Suasana ruangan kembali henang. Arham berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, menyambar ponsel pintarnya lalu menekan beberapa digit nomor telepon dengan gerakan cepat. Pria itu menempelkan ponsel ke telinganya, sepasang matanya tetap mengunci gerakan Zara dengan tajam."Pak Budi," panggil Arham saat sambungan telepon terhubung. "Panggil seluruh tim keamanan mansion masuk ke dalam ruang keluarga sekarang juga. Dan hubungi pengacara pribadi keluarga Tawfeeq serta kepala kepolisian sektor kota."Mendengar kata 'kepolisian', tubuh Zara gemetaran kencang. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini benar-benar terhampar nyata di depan mata."Arham ... tolong ...," bisik Zara seraya melangkah maju, mencoba menggapai lengan kemeja Arham. "Aku mohon ... jangan laporkan aku ke polisi ... Nenekku butuh aku, Arham ... Kalau aku dipenjara, siapa yang menjaga Nenek di rumah sakit?"Arham menepis tangan Zara sebelum ujung jemari wanita itu sempat menyentuh kain kemejanya. Tepisan itu sangat d
Read more