Arham menatap ke arah tangga lantai dua, lalu berpaling menatap jalanan luar yang diguyur hujan lebat. Tali hukum dan tanggung jawab sebagai seorang ayah serta pemimpin keluarga mendadak mengikat lehernya sangat erat, memotong seluruh kebebasannya untuk mengejar wanita yang sangat dicintainya."Arham ... tolong ...," bisik Lusi dengan tangis memilu dari atas kursi roda.Arham memejamkan matanya erat-erat, menarik napas panjang yang terasa begitu sesak dan membakar paru-parunya. Pria itu perlahan melepaskan cengkeramannya dari kunci mobil di atas meja konsol. Setiap sentimeter gerakannya terasa begitu berat, memancarkan rasa frustrasi dan kekalahan yang teramat menyiksa jiwa."Amankan seluruh berkas rumah tangga," panggil Arham dengan suara dingin dan datar tanpa emosi sedikit pun kepada Farhan. "Jangan biarkan media mencium berita ini seujung kuku pun.""Baik, Tuan Arham. Keputusan yang sangat tepat," jawab Farhan lega seraya mengangguk cepat.Gina menyunggingkan senyum kemenang
Read more