ログイン確診肺癌晚期那天,我做的第一件事,是給江梧發了條分手簡訊。 醫生說我最多還有半年。而江梧,他連三秒都沒等,就回了一個字:「好。」 他不知道,這一次,我不是求關注。 我是真的,要走了。 而當我躺在病床上,準備將心跳交給另一個女孩時—— 他終於崩潰地跪在床邊求我:「別走……」 可這一次,我的告別,早已與他無關。
もっと見る“Ah, kau semakin lihai saja membuatku bergairah, Sayang.”
Jantung Joana seolah hampir ingin lepas di dadanya saat mendengar desahan dari dalam kamar.
Suara itu semakin jelas. Rintihan bercampur dengan desahan yang asing di telinganya.
Langkahnya berhenti di depan kamar tidur Thomas.
Pintu kamar itu setengah terbuka. Dari celahnya, Joanna melihat pemandangan yang seketika meruntuhkan seluruh dinding kepercayaannya.
Hari itu, Joanna ingin memberi kejutan. Tidak ada pesan, tidak ada telepon karena sengaja.
Wanita berusia dua puluh empat tahun itu ingin melihat ekspresi tulus dari kekasihnya yang sudah menemaninya selama satu tahun terakhir.
Sejak Thomas sering lembur, mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Joanna merasa sudah waktunya untuk mengembalikan sedikit kehangatan dalam hubungan mereka.
Dan kini, Thomas—lelaki yang selama ini dia cintai—sedang di atas tubuh seorang perempuan.
Gerakan mereka penuh gairah, terlampau intim untuk disalahartikan. Joanna ingin menjerit, tapi lidahnya kelu dan napasnya tercekat.
Dan lebih parahnya lagi, perempuan itu bukan orang asing.
Joanna mengenal betul rambut panjang bergelombang yang terurai di atas bantal, juga suara tawanya yang samar di antara desahan. Angel. Sahabat dekatnya sejak SMA.
Paper bag di tangan Joanna terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi duk pelan.
Kedua insan di ranjang itu sontak menoleh. Thomas terperanjat, wajahnya pucat, panik.
Angel justru menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan, seakan-akan dia memang menunggu saat ini terjadi.
“Joanna—ini bukan seperti yang kau lihat!” Thomas segera bangkit dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Bukan seperti yang aku lihat? Kau pikir aku buta, Thomas?” teriaknya penuh dengan amarah yang sudah tak bisa lagi dibendung.
Angel menyandarkan tubuhnya dengan santai bahkan raut wajahnya tak merasa bersalah sedikit pun.
Ia justru terkekeh kecil seraya menatap Joanna dari ujung rambut hingga kaki.
“Sepertinya kau terlalu polos, Jo. Harusnya kau sadar kenapa Thomas melakukan ini di belakangmu,” ucapnya dengan santai.
“Apa maksudmu, sialan? Kau sahabatku! Kita sudah berteman sejak SMA dan kau … kau menusukku dari belakang?” Joanna berucap dengan bibir bergetar.
Masih tak menyangka jika Angel akan tega melakukan ini padanya.
“Karena kau tidak bisa memuaskan Thomas seperti aku. Kau tidak bisa mendesah liar seperti yang aku lakukan padanya.”
Kata-kata itu menancap seperti pisau di dada Joanna.
“Diam, Angel! Jangan bicara begitu!” Thomas tampak panik mendengar Angel yang secara blak-blakan menjelaskan yang diinginkan oleh Thomas.
Namun Angel hanya menatap Thomas dengan tatapan menggoda, seolah sengaja menyalakan api di antara mereka.
“Setahun, Thomas. Setahun aku percaya padamu. Dan ini yang aku dapatkan? Dengan sahabatku sendiri?”
Thomas berusaha mendekat lalu meraih tangan Joanna. “Aku bisa jelaskan. Aku khilaf. Tolong beri aku kesempatan.”
Joanna menepis dengan kasar. “Kesempatan? Kau bahkan menghancurkan aku dalam satu detik. Semua janji, semua kata manis itu ternyata kosong!”
Angel menambahkan dengan nada sinis, “Seharusnya kau sadar sejak awal, Jo. Thomas membutuhkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak bisa kau berikan dan hanya aku yang bisa berikan.”
“Cukup, Angel!” bentak Thomas, tapi terlambat. Luka sudah terpatri.
Joanna menatap hina kedua wajah yang tampak tak merasa bersalah itu. “Mulai detik ini, kau bukan lagi kekasihku, Thomas. Hubungan kita telah berakhir!”
Dengan langkah terburu-buru, dia berlari keluar apartemen, menuruni koridor panjang dengan air mata yang tak terbendung.
Thomas berteriak dari belakang. “Joanna! Tunggu! Tolong dengarkan aku!”
Tapi Joanna tidak berhenti. Dia bahkan nyaris tersandung dan tubuhnya berguncang hebat karena tangis.
“Sudahlah, Thomas. Jangan membuang waktumu dengan gadis sok polos sepertinya. Sekarang sudah ada aku yang siap melayanimu kapan saja,” bisik Angel dengan nada menggoda.
**
Begitu sampai di luar gedung, udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Namun dingin itu tidak sebanding dengan beku yang merajam hatinya.
Dalam pikirannya, Joanna teringat momen-momen saat Angel sering berada di dekat Thomas.
Momen yang dulu dianggap wajar—sekadar teman yang datang menonton film bersama, atau ikut nongkrong saat mereka makan malam.
Kini semuanya tampak seperti potongan puzzle yang tersusun rapi. Ia terlalu naif untuk menyadarinya sejak awal.
Sambil berjalan gontai, Joanna menyeka air mata dengan punggung tangannya.
“Bodoh ... aku benar-benar bodoh.”
Ia lalu menyalakan ponselnya, mencari tempat di mana ia bisa melarikan diri. Pandangannya tertuju pada nama sebuah bar yang tidak jauh dari apartemen.
Ia tidak pernah masuk ke sana sebelumnya, tapi malam ini, dia butuh pelarian. Dia butuh melupakan rasa sakit walau hanya sebentar.
Sesampainya di depan bar, Joanna menatap papan neon yang berkelap-kelip. Musik berdentum samar dari dalam.
Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. “Kalau aku tetap di luar, aku hanya akan menangis sampai mati,” gumamnya.
Ia mendorong pintu tersebut dan membiarkan dentuman musik keras menyapu kesunyian dalam dirinya.
Aroma alkohol dan asap rokok langsung menyergap. Joanna melangkah masuk dengan langkah gontai.
Joanna lalu duduk di kursi bar dan memanggil seorang bartender. “Beri aku sesuatu yang paling kuat.”
“Baik, Nona.” Pelayan itu langsung membuatkan permintaan Joanna.
Gelas berisi cairan berwarna gelap diletakkan di depannya. Joanna menatapnya sebentar, lalu menenggak habis tanpa pikir panjang.
Alkohol membakar tenggorokannya, tapi justru itulah yang dia butuhkan—rasa sakit lain untuk menutupi luka di hatinya.
Satu gelas berubah menjadi dua, lalu tiga. Kepalanya mulai ringan dan matanya sayu. Namun rasa sakit di dalam dadanya tidak hilang.
Joanna menenggak gelas keempat hingga kepalanya terhuyung.
“Thomas brengsek! Angel bajingan,” gumamnya dengan suara serak. “Satu tahun ... satu tahun aku buang hanya untuk mereka ....”
Joanna memutar-mutar gelas kecil itu sembari terus meracau hingga tak sadar seorang pria duduk di sampingnya.
Tampan, gagah, memiliki rahang yang tegas. Kemudian menatap Joanna dengan alis berkerut. Dia mengenal gadis itu!
“Joanna? Apa yang kau lakukan di sini?”
真好,我想,我們都將獲得新生。番外1:信張茵緩緩睜開眼睛,麻藥的效果正在褪去,她能感覺到身體裡一種陌生的、久違的活力在緩緩流動。她注意到床頭櫃上一個素白的信封。張茵的心一沉,又像是被什麼填滿了。她小心翼翼地拆開那封信,紙張很薄,上面的字跡清秀,有些歪斜,能看出寫字的人很虛弱。張茵:當你讀到這些字時,我大概已經像水氣一樣,消散在陽光裡了。真好,你能替我繼續看這個世界的日出日落。我們相識的時機不算太好,但與你奇妙的羈絆,竟成了我最後日子裡最珍貴的記憶。你讓我知道,原來還有人懂我的沉默。所以,請不要把這看作饋贈或負擔。就當是一個朋友的任性——任性地希望你能和我一起,去經歷所有
我輕聲說,「你什麼都不用做。」他跌坐在椅子上,肩膀微微發抖。他彷彿從指縫間擠出聲音,「最後的時間,至少讓我照顧你……就當是讓我贖罪。」我閉上眼睛,「不需要了。」沉默在病房裡蔓延,我聽見自己微弱的心跳。他是不是說了什麼,我聽不太清,只是突然很睏了。好像一天比一天倦,我慢慢睡過去了。也不知道他是留在這裡,還是出去了。13我的意識漂浮在清醒與混沌之間,能感覺到生命正一點點從指尖流走。他今天來得格外早,就坐在床邊,握著我的手。江梧的手很暖,暖得讓我想起很久以前那個會把我冰涼的手塞進他口袋的少年。他聲音低啞,每個字都像是艱難地擠出來,「醫生說……就是這兩天了。」我的手指在他掌心
我沒有猶豫,點了點頭。她出去借了推剪,回來時手裡還多了一把木梳。陽光從東窗斜照進來,把她周身都鍍了層淡金。「小時候,我常幫我奶奶梳頭。」她一邊調整推剪電壓,一邊輕聲說,「後來她病了,頭髮也是我剃的。」我閉上眼,感覺到梳齒輕輕劃過頭皮。她的動作很熟練,像是在完成一個神聖的儀式。「疼嗎?」她問。「不疼。」推剪開始低鳴,冰涼的金屬貼著頭皮移動。我能感覺到髮絲簌簌落下,像秋葉離枝。「那天晚上你說的話,我想了很久。」她突然開口,手上的動作卻沒停,「如果自由需要這樣的代價,那我接受。但這不是犧牲,是……傳承。」我閉著眼,嘴角卻微微揚起。我們都明白那個未說出口的決定。「好了。」她關
張茵的身影出現在門口,披著外套,手裡端著兩杯溫水。她看到我醒著,並不意外,只是無聲地走進來,將一杯水放在我床頭。「睡不著?」她低聲問,在床邊的椅子上坐下,將自己蜷縮起來,像個需要溫暖的孩子。月光勾勒出她清瘦的側臉。「嗯。」我應道,目光從星空收回,落在她身上,「你呢?透析後不舒服?」她搖搖頭,又點點頭,抱著膝蓋,視線沒有焦點。「說不清哪裡不舒服,就是……心裡慌得厲害,一個人待著有點怕。」我們陷入沉默,但這沉默並不尷尬。在死亡的陰影下,白天所有的堅強和偽裝都顯得蒼白,夜晚讓真實顯現。「你知道嗎,」她忽然開口,聲音很輕,「我曾經仔細研究過你的喜好。」我微微一愣。「你愛看什麼書,
只有在疼得實在受不了時,才會從齒縫間漏出幾聲壓抑的嗚咽,像隻躲在角落獨自舔傷的小獸。我知道,她是怕給醫護人員與病人添麻煩。十歲的年紀,本該無憂無慮,卻已經學會了忍耐。小周媽媽日夜守在病床前,爸爸在外打工,只為攢出一線希望。看著小姑娘蒼白的笑臉,我常常想,如果沒有生病,她該是個多麼快樂的孩子。同為絕症患者,我第一次如此真切地感受到生命的重量。像我這樣對生死已無太多留戀的人,看著那些在絕望中仍不放棄希望的人,心裡總會泛起酸楚。在同一間醫院的住院部,我與張茵幾次不期而遇,我們彷彿形成一種默契,有時候一起沉默,有時候搭兩句話。這天我坐在長椅上看書,張茵主動坐了過來。張茵看向我攤開的書
「是啊」,我輕聲道,「我就是裝病,現在戲演完了,我可以走了嗎?」他愣住了,似乎沒料到我會這麼乾脆地承認。張茵適時地輕咳兩聲,「江梧,這裡人太多了,我們走吧。」轉身前,她回頭看了我一眼,眼神裡有歉疚,還有很多說不清道不明的情緒。我朝她微微一笑。望著他們遠去的背影,忽然想起那個冬天的夜晚。我蜷在壁爐前看書,他推門走進來,碰到我冰冷的雙手,二話不說就把我的手塞進他的毛衣裡。「這樣就不冷了。」他笑著說,眼睛亮得像盛滿了星星。現在站在這裡,手還是冰的,心卻比手更冷。但很奇怪,腦子卻前所未有地清醒。張茵沒有錯,她只是生病了,有人想照顧她。我也沒有錯,我只是愛上了一個不太對的人。那些
江梧嘴角扯起一個諷刺的弧度,視線掃過我空蕩蕩的雙手,「落下的東西?這屋裡還有什麼東西,值得你特地跑這一趟?」他向前走了兩步,語氣帶著居高臨下的剖析,「承認吧,你就是找不到比我更好的,用這種離家出走的方式引起我注意,一次就夠了,次數多了,只會讓人厭煩。」心口像是被細密的塵埃堵住,有些悶。我看著他那張熟悉的臉,忽然覺得我們之間隔著一層無法穿透的玻璃。我沒有接他的話,而是走向書架,那裡還放著幾本我常看的書,「我拿完這幾本書就走。」江梧看著我伸手去夠書架上層那本《瓦爾登湖》,那是他曾經送我的生日禮物。他眼神微動,語氣稍緩,卻依舊帶著刺,「那本書,你當時不是說,要和我一起看完後面半部嗎?現在
確診肺癌晚期那天,我做的第一件事,是給江梧發了封分手簡訊。醫生說我最多還有半年。而江梧,他連三秒都沒等,就回了一個字:「好。」他不知道,這一次,我不是求關注。我是真的,要走了。而當我躺在病床上,準備將心跳交給另一個女孩時——他終於崩潰地跪在床邊求我:「別走……」可這一次,我的告別,早已與他無關。01確診肺癌晚期那天,我做的第一件事,是給江梧發了封分手簡訊。醫生說我最多還有半年。訊息發出去不到三秒,螢幕亮了。只有一個字:「好。」我看著那個字,熄滅了螢幕。他一定以為,這又是我在變著法子求他關注。天台風很大。我蹲在鐵盆前,看著火焰一點點吞噬我們的合照、他送的手鍊,還有那