Short
家族の望みどおり死んだ私が、皆を救えるのか

家族の望みどおり死んだ私が、皆を救えるのか

By:  チカチカCompleted
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
10Chapters
5.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

七歳の時、小脳萎縮症と診断された私は、その日からずっと車椅子に縛られることになった。 それから十二年間、家族全員が文句一つ言わず、一心に私の面倒を見てくれた。 だが、姉が腎不全と判明したその日、母の言葉を聞いた。 「もし病気になったのがあの子だったら、私たちも楽になれたのに」 父は怒鳴った。 「黙れ! そんな馬鹿なことを言うな!」 ドアの外、車椅子に座る私はまるで凍りついたかのように、動けなかった。 そうか、姉がこれほど重い病を患っていたんだ。 自分の存在が、すでに家族の重荷になっていたんだ。 長い間、心の中に潜んでいたあの思いが、ついにはっきりとした。 もう、自分が何をすべきか、ついに分かった。 私はひっそりとやった。静かに、家族の願い通りに。

View More

Chapter 1

第1話

Nalira mengarahkan kudanya melewati jalan setapak yang sempit. Gadis cantik berambut hitam legam itu baru saja menyelesaikan pelatihannya bersama pamannya, Halim, dan ingin segera kembali ke istana.

Di punggungnya terikat sebuah busur panah, serta kantong berisi anak panah yang tergantung di sisi tubuhnya. Dengan keahliannya, senjata itu tak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga alat untuk perlindungan.

Namun, bukannya mengikuti rute utama, ia memilih jalur pintas melalui hutan yang belum pernah ia lalui sebelumnya, berharap hutan itu bisa mempercepat perjalanannya. Tetapi Nalira sungguh tak mengindahkan peringatan siapapun untuk menjauhi hutan itu.

Sejak pertama memasukinya, ia merasakan suasana yang sangat aneh. Angin berbisik di antara pepohonan raksasa yang tumbuh jauh lebih besar dari biasanya.

Udara terasa lembap, aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk menguar memenuhi indra penciumannya. Semakin jauh ia masuk, semakin hutan itu terasa mencekam. Tidak ada kicau burung. Tidak ada gemerisik serangga, benar benar senyap, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.

Nalira mulai merasa ada yang tidak beres. Ia menarik tali kekang, menghentikan kudanya. Hewan itu gelisah, telinganya bergerak-gerak, kakinya menghentak tanah seakan ingin berlari menjauh.

"Apa yang membuatmu cemas, Rano?" gumam Nalira, tangannya menenangkan leher kudanya.

Ia menoleh ke belakang. Jalan setapak yang tadi ia lalui kini samar, tertutup bayangan pepohonan yang menjulang. Ia mencoba memutar arah, kembali memacu kudanya. Namun alih-alih menemukan jalan keluar, ia justru semakin tersesat sampai tiba tiba kuda kuning kecoklatan miliknya itu menginjak tanah yang lunak.

Hewan itu meringkik, tubuhnya goyah sebelum akhirnya terjerembap ke dalam kubangan lumpur yang dalam. Kaki-kakinya berkecipak, berjuang keras untuk menarik tubuhnya keluar.

Nalira segera turun, mencoba menarik tali kekang, mesti mustahil, tubuh hewan itu 5 kali lipat lebih besar darinya.

"Bertahanlah, Rano" gumam Nalira mencoba menarik tubuh kudanya dengan susah payah, hingga tiba tiba suara lesatan anak panah membelah udara dan dalam sekejap benda runcing itu menembus leher kudanya.

"Rano!" teriaknya. Napasnya tercekat saat melihat kudanya meronta, darah mengalir deras bercampur dengan lumpur hitam pekat. Hewan itu mengerang lemah, matanya yang penuh semangat kini meredup dalam hitungan detik.

"Tidak...! Rano!" ia berlutut suaranya pecah, nyaris tak terdengar di tengah heningnya hutan, meratapi kuda kesayanganya harus mati dengan cara mengenaskan.

Ia lalu berdiri dadanya naik turun dengan tangan terkepal gemetar, amarahnya meledak begitu saja.

"Kurang ajar!" teriaknya, matanya menyala liar.

"Siapa yang melakukan ini?!" teriakanya menggema.

Ia lalu menyambar busurnya, menarik anak panah dan melesatkannya ke arah semak-semak di sekelilingnya. Tak peduli siapa pelakunya, ia akan membalas.

tetapi sayangnya tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam, menelan setiap denting anak panah yang hilang di balik pepohonan.

Nalira mengatupkan rahangnya, air matanya luruh, ia mendekat ke arah kudanya, mencium kening kuda itu yang telah setia menemaninya selama bertahun-tahun. Ia ingin meratap lebih lama,tapi ia tak punya waktu banyak sementara keluarga di istana pasti telah menunggunya.

Nalira mengusap sudut matanya. menghapus jejak air mata sebelum menegakkan bahu, lalu melangkah menjauh dengan perasaan berat.

Semakin lama ia berjalan, semakin hutan itu terasa seperti perangkap. Ranting ranting tajam menggores dan mengoyak sebagian gaun indahnya, bahkan tak jarang ia terjatuh dalam kubangan lumpur yang membuat penampilannya tak di kenali sebagai seorang Tuan putri.

"Sungai..." gumamnya tatkala ia menemukan aliran sungai yang airnya tampak jernih, di tengah rasa lelahnya bagaia oase di tengah gurun, sungai itu mengalir tenang di bawah cahaya senja, meski uuranya terasa mencekam.

Namun rasa haus membuat Nalira tak memedulikannya. Dengan langkah lunglai ia mendekat lalu berjongkok, menciduk air dengan telapak tangan, dan meneguknya perlahan hingga dahaganya terpuaskan.

krek.

krek.

krek.

Seketika Nalira mengang, seluruh indranya waspada kala tiba-tiba Suara ranting patah memecah kesunyian. Langkah kaki itu mendekat membuat jantungnya berdegup cepat. Tak berpikir panjang Nalira berdiri lalu dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya.

Mata biru Nalira membelalak, ketika ujung pedang yang tajam berkilat hampir menusuk lehernya.

Nalira menahan napas. Di hadapannya kini berdiri seorang pria dengan mata sehitam malam, bertubuh tinggi, berbahu lebar, dan berbalut jubah gelap yang menyatu dengan bayangan hutan.

"Siapa kau?" suara pria itu berat, dan tatapanya penuh ancaman.

Nalira berusaha tetap tenang, mengendalikan degup jantungnya yang berderap.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kau menyerang tanpa alasan!"

Pria itu mendengus kecil.

"Kau berkeliaran di hutan ini, di wilayah yang seharusnya tidak boleh dimasuki siapa pun."

Nalira menyipitkan mata.

"Aku hanya mengambil jalan pintas dan tersesat." jawabnya.

Pria itu mendekat, menekan pedangnya lebih dalam hingga mata Nalira membelalak sesaat.

"Bohong. Mata-mata sepertimu selalu punya alasan."

Wanita itu menelan amarahnya. Ia bisa saja bertarung, tapi dalam jarak sedekat ini, satu gerakan salah akan membuatnya kehilangan nyawa.

"Mata-mata?" Ia tertawa pendek.

"Itu tuduhan konyol. Aku tidak memiliki alasan untuk menjadi mata-mata." ucap Nalira.

Namun pria itu tidak terpengaruh, terus mencari tahu identitas wanita di hadapannya.

"Namamu?"

"Kalau aku menolak?" Nalira mengangkat dagu penuh keangkuhan dan pria di depannya justru tersenyum licik

"Kau akan merasakan betapa tajamnya pedang ini," bisik pria itu, mengancam.

Nalira mengepalkan tangan. Ia tahu ia tidak bisa sembarangan melawan. Pria ini jelas seorang prajurit, mungkin lebih dari itu. Akhirnya dengan enggan ia pun menjawab,

"Nalira. Nalira Elvandale, putri Duke Elvandale, dari selatan."

Mata pria itu menyipit.

"Putri seorang Duke ? Lalu apa yang kau lakukan di sini tanpa pengawal?"

"Aku sudah mengatakan alasanku," Nalira mendesis, tidak suka diinterogasi seperti penjahat.

"Sekarang, siapa kau sebenarnya?" Nalira balik bertanya.

Pria itu diam sejenak, sebelum akhirnya menarik pedangnya dengan gerakan cepat.

"Aaron Devonsa," katanya dingin.

"Jendral, Sekaligus Duke paling berkuasa di Utara"

Mata Nalira membelalak. Nama itu bukanlah nama sembarangan. Aaron Devonsa, seorang Duke sekaligus panglima perang yang tak terkalahkan, sosok yang ditakuti di medan pertempuran.

"Aku tidak percaya bahwa seorang jendral seperti dirimu bersembunyi di tengah hutan. Menjadi pengecut dan membunuh kuda tanpa alasan."

Aaron menyarungkan pedangnya, tatapannya tidak berubah.

"Itu karena aku sedang memburu mata mata

"Sudah kubilang aku bukan mata-mata!' Nalira menegaskan, suaranya lantang.

Aaron mendengus.

"Dan aku harus begitu saja percaya?"

Tanpa memberi Nalira kesempatan menjawab, pria itu tiba-tiba mencengkeram lengannya erat. Nalira tersentak, mencoba melepaskan diri, tetapi genggaman Aaron jauh lebih kuat.

"Lepaskan aku!" Nalira berontak, namun Aaron menariknya lebih dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal.

"Jangan harap! Putri seorang Duke yang tiba-tiba muncul di hutan ini? Entah kau memang bodoh atau punya niat tersembunyi." Aaron berbisik dingin.

Nalira menatapnya penuh amarah.

"Aku tidak punya urusan dengan kerajaanmu!"

Aaron diam sejenak, matanya mengamati wajah Nalira seakan menilai apakah wanita itu berbohong. Lalu, tanpa Nalira sadari ia menarik tali kulit dari ikat pinggangnya, lalu merampas busur beserta anak panahnya, dan melemparkannya ke tengah sungai tanpa ragu.

"Apa yang kau lakukan? Busurku!" Nalira memandang senjatanya yang melayang terjun ke sungai sambil berusaha menghindar, tetapi percuma.

Dalam satu gerakan cepat, pria itu membelit pergelangan tangannya dengan tali kulit, mengikatnya kuat ke belakang. Nalira menggertakkan gigi, pergelangannya terasa perih saat kulitnya bergesekan dengan serat kasar tali itu.

"Lepaskan aku!" desisnya penuh amarah.

Aaron hanya tersenyum miring.

"Jangan banyak bergerak, atau kau akan merasakannya semakin ketat." serunya.

" Setelah ini aku akan membawamu ke markas,"

"Kalau kau benar-benar tidak bersalah, kau akan bebas. Tapi kalau aku menemukan bukti bahwa kau mata-mata, aku sendiri yang akan menghabisimu." ancam Aaron.

Darah Nalira berdesir. Pria ini benar-benar gila!

"Aku tidak akan ikut denganmu!" teriaknya, tetapi Aaron hanya mengangkat sebelah alisnya, lalu tanpa berkata-kata lagi ia mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dan melemparkannya ke atas punggung seperti membawa sekarung gandum.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

reviews

ちゃん
ちゃん
タイトル変わったのねww
2026-02-14 14:27:33
0
0
ノンスケ
ノンスケ
リアル過ぎて言葉にならない。みんなの気持ちがわかり過ぎて。
2026-01-27 22:46:17
2
0
eurynome.v.j.3618
eurynome.v.j.3618
タイトルから、よくある冷たい家族が主人公が居なくなった途端に大騒ぎして悲嘆するやつかと思ったら違った。もっとリアルな感じ。家族の中に病人がいたら、先の見えない闘病と看護介護の毎日の中、大切に思っていても抑えていた気持ちが爆発してつい嫌な事言ってしまうのは…仕方ないと思う。言われる方だってわかってるけど、でも辛いし。こうなるしかなかったのかなぁ。
2026-01-27 10:53:14
2
0
松坂 美枝
松坂 美枝
誰も悪くない悲しい物語 姉妹で病気になったら両親がああなることに非難はできても否定は出来ない 家族で頑張って生きて行くことが供養になるね
2026-01-27 10:25:08
3
0
10 Chapters
第1話
この家で一番の足手まといは私なんだ。七歳の時、小脳萎縮症と診断されてから、私・遠藤遥(えんどう はる)は永遠に車椅子に縛られることになり、家族全員の負担となった。私のせいで、姉は絵を描く夢を諦めた。母は髪が白くなり、父は借金を背負い込んだ。そして姉が腎不全と判明したその日、私は母の言葉を聞いた——「もし病気になったのがあの子だったら、私たちも楽になれたのに」母のその言葉を聞いた後、父は声を震わせて叱った。「黙れ! そんな馬鹿なことを言うな!」数秒後、母のすすり泣きが再び部屋に響き始めた。「そういう意味じゃないの。ただ、疲れすぎただけなの……」父は低く、疲れ切った声で言った。「これからは、こんなことを言わないでくれ」母の声が突然高くなった。「でも私が言ったことは間違っているの?あの子のせいで、うちはこんな目に遭ったのよ!美希(みき)は過労で腎臓病になったよ!五百万円の手術費すら、出すこともできないの!」「もういい!」「いや!私はもう我慢できないのよ!丸々十二年、一晩中ぐっすり眠れたことが、一度もなかったの!」私は車椅子をこいで慌てて自分の部屋に逃げ込んだ。ドアが閉まる瞬間、こらえていた涙がついにこぼれ落ちた。唇を強く噛み締め、泣き声が外に漏れないように、必死に抑えた。翌日の朝、母の目は腫れ上がっていた。彼女はいつものように服を着せてくれたが、その動作はいつもより荒かった。プルオーバーのセーターが頭に引っかかり、私は息苦しくなり、腕が勝手にバタバタと動いてしまった。「動くな!」と母は低い声で叱った。私は一瞬、体が固まった。セーターがやっと頭から通り過ぎた時、自分の髪の毛が何本か抜けた。母はそれを見て、手が一瞬止まり、目には一瞬の後悔がよぎった。「痛い?」と母は声を柔らげて聞いた。私は首を横に振った。母はため息をつき、しゃがんで靴下を履いてくれた。長期間動かないせいで、私の足がむくんでいて、靴下はなかなか履けなかった。何度も試したがうまくいかず、母の額には汗がにじんできた。「ちょっと、協力してくれないの?」と母は小さな声で、まるで独り言のように呟いた。私は何も言わなかった。朝食の時、姉の顔色は昨日よりもっと悪かった。彼女は味噌汁を一口飲んで、すぐスプーン
Read more
第2話
姉は私の隣に座って、まだ震えている私の手を握った。「大丈夫。コップ一つ割れただけなの」姉の手は冷たく、手のひらに汗が滲んでいた。私は彼女の腫れたまぶたと、手の甲に残る新しい注射の跡を見つめた。彼女はもうすぐ死ぬ。そのことを家族全員が、私に隠している。私が駄目な人だから。知っても何の役にも立たないし、ただ周りに迷惑をかけるだけだから。七歳の時、小脳萎縮症と診断されたその日のことを思い出した。母は私を抱きしめて一晩中泣き続け、父は病室のドアの前に蹲り、一本また一本とタバコを吸い続けた。姉は当時まだ十歳だったのに、みかんの皮をむき、つま先を立てて一房ずつ私の口に運んでくれた。「遥ちゃん、怖くないよ。お姉ちゃんがそばにいるから」今は姉が病気になったのに、私は何もできない。いや。一つだけ、できることがある。翌日の朝、両親と姉がそれぞれ仕事に出かけた後、私は車椅子をこいで市立病院へ向かった。腎臓内科のお医者さんは私の車椅子を見て、眉をひそめた。「腎臓を提供したいって……両親は承知していますか?」「承知しています」と私は嘘をついた。「小脳萎縮症の患者は手術のリスクが非常に高いです。しかも手術中に呼吸不全や心停止を起こす可能性があり、手術後の回復も一般人よりずっと遅くなりますよ」「知っています」お医者さんはため息をつき、検査表を渡してくれた。神様のおかげで、適合検査の結果は完全に一致だった。お医者さんは検査結果を見た後、私を見つめた。「最後のチャンスですよ。本当に決めましたか」「はい、お願いします」私は臓器提供同意書にサインした。字はゆがんでいたが、一筆一筆に全身の力を込めて書いた。「手術は来月の五日です。事前に入院して準備をする必要があります」「わかりました」午後、母が帰ってきて、車椅子を押してリハビリに連れて行ってくれた。リハビリセンターの上田先生は私の旧知で、七歳の時からずっと私の治療を担当してくれている。姉が来ていないのに気づいた上田先生は、何気なく聞いた。「美希さんは?今日はついて来なかったの?」母の体が一瞬固まった。「あの子はちょっと用事があって」と母は答えた。私は知っていた。姉は病院で透析を受けているのだ。上田先生は頷き、これ以上問いかけなか
Read more
第3話
「私は疲れたの。本当に、もう限界だわ……」と母は私の耳元でつぶやいた。私は震える手を上げ、幼い頃母が私を寝かしつけてくれたように、そっと母の背中を叩いた。……夜、病院から電話がかかってきた。私は部屋のドアを少し開け、隙間から盗み聞きをした。電話に出たのは母だった。向こうから伝わる言葉を聞きながら、母の目は少しずつ大きく開き、電話を握る手が震え始めた。「見つかったの?本当に、見つかったの?」彼女の声は震えていたが、その中には大きな喜びが込められていた。電話を切るやいなや、母は姉の部屋に駆け込んだ。「美希ちゃん!ドナーが見つかったの!完全に合致するわ!」姉はちょっと呆然とした後、涙があふれ出した。「お母さん……」母は姉を抱きしめ、二人は抱き合って泣いた。父は手にはフライ返しを持ったまま、キッチンから駆け出てきた。「いくら?ドナー側は、いくら要求するんだ?」母は泣きながら笑った。「病院の人によると、ドナーは匿名で、お金は一切要らないって。ただ、手術の準備を早くするように、って。手術の費用なら、なんとか工面できるわ」その夜、家には久しぶりに活気が戻ってきた。母は食卓いっぱいに料理を作ってくれた。エビフライ、茶碗蒸し、姉の好物ばかりが並んでいた。「どんどん食べなさい、体を養わなくちゃ」母は姉のために、料理をたくさん取り分けた。姉の茶碗の中は山のように積み上がった。私も肉を一つ取り分けようと、箸を伸ばした。だが、手が激しく震え、箸から肉が食卓の上に落ちた。父はそれを見て、つい口にした。「なんでまた……」その言葉は中途で突然途切れた。食卓は一瞬にして沈黙に包まれた。母と姉は、同時に父の方を見た。父の顔色が少しずつ青ざめ、彼は唇を何度か動かしたが、声が出てこなかった。やがて、乾いた声で謝った。「ごめん……遥ちゃん、お父さんは、そういう意味じゃないよ……ただ、今日はちょっと疲れただけなんだ……」「分かった」と私は言った。夕食後、父は私の部屋に来た。車椅子の前にしゃがみ、震える私の手を握った。父の手は粗く、たこだらけだった。父は低い声で言った。「遥ちゃん、今日はお父さんが悪かった。お前を嫌ってるわけじゃない、ただ……」父は言葉を詰まらせ、頭を下げ、肩がそっと震えて
Read more
第4話
手術まであと三日になった頃、姉の調子が突然悪くなった。吐き気が強く、何を食べてもすぐ吐いてしまった。母は焦りのあまり涙が止まらず、父は一晩中眠ることができなかった。午前三時、私は車椅子をこいでリビングへ水を飲みに行くと、父が一人で暗闇の中に座り、手で額を支えているのを見かけた。「お父さん」私が呼んだ。それを聞いて、父は頭を上げた。暗闇の中、彼の目は怖いほど光っていた。「遥ちゃん、どうしてまだ起きているの?」「喉が渇いた」父は立ち上がってコップに水を注いでくれた。手渡すとき、コップから水が少しこぼれ、私の手に熱い湯がかかった。「ごめん、ごめん……」父は慌ててティッシュを探し始めた。「お父さん、お姉ちゃんはきっと治るよ」私は父の充血した目を見つめながら言った。父はぼんやりと私を見つめ、力強く頷きながら言った。「治る!きっと、全部うまくいくんだ」だが、その声は震えていた。翌日の午後、私は写真館へ行って証明写真を撮った。カメラマンはとても親切で、私がゆっくり体勢を正すのを待ってくれた。「ちょっと笑ってください」とカメラマンが言った。そして私は頑張って口角を上げた。撮った写真の中の私は、笑っていた。やや硬い笑顔だが、間違いなく笑顔だった。この写真を遺影に使うなら、十分だろうと思った。夜、私は臓器提供契約書をもう一度読み返した。手術まで、あと二日だった。……手術の前日。母は台所で味噌汁を煮ていて、姉はまだ寝ていた。私は数着の服をまとめ、バックパックに詰め込んだ。「どこへ行くの?」母は振り返らずに問いかけた。「リハビリセンターで一日がかりのトレーニングがあって、今夜はそこに泊まるかもね」私は答えた。母の味噌汁をかき混ぜる手が一瞬止まった。「どうして事前に言わなかったの?」「さっき連絡が来たばかりなの」母は手を拭い、近ついて私の車椅子の前にしゃがんだ。「この二三日、お姉ちゃんが小手術を受けるの。お父さんとお母さんは病院に付き添わなくちゃいけないから、遥ちゃん一人で大丈夫?」「大丈夫だよ」私は答えた。母は長い間私を見つめ、その目には私には理解できない感情が宿っていた。それから、手を伸ばし、そっと私の頬を撫でた。「遥ちゃん、お母さんが悪かったわ。あなたの面倒をちゃ
Read more
第5話
同時に、九階の手術室の外。姉が手術室に運び込まれる前、母は彼女の手を必死に握り締めていた。「美希ちゃん、怖くないよ、手術が終わればすぐ治るから……きっと、きっとうまくいくわ」父はそばに佇み、目元を赤らめながら低い声で言った。「お父さんは外で待ってる」手術室の扉が閉まる。赤いライトがぱっと点灯した。五時間の待ち時間、一分一秒が長く感じられた。母はベンチに座り、両手を強く握りしめていた。父はひたすら行ったり来たりしながら歩き回り、足取りは重かった。「うまくいくわ……きっとうまくいくわ……」母は祈るようにつぶやいた。五時間後、ついに扉が開いた。医者が外に出てきてマスクを外し、笑顔を浮かべた。「手術は大成功です。移植した腎臓はもう正常に機能しています」母は狂喜で足元が崩れかけた瞬間、父が早速腕で彼女を支えた。「ありがとうございます!本当に……ありがとうございます!」母は泣きながら笑い、すぐに続けて問いかけた。「ドナーの方、あの恩人様……私たち、直接お礼を……」「ドナーの方は匿名を希望しています。規定です」と医者が答えた。「ただ、顔を見てお礼を言うだけです。娘の命を救ってくださったのですから……」父は声を詰まらせながら話した。医者は少し躊躇って言った。「ドナーの方はまだ観察室にいます。目が覚めたら、また考えましょう」姉がストレッチャーで運び出されてきた。顔色は青白かったが、呼吸は穏やかだった。三日後、姉がついに目を覚ました。新しい腎臓は順調に働き、拒絶反応もなかった。姉はベッドの背もたれにもたれかかり、母がスプーンで運んでくる味噌汁を少しずつ啜っていた。久しぶりに顔にほんのりと血色が戻ってきた。「お母さん、ドナーの方……だれなの?」姉は小さい声で問いかけた。母は頭をゆっくりと振って言った。「病院が内緒にしてるの。でもきっと、心の優しい人なの……神様のように心が優しい人なの」午後、父は退院手続きのために病院事務室へ向かった。母は病室で荷物を片つけながら、ふと口ずさみ始めた。それは久しぶりに聞こえる、母の楽しげな口ずさみだった。父が手続きを終え、退院届を持って戻ってきた。「お父さん、ドナーの方に会いたいの。ガラス越しにちょっと見るだけでもいいわ。邪魔はしないよ」と姉
Read more
第6話
「名前が同じだよね?絶対に同じ人なんじゃない……」姉は誰かに問いかけるようにつぶやいたが、誰も応えなかった。廊下の照明は青白く、三人の青ざめた顔を照らしている。遠くから、ストレッチャーの車輪が床を転がる音や、看護師の柔らかな話し声がしている。だが、あまりにも大きな衝撃の前では、それらの声はぼんやりして、はっきり聞き取れなくなっていた。医者はため息をついた。「遺体はまだ病室にありますが……お目にかけますか」母の体が一瞬、よろめいた。父は無意識的に母を支えようと手を伸ばしたが、自分自身もしっかりと立てないことに気づいた。彼は壁に寄りかかり、喉の奥から抑えきれないおえつを漏らし出した。病室の扉がそっと開かれた。私は空中を漂いながら、彼らが入ってくるのを見ていた。私の身体はベッドの上に横たわり、顔色は紙よりも青白く、唇にはほんの僅かの血色もなかった。手術と合併症のせいで、私の体は原形をとどめないほど変わり果ててしまった。閉じたままのその目だけが、生きていた時と変わらなかった。長いまつ毛も相変わらず綺麗だった。母は病室の入口に佇み、じっと動かなかった。彼女は私の死体をじっと見つめ、目を極限まで大きく見開き、まるで私の顔を、骨の髄まで刻み込もうとしているかのようだった。長い時間が過ぎて、母はゆっくり、ゆっくりと一歩前に踏み出した。そしてまた一歩。ベッドのそばに辿り着いた瞬間、母は膝が崩れて体ごと床に跪いた。震えながら手を伸ばしたが、私の身体に触れる勇気がなかった。「遥ちゃん?」母の声は羽根のように軽やかで柔らかかった。それから、彼女は手を伸ばし、指先が私の頬に触れた。冷たい感触だった。だが、母はまるで火傷したかのように、急に手を引っ込め、そしてすぐにまた手を伸ばした。今度は、手のひら全体を私の顔に当てた。「遥ちゃん……」と母はもう一度呼んだ。その声は震えていて、まるで現実を信じられないかのようだった。「お母さんが来たよ……遥ちゃん、お母さんを見て……」もちろん、応えはなかった。母は体をかがめ、顔を私の胸に当てた。そこには心拍の音もなく、ただの静寂だった。「いや……いや……」母の声が震えていた。「起きて、遥ちゃん、起きてよ……お母さんをだましてるんでしょ?ただ眠ってるだけでしょ
Read more
第7話
姉が車椅子をこいでやってきた。その動きはまるで全身の関節に錆がついたかのように、極めて緩やかだった。姉はベッドのそばで車椅子を止め、手を伸ばして、私の冷たい手を握った。「遥ちゃん……」その声は、聞こえないかと思うほど小さかった。「バカなの……どうしてこんなことを……」姉の手は激しく震えていた。生きていた頃、いつも震えていた私の手よりも、もっと激しく。昔、私がこの世にいた頃は、手がいつも震えて止まなかった。でも今は、私の手はもう震えない。「どうしてこんなことをしたの……」姉は、顔を私の手のひらに埋め込みながらつぶやいた。「死ぬべきなのは私なのに……私なのに……」姉の肩が激しく震え始めた。だが、のどが乾いて泣き声は一つも漏れてこなかった。医者は一言も言わずに部屋を出ていき、扉をそっと閉めた。病室には、彼ら三人と、次第に冷めつつある私の身体だけが、残された。どれくらい時間が経ったのか分からなかった。突然、母は床から立ち上がり、ベッドに飛びつき、狂ったように何かを探し始めた。ベッドサイドテーブルの引出しを開け、枕をめくり、さらに布団までめくろうとした。「何を探しているんだ?」父の声は嗄れていた。「遺書……」母の声も震えていた。「きっと遺書を残してくれたはず……遥は心配りのできる子だから……きっと……」母は、私の入院着のポケットの中から、折りたたまれた一枚の紙を見つけた。その紙が広げられた。そこには、私のゆがんだ字が並んでいた。手の震えのせいで、一つ一つの字は大きく、力強く、まるで全身の力を込めて書いたかのように、紙に刻まれていた。【お父さん、お母さん、お姉ちゃんへこの手紙を見ているとき、私はもうこの世にいないはず。ごめんね。また面倒をかけちゃった。私の体の状況では、こんなことをすれば死ぬことは、分かっていた。でも、でもね、私は必ずこうしなければならなかったの。お姉ちゃんはこの腎臓が必要なの。そして私……私はみんなのために一つ、たった一つだけでいいから、何かをしたかったの。長い間、私はずっと家の重荷だった。本当に、本当にごめんね。お母さんの髪はたくさん白くなり、お父さんの腰のけがはますます悪化し、お姉ちゃんは絵を描くことを諦めた。すべて、私のせい。今、私
Read more
第8話
「遥ちゃん、遥ちゃんがやっちゃった。私たちには永遠にできないことをやっちゃった」姉はささやいた。「遥ちゃんは私を救ったの。自身の命で……」……私の遺体は霊安室に運ばれた。母はストレッチャーにしがみつき、どうしても離さなかった。結局、父と看護師が力を合わせて、やっと彼女を引き離すことができた。母は床にへたり込み、ストレッチャーが廊下の果てに消えていくのを見つめ、喉の奥から野獣のような泣き声を上げた。その声は、ストレッチャーをずっと追いかけ、霊安室の扉まで届いた。だが厚い扉に阻まれ、やがて消え去った。車椅子に座った姉は、病室へ押し戻された。彼女はベッドの背もたれにもたれかかり、虚ろな目で窓の外をぼんやりと見つめていた。窓の外は日差しが暖かく、鳥が木々の間を跳び回っていた。「お母さん」突然、姉が口を開いた。その声は極めて穏やかだった。「りんご、食べたい」母はぼんやりと姉を見つめ、まるで彼女の言うことが理解できないかのような、うつろな表情だった。「遥ちゃんは昔、りんごが大好きだったわ」とお姉さんは続けて言った。「お母さんがりんごの皮をむくたび、遥ちゃんはいつもそばに座って、うれしそうに見つめていたの」母の目からまた涙があふれ出した。「買ってくる」父は立ち上がり、よろめきながら外へと歩き出した。「お父さん」お姉さんが父を呼び止めた。「赤いのを。遥ちゃんは赤いのが好きだったの」父の背中が一瞬固まった。それから小さく頷き、歩き出した。病室には母と姉だけが残された。母はベッドサイドに座り、姉の手を握った。二人の手は、震えて止まらなかった。「お母さん」お姉さんは窓の外を見つめながら言った。「遥ちゃんは今、どこにいるの?」母は何も言わなかった。「遥ちゃんは寒くない?」姉の声は小さかった。「霊安室は寒いでしょ?遥ちゃんは、寒さが一番苦手で、冬は湯たんぽを抱かないと眠れなかったわ」「もう、言わないでよ……」と母は泣きながら言った。「遥ちゃんが去るとき、痛かったの?」姉は顔を向け、母を見つめた。その目には、茫然とした深い苦痛が宿っていた。「手術は痛かったの?合併症は痛かったの?一人で……怖くなかったの?」姉は続けて言った。母は両手で顔を覆い、泣き
Read more
第9話
「遥ちゃんは、何もかも分かってたのよ」姉が突然口を開いた。その声は極めて穏やかだった。「ずっと、何もかも分かってたのよ。ただ、私たちは、あの子には分からないと思ってただけなの」闇の中、沈黙が長く続いた。私は空中を漂い、彼ら三人の姿を見つめていた。「あなたたちのせいじゃないよ」と、「これは私自身の選択なのよ」と、「泣かないで、お願い」と、言いたかった。だが、何も口に出すことができなかった。私はただ、見つめることしかできなかった。私のせいで砕け散ってしまったこの家を、ただ、静かに見つめるだけだった。……三日後、姉は退院した。新しい腎臓は順調に機能し、彼女の顔色は日に日によくなり、浮腫みも次第に消えていった。医者は姉の回復が早いと言った。薬をきちんと飲み、定期的に検査を受ければ、健常者と同じように長生きできるだろう、と話してくれた。だが、姉の顔には、一度も笑顔がこぼれることはなかった。退院の日、母は姉に新しい服を着せてあげた。それは水色のワンピースで、襟元には繊細な刺繍が施されていた。「遥ちゃんは、青色が一番好きだったのよ」母は姉の襟元を丁寧に正しながら、独り言のように小さい声でささやいた。姉の体が一瞬固まったが、何も言わなかった。父は退院手続きをしに行き、母は荷物をまとめていた。病室の隅には、ここ数日、親戚や友人たちが持ってきた栄養剤や花束が山積みになっていた。中には、もう枯れてしまった花もあった。母はその枯れた花を一輪一輪、丁寧に拾い出し、胸に抱えて、ぼんやりと眺めていた。「これらは、本来、遥ちゃんのものだったのに……」と母はささやいた。「もし病気になったのが遥ちゃんだったら……彼女のことを見舞いに来てくれる人、いるのかな?」誰も、母の問いに答えなかった。家への帰り道、車内はしんと静かだった。姉は後部座席に座り、窓の外の景色を眺めていた。日差しが彼女の顔に当たっていたが、その瞳には、光が少しもなかった。母は助手席に座り、手には私の遺書をしっかりと握り締めていた。その紙は、何度も指で撫でられたせいで、すでに端がボロボロになっていた。それでも母は、まるで最後の命綱を握るように、必死に、その紙を握り締めていた。車が団地に入ると、近所の人々が三三五五、階下に立ってい
Read more
第10話
母の声はますます大きくなり、ついに叫び声に変わった。「私が殺したの!私があの子を殺したのよ!」近所の人々が集まってきて、ささやき合っていた。姉はその場に立ち尽くしていた。彼女は、狂ったように母の姿、必死に母を引き留めようとする父の姿、周囲の野次馬たちの目つきを見つめた。それから彼女は身をかえ、一歩一歩階段を上っていった。その足取りは遅かったが、穏やかだった。父はやっと母を家に引き戻した。戸が閉まる瞬間、母は床にへたり込み、大声で泣き叫んだ。姉は私の部屋に入ってきた。部屋の中はまだ、私が生きていた頃のままだった。布団はちゃんと畳まれ、机の上には私が読みかけの本が置かれ、壁には私が一番好きなポスターが貼られていた。窓辺の小さな鉢植えは少し萎れていたが、まだ生きていた。姉は私の車椅子に座った。手で肘掛けをそっと撫でていた。その肘掛けには、私が指で掘った小さな穴があり、そこからスポンジがはみ出し、日々の汚れがたまって、もう黒ずんでいた。姉は目を閉じ、涙が頬を流れ落ちた。その夜、彼らは姉の退院後、初めての食事をした。母は食卓いっぱいの料理を作った。すべて姉の好物ばかりだった。だが食卓には、四人分の食器が並んでいた。余分になったそれは、私がいつも座っていた場所に置かれていた。母はご飯を盛り、おかずを取り分け、茶碗を目の前に押してくれた。「遥ちゃん、ご飯だよ」母はそう言った。その声はとても柔らかく、まるで子供をあやすような、優しいトーンだった。誰も口を開かなかった。姉は頭を垂れ、ゆっくりご飯を食べていた。涙が茶碗に落ちたが、彼女は拭かず、そのままご飯と一緒に呑み込んだ。父は突然箸を食卓に置き、口を開いた。「明日……」彼の声は嗄れていた。「明日、遥ちゃんを迎えに行こう」………霊安室は寒かった。私は空中を漂い、彼ら三人が入ってくるのを見つめていた。母の手には新しい骨壺が抱かれていた。ピンク色の壺に、白い小花が描かれている。それは、私が一番好きなデザインだった。係員が私の遺骨を壺に入れ、母に渡した。母はそれを両手で受け取り、まるで赤ん坊を抱くように胸に抱き寄せた。指で壺の縁をそっと撫で回し、涙が一粒ずつ、そのピンクの壺の上に落ちた。「遥ちゃん、お母さん
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status