Suara Daya masih terbata-bata kala menjawab pertanyaan yang pria itu lontarkan. Ketakutan yang Daya rasakan sepertinya masih meninggalkan sisa meskipun sembab di matanya sudah berangsur hilang.“Kamu beneran nggak apa-apa, Day?”Pria itu adalah Prabu, mantan atasan Daya sekaligus teman terdekat Bagas sedang duduk di kursi teras depan rumah. Prabu menatap Daya dengan tatapan yang tidak bisa Daya artikan sama sekali. Daya pula tidak habis pikir kenapa ia mengangkat telepon Prabu tanpa adanya keraguan sama sekali. Karena di dalam pikirannya saat itu hanyalah takut, takut, dan takut. Daya ingin kehadiran seseorang kemari dengan segera. Itu saja.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Tapi, makasih banget sudah meluangkan waktunya jauh-jauh datang ke sini. Maaf, tadi aku spontan, terus—”“Nggak usah dipikirkan. Aku maklumin kok. Kamu sedang ketakutan, Day.” Prabu menepuk perlahan pundak Daya. “Bagas mana? Apa perlu aku teleponin dia sekarang?”Daya menggeleng cepat. “Kebetulan mas Bagas ada dinas. N
Last Updated : 2026-08-31 Read more