Short
聆聽生命的倒計時:生死之前,愛恨不過如此

聆聽生命的倒計時:生死之前,愛恨不過如此

作家:  北北完了
言語: Traditional_chinese
goodnovel4goodnovel
11チャプター
145ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

虐戀

反轉

小三

偏心/自私

渣男

後悔

出軌

確診肺癌晚期那天,我做的第一件事,是給江梧發了條分手簡訊。 醫生說我最多還有半年。而江梧,他連三秒都沒等,就回了一個字:「好。」 他不知道,這一次,我不是求關注。 我是真的,要走了。 而當我躺在病床上,準備將心跳交給另一個女孩時—— 他終於崩潰地跪在床邊求我:「別走……」 可這一次,我的告別,早已與他無關。

もっと見る

第1話

第1章

“Ah, kau semakin lihai saja membuatku bergairah, Sayang.”

Jantung Joana seolah hampir ingin lepas di dadanya saat mendengar desahan dari dalam kamar.

Suara itu semakin jelas. Rintihan bercampur dengan desahan yang asing di telinganya.

Langkahnya berhenti di depan kamar tidur Thomas.

Pintu kamar itu setengah terbuka. Dari celahnya, Joanna melihat pemandangan yang seketika meruntuhkan seluruh dinding kepercayaannya.

Hari itu, Joanna ingin memberi kejutan. Tidak ada pesan, tidak ada telepon karena sengaja.

Wanita berusia dua puluh empat tahun itu ingin melihat ekspresi tulus dari kekasihnya yang sudah menemaninya selama satu tahun terakhir.

Sejak Thomas sering lembur, mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Joanna merasa sudah waktunya untuk mengembalikan sedikit kehangatan dalam hubungan mereka.

Dan kini, Thomas—lelaki yang selama ini dia cintai—sedang di atas tubuh seorang perempuan.

Gerakan mereka penuh gairah, terlampau intim untuk disalahartikan. Joanna ingin menjerit, tapi lidahnya kelu dan napasnya tercekat.

Dan lebih parahnya lagi, perempuan itu bukan orang asing.

Joanna mengenal betul rambut panjang bergelombang yang terurai di atas bantal, juga suara tawanya yang samar di antara desahan. Angel. Sahabat dekatnya sejak SMA.

Paper bag di tangan Joanna terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi duk pelan.

Kedua insan di ranjang itu sontak menoleh. Thomas terperanjat, wajahnya pucat, panik.

Angel justru menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan, seakan-akan dia memang menunggu saat ini terjadi.

“Joanna—ini bukan seperti yang kau lihat!” Thomas segera bangkit dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Bukan seperti yang aku lihat? Kau pikir aku buta, Thomas?” teriaknya penuh dengan amarah yang sudah tak bisa lagi dibendung.

Angel menyandarkan tubuhnya dengan santai bahkan raut wajahnya tak merasa bersalah sedikit pun.

Ia justru terkekeh kecil seraya menatap Joanna dari ujung rambut hingga kaki.

“Sepertinya kau terlalu polos, Jo. Harusnya kau sadar kenapa Thomas melakukan ini di belakangmu,” ucapnya dengan santai.

“Apa maksudmu, sialan? Kau sahabatku! Kita sudah berteman sejak SMA dan kau … kau menusukku dari belakang?” Joanna berucap dengan bibir bergetar.

Masih tak menyangka jika Angel akan tega melakukan ini padanya.

“Karena kau tidak bisa memuaskan Thomas seperti aku. Kau tidak bisa mendesah liar seperti yang aku lakukan padanya.”

Kata-kata itu menancap seperti pisau di dada Joanna.

“Diam, Angel! Jangan bicara begitu!” Thomas tampak panik mendengar Angel yang secara blak-blakan menjelaskan yang diinginkan oleh Thomas.

Namun Angel hanya menatap Thomas dengan tatapan menggoda, seolah sengaja menyalakan api di antara mereka.

“Setahun, Thomas. Setahun aku percaya padamu. Dan ini yang aku dapatkan? Dengan sahabatku sendiri?”

Thomas berusaha mendekat lalu meraih tangan Joanna. “Aku bisa jelaskan. Aku khilaf. Tolong beri aku kesempatan.”

Joanna menepis dengan kasar. “Kesempatan? Kau bahkan menghancurkan aku dalam satu detik. Semua janji, semua kata manis itu ternyata kosong!”

Angel menambahkan dengan nada sinis, “Seharusnya kau sadar sejak awal, Jo. Thomas membutuhkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak bisa kau berikan dan hanya aku yang bisa berikan.”

“Cukup, Angel!” bentak Thomas, tapi terlambat. Luka sudah terpatri.

Joanna menatap hina kedua wajah yang tampak tak merasa bersalah itu. “Mulai detik ini, kau bukan lagi kekasihku, Thomas. Hubungan kita telah berakhir!”

Dengan langkah terburu-buru, dia berlari keluar apartemen, menuruni koridor panjang dengan air mata yang tak terbendung.

Thomas berteriak dari belakang. “Joanna! Tunggu! Tolong dengarkan aku!”

Tapi Joanna tidak berhenti. Dia bahkan nyaris tersandung dan tubuhnya berguncang hebat karena tangis.

“Sudahlah, Thomas. Jangan membuang waktumu dengan gadis sok polos sepertinya. Sekarang sudah ada aku yang siap melayanimu kapan saja,” bisik Angel dengan nada menggoda.

**

Begitu sampai di luar gedung, udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Namun dingin itu tidak sebanding dengan beku yang merajam hatinya.

Dalam pikirannya, Joanna teringat momen-momen saat Angel sering berada di dekat Thomas.

Momen yang dulu dianggap wajar—sekadar teman yang datang menonton film bersama, atau ikut nongkrong saat mereka makan malam.

Kini semuanya tampak seperti potongan puzzle yang tersusun rapi. Ia terlalu naif untuk menyadarinya sejak awal.

Sambil berjalan gontai, Joanna menyeka air mata dengan punggung tangannya.

“Bodoh ... aku benar-benar bodoh.”

Ia lalu menyalakan ponselnya, mencari tempat di mana ia bisa melarikan diri. Pandangannya tertuju pada nama sebuah bar yang tidak jauh dari apartemen.

Ia tidak pernah masuk ke sana sebelumnya, tapi malam ini, dia butuh pelarian. Dia butuh melupakan rasa sakit walau hanya sebentar.

Sesampainya di depan bar, Joanna menatap papan neon yang berkelap-kelip. Musik berdentum samar dari dalam.

Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. “Kalau aku tetap di luar, aku hanya akan menangis sampai mati,” gumamnya.

Ia mendorong pintu tersebut dan membiarkan dentuman musik keras menyapu kesunyian dalam dirinya.

Aroma alkohol dan asap rokok langsung menyergap. Joanna melangkah masuk dengan langkah gontai.

Joanna lalu duduk di kursi bar dan memanggil seorang bartender. “Beri aku sesuatu yang paling kuat.”

“Baik, Nona.” Pelayan itu langsung membuatkan permintaan Joanna.

Gelas berisi cairan berwarna gelap diletakkan di depannya. Joanna menatapnya sebentar, lalu menenggak habis tanpa pikir panjang.

Alkohol membakar tenggorokannya, tapi justru itulah yang dia butuhkan—rasa sakit lain untuk menutupi luka di hatinya.

Satu gelas berubah menjadi dua, lalu tiga. Kepalanya mulai ringan dan matanya sayu. Namun rasa sakit di dalam dadanya tidak hilang.

Joanna menenggak gelas keempat hingga kepalanya terhuyung.

“Thomas brengsek! Angel bajingan,” gumamnya dengan suara serak. “Satu tahun ... satu tahun aku buang hanya untuk mereka ....”

Joanna memutar-mutar gelas kecil itu sembari terus meracau hingga tak sadar seorang pria duduk di sampingnya.

Tampan, gagah, memiliki rahang yang tegas. Kemudian menatap Joanna dengan alis berkerut. Dia mengenal gadis itu!

“Joanna? Apa yang kau lakukan di sini?”

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む
コメントはありません
11 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status