるのはただ解雇されないためだけだ。余分なお金なんてないよ。それに、義姉さんはもう宝くじに当たったんだから、私が支援する必要なんてもうないでしょう?ね、義姉さん」神原モモは固まったようになり、にっこりと笑って「そうね」としか言えなかった。母は何も言えず、怒ることもできないまま、ただしぶしぶ部屋を出て行った。でも、私はわかっている。あの寄生虫たちが簡単に私を放
ドアを開けたら、そこに神原モモの母親が立っていた。彼女は私を押しのけて、そのまま家の中に入ってきた。母は慌てて迎えに行ったが、驚いたことに、神原モモの母は母を無視して、いきなり神原モモにビンタを一発かました。「モモ、どうしてそんなに早く結婚したいと思ってたら、弟の宝くじを盗んだのか!」私はソファに座り、面白いシーンを見ていた。義姉家は白黒を転倒する能力が、どうやらこれも遺伝したらしいなと思った。兄はすぐに説明した。「母さん、宝くじはモモが一昨日買ったんだよ。日付も書いてあるよ」神原モモの母はそんなこと気にしなかった。「うちの息子は結婚するために、家を買わなきゃいけないん
彼らは目を合わせて、怒りをあらわにしながら部屋に戻って行った。これで一騒動は終わったんだなと思った。私は借金の取り立てを済ませた後、すっかり満足した「債権者」たちが帰っていった。母と神原モモは私が借金を肩代わりしたと思い込んで、目に喜びを満ちている。私も一緒に嬉しそうにしていたが、債権者を送り出すとき、淡々と彼らに一言告げた。「みなさん、実はおじいさんが亡くなった時のお金、全部母が使っちゃいましたよ。復讐したくないんですか?」借金そのものは嘘だが、借用書とその上にある兄のサインは本物だ。裁判になったとしても、理屈は変わらない。「借金は返すのが当たり前」というのは
レビュー