"Arham, kamu tidak perlu repot-repot mendorong kursi roda Mama begini. Kan ada suster," kata Lusi seraya menoleh ke belakang, menyunggingkan senyum penuh kasih pada putra tunggalnya."Tidak apa-apa, Ma. Aku senang bisa melayani Mama," sahut Arham santai dengan suara baritonnya yang mantap. "Dokter Hendra sudah menunggu di lantai tiga. Setelah tes darah dan rekam jantung, kita bisa langsung makan siang.""Gina tidak ikut benar-benar karena menemani Sean?" tanya Lusi memastikan."Iya, Ma. Sean menagih janji buat kerajinan tangan dari kemarin. Gina tidak tega meninggalkannya," jawab Arham dengan nada hangat. Setiap kali menyebut nama calon istrinya, ada binar kelembutan yang terpancar dari raut wajah tegas pria itu.Lusi mengangguk-angguk puas. "Gina memang anak yang sangat berbakti dan penyayang. Mama makin mantap menyuruhmu cepat-cepat meresmikan pernikahan kalian bulan depan."Arham tersenyum tipis. "Pasti, Ma. Arham juga tidak mau menunda-nunda lagi."Pintu lift VIP terbuka di
Read more