Arham memandangi Zara dengan tatapan yang sangat dalam. Pria itu menyapu sedikit noda tepung di pipi Zara menggunakan ibu jarinya, mengelusnya dengan rasa cinta yang amat melimpah."Terima kasih ya, Sayang," bisik Arham tulus, suara baritonnya terdengar begitu hangat di tengah riuh tawa dapur. "Kamu sudah bikin rumah ini benar-benar terasa seperti rumah."Zara menatap sepasang mata elang Arham yang jujur tanpa ada kebohongan. Kata-kata "terima kasih" dari Arham rasanya seperti paku panas yang menancap makin dalam di dadanya. Pria ini begitu mempercayainya, mencintainya, dan menggantungkan harapan bahagianya pada dirinya."Aku minta maaf, Arham ... Aku benar-benar minta maaf ...,"jerit batin Zara tanpa suara.Zara memaksakan senyum paling indah yang bisa diukirnya sore itu. Ia memeluk pinggang Arham erat-erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu sejenak di hadapan Lusi dan Nindy. Ia menyerap setiap embusan napas Arham, setiap detak jantungnya, dan aroma parfumnya, merek
Read more