David tersipu ketika Hadi memujinya. Senyumnya tipis, canggung, khas pria yang tidak terbiasa menerima pujian berlebihan.David berpikir upaya untuk mendapatkan Lalita sepertinya ada banyak kemajuan.“Seinget gue dulu lo sama Brian sering main golf bareng,” ucap Deri, nada suaranya santai tapi matanya mengamati tajam. “Lo udah pernah menang lawan Brian?”Hadi terkekeh kecil.“Anak lo itu hampir kepilih jadi atlet golf. Jelas jauh lebih jago dari gue. Gue aja baru sekali menang lawan dia, itupun hoki kayaknya,” jawabnya ringan.Deri tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan satu poin dalam perlombaan. Sabrina ikut mengangguk pelan, seolah membenarkan perkataan suaminya.“Kalau gitu sampai ketemu besok ya, Om. Di lapangan biasa,” ujar David sambil berdiri. “Saya pamit dulu.”“Eh, buru-buru amat,” tahan Hadi. “Baru om mau minta bi Imah bikinin kamu teh.”Dalam hati, Hadi berharap David benar-benar duduk kembali. Setidaknya, kalau David masih di sini, Deri dan Sabrina akan sungkan untu
Last Updated : 2025-12-14 Read more