"Arham, jangan bahas itu di sini ...," cicit Zara pelan, menarik jarinya dari genggaman Arham secara perlahan dengan alasan ingin merapikan rajutannya.Arham mengamati pergerakan Zara dengan cermat. Pengalaman hidup dan ketajamannya sebagai seorang pemimpin bisnis membuat Arham menyadari ada perubahan sikap pada wanita di sampingnya. Sejak tadi pagi, Gina tampak lebih banyak melamun, sering menghindari kontak mata dengannya, dan terlihat seperti memikul beban berat di pundaknya."Gina," panggil Arham dengan nada suara yang berubah menjadi lebih serius dan penuh perhatian.Zara menaikkan pandangannya, menatap sepasang mata elang yang kini menguncinya erat. "Iya, Arham?""Ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya Arham lugas, menatap lurus ke dalam iris mata Zara. "Soal penolakan lamaran resmi kemarin malam? Atau kamu merasa tertekan berada di rumah ini?"Zara menggelengkan kepala dengan cepat. "Sama sekali tidak, Arham. Mama Lusi sangat baik padaku, Sean sangat menyayangiku, dan
Read more