로그인桜井依奈(さくらい えな)が帰国するその日、白川宗真(しらかわ そうま)は一晩中帰ってこなかった。 翌日、彼女のSNSで二人の手がしっかりと握られている写真と、子供のように眠った宗真の姿を見た。 宗真は帰宅して離婚届を投げつけ、「元々君が依奈の席を奪ったんだから、彼女が帰ってきた今、君も退くべきだ!」と言った。 構わない。どうせ私はもう長くは生きられないのだから。 白川奥さんなんて、誰が欲しがってもいい。 その後、私は亡くなった。 宗真は私の墓前で泣きながら、もう誰の手も無闇に握らないと誓った。
더 보기Menteng Dalam. 2008.
Takdir dan kematian tak ubahnya sahabat karib bagi kehidupan manusia yang semata wayang. Sesuatu yang pasti menjelangi. Sebuah keniscayaan. Hanya perkara kapan dan di mana. Tak terkecuali bagi Aryo Yuda Iskandar yang telah lama mengenyam keabadiaan.
Selama ratusan tahun dia tidak pernah menempatkan kematian dalam tampuk musuhnya, Aryo sejak lama merendahkan egonya terhadap kepastian ini. Malahan, petang ini, dirinya justru menyambut hadirnya kematian seolah sekadar kawan lama yang menjemput. Dia sudah siap untuk dijemput pulang kendatipun kepadanya Aryo meminta untuk menunggu barang sejenak di selasar depan.Bagi segelintir koleganya, Aryo tak lebih sekadar pengusaha muda berusia pertengahan 30 tahun. Orang akan menyebutnya mati muda setelah petang ini bergulir. Akan tetapi, bagi penuai nyawa yang kian gelisah menunggu, Aryo sudah terlalu lama mencurangi jatah umurnya, atau umur kebanyakan manusia. Satu dari sekian banyak sepertinya yang menumpuk di daftar tunggu.Kini, Aryo hanya terbujur ditemani pelayan setianya, Watari Kuranosuke, sementara bentangan kain putih yang ditegakkan di sepanjang ruang latihan itu telah mengepung keheningan mereka. Lelaki Jepang berusia lima puluhan yang satu dekade telah melayaninya itu bersimpuh membisu, tidak bersuara sepatah katapun di sisi majikannya yang sekarat.Kimono yang dikenakannya putih, kendati penuh bercak merah dari dadanya yang terbedah, menampakkan jeroan yang berkedut-kedut mengikuti ritme napas.Aryo mengulur kepergiannya dengan menekuri rintik hujan pada genting, sedangkan sang maut kian gelisah dalam penantian di serambi luar, bolak-balik mengintip menembus dinding rumah dan tirai yang menghalangi pandangan.Baru ketika telinganya menangkap gema kertuk lantai kayu dipijak langkah setengah berlari menuju ruangan mereka, wajah muram lesu itu sedikit mendapatkan angin. Lalu tirai putih itupun tersibak. Seorang remaja ceking, jangkung, berseragam sekolah putih-abu mendekat dengan mata yang sudah memerah serta ujung rambut ikal yang kebas.Tangisnya sudah pecah semenjak Watari mengabari ketika masih berada di sekolah. Setengah bagian seragamnya tampak lembap kusam.“Kamu sudah datang, Wira? Syukurlah, kemarilah bujang. Aku ingin bicara padamu untuk terakhir kali.” dengan suara yang lemah Aryo meminta si remaja bernama Wira untuk mendekat. Kendatipun berupaya bibirnya mengulas senyum kebahagiaan.“Saya minta maaf…saya minta maaf…saya minta maaf Sensei…”Sekadar itu yang kini terucap oleh mulut remaja tanggung bernama Wira itu, dia kebingungan perlu berbuat apa melihat luka menganga di dada gurunya yang sekarat, Watari yang ditoleh demi sebuah petunjuk pun hanya menggeleng pelan dengan wajah muram kaku.Aryo yang terbujur dengan kimono serba putih itu meraih genggaman tangan Wira, dengan segenap daya pemungkas yang dia masih miliki. “Semuanya adalah takdir, Wira. Termasuk kematianku petang ini, Boy. Takdir yang sudah kupilih. Sehingga kamu tak perlu tangisi.”Kendatipun dia sadar, jika murid semata wayang itu masih terlalu belia untuk memahami soal pilihannya ini. Sehingga wajarlah saja seandainyapun kata-kata penghibur yang meluncur sesudahnya justru membuat sang murid kian bersimbah tangis tergugu.“Aku hanya berharap satu, semoga kamu memaafkan saya untuk permintaan terakhir yang saya ingin ajukan.” Aryo melanjutkan. Dia membendung napasnya yang nyaris putus, dadanya berguncang.“Apapun itu. Saya bersedia penuhi, Sensei.” Wira mengusap tangisnya dengan lengan baju."Jangan mudah berjanji, Bujang. Ingat itu. Lelaki tak boleh murah janji dan pantang pula untuk ingkar. Kau paham? Tetapi aku bersyukur karena engkau sudi memenuhi pintaku."Aryo melirik lemah ke Watari yang sedari tadi berkhidmat menunggui. Sang pelayan memahami bahasa isyarat sang majikan dan menggeser sebuah kotak berukir dengan vernis hitam mengilat yang sejak tadi mensejajari duduk simpuhnya.Perlahan dibuka penutup kotak dengan hiasan bangau-bangau berkaki jenjang di permukaannya itu. Dengan kedua tangan diraih isi kotak yang kemudian dihaturkan kepada Wira.Kedua mata remaja SMU itu membelalak bulat oleh sebilah keris yang disodorkan kepadanya oleh pelayan sang guru. Kemudian, berkeliling pandang menelusuri bubungan, seolah petunjuk atas permintaan yang barusan disekapatinya itu tengah bercokol di sana.Dia memang mantap bersedia memenuhi permintaan sang guru, tetapi bukan ini yang terlintas dalam benaknya tadi.Aryo mengeratkan genggaman tangannya kepada Wira yang mematung dengan perasaan berkecamuk. Ia berkata, “Aku percayakan warisan hidupku kepadamu, Wira. Kini semua yang kumiliki akan menjadi milikmu. Termasuk takdirku dan segala yang terbawa bersamanya, demikian juga musuh-musuhku yang akan jadi musuh-musuhmu.”“Tetapi…apakah…apakah saya pantas?” Wira mencari sorot mata keraguan dari gurunya yang terlihat kepayahan tetapi teguh, mencari penolakan yang sama dari Watari meski sang kepala pelayan juga bersikap sebaliknya.“Kepantasan itu adanya dalam perbuatan, dalam tindak tanduk, dalam pembuktian, dan engkau punya banyak waktu untuk hal itu, Nak.”Kemudian, matanya singgah pada keris yang masih bertengger pada kedua telapak tangan Watari. Sadarlah dia jika sebagian takdirnya petang ini telah tersegel rapat.Aryo tampak merintih tertahan sekali lagi, kepayahan membendung nyawa yang sudah jatuh tempo, orang biasa barangkali sudah tewas sejam yang lalu. Tetapi sang kematian pun kini sudah tidak sabar lagi, dia tampak melongok dari ambang pintu.“Ingatlah, Wira! Engkau adalah pewarisku, saksi hidupku.” Aryo mengatupkan rahang, menahan perih yang kian mengombak.Matanya kemudian dipejamkan. Wajahnya tenang dan ikhlas. Wasiatnya sudah tersampaikan dan pewaris telah terpilih. Dalam gelap tabir penghujung hayat dia mengilas balik sepanjang kenangan, segala cita dan cinta, sembari menanti Wira menunaikan pinta.Genap pada hari ketigaratus enam puluh lima semenjak perjumpaan mereka, Wira menyanggupi permohonan pemungkas sang guru. Bersama getaran hebat yang menggoyang sendi-sendi dinding ruangan, Aryo meninggalkan Wira dan Watari, melangkah ringan dengan kawan lama yang semenjak sore menanti. Listrik di sekitar mereka padam total.Hujan yang turun deras sampai keesokan pagi sehingga kali Ciliwung meluap akhirnya menjadi pengiring kepergian. Kisahnya sudah purna, akan tetapi bersama laman yang tertutup itu, lembaran baru telah menanti bagi penyambung amanatnya.Bagi pewarisnya.***Seumur hidupnya, baru hari ini Wira mengenakan setelan jas. Sayang, kali pertama ini juga hari penanda kehilangan sosok yang setahun terakhir memberi banyak warna pada sepenggal hidupnya. Padahal dia sudah akrab dengan kehilangan --ditinggal mati orang tua semenjak lama, tetapi taklantas menjadi kebas akan kehampaan akibat ditinggalkan seseorang mentor yang pergi setelah sempat mengisi penggalan hidupnya.Sepulang dari pemakaman yang hanya dihadiri segelintir orang itu, Wira memilih rindangnya pohon mangga di halaman rumah sang guru untuk berlindung dari panas Jakarta.Orang-orangan yang dipakai ketika pertama kali berlatih bermain pedang itu masih tegak berdiri di dekat pohon. Tegak kaku kendati penuh luka sekujur batang tubuhnya.“Padahal buahnya tidak selalu bagus, tetapi Sensei selalu keberatan jika aku sarankan untuk ditebang.” Watari tahu-tahu muncul di halaman, dengan setelan jas hitam seperti halnya Wira.“Sejak dahulu dia memang menggemari buah Mangga. Saking sukanya, sampai dibelinya beberapa hektare kebun di Indramayu. Sewaktu sempat tinggal di Jepang lagi, beliau sering minta dikirimi Mangga dari Miyazaki yang waktu itu sedang booming.” Watari yang mengusung sebuah map dokumen, serta sebuah benda panjang terbungkus rapi itu kemudian duduk di kursi beranda.“Pantesan kalau ke pasar tradisional, beliau juga sering jajan Es Buah Mangga,” balas Wira yang kini beranjak mengekori.Keduanya duduk bersebelahan dengan berselang satu meja kecil. Keduanya sudah sama-sama berdamai dengan kehilangan yang baru menimpa empunya rumah itu. Diam sejenak dalam sisa kenangan yang seolah berjam-jam lamanya.“Sore ini, pengacara keluarga akan membacakan surat wasiat Sensei.” Watari membuka omongan terlebih dahulu.“Beliau masih punya anggota keluarga lain?” tanya Wira.“Teknisnya, hanya kita berdualah keluarganya.” Watari menjawab dengan ketenangan yang khas dirinya.“Sudah kuduga.”“Singkatnya, segala hal yang beliau miliki akan jadi milikmu, terlepas apakah kau keberatan atau tidak dengan hal ini. Tentu saja, keluarga Kuranosuke akan tetap mengurus semua asetnya seperti yang kami lakukan selama ini, hanya perlu sedikit penyesuaian legalitas yang kesemuanya sudah diurus. Segalanya dalam pengawasanku hingga kau merasa siap mewarisinya, atau kami anggap demikian, atau tidak sama sekali.” Watari bisa melihat jika remaja di dekatnya ini tampak sama sekali tidak tertarik, dia mengela napas berat, ini sudah diperkirakan olehnya dan mendiang majikan beberapa bulan lalu.Wira memilih tidak menjawab, separuhnya karena dia sendiri tidak mengerti tetek-bengek perihal perusahaan yang gurunya kini wariskan kepadanya, sisanya karena merasa itu bukan miliknya. Biarlah keluarga besar Watari yang selama ini melayani sang guru yang memelihara itu, pikirnya.Hanya saja sudut matanya terpaku kepada benda panjang yang bersandar miring pada meja di antara mereka.“Kemudian yang ini, secara khusus dia wariskan padamu di luar wasiatnya resminya, tidak masuk dalam inventaris aset bahkan.”Watari bisa menangkap ke mana arah ketertarikan di mata Wira, map yang urung disodorkannya untuk Wira bubuhkan paraf pun di letakkan di meja. Benda panjang berselubung sutra yang dibawanya kemudian diraih, dan diserahkan kepada Wira.“Pedang Murakumo ditempa dengan percampuran Keris kuno berbahan meteorit milik Aryo Sensei dan peleburan logam terbaik yang bisa kami dapatkan. Dikerjakan oleh pengerajin pedang yang cakap. Sebuah karya seni yang menyempurnakan kecakapan seorang Aeternum, serta simbologi linimasa sang mendiang empunya.”Watari bak menarasikan hal tersebut di latar, sementara Wira sibuk menyibak pedang peninggalan sang guru dari selimut sutranya.Sarung pedangnya adalah eboni legam mengilat, yang berlawanan warna dengan ukiran bersepuh emas tiga gugus-awan berimpit pada sebuah pusat berpola ala Mitsudomoe. Bilahnya melengkung keperakan sejernih cermin dipatri dengan huruf kanji yang dia tidak paham maknanya di dekat pangkal gagang, belitan kain gagangnya sehitam serupa sarung pedangnya, dengan ujung dan lingkaran pelindung tangan yang juga bersepuh emas.Wira paham jika Murakumo berarti gugusan awan dalam Bahasa Jepang. Ketika diayunkan, bilahnya seperti bersiul membelah udara. Dan ketika Wira bangkit dan memainkannya sejenak di tempat, Murakumo bersenandung syahdu.“Murakumo kini menjadi milikmu. Kaulah sang Pewarisnya.” Watari menatap lekat tuan mudanya itu.しかし、彼らは依奈と宗真の関係を受け入れた後、私の心の中では、誰でもどうでもよくなった。その後、宗真は私の主治医を訪ね、私が胃癌にかかったこと、そして入院治療を拒否したことを聞いた。家に帰ると、彼は酒瓶を抱えて大酔っ払いになり、「君が本当に残り三ヶ月だとは思わなかった。もし知っていたら、絶対に......」とつぶやきながら、そのまま眠りに落ちてしまった。彼が知っていたら、何をするつもりだったのだろう?依奈と別れて私と一緒にいるつもりだったのか?翌日、彼は動画を見ながら私の好きな料理を作り始めた。指を切りながらも、絆創膏を貼って続けた。料理が焦げてしまうと、全てゴミ箱に捨てて、再び鍋を温めて油を引いた。彼は料理をしながら独り言を言った。「最初の頃、君もこうやって何度も僕のために料理を学んでくれたんじゃない」さらに、彼はマッサージやケーキ作りを学び始め、花のアレンジメントの教室にも申し込んだ。「これからは毎日、家に君の好きなひまわりを飾るんだ」と言って。私は彼の行動を理解できず、理解しようとも思わなかった。彼が死んだ人のために何をしているのか、意味があるのか?彼の深い愛情を示すためなのか、それとも誰かに悔いを伝えたいのか?どうせ私はもう死んでしまったので、何も楽しむことはできない!彼が演じたいなら、勝手にやらせておけばいい!その時、義母はまた人を連れて別荘に押し入ってきた。「バチン、バチン」と彼に数発の平手打ちをし、「生きている時に大切にしなかったのに、死んでからこんなに深い愛情を装うなんて、そんなに演じたいなら、白川家の会社を引き継いで、箐美があなたのために8年も頑張ったこの会社をしっかり守れ!」と怒鳴った。義母が一番しっかりしていることは否定できない。彼女はいつも、宗真に何を言うべきかを分かっている。翌日、宗真はきちんとした格好をして白川家の会社に出社した。仕事を終えた後、私の墓前に立ち、「白川家の会社をしっかり守る。君の努力を無駄にはしない」と誓った。彼の演技を見るのはもううんざりだった。転生したい、どうか閻魔大王様、私を連れて行ってください!閻魔殿に立っているとき、私の願いがようやく聞かれた気がした。おそらく、情や愛を求めない願いは、実現する可能性があるのだろう。閻魔様が私に「転生前に何か願いは
彼が黙っていた。義母はため息をついた。「本気で箐美とやり直したいなら、彼女を見つけて帰ってこい。これからは彼女とちゃんと暮しなさい」宗真は目をキョロキョロさせながら、顔を上げて義母に尋ねた。「箐美はまだ僕を許して、僕と一緒に暮らしてくれるかな?」私は首を振った。もちろん、依奈が使った中古品なんて、全然いらない。義母は彼の背中を叩いて怒った。「試さなきゃ、彼女がどう思っているかわからないでしょう?」私は頷いた。「そうだよ、試さなきゃわからないよ!」宗真は素早く立ち上がり、外套を掴んで飛び出していった。私も急いで後を追った。車の中で、彼が電話をかけ、コネを頼み、あちこちにお金を使って私の行方を探しているのを見ていた。そして、最後に山の小高い場所で私の墓を見つけた。彼は信じられないように、村長の腕を掴んで「これが彼女とお前の共謀じゃないか?」と聞いていた。村長は怒って彼を押しのけ、「お前は病気か?誰が自分の命をかけて冗談を言うか!お前が誰だと思ってるんだ?桜井先生と一緒にお前を騙すほどの価値があると思ってるのか!」と罵った。村長はそのまま立ち去り、「こんな神経質な奴を連れてくるなんて、桜井先生の安らぎを乱してしまった。どうか桜井先生が天国で私を恨まないでくれますように」とつぶやいていた。私は村長に言いたかった。「彼を連れてこなくても、宗真は自分で来るから、気にしないでください」きっと私は木陰に立っていなかったせいで、太陽の光が目に刺さったのだろう。そうでなければ、宗真の涙が一滴一滴と地面に落ちるなんて見間違えたはずだ。彼は本当に私のために泣いているのだろうか?だって、彼は私を愛していないはずなのに!次の瞬間、彼が膝をついて私の墓前にひざまずいているのを見て、驚いて思わず墓から飛び出したくなった。彼は私の墓石を撫でながら、「箐美、お願いだから死なないで。君に会いたい」と泣きながら言った。「後悔している。依奈のために君を失うべきじゃなかった。君さえ戻ってくれば、誓うよ。これからは他の女性を一切見ないし、手を繋ぐこともない。君とだけずっと一緒にいるから。戻ってきてくれるな!」彼は泣きながら叫んでいて、その深い愛情と切ない声に、思わず涙が出そうだった。でも、彼は馬鹿なのか?人はもう死んでいて、体は腐り
電話で弁護士にサインした離婚届を宗真に送ってもらった。そして、彼にメールを送った。「あなたたちを祝福する!さようなら!」宗真に何の非もない。彼はただ、自分の愛を貫いただけで、たまたま私を愛していなかっただけなのだ。もし私がもっと早くこの間違った結婚から目を覚まし、彼を解放し、自分も解放していたら、私たちはまた同席のクラスメートの関係に戻れたのだろうか。残念ながら、彼には彼なりのこだわりがあり、私にも私なりの執着があった。しかし、結局彼は彼が求めていたものを手に入れたのに対し、私は手放さざるを得なかった。私はずっと依奈から彼女と宗真の結婚式の写真を待っていたが、最後まで彼女からのメッセージは届かなかった。村人たちや子供たちが私の棺の周りで泣き崩れるのを見て、「泣かないで、私は元々長く生きられなかったのだから」と伝えたかった。でも、誰かの手が私を引き戻すかのように、私はまた宗真のそばに連れ戻されてしまった。本当に私が彼への執念を捨てきれないからなのだろうか?死んでなお、彼のもとに戻ってしまうなんて。でも、私は死ぬ前にもう彼のことを愛していなかったはずだし、彼のことはちゃんと江依奈に返したのに。彼を見た瞬間、本当に驚いた。目の前の、疲れ切った、無精ひげを生やした彼は、私が知っている宗真とは違っていた。彼は自分の髪の毛一本すら丁寧に整えていたはずなのに!彼はビールの空き缶の中に座り込み、酒を飲みながら何かを呟いている。私はふわりと近づいて、ようやく耳に届いた言葉に驚いた。彼が呼んでいたのは、なんと「箐美」だったのだ!まさか、私が離婚届を送った後に、彼はようやく自分が本当に愛していたのは江依依ではなく、私だと気づいたというのだろうか?もしそうなら、彼を二発ぶん殴り、「クズ!」と罵りたい気持ちになった。宗真の元に一週間居続けた後、彼の母親や兄弟から彼がアルコール依存になった理由をやっと聞いた。ああ、愛に目覚めたわけではなく、依奈に再び見捨てられたからだったのだ。依奈のハーフの父親、大柄なMr.Johnがアメリカから帰ってきて、依奈と復縁したいと言ってきた。彼は友人に騙されて女秘書と関係を持ってしまったと話していた。それを聞いた依奈は、急いで白川家を出て行き、妊娠していた子供を堕ろして、Mr.Johnと共にアメリ
私はそこで中学校を新たに建てたいと思っていて、最良の教育施設と教員を整えれば、もっと多くの大学生が生まれるかもしれないと思った。地元の政府関係者は私の計画を聞いて、全力でサポートすると約束してくれた。村人は私の話を聞いて、涙を流しながら家にある卵やキャベツ、干し肉を持ってきて、感謝の気持ちを伝えてくれた。中には何も持っていないお年寄りは、私に跪いて感謝しようとした人もいた。そんな素朴で優しい人たちを見ていると、私の心が少しずつ癒されていくのを感じた。今していることに比べれば、愛や感情などはあまりにも狭い世界のように思えた。私は村人の家に住み込むことにして、昼間は子供たちに授業をし、歌を教え、時にはゲームをして過ごすと、状態が驚くほど良くなってきた。主治医は、こうした明るい気持ちを保ち、薬をきちんと飲めば、私の命が三ヶ月で終わることはないかもしれないと言ってくれた。知らないうちに、ここに一ヶ月もいた。この一ヶ月の間、宗真や依奈のことを忘れ、目の前の知識を渇望する子供たちだけを考えるようになった。子供たちの信頼ほど大切なものはないと思った。依奈が電話をかけてきたとき、私は子供たちと「明日がもっと良くなる」という歌を歌っていた。電話を切った後、私は彼らに言った。「努力すれば、信じれば、明日はもっと良くなるんだよ」子供たちはますます楽しそうに、声を大にして歌い続け、素晴らしい明日が本当に来るかのようだった。ところが、依奈は諦めずに何度も電話をかけてきた。仕方なく私は外に出て、彼女の電話を受けた。「箐美、今どこにいるの?」電話をつながると、彼女はすぐに質問してきた。「何か用?」と私は淡々と聞いた。彼女は声を弾ませて言った。「箐美、私、妊娠したの。宗真の子よ。だから早く戻って離婚して、私と赤ちゃんのために場所を空けて」私は手で口を覆い、気持ち悪くなってきた。「依奈、どうしてそんなことが言えるの?私が宗真と離婚しない限り、あなたの子供はただの不倫の子よ」依奈は大声で怒鳴った。「あなた、何もわかってない。宗真はあなたを愛していないのに、何で彼を手離さないの?」彼女は怒った後、笑いながら続けた。「そうそう、宗真の両親ももう知っているから、私を実家に戻すように言ってるわ。私と赤ちゃんの世話をするって。あなたは彼らが
結局、宗真は義父に殴られて気を失い、この茶番劇はやっと終わった。医者を家に呼んで宗真の怪我を診てもらい、依奈は白川家から追い出された。私は二階の客室で眠りについた。この一連の騒ぎで、誰もが傷ついた。最も悲しんでいるのは、やはり義父と義母だろう。こんなに頼りない息子がいるなんて、白川家の未来が心配だ。宗真の傷は深刻で、義父が本気で殴ったことが分かった。彼は実家で療養することになった。義母は私を強引に留めて、宗真の面倒を見てほしいと頼んだ。彼女は私たちをくっつけようとしているのだろうが、私も宗真ももう続けたくはない。宗真は私を見るとすぐに悪口を言ってきた。もし彼が怪我をしていなければ、もっと暴れよ
宗真は外へ追いかけようと足を踏み出したが、私は彼の服の裾を掴んで引き止めた。片手で胃を押さえ、震える声で言った。「宗真さん、胃が痛くてたまらないの。お湯を一杯持ってきてもらえる?」しかし、彼は私の手を強引に振り払った。頭が壁にぶつかり、目の前が一瞬真っ暗になった。彼の目には一瞬後悔の色がよぎったが、それでも冷たく言い放った。「君はますます手がかかるようになったな。水を飲むのにも人を使うつもりか?」そう言い捨てて、依奈を追いかけて出て行った。結局、初恋の相手の魅力には敵わない。彼にとって、8年間寄り添った私は、何の価値もない存在なのだろう。突然、胃の痛みが和らいだように感じた
彼らに顔を合わせる前に、私は立ち上がり、急いでトイレに駆け込んだ。リビングでは、宗真が何度も私を呼んでいたが、私はただ口を押さえて涙をこぼすばかりで、返事をしなかった。涙を拭いて気持ちを整えて出てきた時には、彼らは楽しそうに談笑しながら、私が作ったお粥を食べていた。なんて楽しそうな「家族3人」だこと!私は勢いよく駆け寄り、食卓の前に立って、彼らをじっと睨みつけた。彼は顔を上げ、困惑した表情で聞いた。「どこ行ってたんだ?さっきずっと呼んでたのに返事がなかったからさ」依奈は挑発的な笑みを浮かべながら、甘い声で言った。「お姉さん、一緒に朝ごはん食べようよ!」その口調は、まるで
テーブルに座り、冷めた料理を見つめていると、「了解」を送信した。30分前、宗真から「会社を出たよ、すぐに帰る」とメッセージが来ていた。彼の好きな料理をテーブルに並べて待っていたのに、スマホには「急に飲み会が入ったから、一人で食べて」とのメッセージが。その瞬間、私の心は冷え切った。急な飲み会なんて、ただ私の妹、彼の初恋相手の依奈が、ハーフの子供を連れて海外から帰ってきただけ。宗真は友達を呼んで彼女の歓迎パーティーを行った。どうして知っているのかって?それは私の良い妹が私だけに見える投稿をしたおかげだ。写真には宗真が彼女を優しく見つめて犬よりも愛想良く笑っていた。彼女が