Zara memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gejolak emosi yang hampir membuat pertahanannya hancur. Jemarinya mencengkeram erat kemeja putih di dada Arham, menghirup aroma wangi maskulin khas tubuh pria itu yang mungkin tak akan pernah bisa dihirupnya lagi esok hari."Arham ...," bisik Zara dengan suara terhalang tangis yang nyaris pecah."Iya, Sayang?" sahut Arham lembut, tangannya terulur melingkari pinggang Zara, menarik tubuh wanita itu rapat ke dalam pelukannya.Zara membenamkan wajahnya di dada bidang Arham, mendengar detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Di dalam pelukan hangat itu, pertempuran batin di dalam jiwa Zara mencapai puncaknya.Satu sisi dirinya menangis menjerit, menolak untuk melepaskan kebahagiaan indah yang baru saja dirasakannya. Ia ingin terus menjadi Gina di mata Arham, ingin melangkah ke altar pernikahan, dan menjadi ibu yang sesungguhnya bagi Sean.Namun sisi lain nuraninya memperingatkan dengan sangat keras. Kebahagiaan yang dibangun d
Read more