Share

Bab 6

Author: 燃灯灯
Perawat menelepon dan memberi tahu bahwa masih ada barang milik ayahnya yang tertinggal di rumah sakit.

Setelah merapikan desain yang sedang dikerjakannya, Sienna langsung menyetir ke rumah sakit untuk mengambilnya.

Saat kembali menginjakkan kaki di tempat itu, dadanya masih terasa nyeri. Hari itu, setelah upaya penyelamatan gagal, dia sendiri yang membersihkan wajah ayahnya dan menggantikan pakaiannya.

Aroma antiseptik yang tak kunjung hilang itu seolah masih melekat di hidungnya. Sampai-sampai setiap kali memasuki ruang rawat inap, hidungnya langsung terasa perih dan sesak.

Hujan turun selama tiga hari berturut-turut. Angin yang berembus membawa hawa dingin.

Sienna merapatkan mantel di tubuhnya. Lift langsung membawanya ke ruang rawat VIP di lantai 7.

Ayahnya sudah cukup lama dirawat di sana, sehingga dia cukup akrab dengan para staf. Baru saja keluar dari lift, seseorang memanggilnya, "Sienna!"

Itu Citra, petugas kebersihan rumah sakit. Dahulu ayah Sienna pernah membantunya saat dia dipersulit orang lain, jadi sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat.

Citra berasal dari wilayah timur laut. Orangnya hangat dan sederhana. Sebulan yang lalu dia pulang kampung karena cucunya baru lahir. Sepertinya baru beberapa hari ini kembali bekerja.

Sienna tersenyum sambil menyapanya. Citra menyandarkan pel di troli kerjanya, lalu tersenyum ramah. "Aku bawa telur bebek dari kampung. Nanti setelah selesai kerja, aku antar buat kamu."

Dia memang selalu begitu. Setiap kali pulang dari kampung halaman, dia selalu membawakan oleh-oleh untuk Sienna dan ayahnya.

Katanya, Sienna datang sendirian ke ibu kota dan tidak punya banyak kenalan. Bisa saling mengenal adalah sebuah jodoh. Seumur hidup dia tidak memiliki anak perempuan. Sienna yang cantik dan lembut benar-benar sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya.

"Eh, tapi ...." Citra tampak bingung. "Tadi pagi kulihat kamar 202 kosong. Perawat baru di pos jaga juga belum terlalu kenal, jadi aku nggak enak tanya. Ayahmu pindah kamar, ya?"

Ucapan penuh perhatian itu membuat senyum di wajah Sienna membeku. Tangannya yang menggenggam tali tas perlahan terasa dingin.

Melihat Sienna diam saja, secercah harapan muncul di mata Citra. "Jangan-jangan ayahmu sudah sembuh dan pulang? Dulu kamu bilang temanmu berhasil mencarikan dokter yang hebat. Operasinya berhasil, ya?"

Sienna terdiam sesaat. Menatap wanita tua yang tersenyum penuh harap di depannya, tenggorokannya terasa tercekat. Setelah berpikir cukup lama, dia akhirnya mengangguk.

Mendengar itu, mata Citra langsung memerah. Dia menepuk pelan bahu Sienna. "Syukurlah. Akhirnya ayahmu sembuh. Pengorbanan selama ini nggak sia-sia."

Sambil berbicara, dia berulang kali merangkapkan kedua tangan, mengucap syukur kepada Tuhan. Katanya, ayah Sienna adalah orang baik. Karena itulah Tuhan melindunginya.

Dia terus menarik Sienna untuk memberinya berbagai nasihat. Mulai dari cara merawat pasien, sampai bagaimana mempercepat masa pemulihan setelah operasi.

Baru ketika seseorang keluar ke lorong, dia menghentikan ocehannya. Langkahnya pun tampak jauh lebih ringan saat pergi.

Memandang sosok itu menghilang di ujung lorong, Sienna menunduk. Lebih baik Citra tidak pernah tahu. Dia tidak ingin urusan keluarganya justru menambah kesedihan orang lain.

....

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya di pos perawat, perawat yang sedang berjaga langsung mengerti, lalu masuk ke ruang penyimpanan.

Sienna menunggu di samping. Dia bukan orang yang suka bergosip. Namun kali ini, tokoh yang sedang dibicarakan membuatnya sulit untuk mengabaikan percakapan itu.

"Itu Cedric. Aku pernah lihat dia di televisi."

"Kalau begitu, wanita yang tadi di sampingnya itu pasti Nyonya Prasetya, ya?"

"Kayaknya iya. Bukannya Pak Cedric sudah nikah tiga tahun lalu? Nggak nyangka istrinya secantik itu."

"Dia sendiri yang mengurus rawat inap ayah mertuanya. Sudah tampan, perhatian pula."

Sienna menduga Nyonya Prasetya yang mereka maksud adalah Thalia. Selain Thalia, tak ada orang lain yang layak membuat Cedric datang sendiri.

Operasi ayah Thalia sudah selesai. Karena khawatir Thalia kelelahan merawat ayahnya sendirian, Cedric mengatur agar mereka dirawat di rumah sakit ini setelah kembali ke tanah air?

Bulu mata Sienna bergetar pelan. Tak ada emosi di matanya. Toh mereka akan bercerai. Dengan siapa Cedric bersama atau apa yang dilakukannya, semua itu sudah tidak ada hubungan dengannya.

Perawat menyerahkan sebuah kantong kepadanya. Saat Sienna berbalik, dia tepat berpapasan dengan Elric yang baru keluar dari ruang rawat. Begitu melihat Sienna, kepanikan melintas sesaat di mata Elric.

Walaupun dia buru-buru menutup pintu, Sienna tetap sempat melihat keadaan di dalam. Cedric membelah apel yang sudah dikupas menjadi dua. Separuh diberikan kepada ayah Thalia, separuh lagi kepada Thalia.

Entah apa yang dikatakan ayah Thalia, Thalia langsung menunduk sambil tersenyum. Mereka benar-benar tampak seperti sebuah keluarga.

Elric tampak canggung. Dia segera menghampiri Sienna. "Nyonya."

Rasa bersalah yang begitu jelas di wajah Elric justru membuat Sienna ingin tertawa. Yang menjadi tokoh utama di sini jelas adalah Cedric. Aneh sekali, justru asistennya yang tampak lebih bersalah.

Melihat Elric masih memegang hasil pemeriksaan, Sienna tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk sopan dan hendak pergi.

Namun, Elric memanggilnya, "Nyonya, soal itu ...."

Dia ragu-ragu, secara refleks ingin membela Cedric.

"Bagaimanapun juga, mereka sudah saling kenal sejak lama. Wajar kalau Pak Cedric datang menjenguk."

Benar, memang sudah sepantasnya begitu. Selama tiga tahun ayahnya dirawat di rumah sakit, Cedric sepertinya hanya datang dua kali.

Salah satunya bahkan karena kantor pusat sedang melakukan kunjungan ke rumah sakit dan Sienna memaksanya naik ke ruang rawat.

Keluarga Cedric dan Thalia adalah teman. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Sedangkan dirinya dan ayahnya, sejak awal hanyalah orang luar. Mereka memang tidak pernah seimbang baik dari segi status maupun perasaan.

Sienna mengangguk. Ekspresinya tetap tenang. Dia hanya berkata, "Tolong suruh dia segera tanda tangani surat perjanjian cerainya."

Tanpa menunggu jawaban Elric, dia langsung melangkah pergi. Elric berdiri terpaku di tempat. Menatap punggung kurus itu menghilang di tikungan lorong, dia tak kuasa menghela napas.

Padahal dahulu mereka baik-baik saja. Bagaimana semuanya bisa sampai seperti ini?

Pintu ruang rawat terbuka. Seorang wanita berbaju putih keluar. Melihat Elric masih berdiri termenung di lorong, dia tersenyum dan bertanya, "Elric, ada apa? Apa hasil pemeriksaannya bermasalah?"

Elric tersadar. "Bukan, bukan. Aku akan membawanya ke dokter sekarang."

"Baiklah."

Begitu Elric masuk ke lift, senyum lembut di wajah Thalia perlahan memudar. Dia melihat wanita yang tadi berdiri di luar. Jadi ... dialah istri Cedric?

Memang sangat cantik. Sejak dahulu, dia sudah mendengar dari kepala pelayan Keluarga Prasetya bahwa Cedric menikahi wanita itu demi memperoleh 5% saham milik kakeknya. Sedangkan wanita itu sendiri bersedia menikah demi koneksi Keluarga Prasetya.

Thalia juga tahu bahwa ayah wanita itu sedang sakit. Namun, Cedric tetap memilih mendahulukan ayahnya.

Kalau begitu, bukankah berarti memang tidak ada perasaan di antara mereka? Pernikahan itu sejak awal hanyalah sebuah transaksi?

'Sienna.' Thalia mengulang nama itu dalam hati.

"Lihat apa?"

Thalia menoleh. Cedric baru keluar dari ruang rawat. Suaranya rendah.

"Ayahmu baru selesai minum obat dan sudah tidur."

Thalia mengangkat wajah. Binar senyum terpancar di matanya. "Cedric, terima kasih banyak. Padahal kamu sangat sibuk, tapi kamu masih datang sendiri mengurus semua ini."

Nada bicara Cedric tetap tenang. "Nggak perlu sungkan. Kalian bukan orang luar."

Kalian bukan orang luar. Thalia menggenggam ujung bajunya erat-erat. Hatinya berdesir. Dia menunduk dengan sedikit malu. "Aku tahu. Aku selalu tahu."

Sejak SMP, saat Cedric menggendongnya ke ruang UKS karena dia terluka, dia sudah tahu Cedric memperlakukannya berbeda dari orang lain.

Meskipun selama beberapa tahun ini dia tinggal di Jermani, mereka tidak pernah putus hubungan. Setiap kali Cedric pergi ke Jermani untuk urusan bisnis, dia selalu menyempatkan diri mengunjunginya dan ayahnya.

Kali ini pun sama. Setelah mengetahui mereka pulang ke tanah air, Cedric langsung datang mengatur semuanya sendiri.

Cedric menunduk membalas pesan pekerjaan. Lorong kembali sunyi.

Elric kembali membawa daftar obat dan instruksi dokter. "Dokter bilang, kondisi pemulihan pasien sangat baik. Semua indikatornya normal."

Thalia menerima berkas itu sambil tersenyum. "Terima kasih."

"Pak ...." Elric ragu-ragu membuka suara.

Melihat itu, Thalia langsung mengerti. "Aku masuk dulu. Mau periksa infus Ayah."

Cedric mengangguk pelan. "Pastikan obatnya diminum tepat waktu. Aku juga akan mencarikan orang untuk bantu merawat Om."

Setelah pintu ruang rawat tertutup, Elric baru berkata pelan, "Tadi aku bertemu Nyonya."

Cedric mengira Sienna datang untuk mengurus ayahnya, jadi hanya melirik sekilas, memberi isyarat agar Elric melanjutkan.

Elric menarik napas dalam. "Nyonya menyampaikan ... soal surat perjanjian cerai. Beliau meminta Bapak segera menandatanganinya."

Jari Cedric yang sedang menggeser layar ponsel berhenti sesaat. Beberapa detik kemudian, dia hanya menjawab, "Ya."

Tak ada emosi yang terdengar dari suaranya.

Di dalam ruang rawat, Thalia bersandar di balik pintu. Jari-jarinya perlahan mengepal.

Mereka ... benar-benar akan bercerai?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 62

    Kediaman Keluarga Hartono.Begitu Thalia tiba di rumah, Evron langsung memanggilnya ke ruang kerja.Lampu ruang kerja masih menyala. Evron sedang memegang kuas, berlatih kaligrafi di atas kertas. Perabot kayu merah bergaya klasik di ruangan itu diselimuti cahaya malam dari luar jendela, menciptakan

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 61

    Begitu kembali ke ibu kota, Stefan langsung menemui Sienna. Sienna sedang menunduk menikmati makan siangnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu bertanya, "Beberapa waktu lalu kamu buru-buru pulang ke Kota Garmin. Apa terjadi sesuatu?"Stefan menunduk sambil mengambilkan lauk ke piring Sienna. Suara

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 60

    Saat Cedric keluar dari ruang rapat, Elric sudah berdiri di depan pintu kantornya.Cedric menyerahkan berkas di tangannya kepada sekretaris, lalu berjalan menghampiri sambil menunjuk ke arah ruangannya. Elric langsung mengerti. Dia lebih dulu membuka pintu, menunggu Cedric masuk, lalu menutupnya kem

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 59

    "Logikamu sebenarnya sama sekali nggak salah. Kamu bukan sengaja melakukan sesuatu yang seharusnya nggak dilakukan. Siapa pun pasti akan memilih menangani pihak yang kondisinya lebih parah dulu.""Tapi hasilnya?"Thiago mendekat, menatapnya dengan penuh selidik."Hasilnya, kamu nggak menyangka ayah

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 58

    Thiago dibohongi. Dia sudah duduk di restoran selama dua jam penuh, tetapi Cedric tidak juga muncul. Telepon tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas.Sampai akhirnya Elric menelepon dan mengatakan bahwa Cedric ada urusan sehingga tidak bisa datang, barulah Thiago gemetar menahan lapar sambil mulai m

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 57

    Saat melihat Sienna di luar restoran tadi, dia memang marah. Ada perasaan seolah dirinya telah diprovokasi berkali-kali. Belakangan ini terlalu banyak orang muncul di sekitar Sienna. Saking banyaknya hingga membuatnya muak.Sienna tersenyum ceria kepada orang lain, tetapi selalu memasang wajah dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status