LOGIN七歳の時、小脳萎縮症と診断された私は、その日からずっと車椅子に縛られることになった。 それから十二年間、家族全員が文句一つ言わず、一心に私の面倒を見てくれた。 だが、姉が腎不全と判明したその日、母の言葉を聞いた。 「もし病気になったのがあの子だったら、私たちも楽になれたのに」 父は怒鳴った。 「黙れ! そんな馬鹿なことを言うな!」 ドアの外、車椅子に座る私はまるで凍りついたかのように、動けなかった。 そうか、姉がこれほど重い病を患っていたんだ。 自分の存在が、すでに家族の重荷になっていたんだ。 長い間、心の中に潜んでいたあの思いが、ついにはっきりとした。 もう、自分が何をすべきか、ついに分かった。 私はひっそりとやった。静かに、家族の願い通りに。
View MoreNalira mengarahkan kudanya melewati jalan setapak yang sempit. Gadis cantik berambut hitam legam itu baru saja menyelesaikan pelatihannya bersama pamannya, Halim, dan ingin segera kembali ke istana.
Di punggungnya terikat sebuah busur panah, serta kantong berisi anak panah yang tergantung di sisi tubuhnya. Dengan keahliannya, senjata itu tak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga alat untuk perlindungan. Namun, bukannya mengikuti rute utama, ia memilih jalur pintas melalui hutan yang belum pernah ia lalui sebelumnya, berharap hutan itu bisa mempercepat perjalanannya. Tetapi Nalira sungguh tak mengindahkan peringatan siapapun untuk menjauhi hutan itu. Sejak pertama memasukinya, ia merasakan suasana yang sangat aneh. Angin berbisik di antara pepohonan raksasa yang tumbuh jauh lebih besar dari biasanya. Udara terasa lembap, aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk menguar memenuhi indra penciumannya. Semakin jauh ia masuk, semakin hutan itu terasa mencekam. Tidak ada kicau burung. Tidak ada gemerisik serangga, benar benar senyap, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Nalira mulai merasa ada yang tidak beres. Ia menarik tali kekang, menghentikan kudanya. Hewan itu gelisah, telinganya bergerak-gerak, kakinya menghentak tanah seakan ingin berlari menjauh. "Apa yang membuatmu cemas, Rano?" gumam Nalira, tangannya menenangkan leher kudanya. Ia menoleh ke belakang. Jalan setapak yang tadi ia lalui kini samar, tertutup bayangan pepohonan yang menjulang. Ia mencoba memutar arah, kembali memacu kudanya. Namun alih-alih menemukan jalan keluar, ia justru semakin tersesat sampai tiba tiba kuda kuning kecoklatan miliknya itu menginjak tanah yang lunak. Hewan itu meringkik, tubuhnya goyah sebelum akhirnya terjerembap ke dalam kubangan lumpur yang dalam. Kaki-kakinya berkecipak, berjuang keras untuk menarik tubuhnya keluar. Nalira segera turun, mencoba menarik tali kekang, mesti mustahil, tubuh hewan itu 5 kali lipat lebih besar darinya. "Bertahanlah, Rano" gumam Nalira mencoba menarik tubuh kudanya dengan susah payah, hingga tiba tiba suara lesatan anak panah membelah udara dan dalam sekejap benda runcing itu menembus leher kudanya. "Rano!" teriaknya. Napasnya tercekat saat melihat kudanya meronta, darah mengalir deras bercampur dengan lumpur hitam pekat. Hewan itu mengerang lemah, matanya yang penuh semangat kini meredup dalam hitungan detik. "Tidak...! Rano!" ia berlutut suaranya pecah, nyaris tak terdengar di tengah heningnya hutan, meratapi kuda kesayanganya harus mati dengan cara mengenaskan. Ia lalu berdiri dadanya naik turun dengan tangan terkepal gemetar, amarahnya meledak begitu saja. "Kurang ajar!" teriaknya, matanya menyala liar. "Siapa yang melakukan ini?!" teriakanya menggema. Ia lalu menyambar busurnya, menarik anak panah dan melesatkannya ke arah semak-semak di sekelilingnya. Tak peduli siapa pelakunya, ia akan membalas. tetapi sayangnya tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam, menelan setiap denting anak panah yang hilang di balik pepohonan. Nalira mengatupkan rahangnya, air matanya luruh, ia mendekat ke arah kudanya, mencium kening kuda itu yang telah setia menemaninya selama bertahun-tahun. Ia ingin meratap lebih lama,tapi ia tak punya waktu banyak sementara keluarga di istana pasti telah menunggunya. Nalira mengusap sudut matanya. menghapus jejak air mata sebelum menegakkan bahu, lalu melangkah menjauh dengan perasaan berat. Semakin lama ia berjalan, semakin hutan itu terasa seperti perangkap. Ranting ranting tajam menggores dan mengoyak sebagian gaun indahnya, bahkan tak jarang ia terjatuh dalam kubangan lumpur yang membuat penampilannya tak di kenali sebagai seorang Tuan putri. "Sungai..." gumamnya tatkala ia menemukan aliran sungai yang airnya tampak jernih, di tengah rasa lelahnya bagaia oase di tengah gurun, sungai itu mengalir tenang di bawah cahaya senja, meski uuranya terasa mencekam. Namun rasa haus membuat Nalira tak memedulikannya. Dengan langkah lunglai ia mendekat lalu berjongkok, menciduk air dengan telapak tangan, dan meneguknya perlahan hingga dahaganya terpuaskan. krek. krek. krek. Seketika Nalira mengang, seluruh indranya waspada kala tiba-tiba Suara ranting patah memecah kesunyian. Langkah kaki itu mendekat membuat jantungnya berdegup cepat. Tak berpikir panjang Nalira berdiri lalu dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya. Mata biru Nalira membelalak, ketika ujung pedang yang tajam berkilat hampir menusuk lehernya. Nalira menahan napas. Di hadapannya kini berdiri seorang pria dengan mata sehitam malam, bertubuh tinggi, berbahu lebar, dan berbalut jubah gelap yang menyatu dengan bayangan hutan. "Siapa kau?" suara pria itu berat, dan tatapanya penuh ancaman. Nalira berusaha tetap tenang, mengendalikan degup jantungnya yang berderap. "Seharusnya aku yang bertanya. Kau menyerang tanpa alasan!" Pria itu mendengus kecil. "Kau berkeliaran di hutan ini, di wilayah yang seharusnya tidak boleh dimasuki siapa pun." Nalira menyipitkan mata. "Aku hanya mengambil jalan pintas dan tersesat." jawabnya. Pria itu mendekat, menekan pedangnya lebih dalam hingga mata Nalira membelalak sesaat. "Bohong. Mata-mata sepertimu selalu punya alasan." Wanita itu menelan amarahnya. Ia bisa saja bertarung, tapi dalam jarak sedekat ini, satu gerakan salah akan membuatnya kehilangan nyawa. "Mata-mata?" Ia tertawa pendek. "Itu tuduhan konyol. Aku tidak memiliki alasan untuk menjadi mata-mata." ucap Nalira. Namun pria itu tidak terpengaruh, terus mencari tahu identitas wanita di hadapannya. "Namamu?" "Kalau aku menolak?" Nalira mengangkat dagu penuh keangkuhan dan pria di depannya justru tersenyum licik "Kau akan merasakan betapa tajamnya pedang ini," bisik pria itu, mengancam. Nalira mengepalkan tangan. Ia tahu ia tidak bisa sembarangan melawan. Pria ini jelas seorang prajurit, mungkin lebih dari itu. Akhirnya dengan enggan ia pun menjawab, "Nalira. Nalira Elvandale, putri Duke Elvandale, dari selatan." Mata pria itu menyipit. "Putri seorang Duke ? Lalu apa yang kau lakukan di sini tanpa pengawal?" "Aku sudah mengatakan alasanku," Nalira mendesis, tidak suka diinterogasi seperti penjahat. "Sekarang, siapa kau sebenarnya?" Nalira balik bertanya. Pria itu diam sejenak, sebelum akhirnya menarik pedangnya dengan gerakan cepat. "Aaron Devonsa," katanya dingin. "Jendral, Sekaligus Duke paling berkuasa di Utara" Mata Nalira membelalak. Nama itu bukanlah nama sembarangan. Aaron Devonsa, seorang Duke sekaligus panglima perang yang tak terkalahkan, sosok yang ditakuti di medan pertempuran. "Aku tidak percaya bahwa seorang jendral seperti dirimu bersembunyi di tengah hutan. Menjadi pengecut dan membunuh kuda tanpa alasan." Aaron menyarungkan pedangnya, tatapannya tidak berubah. "Itu karena aku sedang memburu mata mata "Sudah kubilang aku bukan mata-mata!' Nalira menegaskan, suaranya lantang. Aaron mendengus. "Dan aku harus begitu saja percaya?" Tanpa memberi Nalira kesempatan menjawab, pria itu tiba-tiba mencengkeram lengannya erat. Nalira tersentak, mencoba melepaskan diri, tetapi genggaman Aaron jauh lebih kuat. "Lepaskan aku!" Nalira berontak, namun Aaron menariknya lebih dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal. "Jangan harap! Putri seorang Duke yang tiba-tiba muncul di hutan ini? Entah kau memang bodoh atau punya niat tersembunyi." Aaron berbisik dingin. Nalira menatapnya penuh amarah. "Aku tidak punya urusan dengan kerajaanmu!" Aaron diam sejenak, matanya mengamati wajah Nalira seakan menilai apakah wanita itu berbohong. Lalu, tanpa Nalira sadari ia menarik tali kulit dari ikat pinggangnya, lalu merampas busur beserta anak panahnya, dan melemparkannya ke tengah sungai tanpa ragu. "Apa yang kau lakukan? Busurku!" Nalira memandang senjatanya yang melayang terjun ke sungai sambil berusaha menghindar, tetapi percuma. Dalam satu gerakan cepat, pria itu membelit pergelangan tangannya dengan tali kulit, mengikatnya kuat ke belakang. Nalira menggertakkan gigi, pergelangannya terasa perih saat kulitnya bergesekan dengan serat kasar tali itu. "Lepaskan aku!" desisnya penuh amarah. Aaron hanya tersenyum miring. "Jangan banyak bergerak, atau kau akan merasakannya semakin ketat." serunya. " Setelah ini aku akan membawamu ke markas," "Kalau kau benar-benar tidak bersalah, kau akan bebas. Tapi kalau aku menemukan bukti bahwa kau mata-mata, aku sendiri yang akan menghabisimu." ancam Aaron. Darah Nalira berdesir. Pria ini benar-benar gila! "Aku tidak akan ikut denganmu!" teriaknya, tetapi Aaron hanya mengangkat sebelah alisnya, lalu tanpa berkata-kata lagi ia mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dan melemparkannya ke atas punggung seperti membawa sekarung gandum.母の声はますます大きくなり、ついに叫び声に変わった。「私が殺したの!私があの子を殺したのよ!」近所の人々が集まってきて、ささやき合っていた。姉はその場に立ち尽くしていた。彼女は、狂ったように母の姿、必死に母を引き留めようとする父の姿、周囲の野次馬たちの目つきを見つめた。それから彼女は身をかえ、一歩一歩階段を上っていった。その足取りは遅かったが、穏やかだった。父はやっと母を家に引き戻した。戸が閉まる瞬間、母は床にへたり込み、大声で泣き叫んだ。姉は私の部屋に入ってきた。部屋の中はまだ、私が生きていた頃のままだった。布団はちゃんと畳まれ、机の上には私が読みかけの本が置かれ、壁には私が一番好きなポスターが貼られていた。窓辺の小さな鉢植えは少し萎れていたが、まだ生きていた。姉は私の車椅子に座った。手で肘掛けをそっと撫でていた。その肘掛けには、私が指で掘った小さな穴があり、そこからスポンジがはみ出し、日々の汚れがたまって、もう黒ずんでいた。姉は目を閉じ、涙が頬を流れ落ちた。その夜、彼らは姉の退院後、初めての食事をした。母は食卓いっぱいの料理を作った。すべて姉の好物ばかりだった。だが食卓には、四人分の食器が並んでいた。余分になったそれは、私がいつも座っていた場所に置かれていた。母はご飯を盛り、おかずを取り分け、茶碗を目の前に押してくれた。「遥ちゃん、ご飯だよ」母はそう言った。その声はとても柔らかく、まるで子供をあやすような、優しいトーンだった。誰も口を開かなかった。姉は頭を垂れ、ゆっくりご飯を食べていた。涙が茶碗に落ちたが、彼女は拭かず、そのままご飯と一緒に呑み込んだ。父は突然箸を食卓に置き、口を開いた。「明日……」彼の声は嗄れていた。「明日、遥ちゃんを迎えに行こう」………霊安室は寒かった。私は空中を漂い、彼ら三人が入ってくるのを見つめていた。母の手には新しい骨壺が抱かれていた。ピンク色の壺に、白い小花が描かれている。それは、私が一番好きなデザインだった。係員が私の遺骨を壺に入れ、母に渡した。母はそれを両手で受け取り、まるで赤ん坊を抱くように胸に抱き寄せた。指で壺の縁をそっと撫で回し、涙が一粒ずつ、そのピンクの壺の上に落ちた。「遥ちゃん、お母さん
「遥ちゃんは、何もかも分かってたのよ」姉が突然口を開いた。その声は極めて穏やかだった。「ずっと、何もかも分かってたのよ。ただ、私たちは、あの子には分からないと思ってただけなの」闇の中、沈黙が長く続いた。私は空中を漂い、彼ら三人の姿を見つめていた。「あなたたちのせいじゃないよ」と、「これは私自身の選択なのよ」と、「泣かないで、お願い」と、言いたかった。だが、何も口に出すことができなかった。私はただ、見つめることしかできなかった。私のせいで砕け散ってしまったこの家を、ただ、静かに見つめるだけだった。……三日後、姉は退院した。新しい腎臓は順調に機能し、彼女の顔色は日に日によくなり、浮腫みも次第に消えていった。医者は姉の回復が早いと言った。薬をきちんと飲み、定期的に検査を受ければ、健常者と同じように長生きできるだろう、と話してくれた。だが、姉の顔には、一度も笑顔がこぼれることはなかった。退院の日、母は姉に新しい服を着せてあげた。それは水色のワンピースで、襟元には繊細な刺繍が施されていた。「遥ちゃんは、青色が一番好きだったのよ」母は姉の襟元を丁寧に正しながら、独り言のように小さい声でささやいた。姉の体が一瞬固まったが、何も言わなかった。父は退院手続きをしに行き、母は荷物をまとめていた。病室の隅には、ここ数日、親戚や友人たちが持ってきた栄養剤や花束が山積みになっていた。中には、もう枯れてしまった花もあった。母はその枯れた花を一輪一輪、丁寧に拾い出し、胸に抱えて、ぼんやりと眺めていた。「これらは、本来、遥ちゃんのものだったのに……」と母はささやいた。「もし病気になったのが遥ちゃんだったら……彼女のことを見舞いに来てくれる人、いるのかな?」誰も、母の問いに答えなかった。家への帰り道、車内はしんと静かだった。姉は後部座席に座り、窓の外の景色を眺めていた。日差しが彼女の顔に当たっていたが、その瞳には、光が少しもなかった。母は助手席に座り、手には私の遺書をしっかりと握り締めていた。その紙は、何度も指で撫でられたせいで、すでに端がボロボロになっていた。それでも母は、まるで最後の命綱を握るように、必死に、その紙を握り締めていた。車が団地に入ると、近所の人々が三三五五、階下に立ってい
「遥ちゃん、遥ちゃんがやっちゃった。私たちには永遠にできないことをやっちゃった」姉はささやいた。「遥ちゃんは私を救ったの。自身の命で……」……私の遺体は霊安室に運ばれた。母はストレッチャーにしがみつき、どうしても離さなかった。結局、父と看護師が力を合わせて、やっと彼女を引き離すことができた。母は床にへたり込み、ストレッチャーが廊下の果てに消えていくのを見つめ、喉の奥から野獣のような泣き声を上げた。その声は、ストレッチャーをずっと追いかけ、霊安室の扉まで届いた。だが厚い扉に阻まれ、やがて消え去った。車椅子に座った姉は、病室へ押し戻された。彼女はベッドの背もたれにもたれかかり、虚ろな目で窓の外をぼんやりと見つめていた。窓の外は日差しが暖かく、鳥が木々の間を跳び回っていた。「お母さん」突然、姉が口を開いた。その声は極めて穏やかだった。「りんご、食べたい」母はぼんやりと姉を見つめ、まるで彼女の言うことが理解できないかのような、うつろな表情だった。「遥ちゃんは昔、りんごが大好きだったわ」とお姉さんは続けて言った。「お母さんがりんごの皮をむくたび、遥ちゃんはいつもそばに座って、うれしそうに見つめていたの」母の目からまた涙があふれ出した。「買ってくる」父は立ち上がり、よろめきながら外へと歩き出した。「お父さん」お姉さんが父を呼び止めた。「赤いのを。遥ちゃんは赤いのが好きだったの」父の背中が一瞬固まった。それから小さく頷き、歩き出した。病室には母と姉だけが残された。母はベッドサイドに座り、姉の手を握った。二人の手は、震えて止まらなかった。「お母さん」お姉さんは窓の外を見つめながら言った。「遥ちゃんは今、どこにいるの?」母は何も言わなかった。「遥ちゃんは寒くない?」姉の声は小さかった。「霊安室は寒いでしょ?遥ちゃんは、寒さが一番苦手で、冬は湯たんぽを抱かないと眠れなかったわ」「もう、言わないでよ……」と母は泣きながら言った。「遥ちゃんが去るとき、痛かったの?」姉は顔を向け、母を見つめた。その目には、茫然とした深い苦痛が宿っていた。「手術は痛かったの?合併症は痛かったの?一人で……怖くなかったの?」姉は続けて言った。母は両手で顔を覆い、泣き
姉が車椅子をこいでやってきた。その動きはまるで全身の関節に錆がついたかのように、極めて緩やかだった。姉はベッドのそばで車椅子を止め、手を伸ばして、私の冷たい手を握った。「遥ちゃん……」その声は、聞こえないかと思うほど小さかった。「バカなの……どうしてこんなことを……」姉の手は激しく震えていた。生きていた頃、いつも震えていた私の手よりも、もっと激しく。昔、私がこの世にいた頃は、手がいつも震えて止まなかった。でも今は、私の手はもう震えない。「どうしてこんなことをしたの……」姉は、顔を私の手のひらに埋め込みながらつぶやいた。「死ぬべきなのは私なのに……私なのに……」姉の肩が激しく震え始めた。だが、のどが乾いて泣き声は一つも漏れてこなかった。医者は一言も言わずに部屋を出ていき、扉をそっと閉めた。病室には、彼ら三人と、次第に冷めつつある私の身体だけが、残された。どれくらい時間が経ったのか分からなかった。突然、母は床から立ち上がり、ベッドに飛びつき、狂ったように何かを探し始めた。ベッドサイドテーブルの引出しを開け、枕をめくり、さらに布団までめくろうとした。「何を探しているんだ?」父の声は嗄れていた。「遺書……」母の声も震えていた。「きっと遺書を残してくれたはず……遥は心配りのできる子だから……きっと……」母は、私の入院着のポケットの中から、折りたたまれた一枚の紙を見つけた。その紙が広げられた。そこには、私のゆがんだ字が並んでいた。手の震えのせいで、一つ一つの字は大きく、力強く、まるで全身の力を込めて書いたかのように、紙に刻まれていた。【お父さん、お母さん、お姉ちゃんへこの手紙を見ているとき、私はもうこの世にいないはず。ごめんね。また面倒をかけちゃった。私の体の状況では、こんなことをすれば死ぬことは、分かっていた。でも、でもね、私は必ずこうしなければならなかったの。お姉ちゃんはこの腎臓が必要なの。そして私……私はみんなのために一つ、たった一つだけでいいから、何かをしたかったの。長い間、私はずっと家の重荷だった。本当に、本当にごめんね。お母さんの髪はたくさん白くなり、お父さんの腰のけがはますます悪化し、お姉ちゃんは絵を描くことを諦めた。すべて、私のせい。今、私
reviews