Catalog
34 chapters
Pulang Kembali
     Raina baru saja turun dari pesawat terbang yang membawanya pulang. Hari ini dia memutuskan untuk kembali lagi ke kota Bandung. Kota dengan sejuta kenangan dan harapan, tapi kota ini juga menyimpan banyak kepedihan dalam kehidupan cintanya. Kota yang dia tinggalkan selama dua tahun terakhir.     Raina mengambil kopernya dan berjalan menuju luar. Langit di luar bandara sudah meredup, sedikit mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Raina mempercepat langkahnya, dia harus bergegas bila tidak ingin terkena hujan. Dia berjalan sambil mengaktifkan kembali ponselnya.    BBaru saja satu menit ponsel itu aktif, banyak notifikasi yang masuk. Raina menghentikan langkahnya, dan memeriksa notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Belum sempat ia membuka pesan, ponselnya sudah berdering, dari Ibunya.      "Halo?" Sapa Raina.      "Sudah sampai Na?" Tanya Ibu.  &n
Read more
Berubah
      "Lu beneran enggak marah sama gue kan?" Tanya Yasmin, melirik ke arah Raina.        Ini sudah pertanyaan yang ketiga kalinya. Yasmin masih merasa tidak percaya karena sahabatnya itu tampak tenang-tenang saja, tidak seperti dulu. Gadis di hadapannya itu justru sibuk dengan steaknya.       Biasanya, Raina akan marah, merajuk dan sedikit mendramatisir keadaan, dia juga akan mengatakan kalimat-kalimat yang berlebihan, kadang terdengar menyindir seperti, "Yah, mau bilang apa, gue kan cuman temen enggak penting dikehidupan lu kalau dibandingin sama cowok lu," , atau "Iya deh yang mau beliin kado buat calon mertua, apalah gue ini yang jomblo karatan". Kalimat-kalimat menjengkelkan dari Raina itu kadang membuat Yasmin merasa sangat kesal pada sahabatnya ini, tidak jarang mereka malah jadi bertengkar.       Kalau saja Yasmin tidak tahu mengenai kisah patah hati Raina, sudah pasti dia tidak akan tahan
Read more
Bertemu
     Hari yang dinanti akhirnya tiba, selama satu minggu ini Raina sibuk mengikuti ujian masuk spesialisasi. Hari pertama, Raina harus mengikuti ujian psikotes terlebih dahulu.       Raina berjalan dengan terburu-buru, dia tidak mendapatkan tempat parkir yang dekat, karena daerah tempat uji psikotesnya memang sempit dan sedikit menyediakan lahan parkir.       Raina masuk ke dalam, ada beberapa orang yang sudah datang disana, Raina menyapa dengan sopan dan duduk di tempat kosong. Gadis itu baru saja selesai mengatur napasnya, saat dia mendadak teringat dengan ponselnya yang masih terpasang dengan kabel untuk mengisi baterai di mobil.     "Ah bodoh, ketinggalan" umpat Raina dengan suara sepelan mungkin sambil mengetuk keningnya, dia memaki dirinya sendiri karena sifat pelupanya. Raina kembali lagi menuju mobilnya, yang letaknya cukup jauh. Saat kembali, Raina melihat ada spot parkir yang kosong.&nb
Read more
Hari Ujian
      Hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis akhirnya tiba, Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.       Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mendapati lelaki dengan senyuman termanis menyapanya pagi ini.       "Hai!" sapa Raina membalas dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit.     "Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina. Setidaknya ada yang bisa Radit ajak berbic
Read more
Percintaan yang Lesu
     Baru sekitar dua detik pesan tulisan Radit sampai, Irna sudah langsung menghubungi kekasihnya itu.     "Halo?" Sapa Radit, dia cukup terkejut melihat nama Irna muncul di layar ponselnya. Mengapa tiba-tiba kekasihnya menghubungi dirinya, tanya Radit dalam hati.     Entah mengapa Radit merasa bersalah pada kekasih hatinya itu. Seharian ini dia bersama gadis lain, yang baru dia jumpai  2 kali saja, tapi gadis itu seperti sudah Radit kenal bertahun-tahun. Radit bisa langsung akrab. Hatinya pun terasa nyaman berada di dekat Raina.     "Ujiannya gimana?" Tanya Irna, mengulangi pertanyaannya yang sudah dia tanya di pesan tulisan tadi.     "Enggak masalah Sayang, bisa kok" jawab Radit dengan tenang.     "Aku pikir kamu lagi kesel karena ujiannya sulit, makanya sampai enggak kabari aku" ucap Irna, mulai menyindir Radit karena tidak langsung menghubungi diriny
Read more
Lulus
    Ponsel Raina berdering selama beberapa menit, sudah entah berapa kali Yasmin mencoba menghubungi Raina. Gadis itu baru saja selesai shift jaga malam pagi ini di klinik 24 jam tempat dia bekerja sementara, dia baru tertidur selama dua jam, tentu saja Raina tidak mendengar ponselnya yang berbunyi terus-menerus.     Ibu masuk ke dalam kamar Raina karena sedari tadi mendengar ponsel anaknya berbunyi. Ibu mendapati Raina yang masih tertidur pulas. Dengan hati-hati, wanita paruh baya itu mengambil ponsel yang berada tepat di samping tubuh Raina. Ibu takut membangunkan anaknya itu, wajah Raina jelas kelelahan, siapa yang tidak lelah setelah jaga selama 24 jam. Ibu melihat di layar ponsel, ada nama Yasmin disana.      "Na, lu tidur ya? Gue telpon berkali-kali lama bener angkat teleponnya, pasti kebo deh tidurnya" Omelan Yasmin langsung terdengar diujung sana. Ibu hanya tersenyum mendengar omelan sahabat anaknya itu. Memang Yasmin sel
Read more
Hari Pertama Sekolah
    "Naaaa... Nanaaaaaa!!!!!!" Teriak Yasmin saat Raina menjawab teleponnya. Raina masih setengah tertidur, dia spontan menjauhkan ponselnya dari telinganya. Terbangun karena teriakan sahabatnya itu.     "Ada apaan sih Yas?" Tanya Raina lagi, matanya masih tertutup. Sementara tangan kanannya sudah bergerak untuk menahan ponselnya tetap berada di telinganya.    "Jangan bilang lu baru bangun, lu masih jaga malam kan??? Ah Nanaaa kebangetan banget deh ini bocah!!! Cepetan banguuun!! Kita diminta kumpul satu jam lagi, di kamar jaga residen penyakit dalam, Na!!" Jawab Yasmin cepat.     Kepala Raina masih kosong, dia masih terdiam. Otaknya belum berhasil mencerna kalimat Yasmin.     "Raina! Cepetan bangun dan segera ke rumah sakit! Kalau enggak kita seangkatan bakal dihukum!!" Teriak Yasmin lagi.     "Apa?! Dihukum?!" Batin Raina dalam hati.    Raina langsung membuka m
Read more
Tugas Perdana
    "Untung kalian enggak terlambat, kalau terlambat bisa-bisa kita satu kelompok langsung kena hukuman" ucap lelaki dengan wajah dingin dan datar itu lagi saat melihat kehadiran Radit dan Raina. Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah angkuh, memberikan tatapan dingin sedingin es batu. Raina membalas dengan tatapan sebal, siapa orang sombong ini, mukanya datar sekali, tanya Raina dalam hati.    "Ayo ke kamar jaga, jangan sampai kita yang dicariin" lanjut lelaki dingin itu lagi.     Raina masih mengatur napasnya, tiba-tiba dia sudah diminta berjalan lagi. Gadis itu langsung merutuk di dalam hati sambil memandang sengit lelaki itu. Rasanya dia baru berhenti selama beberapa detik saja untuk mengambil napas, tapi lelaki itu seperti tidak mau menunggu lama. Dasar lelaki tidak punya hati, maki Raina lagi.    "Siapa sih dia? Baru juga pertama ketemu udah super jutek sama bossy bener" b
Read more
Panitia Pemilihan CR (1)
    Hari masih menunjukkan pukul 7 pagi, Raina baru saja turun ke dapur untuk membantu ibu memasak sarapan. Terhitung mulai hari ini dia memutuskan untuk tidak lagi bekerja di klinik manapun. Yasmin sudah memarahi dirinya berulang kali, belum lagi kejadian di hari perdana mereka bertemu senior itu membuat Raina sadar kalau sebagai residen paling junior, dia harus siap sedia setiap saat.    Tiba-tiba ponselnya berdenting, ada pesan yang masuk. Raina mengambil ponselnya, semenjak kejadian beberapa hari yang lalu itu, Raina tidak pernah jauh-jauh dari ponselnya. Dia juga mengaktifkan volume paling tinggi supaya bunyi ponselnya selalu terdengar. Pesan itu dari Tama, si ketua angkatan yang sangat menyebalkan itu. Sebelum membuka pesan itu, Raina berdecak karena selalu kesal setiap melihat nama Tama.      "Jarkom: Hari ini ketemuan sama ketua panitia pemilihan CR, dikamar jaga jam 3.30. Kita kumpul di kafe dekat kamar jaga jam 3 tepa
Read more
Panitia Pemilihan CR (2)
    Setelah sepanjang pagi membantu ibu, Raina segera bersiap-siap. Siang ini dia memoles wajahnya dengan riasan tipis, memakai dress terbaiknya, menata sedikit rambutnya dan menyemprotkan parfum favoritnya. Dia tidak mau Radit menunggu lama. Saat Raina keluar dari kamar, ibu sampai terheran-heran melihat penampilan anak gadis satu-satunya itu.     "Harum banget Na" puji ibu. Sedikit penasaran karena penampilan Riana seperti gadis yang akan berkencan atau pacaran. Tidak seperti penampilan mahasiswa baru yang akan menemui seniornya. Kalau ibu sebelumnya tidak tahu kalau Raina akan pergi untuk menemui seniornya, mungkin ibu sudah menyangka kalau Raina sudah punya pacar baru. Setelah patah hati dulu, Raina memang tidak pernah lagi berdandan seperti siang ini, batin Ibu.    "Ketemu senior harus rapi dan harum Bu" balas Raina sengaja berkelit. Dia sudah bisa membaca apa yang ada didalam kepala ibu kandungnya itu.    "Oh
Read more
DMCA.com Protection Status