Embusan angin malam yang kian dingin menusuk pori-pori kulit tidak mampu mengurangi tetesan keringat yang kian membanjiri pelipis Zara. Sepasang mata jernihnya menatap awas pada pergerakan Riko yang kini hanya berjarak satu lengan dari posisinya berdiri. Kotak beludru merah berisi perhiasan di dalam genggaman tangannya bergetar tipis, memantulkan sisa cahaya bulan yang temaram di antara rimbunnya daun pohon beringin tua."Jangan melangkah lebih dekat lagi, Riko, ambil perhiasan ini dan serahkan memori berisi file-file menjijikkan itu sekarang juga," tegas Zara sembari mengulurkan tangannya, mencoba menahan jarak aman di antara mereka."Wah, santai dulu, Sayang, mengapa kamu terburu-buru sekali seolah sedang dikejar hantu?" cetus Riko sembari terkekeh rendah, suara seraknya terdengar begitu memuakkan di tengah keheningan taman kota.Pria itu mengulurkan tangan kanannya yang kasar, bukan untuk mengambil kotak perhiasan, melainkan mencoba mencengkeram pergelangan tangan Zara dengan g
Read more